Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Luka batin Amira


__ADS_3

"Umi." Laila tersenyum saat melihat ibunya. Dia kemudian melangkah dan mendekati Amira yang masih berbaring di atas ranjang.


"Umi mau minum kan? ini Laila bawain Umi air putih hangat. Biar tubuh Umi, lebih hangatan," ucap Laila.


Laila kemudian meletakkan gelas di atas nakas. Setelah itu dia duduk di sisi ranjang ibunya.


"Umi, bagaimana keadaan Umi? apa kepala Umi masih sakit?" tanya Laila pada ibunya.


Amira tersenyum. Dia kemudian memegang kepalanya.


"Sudah mendingan setelah minum obat tadi. Cuma leher Umi saja yang masih sakit. Untuk di gerakin masih susah La."


"Sabar ya Umi. Nanti juga sembuh kok. Kalau Umi rajin minum obat dan rajin kontrol ke dokter. Kata dokter sih, dua bulan sampai tiga bulanan leher Umi sembuh. Karena tulangnya kan cuma retak."


"Iya Laila."


"Umi mau minum sekarang? Laila bantu ya."


"Iya Laila. Makasih."


Laila kemudian mengambil sendok dan menyuapkan satu sendok air putih hangat ke mulut Safia. Setelah habis beberapa suapan, Laila menghentikan suapannya.


"Umi mau nambah lagi?" tanya Laila.


"Sudah Laila. Umi udah nggak haus lagi."


Laila kemudian meletakkan sendok dan gelas di atas nakas.


"Jam berapa ini Nak?" tanya Amira pada Laila.


"Jam setengah sepuluh kayaknya Mi."


"Abi kamu belum pulang ya? dia masih di mesjid?" tanya Amira yang tidak tahu saja kalau Farhan sudah pergi dari tadi dari rumah.


Laila diam. Dia bingung untuk menjawab apa saat mendengar pertanyaan dari Amira. Jika Laila jawab jujur, Laila yakin kalau ibunya pasti akan sedih.


Jika Laila bohong, Laila juga takut akan menambah dosa lagi. Baru kemarin dia bohongin Amira tentang Fauzan. Tidak mungkin sekarang Laila bohong lagi tentang Abinya.


Laila masih diam. Dia tampak ragu untuk menjawab jujur pertanyaan dari ibunya.


"Laila, kenapa kamu diam aja? ayo jawab Umi. Abi kamu di mana sekarang?" tanya Amira.


"Se-sebenarnya, Abi udah pergi Mi tadi."


"Pergi ke mana?"

__ADS_1


"Pergi ke rumahnya Mbak Zia."


Deg.


Amira terkejut saat mendengar ucapan Laila.


"Apa! pergi ke rumahnya Mbak Zia?" pekik Amira.


"Iya Mi. Katanya dia mau nginap di rumahnya Mbak Zia untuk malam ini."


"Ja-jadi, Abi kamu ke rumahnya Zia. Kenapa dia tidak izin dulu sama Umi."


"Tadi Umi tidur. Makanya Abi izinnya cuma sama Laila."


"Terus, Laila izinkan Abi pergi?"


"Yah, terus Laila harus bilang apa. Kata Abi, kalau Umi kenapa-kenapa Laila harus telpon Abi dan Abi mau langsung pulang kalau Laila butuh bantuan Abi."


Beberapa saat kemudian, pintu kamar Amira terbuka lebar. Novi masuk ke dalam kamar Amira. Dia kemudian mendekati Amira dan duduk di sisi ranjang Amira.


"Suami Mbak pergi ke rumah wanita itu," ucap Novi.


Amira menatap Novi lekat.


"Dia nggak bilang apa-apa sama aku. Tadi dia izinnya cuma sama Laila. Bukan sama aku."


Amira terdiam. Amira yakin, kalau saat ini, Farhan ke rumah Zia untuk memberikan hak Zia yang selama ini belum terpenuhi.


Bagaimana juga, Farhan juga punya tanggung jawab yang besar pada wanita itu, karena Zia sekarang sama-sama istri Farhan.


Amira hanya bisa menghela nafas dalam. Sebenarnya dia sedih, namun dia pura-pura saja tegar di hadapan Novi dan Laila. Amira sama sekali tidak ingin menangis di depan mereka.


Tega banget sih Mas Farhan sama aku. Dia udah ninggalin aku waktu aku masih membutuhkannya. Apa tidak bisa dia tunda dulu ke rumahnya Zia sampai besok. Aku kan baru pulang dari rumah sakit. Kenapa main tinggal begitu aja.


"Mbak, aku nggak habis fikir ya sama Mbak. Kenapa sih Mbak, bisa-bisanya Mbak menyetujui Mas Farhan nikah lagi," ucap Novi.


"Tidak apa-apa Nov. Ini semua juga sudah keputusan Mbak. Jika seorang suami sudah meminta izin menikah lagi, itu artinya Mbak belum bisa menjadi istri yang baik untuk dia. Mungkin, Mas Farhan kurang puas dengan pelayanan Mbak selama ini . Apalagi sekarang Mbak udah nggak bisa apa-apa seperti ini. Dia butuh seorang wanita untuk melayani kebutuhannya. Mungkin semua ini, sudah rencana Allah. Mbak hanya bisa mengikuti saja skenario kehidupan Mbak," ucap Amira panjang lebar


Ih, kenapa sih, aku punya kakak bisa sebodoh ini. Aku kenal kamu sudah dari kecil Mbak. Aku tahu kalau kamu sekarang itu sedih. Dan kamu berusaha menyembunyikan kesedihan itu dari kita,


"Cuma wanita bodoh, yang mau mengizinkan suaminya nikah lagi. Seandainya aku jadi Mbak, aku akan pergi tinggalin suami seperti Mas Farhan. Tujuan kita menikah itu untuk bahagia, bukan untuk menderita," ucap Novi.


Novi bangkit dari duduknya. Sebelum pergi dia menatap Amira lekat.


"Aku mau ke kamar. Aku mau tidur Mbak. Udah ngantuk," ucap Novi.

__ADS_1


"Ya udah sana," ucap Amira pada Novi.


Novi kemudian melangkah keluar dari kamar Amira dan menutup pintu kamar itu lagi


"Malam ini, Umi tidurnya sama Laila saja ya Umi," ucap Laila.


"Iya La."


Setelah Novi pergi, Laila naik ke atas tempat tidur Amira. Dia kemudian berbaring di sisi ibunya.


"Ayo tidur Mi. Laila juga udah ngantuk."


"Kamu duluan aja yang tidur La. Umi baru bangun, dan belum ngantuk lagi."


"Kalau Umi butuh apa-apa cepat bangunin Laila ya Mi."


"Iya La."


Laila mencoba untuk memejamkan matanya. Setelah Laila terlelap, air mata Amira tiba-tiba menetes deras dari pelupuk matanya. Amira menangis tanpa suara malam ini.


Benar apa kata Novi. Cuma wanita bodoh yang mau mengizinkan suaminya poligami. Tapi aku sudah terlanjur mengizinkan Mas Farhan nikah lagi. Aku yakin kok, kalau Mas Farhan bisa adil sama aku dan Zia. Dia itu kan takut dosa. Dia tidak akan mungkin menelantarkan istri-istrinya, batin Amira.


****


Malam ini, Farhan sudah sampai di depan rumah Zia. Malam ini, di sekeliling rumah Zia tampak sepi. Karena mungkin letak rumah Zia berada di pinggir sawah, dan jauh juga dari tetangga. Sejak tadi hanya suara jangkrik dan katak yang terdengar dari tengah sawah.


Farhan menghentikan motornya. Dia kemudian melangkah ke teras depan rumah Zia.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum," ucap Farhan setelah sampai di depan pintu.


"Wa'alaikumsalam," balas Zia dari dalam rumah.


Zia yang mendengar suara Farhan segera menyambut suaminya di depan.


Zia membuka pintu rumahnya.


"Mas Farhan . Udah sampai? udah beli pesanan aku tadi Mas?"


Farhan tersenyum sembari menunjukan kantong plastik yang di pegangnya. Sebelum ke rumah Zia, Farhan mampir dulu ke swalayan untuk membeli pesanan Zia.


Zia langsung mengambil kantong plastik besar dari tangan Farhan. Kantong plastik itu berisi kebutuhan pribadi Zia, seperti sampo, sabun, odol,pewangi, bedak dan kebutuhan yang lainnya.


Zia pun ingin selalu tampil cantik setelah dia punya suami. Apalagi sekarang mereka pengantin baru. Zia harus tampil cantik dan wangi di depan suaminya yang seorang ustaz itu.

__ADS_1


__ADS_2