Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Pergi ke rumah sakit


__ADS_3

Malam ini, Farhan belum bisa tidur. Dia masih memikirkan Amira. Entah kenapa bayang-bayang Amira masih terus saja menghantui fikirannya.


Setelah satu minggu Farhan mentalak Amira, dia bukannya melupakan Amira, dia malah semakin memikirkan wanita itu.


Mungkin memang benar, penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Mungkin saja Farhan menyesal sudah melepaskan wanita sebaik Amira.


Amira, maafkan aku Amira. Aku menyesal, karena aku sudah mengabaikan kamu. Sebenarnya aku nggak mau kita bercerai. Aku belum ikhlas untuk melepaskan kamu. Tapi, jika perceraian itu akan membuat kamu bahagia dan terlepas dari penderitaanmu, aku ikhlas untuk melepaskan kamu. Biarkan aku punya satu istri saja, batin Farhan


Beberapa saat kemudian, Zia mengerjapkan matanya. Dia menatap ke arah suaminya.


"Zi, kamu bangun?" tanya Farhan menoleh ke sampingnya tidur.


"Mas, perut aku sakit Mas. Dari kemarin aku tahan-tahan tapi sekarang sakit banget," ucap Zia sembari memegangi perutnya yang sakit.


"Zi, jangan bilang kamu mau lahiran sekarang Zi. Kita aja belum beli perlengkapan bayi lho. Dan usia kandungan kamu juga masih delapan bulan. Masa mau lahiran duluan sih," ucap Farhan yang masih tampak bingung.


"Tuh kan, aku bilang apa Mas. Kamu sih nggak dengar apa kata aku. Keperluan bayi itu harusnya kita beli waktu usia kandungan aku masih muda. Kita kan nggak tahu anak kita mau lahir kapan. Mungkin saja dia akan lahir sekarang," ucap Zia.


Farhan tiba-tiba saja teringat dengan Fauzan,


Ya, perlengkapan bayi milik Fauzan perasaan masih aku simpan di lemarinya Laila. Tapi...


Farhan kembali berfikir.


Aku sudah mau pisah sama Amira. dan aku lagi nunggu sidang. Nggak mungkin kan aku balik ke sana untuk minta perlengkapan bayi milik Amira. Iya sih itu memang aku yang beli, tapi malu dong, kalau aku harus ngambil perlengkapan Fauzan, batin Farhan.


"Duh, Mas. Kamu kok malah bengong sih. Perutku sakit banget ini gimana," ucap Zia yang sejak tadi masih menahan sakit.


"Duh, iya iya. Sabar sayang. Kamu tunggu di sini ya. Aku mau panggil ibu dulu," ucap Farhan sembari menatap Zia lekat.


Farhan kemudian turun dari tempat tidurnya dan berjalan pergi untuk ke kamar ibunya.


Tok tok tok...


"Bu, ibu. Bangun Bu..." seru Farhan dari luar kamar ibunya.


Bu Aminah mengerjapkan matanya saat mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya. Farhan sejak tadi masih memanggil-manggilnya. Bu Aminah buru-buru turun dari tempat tidurnya untuk membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Farhan malam-malam gini ketuk-ketuk pintu kamar ibu?" tanya Bu Aminah menatap Farhan tajam. Bu Aminah sepertinya merasa terganggu dengan kehadiran Farhan.


"Bu, istriku sepertinya mau lahiran. Dia perutnya kesakitan Bu," ucap Farhan menuturkan.


"Ya ampun, masa mau lahiran sih Farhan. Kan masih delapan bulan."


"Tapi Zia tadi perutnya kesakitan Bu. Kita harus bawa dia ke rumah sakit. Takutnya dia mau lahiran beneran."


"Baiklah kalau begitu. Ibu siap-siap dulu ya. Kamu panggil Galih. Suruh dia pinjam mobil untuk ngantar kita!" perintah Bu Aminah pada Farhan.

__ADS_1


"Iya Bu. Tapi sepertinya Mas Galih itu lagi main ke rumah temannya."


"Ya kamu telpon dong. Bawa hape nggak sih Galih. Lagian ini masih jam sebelas."


"Iya Bu. Nanti aku telpon Mas Galih"


Bu Aminah kemudian masuk kembali ke dalam kamar untuk bersiap-siap. Sementara Farhan kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.


Farhan kemudian menekan nomer Galih dan langsung meneleponnya..


"Halo, Assalamualaikum."


"Halo wa'alakiumsalam Mas."


"Ada apa Farhan malam-malam nelpon aku?"


"Mas ada di mana sekarang?"


"Mas lagi di rumah Bastian."


"Mas bisa carikan mobil nggak Mas ke Yudi atau ke siapapun untuk bawa Zia. Sepertinya Zia mau lahiran sekarang."


"Apa! istri kamu mau lahiran sekarang?"


"Iya Mas. Cepat Mas."


"Ya udah, aku akan pulang sekalian bawa mobilnya Yudi. Nanti aku pinjam kan ke Yudi."


"Iya iya. Ini aku mau pulang."


Farhan kemudian menutup saluran telponnya. Setelah menelpon Galih, Farhan kemudian menatap istrinya.


"Bagaimana Mas?" tanya Zia sembari menatap suaminya lekat.


"Mas Galih mau pulang. Sekalian mau bawa mobil. Kamu yang sabar ya. Aku mau siapin baju-baju ganti kamu sekalian mau siap-siap"


"Iya Mas."


Farhan kemudian bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


Setelah siap, Farhan membawa istrinya ke ruang tamu. Mereka kemudian duduk di ruang tamu.


"Kita tunggu mas Galih di sini," ucap Farhan.


"Iya Mas."


Beberapa saat kemudian, Bu Aminah menghampiri Farhan dan Zia di ruang tamu.

__ADS_1


"Mana Galih? dia udah datang belum?" tanya Bu Aminah. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu, ikut duduk bersama Zia dan Farhan.


Setelah agak lama Farhan, Bu Aminah dan Zia menunggu Galih, akhirnya deru mobil pun terdengar dari luar rumah.


"Itu pasti Mas Galih," ucap Farhan.


Farhan buru-buru keluar untuk melihat Galih.


Beberapa saat kemudian, Galih turun dari mobilnya. Dia kemudian menghampiri Farhan yang sudah menunggunya di teras.


"Mana istri kamu?" tanya Galih.


"Ada di dalam Mas," jawab Farhan.


"Kamu yakin, istri kamu mau lahiran?"


"Iya Mas. Dia udah kesakitan dari tadi."


"Ya udah, ayo. Tunggu apa lagi," ucap Galih.


Galih berjalan masuk ke dalam rumahnya untuk melihat Zia. Dia terkejut saat melihat Zia dan ibunya sudah ada di ruang tamu.


"Zia kamu benar-benar mau melahirkan? yang benar aja. Usia kandungan kamu kan masih delapan bulan," ucap Galih.


"Iya benar Mas. Mungkin anak saya mau lahir prematur Mas," ucap Farhan


Galih hanya manggut-manggut.


"Kalian udah siap?"tanya Galih menatap Zia, Farhan dan Bu Aminah bergantian.


"Udah Mas."


"Ya udah, tunggu apa lagi. Ayo kita berangkat. Jangan sampai ada yang ketinggalan ya barang-barangnya. Soalnya biar kita tidak bolak-balik lagi," ucap Galih.


Galih dan Bu Aminah keluar dengan membawa barang-barang Zia. Sementara Farhan, harus memapah Zia sampai ke mobil.


Galih membukakan pintu mobil untuk Zia. Zia dan Farhan kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka duduk di kursi belakang. Sementara Bu Aminah dan Galih duduk di kursi depan. Setelah itu, Farhan, Zia, Bu Aminah, kemudian berangkat ke rumah sakit dengan mobil.


"Aduh, sakit banget perut aku Mas," ucap Zia sembari memegangi lengan Farhan dengan kuat. Sesekali dia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya.


"Sabar ya sayang. Sebentar lagi kita akan sampai," ucap Farhan sembari mengusap-usap perut istrinya.


"Galih, bisa cepat sedikit Galih. Kasihan Zia, dia sepertinya sudah kesakitan banget," ucap Bu Aminah yang ikut cemas saat melihat menantunya itu.


"Iya Bu. Ini juga udah cepat kok. Cuma jalan yang mau ke rumah sakit kan lagi rusak. Jadi aku nggak bisa cepat."


Beberapa saat kemudian, mobil Galih sudah sampai di depan rumah sakit.

__ADS_1


Galih dan Bu Aminah turun dari mobilnya. Setelah itu mereka membantu Zia dan Farhan turun dari mobilnya. Mereka kemudian membawa Zia sampai masuk ke dalam rumah sakit.


***


__ADS_2