Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Abi lebih mentingin istri barunya


__ADS_3

"Ih... Abi kemana sih. Kenapa di telponin dari tadi hapenya nggak aktif," ucap Laila kesal. Sesekali dia menatap ponselnya.


"Apa Abi lupa kalau hari ini Umi kontrol," ucap Laila.


Laila kemudian melangkah masuk ke dalam kamar ibunya.


"Umi, jadi nggak sih kontrolnya. Ini Abi dari tadi di telponin nggak aktif- aktif. Udah jam setengah delapan Mi. Gimana nanti di rumah sakit. Ngantrinya pasti lama, "ucap Laila menuturkan.


"Mungkin, Abi kamu sekarang ada di rumah sakit La. Semalam kan dia bilangnya mau ke rumah sakit," ucap Amira.


"Iya. Tapi kan seharusnya Abi ngabarin kita dong. Biar kita nggak menunggu dia lama seperti ini. Dan ada kepastian gitu lho Mi."


"Ya udah tungguin aja lah. Abi kamu pasti pulang kok."


"Apa Laila samperin aja ya, Abi di rumahnya Mbak Zia." Laila mengusulkan.


"Abi kamu nggak mungkin ada di sana La. Umi yakin, kalau Abi kamu sekarang ada di rumah sakit. Karena semalam dia mau nganterin kakeknya Zia ke rumah sakit."


"Tapi kan coba aja Mi. Siapa tahu Abi ada di rumah Mbak Zia."


"Ya udah terserah kamu aja. Kalau mau ke sana naik sepeda juga nggak apa-apa."


"Ya udah, coba dulu ya Mi. Laila ke rumahnya Mbak Zia. Kalau Abi nggak ada di sana, ya udah. Laila pulang lagi."


"Iya La."


Laila keluar dari kamar Amira. Dia akan ke rumah Zia. Namun Laila menghentikan langkahnya saat dia mendengar deru mobil dari luar rumah.


"Kok ada suara mobil di depan. Mobil siapa ya," ucap Laila.


Laila kemudian membuka pintu depan. Dia terkejut saat melihat Galih turun dari mobilnya.


"Pade, ngapain pade ke sini bawa mobil," ucap Laila.


Galih menatap ke teras depan rumah Amira. Dia tersenyum saat melihat Laila. Galih kemudian mendekat ke arah Laila.


"Assalamualaikum"


"Wa'alakiumsalam pade," jawab Laila.


Laila tampak masih bingung dengan kedatangan Galih. Laila buru-buru mencium punggung tangan Galih.


"Laila, kamu udah siap?" tanya Galih.


"Siap mau kemana pade?"


"Katanya Umi kamu mau kontrol ke rumah sakit?"


"Oh, jadi pade ya yang mau ngantar Umi ke rumah sakit."


"Iya."


"Pade di suruh sama Abi ya."


"Iya. Katanya Abi kamu, mau ngantar kakeknya Zia ke dokter hari ini."


Laila tampak sedih saat mendengar ucapan Galih. Dia fikir, kalau ayahnya mau pulang dan mau nganter ibunya ke dokter. Tapi ternyata ayahnya lebih memilih untuk mengantar kakeknya Zia ke rumah sakit.

__ADS_1


Apa sekarang Mbak Zia yang lebih penting untuk Abi. Bukan Umi. Kenapa Abi jadi berubah sih setelah menikah dengan Mbak Zia. Abi jadi lebih mentingin Mbak Zia dari pada Umi, batin Laila


Laila terkejut saat Galih menepuk pundaknya.


"Hei, kamu malah ngelamun. Mana Umi kamu?" tanya Galih.


"Umi ada di dalam. Dia masih di kamarnya Pade."


Laila menatap mobil yang terparkir di depan rumahnya.


"Pade. Itu mobil siapa?" tanya Laila.


"Oh, pade pinjam mobil teman."


"Pade, terus siapa yang nyetir?"


"Pade dong."


"Emang pade bisa nyetir?"


"Ya bisa dong. Kan pade dulu punya mobil."


"Ya udah, ayo masuk pade. Aku mau siap-siap dulu."


Galih mengangguk. Setelah itu dia mengikuti Laila masuk ke dalam rumah Amira.


"Duduk dulu Pade. Aku mau panggil Umi."


Galih kemudian duduk setelah Laila mempersilahkannya duduk. Setelah itu Laila pun pergi untuk ke kamar ibunya.


Laila membuka pintu kamar Amira. Dia kemudian mendekat ke arah ibunya.


"Umi. Kita harus siap-siap. Pade udah sampai Umi."


"Mau ngapain pade kamu ke sini?"


"Umi, ternyata Abi udah nyuruh pade untuk ngantar Umi ke rumah sakit. Karena katanya, Abi itu mau nganter kakeknya Mbak Zia ke rumah sakit."


Amira diam dan tampak berfikir.


Kok jadi Mas Galih yang mau nganter aku ke rumah sakit. Jadi Mas Farhan lebih memilih ngantar kakeknya Zia dari pada pilih nganterin aku. Tapi, aku belum apa-apa, sebenarnya aku lagi nunggu Mas Farhan pulang. Aku nggak bisa ke kamar mandi sendiri dan ganti baju sendiri. Masa aku harus sama Laila dan Mas Galih, batin Amira.


"Umi. Kenapa ngelamun," ucap Laila yang membuat Amira tersentak


"Eh, iya. Ambilkan kerudung Umi Nak."


"Iya Umi."


Laila kemudian mengambilkan hijab lebar milik Amira.


"Ini Mi."


"Makasih ya La."


"Iya Mi."


"Sekalian baju ganti La."

__ADS_1


Laila diam dan menatap ibunya.


"Tapi siapa yang mau bantu Umi ganti baju. Aku nggak bisa Mi. Aku takut nanti leher Umi sakit."


"Tapi masa Umi harus pakai baju tidur seperti ini. Umi kan malu. Apalagi mau ke rumah sakit. Umi kan biasa pakai gamis."


"Ya udah, Umi nggak usah khawatir. Nanti aku panggil Pade dulu."


Amira terkejut saat mendengar ucapan Laila. Amira buru-buru memakainya jilbab lebarnya sebelum Galih sampai ke kamarnya.


"Laila kamu mau ke mana?" ucap Amira yang melihat Laila buru-buru keluar dari kamar.


Laila melangkah ke ruang tamu untuk memanggil Galih.


"Pade, bisa bantuin Umi pade."


Galih mengernyitkan alisnya.


"Bantuin apa?" tanya Galih..


"Bantuin Umi untuk naik ke kursi roda."


"Oh. Baiklah."


Galih dan Laila kemudian buru-buru melangkah ke kamar Amira.


Amira terkejut saat melihat Galih..


Duh, kenapa Mas Galih pakai acara masuk ke kamar aku segala lagi. Aku kan malu, aku lagi pakai baju tidur seperti ini.


Galih menatap Amira lekat.


"Kamu mau pakai baju tidur seperti ini ke rumah sakit?" tanya Galih.


Amira menatap tubuhnya yang masih berbalut baju tidur.


"Sebenarnya aku lagi nungguin Mas Farhan. Aku kan memang belum mandi, dan belum ganti baju Mas."


"Farhan nggak gantiin kamu baju?"


"Nggaklah. Orang semalam Mas Farhan pergi dan nggak tidur di rumah."


Galih terkejut.


"Jadi Farhan pergi dari semalam. Aku fikir, Farhan baru pagi ini pergi."


Amira tampak tidak nyaman saat mendapat tatapan dari Galih. Walau baju tidur itu masih tergolong baju tertutup, sama saja membuat Amira malu. Apalagi Amira tidak biasa memakai celana saat keluar rumah.


"Laila, kamu gantiin baju Umi kamu dulu La."


"Tapi aku nggak bisa pade. Biasanya kan Abi yang gantiin baju Umi. Kalau pade bisa, Pade aja sana yang gantiin baju Umi," celetuk Laila yang membuat Amira dan Galih membulatkan matanya.


"Astaghfirullahaladzim," ucap Amira dan Galih bersamaan.


Galih menatap Amira. Dia tampak malu, dia merasa lancang karena sudah masuk ke dalam kamar Amira. Tapi Galih masuk ke kamar Amira karena Laila yang mengajaknya.


"Em. Amira. Aku tunggu di luar aja deh. Maaf ya, kalau aku sudah lancang masuk kamar kamu. Kamu dan Laila lebih baik siap-siap dulu. Kalau kalian sudah siap, kamu bisa panggil aku lagi di depan."

__ADS_1


"Iya Mas."


Galih kemudian keluar meninggalkan Amira dan Laila di dalam kamarnya.


__ADS_2