Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Cekcok


__ADS_3

Amira tiba-tiba saja meneteskan air matanya. Membuat Farhan terkejut saat melihatnya.


"Amira, kenapa kamu nangis?" tanya Farhan. Dia berjalan untuk mendekati istrinya yang masih berbaring di sisi anaknya.


"Kamu mau apa? mau aku ambilin makan atau minum? atau kamu mau duduk. Aku bantuin ya," ucap Farhan.


"Aku mau duduk Mas. Leher aku masih sakit, belum bisa duduk sendiri."


"Iya sayang. Mas bantuin ya"


Farhan kemudian membantu istrinya untuk duduk. Setelah itu Farhan pun duduk di sisi ranjang dan menatap lekat istrinya.


"Sayang, maafin Mas ya. Karena mas udah ninggalin kamu," ucap Farhan. Dia kemudian mengusap air mata Amira yang sejak tadi masih mengalir deras dari pelupuk matanya.


Hiks ..hiks ..hiks ..


Amira menangis. Rasanya dia sudah tidak sanggup menanggung sakitnya luka yang ada di dalam hatinya. Walau luka itu tidak terlihat, namun sakitnya begitu sangat menusuk jiwa.


Farhan meraih tangan Amira. Setelah itu dia menggenggam tangan yang terasa dingin itu.


"Jangan nangis sayang. Aku itu masih cinta dan sayang banget sama kamu Amira. Walau sekarang aku punya dua istri, tapi aku tidak akan pernah meninggalkan kamu dan Laila. Aku ini sebenarnya, lagi nyoba untuk berbuat adil sayang," ucap Farhan sembari sesekali dia mengusap pipi Amira yang basah karena air mata.


"Mas, sebenarnya apa yang kamu cari dari Zia. Apakah cuma nafsu yang kamu cari saat ini Mas," ucap Amira tiba-tiba.


Farhan terkejut saat mendengar ucapan istrinya.


"Apa karena aku cacat, aku tidak bisa melayani kamu di atas ranjang, dan aku selalu nyusahin kamu. Makanya kamu selalu tinggalin aku. Apa karena aku sudah berumur dan tidak menarik lagi, sehingga kamu lebih memilih Zia untuk jadi istri kamu."


Farhan diam. Hatinya merasa tertampar saat dia mendengar ucapan Amira.


"Amira, siapa yang sudah memilih Zia. Aku tidak memilih siapapun diantara kalian. Aku itu cinta sama kalian berdua. Aku tahu aku salah, karena aku sudah meninggalkan kamu setiap malam. Tapi Zia juga sama-sama membutuhkan aku karena kami masih pengantin baru. Kamu tahu kan Amira apa arti pengantin baru? kamu juga pernah merasakan jadi pengantin baru."


Benar-benar menjijikkan. Kenapa Mas Farhan harus membahas pengantin baru segala sih. Susah benar, sih bicara sama lelaki otak tumpul seperti dia, batin Amira.


"Mas, sekarang kamu fikir, siapa yang lebih membutuhkan kamu di antara aku dan Zia. Siapa!" ucap Amira dengan nada tinggi.


"Kamu sayang, yang lebih membutuhkan aku. Membutuhkan dukungan aku dan membutuhkan kasih sayang aku. Kamu jangan khawatir. Aku akan selalu ada untuk kamu. Tapi kamu juga harus ngerti posisi aku. Sekarang aku punya dua istri Amira. Dan aku harus berlaku adil sama ke dua istri aku."


"Dan kamu nggak lupa kan, kalau hari senin aku sudah harus kontrol ke rumah sakit? Apa kamu sudah siapkan uangnya?" tanya Amira mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Deg.


Farhan terkejut saat mendengar ucapan Amira.


Ya ampun, aku sampai lupa kalau hari senin Amira sudah harus kontrol ke rumah sakit. Tapi tadi uangnya sudah aku kasih ke Zia. Duh, bodoh banget aku ini. Kenapa aku harus kasih uang ke Zia sebanyak itu. Seharusnya seratus ribu aja aku ngasihnya tadi. Apa yang akan aku katakan pada Amira. Pasti dia akan semakin marah sama aku, kalau aku jujur uangnya sudah aku kasihkan ke Zia, batin Farhan .


Farhan sejak tadi masih diam. Dia sepertinya menyesal sudah memberikan uang ke Zia segitu banyak. Padahal, jelas-jelas Amira lah yang sedang membutuhkan uang untuk kontrol ke rumah sakit.


"Mas, kenapa kamu diam aja? Ini udah ganti bulan. Seharusnya kamu udah gajian dong Mas," ucap Amira.


"Iya Amira. Tapi aku nggak punya uang untuk bawa kamu kontrol ke rumah sakit . Kemarin uangnya untuk bayar hutang."


"Apa! hutang? hutang apa?"


"Amira, selama kamu di rumah sakit kan, aku yang harus bolak-balik. Karena aku nggak punya uang untuk beli bensin dan makan, jadi aku terpaksa pinjam ke teman. Dan teman aku nagih karena tahu aku udah gajian. Ya udah, aku kasih ke teman lima ratus ribu. Tapi lebihannya masih ada kok."


"Terus, bagaimana dengan toko?"


"Toko juga lagi sepi Amira. Apalagi banyak saingan sekarang. Banyak toko-toko elektronik yang baru-baru di tempat kita . Makanya ,mas udah nggak begitu ngandelin lagi uang dari toko."


"Kamu gimana sih Mas. Harusnya uang kamu jangan untuk bayar hutang dulu. Bayar hutang kan bisa nanti aja. Terus kalau hari senin kita nggak punya uang, gimana dong? nggak jadi kontrolnya?" tanya Amira.


"Nanti aku pinjam ke mas Galih atau ke ibu aku. Mas Galih kan uangnya banyak. Gajinya juga gede dua kali lipat dari gaji aku. Dan dia juga pasti punya banyak tabungan."


"Apa! mau pinjam ke mas Galih?"


"Iya. Aku kan nggak pernah pinjam ke dia. Sekali-kali lah kita pinjam. Siapa tahu dia mau ngasih pinjaman."


Di sela-sela Amira dan Farhan ngobrol, Laila tiba-tiba saja terbangun dan mengerjapkan matanya. Dia Beringsut duduk dan menatap ke arah ke dua orang tuanya yang saat ini masih ngobrol di samping Laila.


"Abi, Umi, jam berapa ini?" tanya Laila.


"Jam lima lebih Laila," jawab Farhan."Kamu mau sholat subuh?"


"Iya Bi. Abi udah pulang? kapan Abi pulang?"tanya Laila.


"Tadi subuh," jawab Farhan singkat. .


"Oh..."

__ADS_1


"Sana, kamu bangunin Tante Novi. Suruh dia sholat!" ucap Amira menyuruh anaknya untuk membangunkan Novi adiknya.


"Nenek udah bangun ya?" tanya Laila menatap Amira dan Farhan lekat.


"Nenek sepertinya pulang ke rumah tadi waktu jam empat pagi," ucap Amira menjelaskan.


"Cepat amat."


"Nenek kan cuma temani Umi aja di sini. Dan nenek pulang mau masak di rumah," lanjut Amira.


"Oh.."


"Jadi ibu kamu sudah pulang?" tanya Farhan.


"Sepertinya begitu. Tadi jam empat aku dengar dia buka pintu belakang Mas."


Hah, syukurlah kalau ibu sudah pulang duluan. Aku jadi lega sekarang, batin Farhan.


Laila turun dari tempat tidurnya. Setelah itu dia menatap beling yang ada di lantai kamar Amira.


"Itu siapa yang mau beresin?" tanya Laila sembari menunjuk ke arah pecahan gelas itu.


"Nanti Abi yang beresin Laila. Abi juga sekalian mau nyapu halaman depan dan belakang rumah . Udah banyak banget sampah-sampah daun-daun keringnya," ucap Farhan.


"Ya udah, kalau gitu, aku pergi dulu ya," ucap Laila.


"Iya," ucap Farhan dan Amira kompakan.


Laila kemudian melangkah keluar dari kamar orang tuanya. Sementara Farhan bangkit dari duduknya.


"Abi mau beres-beres dulu ya Mi. Kerjaan Abi juga banyak. Nyuci piring, nyapu , ngepel, nggak mungkin kan Abi nyuruh Laila, Novi, atau ibu untuk mengerjakan pekerjaan rumah kita," ucap Farhan.


"Terserah Abi itu mah."


"Selama kamu sakit, Abi nanti yang akan kerjain semua pekerjaan rumah, sepeti nyuci baju kamu, ngepel, nyapu, nyuci piring, nyetrika, bila perlu Abi yang masak. Andai Abi punya uang banyak, Abi akan bayar assisten rumah tangga untuk bantu-bantu di rumah kita."


Amira tersenyum.


"Sudahlah Mas. Nggak usah banyak mengkhayal. Namanya kerja di kampung. Tidak sama seperti kerja di kota. Kalau di kampung itu minim banget Mas gajinya. Kalau di kota mah, mendingan rada gede gajinya. Jadi jangan harap lah kita bisa bayar pembantu, kalau yang kerja cuma kamu aja. Apalagi sekarang kamu punya istri baru, yang harus setiap hari di jatah," ucap Amira sedih jika dia harus mengingat kalau sekarang Farhan punya istri yang lain selain dia.

__ADS_1


****


__ADS_2