Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Galau


__ADS_3

Gus Farid dan kakeknya masih berada di dalam kamar. Farid menatap Kakeknya yang saat ini masih duduk di atas tempat tidurnya.


"Kata Umi, kakek memanggil aku ke sini karena kakek ingin bicara sesuatu sama aku. Kakek mau bicara apa Kek?" tanya Gus Farid.


"Farid, kamu itu cucu lelaki kakek satu-satunya. Kamu yang akan menjadi penerus kakek untuk menjadi pengasuh di pondok pesantren ini," ucap kyai Hanafi.


"Iya Kek."


"Kakek ini sudah tua Farid. Kakek hanya tinggal menunggu waktu saja kapan Allah akan memanggil kakek."


"Terus maksud kakek apa?" tanya Gus Farid tidak mengerti apa yang akan kakeknya itu bicarakan.


"Sebelum kakek meninggal, kakek ingin melihat kamu menikah. Husna saja sudah menikah Farid. Lalu kapan kamu akan menikah?" tanya Kyai Hanafi.


"Duh, kakek. Aku nggak bisa jawab kalau soal itu. Belum ada wanita yang cocok sama aku Kek. Aku masih menginginkan wanita seperti Safitri," ucap Gus Farid. Sampai saat ini dia belum bisa melupakan wanita yang bernama Safitri, wanita yang sudah meninggal lima tahun silam.


"Farid, beda orang pasti beda karakter. Kalau kamu menginginkan wanita sepeti Safitri, itu susah Farid. Tapi, kakek punya kenalan wanita untuk kamu. Kalau kamu mau, kakek punya rencana untuk menjodohkan kamu dengan dia. Kalian coba saling kenal mengenal dulu saja. Siapa tahu kalian cocok dan berjodoh," ucap kyai Hanafi.


Gus Farid mengerutkan keningnya.


"Wanita? kenalan kakek? siapa Kek?"


"Iya. Dia anaknya Pak Husen, santri kakek. Alumni pesantren ini juga. Iya sih, anaknya itu tidak masuk pesantren ini. Tapi anaknya Pak Husen ini juga pernah nyantri lama lho di salah satu pesantren ternama juga."


"Oh... sebenarnya kalau soal wanita, aku nggak mau pilih-pilih dia cantik atau nggak, dia kaya atau nggak. Yang penting dia itu mau jadi istri seperti apa yang aku harapkan selama ini. Menjadi istri saleha. Aku pengin punya istri yang sederhana seperti Safitri."


"Farid, Safitri itu sudah meninggal. Sudahlah, nggak usah ingat-ingat dia lagi. Kamu fokus aja dengan masa depan kamu yang sekarang. Kamu tahu, kalau kakek sekarang cuma punya kamu dan Husna. Kakek ingin, kamu dan Husna bisa mempunyai banyak keturunan suatu saat nanti," ucap kyai Hanafi.


Gus Farid mengangguk. "Iya Kek."


Selama ini Gus Farid memang seorang lelaki yang santun. Dia tidak pernah membantah apapun yang di ucapkan kakeknya.


Ilmu kyai Hanafi juga sudah dia turun kan semua ke Gus Farid. Karena dari kecil sampai dewasa, Gus Farid selalu berada dalam pengasuhan kakeknya.


Kyai Hanafi sudah mau mendidik Gus Farid dengan baik. Sehingga Gus Farid walau pun masih muda, dia sudah berilmu tinggi dan sudah hafal 30 jus Al-Qur'an.

__ADS_1


"Kalau punya banyak anak itu enak Farid. Di saat kita tua nanti, kita tidak akan kesepian seperti kakek yang cuma punya anak satu. Yaitu ayah kamu. Dan sekarang pun dia sudah meninggal," ucap kyai Hanafi.


"Kamu bisa menjadikan anak-anak kamu anak yang soleh-soleha. Dan kamu bisa menjadikan anak-anak kamu, penerus kamu di dalam membangun dan membesarkan pesantren ini," lanjut kyai Hanafi.


Gus Farid diam. Dia sejak tadi masih mencoba untuk mencerna apa yang kakeknya itu ucapkan.


"Iya Kek. Insya Allah, kalau aku ada jodoh, aku pasti akan menikah."


"Jodoh itu harus di cari, bukan di tunggu Farid. Walau kamu sampai seratus tahun menunggu, kalau kamu nggak berusaha untuk mencarinya, ya percuma saja. Harus ada usaha juga Farid."


"Iya Kek."


Kyai Hanafi membuka salah satu laci yang ada di nakas. Dia kemudian mengambil foto seorang wanita.


"Ini, lihatlah. Dia wanita yang ingin kakek jodohkan dengan kamu. Namanya Amira. Dia sudah punya anak satu. Dan anaknya sudah SMP."


Gus Farid terkejut saat mendengar ucapan kakeknya. Ternyata kakeknya ingin menjodohkan dia dengan seorang janda anak satu.


"Kakek nggak salah, ingin menjodohkan aku dengan wanita ini," tanya Gus Farid yang masih menatap lekat foto cantik yang ada di depannya.


"Nggak. Karena kakek tahu, wanita ini wanita yang terbaik untuk kamu."


"Karena firasat kakek mengatakan dia itu baik. Dan kakek ingin kamu mengenalnya lebih dekat.


"Tapi bagaimana caranya aku kenal dengan dia. Sementara dia itu jauh. Kecuali kalau dia mau ke sini."


"Ya kamu datangi rumahnya. Untuk sementara kamu tinggal di kampungnya. Agar kamu bisa lebih dekat dengannya."


"Begitu? tapi bagaimana caranya aku ke sana. Dan apa tujuan aku tinggal di kampung wanita ini?"


Gus Farid tampak bingung saat mendengar semua ucapan kakeknya. Namun, Gus Farid pun tidak mau membantah kakeknya yang sedang sakit. Karena Gus Farid sayang sama kakeknya.


***


Sore ini, Galih masih berada di ruang kerjanya. Dia sejak tadi masih menatap ke layar monitornya.

__ADS_1


Raganya memang sedang di kantor dan sedang kerja. Namun fikirannya seperti sedang tidak ada di tempatnya.


Sejak kemarin, Galih tampak tidak bisa berkonsentrasi. Karena dia masih memikirkan mantan adik iparnya itu.


Aku sudah terlanjur cinta sama kamu Amira, apa aku bisa untuk melupakan kamu, rasanya itu akan sangat sulit Amira, kenapa kamu harus nolak aku sih. Seharusnya kamu terima aku aja kemarin. Aku juga kan sudah sangat sayang sama kamu dan Laila, batin Galih.


Sejak tadi seorang lelaki yang ada di samping Galih, masih memperhatikan Galih. Galih memang orang yang sangat terbuka pada teman-temannya, namun untuk soal Amira, dia tidak pernah mau terbuka dengan orang lain, terlebih dengan teman dekatnya.


Galih yakin, jika dia cerita-cerita sama teman-temannya kalau dia suka sama Amira, teman-teman Galih pasti akan mentertawakan Galih. Dan mereka pasti akan bilang, "kenapa harus mencintai mantan adik ipar. Kayak nggak ada cewek lain aja di dunia."


"Woi Lih. Kenapa kamu? dari tadi yang aku perhatikan kamu itu ngelamun terus. Ngelamunin apaan sih?" tanya Johan salah satu rekan kerja Galih.


Galih yang di ajak bicara hanya diam. Sepertinya dia tidak mendengar Johan bicara apa.


"Sudah waktunya pulang Lih. Kamu mau nginap di sini," ucap Johan.


Johan kemudian menepuk pundak Galih sedikit keras yang membuat Galih tersentak.


"Eh, ada apa Jo?" tanya Galih.


"Kamu mau sampai kapan menatap tuh komputer. Udah waktunya pulang. Kamu mau nginap di sini emang?" ucap Johan sembari membereskan berkas-berkasnya.


"Emang kita udah boleh pulang? "


"Nggak ada lemburan hari ini Lih."


"Oh ya? syukurlah kalau begitu."


Aku bisa main ke tokonya Laila, batin Galih.


Galih kemudian mengikuti Johan beres-beres. Dia mematikan layar komputernya. Setelah itu dia membereskan berkas-berkasnya.


Setelah semua beres, Galih menatap ke sekeliling. Semua orang sudah keluar dari ruangan kerjanya. Tinggal Galih yang berada di ruangan itu. Galih menatap jam yang ada di ponselnya.


"Alhamdulillah, masih jam empat. Mudah-mudahan, Amira masih ada di toko," ucap Galih.

__ADS_1


Selama ini Galih memang berani menemui Amira kalau Amira berada di toko saja. Galih tidak enak, kalau dia main ke rumah orang tuanya Amira. Sikap Bu Rahayu yang dingin pada Galih, membuat Galih merasa minder sendiri. Dan tidak berani untuk menemui Amira di rumah Bu Rahayu.


"


__ADS_2