Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Sekarat


__ADS_3

Pak Ridwan kemudian masuk ke dalam rumah Zia. Dia mengikuti Zia sampai ke kamar Pak Ramli.


Pak Ridwan terkejut saat melihat kondisi Pak Ramli yang sudah sangat mengkhawatirkan.


"Astaghfirullahaladzim, kakek kamu kenapa Zi?" tanya Pak Ridwan.


Zia yang ditanya hanya diam. Dia hanya bisa menangis melihat kondisi kakeknya saat ini.


"Hiks...hiks...aku nggak tahu, kenapa dengan kakek aku. Kakek aku tiba-tiba jadi seperti ini. Kemarin dia baik-baik saja, tapi semalam dia nggak keluar kamar, pas tadi aku lihat, kakek sudah seperti ini."


Pak Ridwan menatap Zia lekat.


"Nggak usah nangis. Saya akan bantu kamu membawa kakek kamu ke rumah sakit. Mudah-mudahan saja kakek kamu masih bisa tertolong," ucap Pak Ridwan.


"Iya. Tolong ya bantu aku. Aku tidak mau kakek kenapa-kenapa. Aku takut terjadi apa-apa sama Kakek. Aku belum siap kehilangan kakek," ucap Zia di sela-sela isak tangisnya.


Pak Ridwan melangkah mendekati kakek Zia. Dia kemudian duduk di dekat kakek Zia.


Pak Ridwan mencoba memeriksa denyut nadi Pak Ramli yang sudah sangat melemah.


"Kita nggak punya banyak waktu lagi Zi. Kita harus segera bawa kakek kamu ke rumah sakit sekarang," ucap Pak Ridwan sembari menatap Zia lekat.


Zia mengangguk. Dia hanya bisa mengiyakan saja apa yang dikatakan Pak Ridwan.


"Iya Pak Ridwan," ucap Zia.


Pak Ridwan bangkit dari duduknya. Dia kemudian menatap Zia kembali.


"Zi, kamu tunggu di sini. Saya akan siap kan mobil saya dulu untuk membawa kakek kamu ke rumah sakit. Sementara itu, kamu juga harus siap-siap ya Zi. Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Pak Ridwan lagi.


"Iya. Pak Ridwan," ucap Zia sembari mengusap sisa-sisa air matanya.


Zia kemudian pergi ke kamarnya untuk siap-siap. Sementara Pak Ridwan kembali ke kamar Pak Ramli untuk membawa Pak Ramli ke mobilnya.


Setelah Pak Ridwan memasukan Pak Ramli ke dalam mobil, dia kemudian masuk ke rumah Zia untuk memanggil Zia.


"Zia, cepat Zi. Jangan lama-lama!" ucap Pak Ridwan.


"Iya Pak Ridwan."


Zia kemudian melangkah keluar dari rumahnya. Sebelum pergi, Zia mengunci pintu rumahnya. Setelah itu Zia mengikuti Pak Ridwan masuk ke dalam mobil. Merasa kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah untuk membawa Pak Ramli ke rumah sakit.


****


Di sisi lain, Galih masih berada di ruang tamu rumah Amira. Galih dan Amira masih ngobrol-ngobrol dengan menikmati martabak mereka. Galih belum mau beranjak pergi meninggalkan rumah Amira, karena dia masih tidak tega untuk meninggalkan Amira sendirian.


Amira dan Galih masih larut dalam perbincangan mereka. Sampai akhirnya adzan dzuhur pun berkumandang.


"Udah adzan Mir," ucap Galih.


"Kamu mau ke mana Mas? jangan pulang dulu. Tunggu Laila dan Mas Farhan saja pulangnya. Kamu kan belum ketemu mereka," ucap Amira.


"Tapi ini udah siang. Nggak kerasa ya waktu itu cepat banget Mir."


Beberapa saat kemudian, deru motor Farhan sudah terdengar dari luar rumah.


Farhan menghentikan laju motornya setelah dia sampai di depan rumahnya. Farhan kemudian memarkirkan motornya di depan rumahnya.


Setelah itu, Farhan turun dari motornya dan berjalan masuk ke dalam ruang tamu. Farhan terkejut saat melihat Amira masih berduaan dengan Galih di ruang tamu.


"Assalamualaikum," ucap Farhan.

__ADS_1


"Wa'alakiumsalam," ucap Galih dan Amira bersamaan.


"Mas Galih, Amira. Kalian lagi ngapain di sini?" tanya Farhan.


"Farhan, aku ke sini, cuma mau ngantar makanan untuk Amira. Di suruh ibu," jelas Galih pada Farhan.


"Oh. Aku mau langsung ke rumah sakit. Katanya, kakeknya Zia sudah sekarat," ucap Farhan.


Amira terkejut saat mendengar ucapan Farhan. Begitu juga dengan Galih. Dia juga terkejut saat mendengar ucapan Farhan. Amira dan Galih saling menatap.


"Sekarat gimana Mas?" tanya Amira.


"Ya, aku juga nggak tahu. Karena aku belum nengok ke sana. Ini aku mau ke sana," jawab Farhan.


Amira menghela nafas dalam. Amira yakin, jika ada apa-apa dengan kakeknya Zia atau kakeknya Zia meninggal, Farhan pasti akan melupakan Amira, dan dia pasti akan lebih mementingkan Zia dari pada mementingkan Amira.


Mau nggak mau, Amira harus siap jika suatu saat Farhan akan berubah. Dia akan lebih memberikan perhatian ke Zia lebih banyak dari pada ke dia.


"Aku mau siap-siap dulu Amira," ucap Farhan


Farhan berjalan untuk ke kamarnya. Dia akan bersiap-siap untuk ke rumah sakit.


Setelah siap, Farhan melangkah ke ruang tamu di mana Galih dan Amira berada.


"Mas, kamu mau ke sana sekarang?" tanya Amira yang melihat Farhan sudah rapi.


"Iya Amira "


Ring ring ring...


Ponsel Farhan tiba-tiba saja berdering. Farhan mengambil ponselnya yang ada di saku jaketnya.


"Halo ustadz, ini saya Pak Ridwan."


"Ada apa Pak Ridwan?"


"Pak Ramli sudah meninggal dunia pak Ustadz."


"inalillahi wa innailaihi rojiun..."


"Terus bagaimana dengan Zia?"


"Zia pingsan. Dan dia lagi ada dalam penanganan dokter."


"Oh. Kalau begitu aku mau langsung ke sana. Sekalian mau ngurus pemakaman Pak Ramli."


"Iya. Cepat Farhan. Zia juga sepertinya lagi butuh kamu "


"Iya Pak Ridwan. Ini aku mau ke sana."


"Ya udah saya tunggu ya ustadz. Assalamualaikum.


"Wa'alakiumsalam."


Farhan kemudian menutup saluran telponnya. Farhan memejamkan matanya sejenak.


Zia itu istriku, dan apapun yang terjadi sama keluarganya, itu sudah menjadi tanggung jawabku, batin Farhan.


Galih bangkit dari duduknya.


"Farhan, ada apa Farhan?

__ADS_1


Benarkah kalau Pak Ramli sudah meninggal?" tanya Galih.


Farhan menatap Galih lekat.


"Iya. Pak Ramli sudah meninggal dunia. Dan Zia sekarang pingsan," jawab Farhan.


"Farhan, boleh Mas ikut ke rumah sakit?" tanya Galih.


"Boleh Mas. Tapi..." Farhan menatap Amira. Dia tahu, jika Galih ikut dia pergi ke rumah sakit, Amira pasti akan sendiri.


"Tapi apa Farhan?"


"Amira bagaimana? dia nggak ada temannya," ucap Farhan.


"Aku nggak apa-apa Bi. Kalau Abi sama Mas Galih mau pergi, pergi aja. Sebentar lagi Laila juga pulang. Novi juga sebentar lagi ke sini," ucap Amira.


Galih menatap Amira lekat.


"Kamu nggak apa-apa Mir, aku tinggal. Aku harus bantuin Farhan soalnya."


"Nggak apa-apa Mas Galih. Walau bagaimanapun juga, yang meninggalkan adalah kerabat kalian. Kakeknya Zia. Kalian harus saling membantu," ucap Amira.


Setelah mendapatkan izin dari Amira, ke dua lelaki itu kemudian pergi meninggalkan Amira.


Galih dan Farhan berboncengan motor untuk sampai ke rumah sakit. Setelah Galih dan Farhan pergi, Laila kemudian sampai di depan rumahnya.


Laila memarkirkan sepedanya dan turun dari sepedanya. Setelah itu Laila masuk ke dalam rumah Amira.


"Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam," ucap Amira membalas salam dari Laila.


Laila tersenyum saat melihat Amira. Dia kemudian mendekat ke arah Amira dan duduk di samping Amira. Laila kemudian mencium punggung tangan ibunya. Setelah itu dia menatap Amira lekat.


"Umi, Abi mana? dia udah pulang?" tanya Laila.


"Abi kamu, pergi tadi. Sama pade juga."


"Pergi ke mana? pade emang ke sini."


"Iya. Pade kamu ke sini tadi. Tapi dia ikut Abi kamu ke rumah sakit."


Laila mengernyitkan alisnya.


"Ke rumah sakit? mau ngapain ke rumah sakit? siapa emang yang sakit?" tanya Laila.


"Pak Ramli sudah meninggal dunia," ucap Amira.


"Pak Ramli siapa Mi?"


"Kakeknya Zia."


"Inalillahi wa innailaihi rojiun. Kakeknya Mbak Zia meninggal Mi? kapan Mi?" tanya Laila.


"Tadi. Abi kamu dapat telpon dari Pak Ridwan. Pak Ridwan ternyata sekarang ada di rumah sakit sama Zia. Dan Pak Ridwan mengabarkan kalau kakeknya Zia sudah meninggal dunia."


"Kasihan banget ya, Pak Ramli. Aku pernah lihat dia kurus banget Mi. Seperti nggak pernah makan. Mungkin Mbak Zia, jarang ngasih Pak Ramli makan kali ya."


"Ssstttt. Kamu bicara apa sih? jangan su'udzon begitu. Masa Mbak Zia nggak ngasih makan. Pak Ramli kurus karena dia memang sudah punya penyakit."


"

__ADS_1


__ADS_2