Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Berubah


__ADS_3

Galih saat ini masih berada di dalam kamarnya. Dia sudah rapi mengenakan seragam kantornya.


Galih keluar dari kamarnya dan melangkah ke dapur di mana ibunya berada.


"Bu, lihat sepatu aku nggak?" tanya Galih pada Bu Aminah yang saat ini masih berkutat memasak di dapur.


"Tuh, masih ada di halaman belakang. Kamu lupa ya, jemur sepatu dari kemarin nggak di angkat-angkat," ucap Bu Aminah.


"Ibu kenapa nggak angkatin sepatu aku."


"Lho, kamu ini. Cuma bisa ngandelin ibu aja. Nggak tahu ibu capek apa, setiap hari harus masak sendiri. Nggak ada yang bantuin seperti ini," gerutu Bu Aminah sembari mengaduk-aduk masakannya.


Galih menghela nafas dalam. Dia sebenarnya kasihan sama ibunya. Sudah tua tapi harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri.


Tapi jika bukan Bu Aminah, siapa lagi yang akan mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak mungkin Galih ikut bantu-bantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah, karena Galih juga kerja. Dan libur hanya sabtu minggu saja. Galih juga tidak bisa memasak seperti halnya Farhan yang jago memasak.


Farhan pintar memasak, karena Amira yang selalu mengajarinya.


Sebelum Farhan berubah seperti sekarang, dulu Farhan adalah lelaki yang sangat baik. Bisa dibilang dia itu lelaki soleh yang sempurna keimanannya, lelaki yang setia dan juga romantis.


Farhan kerja sebagai seorang guru agama di salah satu sekolah swasta. Dia selalu menjadi imam di mesjid yang ada di dekat rumahnya.


Farhan selalu bisa memanjakan istrinya. Jika Amira memasak, Farhan pun akan selalu ikut terjun ke dapur dan ikut membantu Amira memasak.


Farhan juga mengajar madrasah setiap jam dua siang, setiap jam empat sore sampai isya, dia mengajar mengaji dan santrinya pun banyak sampai ke tetangga desa.


Farhan sangat di idolakan banyak wanita karena dia tampan dan kaya. Dia juga sangat dermawan. Toko-toko milik Farhan juga berkembang sukses waktu itu.


Farhan ustaz yang sangat disukai, karena dia fasih dalam membaca Alquran. Dia mengajar ngaji juga dengan telaten dan sabar.


Dan entah setan apa yang sudah merasukinya, sampai-sampai Farhan diam-diam pacaran sama santrinya sendiri yang bernama Ziana.


Dan tak ada yang tahu tentang hubungan mereka kecuali Farhan dan Ziana sendiri. Dan semua santri Farhan terkejut saat mendengar kabar tentang pernikahan Farhan dan Ziana. Yang membuat mereka malas untuk mengaji lagi pada Farhan.


Galih sejak tadi masih diam. Dia masih kefikiran dengan Risma mantan istrinya yang ada di Jakarta.


"Andai Risma mau ikut aku ke kampung dan tinggal di sini sama ibu. Pasti Risma akan bantuin ibu beres-beres rumah," ucap Galih saat mengingat kembali istrinya.


"Risma, Risma, Risma, sudahlah Galih, jangan sebut-sebut nama wanita sombong itu lagi. Sudah cerai ya sudah. Jangan di ingat-ingat lagi. Untuk apa kamu mengingat lagi wanita itu, mana mungkin dia bisa seperti Amira. Mau bantu-bantu ibu di rumah. Masuk ke rumah ini aja dia nggak mau," ucap Bu Aminah yang merasa jengkel saat mendengar nama Risma di sebut.

__ADS_1


Ya, selama ini Bu Aminah tidak suka dengan istri Galih yang dari kota itu. Risma sombong. Dia tidak pernah mau masuk ke dalam rumah Bu Aminah saat main ke kampung.


Dia juga tidak mau menginap di rumah Bu Aminah. Saat pulang kampung, dia lebih memilih untuk menginap di hotel bersama ke dua anaknya.


"Mantan istri kamu itu sok cantik, sok kaya, sombong lagi. Beda sama Amira. Andai kamu mendapatkan jodoh lagi, ibu pengin kamu mendapatkan jodoh seperti Amira. Dia wanita soleha Galih."


"Iya. Tapi dia bodoh. Karena dia mau dipoligami."


"Tapi dia wanita yang kuat imannya. Nggak sebodoh istri kamu. Ngaji aja dia nggak bisa. Bagaimana dia bisa menjadi guru untuk anak-anaknya. Seorang ibu itu madrasah untuk anaknya. Kalau ibunya didikannya baik, anaknya akan ikut baik seperti Laila. Kalau ibunya didikannya hanya dunia saja yang dicari, ya nanti seperti anak-anak kamu itu. Nggak mau ikut kamu tinggal di kampung. Mereka jijik sama rumah neneknya."


Ring ring ring...


Di sela-sela Galih dan ibunya ngobrol, tiba-tiba saja ponsel Galih yang ada di atas meja makan terdengar. Sebelum menghampiri ibunya, Galih meletakkan ponselnya di atas meja makan.


"Tuh, hape kamu bunyi," ucap Bu Aminah.


Galih kemudian melangkah untuk mengambil ponselnya yang ada di meja makan.


"Farhan, mau ngapain dia pagi-pagi gini nelpon," ucap Galih saat melihat nomer Farhan yang menelponnya.


Galih kemudian mengangkat panggilan dari nomer Farhan.


"Halo... Assalamualaikum."


"Halo Amira."


"Mas, ini aku Zia Mas. Bukan Mbak Amira."


"Oh. Zia. Ada apa? kenapa kamu nelpon aku dengan nomer Farhan. Dan di mana Farhan."


"Mas, bisa nggak Mas Galih pagi ini, ngantar Mbak Amira kontrol ke rumah sakit?"


"Lho, kok aku. Emang Farhan kemana?"


"Dia nggak bisa nganterin Mbak Amira Mas hari ini. Soalnya dia mau nganterin kakek aku periksa hari ini."


"Lho, kakek kamu sakit?"


"Iya Mas. Kakek aku sakit. Dan mau aku bawa periksa ke dokter. Dan aku mau sama Mas Farhan ke sananya."

__ADS_1


"Duh, aku mau kerja ini Zi."


"Yah, Mas. Tolong dong. Kalau bukan Mas Farhan siapa lagi yang mau ngantar aku Mas. Aku nggak punya saudara dekat. Dan kalau bukan sama Mas Galih aku meminta tolong, terus aku mau minta tolong siapa lagi. Mas Galih kan kakak ipar aku dan Mbak Amira."


"Ya udah deh, terus aku harus ke rumah Amira?"


"Iya dong Mas. Bawa mobil juga kalau ada. Soalnya Mas Farhan lagi nungguin kakek. Dan Mbak Amira juga kan nggak bisa dibawa pakai motor."


"Ya udah lah. Nanti aku ke rumah Amira bawa mobil."


"Ya udah ya Mas kalau gitu. Aku cuma mau bilang itu aja kok. Makasih banyak untuk bantuannya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Tut Tut Tut...


Saluran telpon itu terputus.


"Ada apa Galih?" tanya Bu Aminah sembari mendekat ke meja makan dengan membawa semangkuk sayur capcay.


"Zia," jawab Galih singkat.


"Zia? mau ngapain dia nelpon?" tanya Bu Aminah sembari meletakkan semangkuk capcay di atas meja.


"Zia tadi nelpon aku. Katanya kakeknya sakit dan dia mau bawa ke dokter. Katanya hari ini, Farhan tidak bisa nganter Amira ke rumah sakit, karena dia mau nganterin kakeknya Zia ke dokter," jelas Galih.


"Duh, kasihan kalau begitu Amira. Kamu harus ke rumahnya Amira Lih. Amira nggak ada siapa-siapa lho sekarang. Karena kemarin Bu Rahayu izin ke ibu kalau keluarga besarnya mau kondangan jauh. Palingan mereka belum pulang. Makanya Farhan nyuruh Zia nelpon kamu. Kalau ada keluarganya, palingan dia akan berangkat kontrol sama ayah, ibu dan adiknya," ucap Bu Aminah panjang lebar


Galih menatap ibunya lekat.


"Ibu ikut Galih ya. Ibu mau ya temani Amira kontrol. Aku nggak enak, kalau cuma sama Amira saja."


"Duh Galih. Ajak Laila saja lah. Ibu lagi banyak kerjaan. Laila juga kan udah SMP. Dia pasti udah bisa lah di perintah-perintah."


"Ya udah deh, kalau ibu nggak mau. Aku mau ajak Laila saja."


"Iya ajak Laila saja. Sepertinya Laila itu juga nggak akan berangkat sekolah. Soalnya dia lagi nemenin ibunya di rumah. Amira sekarang pasti sendirian."


"Iya. Aku akan ke bengkelnya Yudi untuk pinjam mobil. Siapa tahu ada mobil nganggur di sana."

__ADS_1


"Ya udah sana. Pergi aja sekarang. Jangan lupa, izin dulu sama bos kamu di kantor."


"Iya Bu."


__ADS_2