
Malam ini, waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Farhan masih berbaring di sisi Amira istrinya. Sejak tadi Farhan masih memeluk Amira erat.
Malam ini, Farhan memutuskan untuk tidur bersama Amira di rumah Amira. Dia takut untuk pulang ke rumah Zia, karena dia sudah mendapatkan ancaman dari ibu mertuanya dan adik iparnya.
Ting.
Suara notifikasi dari hape Farhan tiba-tiba saja terdengar. Farhan mengerjapkan matanya kembali saat mendengar suara notifikasi dari ponselnya.
Zi, kenapa sih kamu chat aku terus. Apa nggak bisa besok aja. Sekarang ibu mertua aku lagi nginap di sini sama adik ipar aku. Aku udah nggak bisa kemana-kemana Zi, batin Farhan yang tampak takut untuk memegang hapenya karena dia merasa masih diawasi oleh Bu Rahayu.
Farhan menatap wajah Amira. Amira malam ini sudah terlelap.
"Kayaknya, Amira udah lelap banget. Aku ambil aja deh, hape aku. Kasihan Zia dari tadi sore belum aku balas chatnya," ucap Farhan.
Farhan beringsut duduk. Setelah itu dia mengambil hapenya yang ada di atas nakas.
Farhan terkejut saat melihat chat yang begitu banyak dari Zia. Farhan membuka satu persatu chat-chat itu dan membacanya.
"Duh, kayaknya Zia marah banget deh sama aku. Karena aku nggak balas chat dia dari tadi sore. Tapi, bagaimana caranya aku mau ke sana. Ini aja masih jam sembilan. Pasti Novi, Laila dan ibu belum tidur," ucap Farhan yang sudah mulai resah.
(Zi Maafin Mas ya, Mas nggak bisa ke rumah kamu dulu malam ini. Besok ya, kalau mas nggak sibuk)
Beberapa saat kemudian, sebuah notifikasi kembali terdengar. Farhan kemudian kembali membuka chat Whatsappnya.
(Mas jahat. Kenapa Mas nggak mau tidur di sini lagi. Apa mas tega membiarkan aku kesepian dan selalu merindukanmu.)
(Iya Zi. Mas tahu, tapi kamu harus mengerti dong kondisi Mas saat ini. Amira lagi sakit)
(Mas, jangan siksa aku seperti ini Mas. Aku masih menginginkan kamu malam ini. Aku kangen banget Mas sama kamu. Aku nggak bisa melupakan hal yang semalam)
Farhan diam. Tiba-tiba saja fikirannya teringat dengan malam di mana pertama kalinya dia menyentuh Zia. Ada yang benar-benar membuat Farhan bahagia saat bersama Zia. Zia, sudah bisa memberikan apa yang tidak bisa Amira berikan untuk saat ini pada suaminya.
Ya, Amira lumpuh. Apa yang bisa didapatkan dari orang lumpuh seperti Amira. Dia sama sekali tidak bisa melayani suaminya dalam hal apapun. Termasuk dalam hubungan ranjangnya.
__ADS_1
Beberapa saat Farhan berfikir. Tiba-tiba saja, hatinya tergerak untuk pergi ke rumah Zia. Setelah Farhan dan Zia saling berbalas-balasan chat, akhirnya Farhan pun memberanikan diri untuk menelpon Zia dengan suara berbisik.
"Halo..."
"Mas, pulang dong. Aku kangen sama kamu Mas.
"
"Aku juga kangen sama kamu Zi."
"Mas ke sini dong. Kita kan pengantin baru. Kamu nggak kasihan sama aku apa Mas. Masa baru sehari kamu bersama aku, kamu udah pergi lagi. Jangan buat aku tersiksa sepeti ini Mas. Aku juga istri kamu yang sama-sama menginginkan kamu. Apalagi aku di sini sendiri. Cuma sama kakek. Kalau Mbak Amira mah, punya banyak keluarga."
"Iya iya iya. Mas akan ke sana sekarang. Tapi Mas nggak mau sampai kesiangan lagi. Kalau Mas kesiangan, bangunin Mas ya sayang"
"Iya Mas. Kamu tenang aja. Besok aku bangunin kamu "
Setelah berteleponan sampai setengah jam dengan Zia,
Sebelum Farhan pergi, dia menatap Amira lekat.
"Maafkan aku sayang, aku harus pergi ke rumahnya Zia. Aku pastikan sebelum subuh aku sudah kembali. Jadi pas kamu terbangun, aku sudah ada di sisi kamu," ucap Farhan.
Farhan kemudian mendekat dan duduk di sisi ranjangnya. Setelah itu Farhan mengecup kening Amira.
Farhan kemudian mengambil ponselnya yang masih ada di atas nakas. Dia kemudian memasukkan ponselnya itu ke dalam saku jaketnya. Setelah itu Farhan pun pergi meninggalkan rumah Amira.
Dengan mengendap-endap, Farhan pergi keluar dari rumah Amira. Setelah itu, dia mengambil motornya dan membawanya sampai ke jalan. Karena Farhan tidak mau ada yang terganggu dengan bunyi motornya. Makanya dia tuntun motor itu sampai ke jalan.
Setelah sampai di jalan, Farhan naik ke atas motor. Dia kemudian menyalakan mesin motornya. Setelah itu Farhan pun meluncur pergi meninggalkan rumah Amira untuk ke rumah Zia.
Sesampainya di depan rumah Zia, Farhan menghentikan motornya. Setelah itu dia melangkah ke teras depan rumah Zia.
"Assalamualaikum. Zia, ini Mas Zi. Bukain pintunya dong...!" ucap Farhan setelah sampai di depan pintu..
__ADS_1
Beberapa kali Farhan mengetuk pintu, namun Zia belum juga membuka pintu. Farhan memegang handle pintu dan dia terkejut saat melihat pintu di rumah Zia ternyata tidak di kunci.
"Ya ampun, ternyata nggak di kunci. Apa Zia sengaja ya nggak ngunci pintunya karena dia tahu aku mau ke sini. Dan di mana Zia sekarang. Apa dia sudah tidur," ucap Farhan.
Farhan kemudian dengan perlahan masuk ke dalam rumah Zia. Setelah itu dia menutup pintunya kembali.
"Zi... Zia... ini mas Zi." Farhan memanggil-manggil Zia. Namun Zia yang dipanggil sama sekali tidak menyahut.
"Duh, jangan-jangan dia tidur lagi," ucap Farhan.
Farhan kemudian masuk ke dalam kamar. Namun Zia tak nampak berada di dalam kamarnya. Farhan kemudian melangkah ke ruang makan. Betapa terkejutnya Farhan saat melihat Zia tertidur di meja makan.
"Zia, kenapa tidur di situ ya. Apa dia ketiduran setelah telponan dengan aku tadi, " ucap Farhan
Farhan kemudian mendekati Zia. Dia akan membangunkan Zia. Namun dia urungkan niatnya untuk membangunkan Zia. Karena dia kasihan dan tidak mau Zia terbangun.
"Kasihan Zia. Aku gendong aja deh, dia sampai ke kamar," ucap Farhan.
Farhan kemudian membopong tubuh Zia sampai ke kamarnya. Dia juga membaringkan tubuh Zia di atas ranjang kecil tempat mereka semalam memadu kasih.
Farhan menghela nafas dalam dan menatap Zia lekat. Zia saat ini, tidak memakai kerudung. Zia terlihat sangat cantik jika dia tidak memakai kerudung. Itu yang membuat Farhan selalu kecanduan untuk menatapnya.
"Kamu cantik banget Zi, kalau lagi tidur begini," ucap Farhan. Sesekali dia mengusap-usap kepala Zia dan mengecup keningnya.
Zia menggeliat saat merasakan kehadiran suaminya. Tiba-tiba saja, Zia mengerjapkan matanya dan terbangun.
"Mas, kamu udah ada di sini ternyata," ucap Zia sembari beringsut duduk.
"Iya Zi. Tadi aku bawa kamu ke sini. Kamu kenapa tidur di ruang makan?' tanya Farhan.
Zia tersenyum.
"Aku ketiduran Mas."
__ADS_1