Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Penyesalan Farhan


__ADS_3

Malam ini, Amira, Novi, dan ke dua orang tuanya masih bercakap-cakap di ruang tengah. Sementara Laila, setelah makan malam dia langsung tidur di kamarnya.


"Amira, bapak mau bicara sama kamu. Dari kemarin bapak pengin bicara ini sama kamu. Tapi bapak lupa terus," ucap Pak Husen menatap Amira lekat.


Amira menatap ayahnya. Sementara Novi dan Bu Rahayu masih fokus pada layar tivi.


Pak Husen mengambil ponselnya. Setelah itu dia menunjukan foto seorang lelaki pada Amira.


"Lihatlah Amira," ucap Pak Husen.


Amira menatap foto lelaki yang memakai baju serba putih. Dia tampan dan masih sedikit muda.


"Siapa ini Pak?" tanya Amira penasaran.


"Ini Gus Farid. Cucunya kyai bapak."


"Terus?" Amira tidak mengerti apa maksud ayahnya.


"Kalau kamu mau, Bapak pengin jodohin kamu sama dia Amira," ucap Pak Husen


Amira terkejut saat mendengar ucapan ayahnya. Bu Rahayu dan Novi yang mendengar ucapan Pak Husen langsung menatap ke arah Pak Husen secara bersamaan.


"Bapak mau jodohin Mbak sama siapa?" tanya Novi.


"Coba lihat," Novi langsung merebut hape yang ada di tangan Amira.


Dia menatap foto Gus Farid.


"Siapa ini Pak?" tanya Novi. Dia tampak menganggumi lelaki yang ada di foto itu.


"Namanya Farid. Dia anak kyai. Lebih tepatnya cucu dari Kyai Hanafi kyai bapak waktu bapak mondok."


Wah, cakep banget lelaki ini, yah, sayang banget aku udah punya calon, kalau nggak buat aku aja Gusnya, batin Novi.

__ADS_1


Bu Rahayu mendekat ke arah Novi dan ikut menatap foto Gus Farid.


"Wah, kalau ini sih ibu setuju. Dari pada sama lelaki lain. Lebih baik sama Gus. Biarin aja Amira dan Laila sekalian tinggal di pesantren. Biar nggak ketemu lagi sama si Farhan dan si Galih," ucap Bu Rahayu


Tampaknya dia tidak suka dengan ke dua anak Bu Aminah. Entah kenapa, Bu Rahayu juga ikut-ikutan membenci Galih. Padahal Galih tidak salah apa-apa. Semua yang terjadi pada Amira, semuanya dimulai karena kesalahan Farhan.


Amira saat ini bingung. Baru saja dia di tembak Galih, sekarang orang tuanya sudah mau menjodoh-jodohkannya dengan seorang lelaki. Dan lelaki itu anak kyai lagi, yang tinggalnya di pesantren.


Ya, dulu Pak Husen juga pernah nyantri. Lama juga seperti Amira. Dan dia juga dikenal para kyai di pesantrennya.


Sampai saat ini, hubungan Pak Husen dengan keluarga kyainya juga sudah seperti keluarga. Kemarin waktu acara halal bihalalpun dia ke sana. Mungkin Pak Husen dan kyainya punya rencana untuk menjodohkan Amira dengan Gus Farid.


Amira menghela nafas panjang.


"Bu, Pak, aku ke kamar dulu ya. Aku ngantuk. Mendingan kalian nggak usah deh, jodoh-jodohin aku. Aku aja nggak kenal sama Gus Farid. Menurut aku, aku merasa belum pantas aja berjodoh dengan anak kyai. Dia terlalu sempurna untuk aku. Belum tentu Laila mau punya ayah tiri,"ucap Amira.


Amira bangkit dari duduknya. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, Amira menghempaskan tubuhnya. Amira menghela nafas dalam.


Amira menatap Laila yang saat ini sudah terlelap di atas ranjangnya.


"Untuk saat ini, hanya Laila kebahagiaan aku. Jika aku menikah lagi, lalu bagaimana dengan Laila. Aku tahu dia udah gede. Tapi semua tergantung Laila. Laila mau nggak menerima ayah tiri di dalam kehidupannya," ucap Amira.


****


Farhan masih menatap seorang wanita yang berada di dalam sebuah ruangan. Ya, dia Ziana istrinya yang beberapa bulan lalu gila karena kehilangan seorang anak.


Ziana memang sebenarnya wanita yang rapuh. Dia tidak sekuat Amira dan setegar Amira waktu Amira kehilangan Fauzan dulu. Mungkin karena tingkat keimanan Ziana dan Amira sangat berbeda.


Ziana selama ini sudah merebut semua kebahagiaan Amira dan Laila. Mungkin inilah balasan untuk Ziana. Dia sudah tidak bisa lagi merasakan kebahagiaannya bersama suaminya.


Karena Farhan sang suami, sudah membuangnya ke rumah sakit jiwa. Hanya sesekali dia menjenguk istrinya itu. Dan Ziana juga sudah kehilangan bayinya. Nasibnya hampir sama seperti Amira yang dulu juga pernah kehilangan seorang anak.

__ADS_1


Ziana dari kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua. Sejak kecil, Ziana hanya tinggal dengan kakek dan neneknya dengan kehidupan yang pas-pasan. Sementara orang tuanya sudah meninggal sejak Ziana masih kecil.


Dan Ziana sangat bahagia saat ada seorang lelaki yang mau menikahinya. Ziana rela jadi istri ke dua, asal suaminya mau membahagiakannya. Namun kebahagiaan itu hanya sebentar. Karena Ziana harus kehilangan bayinya dan sekarang suaminya tidak mau lagi memperdulikannya karena Ziana terkena gangguan jiwa.


"Zia, maafkan aku. Karena aku baru bisa datang jengukin kamu," ucap Farhan dari kejauhan.


Farhan tidak mau masuk ke dalam ruangan Ziana. Farhan sejak tadi hanya bisa berdiri di depan ruangan itu dan memperhatikan Ziana dari jendela kaca.


"Permisi Pak Farhan," ucap seorang wanita yang tak lain adalah suster di rumah sakit jiwa itu.


"Suster, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Farhan.


"Kondisinya masih sama Pak. Tidak ada perubahan. Kalau dibawa pulang pun, dia akan merepotkan bapak dan keluarga."


"Biarkan saja dia di sini. Mungkin, ini sudah takdir dia seperti ini," ucap Farhan yang sejak tadi tidak berhenti menatap Zia.


"Iya Pak."


"Saya cuma ingin melihatnya saja Sus. Jika tempat ini lebih nyaman untuk Zia, nggak apa-apa jika selamanya dia di sini."


"Iya Pak."


"Kalau begitu, saya pulang dulu Sus."


"Iya Pak Farhan."


Farhan kemudian keluar dari rumah sakit jiwa itu. Farhan berjalan ke parkiran motor untuk mengambil motornya.


Farhan mengambil helm yang ada di atas motor. Setelah itu dia pun memakai helmnya. Farhan naik ke atas motor dan meluncur pergi meninggalkan rumah sakit jiwa itu.


Di dalam perjalanan pulang ke rumahnya, setetes air mata Farhan terjatuh dari pelupuk matanya. Entah kenapa dari kemarin dia selalu teringat dengan Amira.


Farhan sudah banyak mendengar perubahan Amira dari Galih. Karena saat ini, cuma Galih yang berteman dekat dengan Amira. Sementara Farhan, sejak bercerai dengan Amira, dia belum berani untuk menemui Amira dan Laila. Padahal, sebenarnya Farhan ingin minta maaf sama mereka.

__ADS_1


Aku pengin ketemu Amira dan Laila. Aku ingin minta maaf sama mereka. Apakah mereka masih mau memaafkan semua kesalahan aku. Ya Allah ya Robbi, ampunilah semua dosa-dosaku yang pernah mendzolimi Amira dan Laila, batin Farhan.


***


__ADS_2