
Ring ring ring...
Farhan mengerjapkan matanya saat mendengar deringan ponselnya. Waktu saat ini sudah menunjukkan jam dua belas malam. Farhan dan Amira saat ini masih berbaring di atas ranjangnya.
"Duh, siapa sih malam-malam begini nelpon," gerutu Farhan sembari mengambil ponsel yang ada di atas bantalnya.
"Zia. Mau ngapain dia malam-malam gini nelpon. Nggak tahu ada orang capek dan ngantuk apa," Farhan masih menggerutu sembari mendekatkan hapenya di dekat telinganya.
Farhan kemudian mengangkat panggilan dari Zia.
"Halo..."
"Halo Mas. Hiks...hiks..hiks..."
Suara tangis Zia sudah terdengar di balik telpon.
"Zi. Kamu kenapa? kenapa kamu nangis?"
"Kakek aku Mas."
"Kenapa dengan kakek?"
"Kakek aku muntah-muntah dan dia juga buang air besar terus. Dan tadi kakek muntah darah Mas."
Farhan terkejut saat mendengar ucapan Zia.
"Apa! kenapa bisa begitu Zi."
"Aku juga nggak tahu Mas. Tiba-tiba saja kakek seperti itu. Aku takut kakek kenapa-kenapa Mas."
"Maaf ya Zi. Aku nggak bisa ke sana. Amira soalnya sendirian di rumah. Cuma ada Laila aja di sini. Aku nggak tega ninggalin dia."
"Biasanya ada Novi sama ibunya di sana kan."
"Mereka lagi pergi kondangan ke luar kota. Aku kan udah bilang kemarin sama kamu. Aku nggak bisa ke rumah kamu dulu."
"Mereka belum pulang ya Mas? "
"Belum. Katanya mereka mau tiga hari di sana. Perjalanannya aja juga udah jauh. Dan ini kan baru dua malam mereka pergi. Paling lusa mereka baru kembali."
__ADS_1
"Yah, terus gimana dong Mas. Aku takut banget. Aku takut kakek kenapa-kenapa. Aku mau minta tolong sama siapa kalau bukan sama kamu Mas. Kamu itu kan suami aku."
"Tapi malam ini aku nggak bisa Zia. Benar-benar nggak bisa. Kalau Amira bangun dan dia pengin makan atau minum gimana."
"Kan ada Laila. Laila kan udah besar. Bisa lah dia bantuin ibunya. Tolong Mas, aku mau bawa kakek ke rumah sakit. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama dia."
"Ya kamu nggak bisa tunggu besok pagi aja? biar sekalian aku bawa Amira juga kontrol ke rumah sakit. Sama bawa kakek kamu. Dan ini kan juga udah malam Zi. Kita mau bawa kakek kamu pakai apa. Kalau besok kan bisa pakai mobil sekalian aku nganter Amira."
"Pokoknya aku nggak mau tahu ya Mas. Kamu harus ke sini sekarang. Kalau nggak, ya udah kamu nggak usah ke sini lagi aja. Dan kita nggak usah ketemu lagi. Untuk apa sih aku punya suami tapi dia nggak mau nolongin istrinya di saat istrinya kesusahan."
"Baiklah baik. Aku akan ke sana sekarang. Aku mau lihat kondisi kakek kamu.Tapi aku nggak janji aku bisa nginap di rumah kamu malam ini. Kalau kondisi kakek kamu baik-baik aja, aku akan pulang ke rumah Amira. Kalau kakek kamu udah parah, ya udah kita ke rumah sakit sekarang."
"Iya Mas. Makasih banyak ya Mas. Aku tunggu kamu di rumah aku."
"Iya."
Setelah bertelponan dengan Zia, Farhan turun dari tempat tidurnya. Dia kemudian melangkah ke lemari untuk ganti baju. Farhan ingin memastikan kalau kakek Zia baik-baik saja.
Setelah Farhan rapi, Farhan mendekat ke arah Amira. Dia kemudian duduk di sisi Amira.
Farhan meraih tangan Amira dan menciumnya berkali-kali.
"Amira, tidur yang nyenyak ya. Mas mau pergi dulu untuk melihat kakeknya Zia. katanya dia muntah darah dan buang air besar terus. Zia sekarang sendirian. Dan dia meminta aku untuk ke sana, tadi Zia nangis. Dia panik dan ketakutan," ucap Farhan.
Namun baru satu langkah Farhan berjalan, Amira langsung memegang tangan Farhan. Membuat Farhan terkejut.
"Kamu mau kemana Mas?" tanya Amira yang sudah membuka matanya.
Farhan menoleh dan terkejut saat melihat Amira terbangun. Farhan menatap Amira lekat. Dia hanya bisa diam karena dia bingung untuk mengatakan apa pada Amira.
"Aku mau..." ucap Farhan menggantungkan ucapannya.
"Jangan pergi Mas. Aku sendirian. Aku lagi butuh kamu Mas," ucap Amira mengiba.
Amira memang takut ditinggal sendiri. Apalagi sekarang hanya ada Laila di rumah. Biasanya ada Bu Rahayu, Pak Husen atau Novi yang bergantian jagain Amira setiap malam.
"Tapi..." Farhan masih dalam dilema. Diantara pergi meninggalkan Amira dan tetap ke rumah Zia, atau dia memilih tetap bersama Amira.
"Aku tahu, kamu mau ke rumah Zia kan. Karena kakek Zia sakit. Aku juga lagi sakit Mas. Dan aku sekarang lagi nggak ada siapa-siapa. Keluarga besar aku lagi kondangan. Kalau ada apa-apa sama aku gimana."
__ADS_1
"Tapi Zia juga membutuhkan aku Amira."
"Mas, kamu sudah lima malam tidur sama dia. Dan aku cuma baru dua malam. Masa kamu mau pergi lagi sih untuk tidur di sana."
"Aku nggak mau tidur di sana. Aku cuma mau lihat kondisi kakeknya Zia."
"Mas, aku takutnya ini cuma akal-akalannya Zia aja. Supaya kamu mau pulang ke rumahnya."
"Nggak mungkin Amira. Tadi Zia nangis dan dia tampak panik. Katanya kakeknya sakit. Dan Zia mau bawa kakeknya ke rumah sakit."
"Aku juga besok mau ke rumah sakit Mas. Kalau kamu antar kakeknya Zia ke rumah sakit dan nungguin dia di sana. Aku sama siapa pergi kontrolnya. Aku ke rumah sakit juga nggak bisa pakai motor lho. Kita harus nyewa mobil. Apa kamu sudah siapkan mobilnya."
Farhan diam. Dia kemudian duduk kembali di sisi Amira.
"Aku belum siapkan mobil. Nanti aku minta bantuan Mas Galih lagi untuk masalah mobil. Mas Galih kan punya banyak teman yang punya mobil. Aku ke rumah Zia dulu ya Amira. Sebentar aja Amira. Kamu sama Laila dulu ya."
Amira tampak kesal dengan suaminya. Dia kemudian menatap suaminya tajam..
"Terserah kamu lah Mas. Aku nggak mau maksa kamu. Kalau kamu mau pergi, pergi aja sana. Tapi nggak usah kembali lagi ke rumah ini. Tinggal aja selamanya di rumahnya Zia," ucap Amira.
Amira sudah mulai kesal dengan sikap Farhan yang lebih mementingkan urusan istri barunya dari pada Amira.
Farhan menatap Amira lekat.
"Kamu kok bicara begitu? maksud kamu apa ya?" Farhan sudah menatap tajam ke arah Amira.
"Ya maksud aku. Kalau kamu lebih betah tinggal di rumahnya Zia, ya udah nggak usah pulang ke sini. Tinggal aja di sana."
"Tapi Amira..."
Amira diam. Dia membuang mukanya ke arah lain. Dia malas harus berdebat dengan Farhan lelaki yang tidak bisa tegas dengan istri barunya yang slalu menyuruhnya pulang saat Farhan sedang enak-enakan tidur di rumah Amira.
Farhan meraih tangan Amira. Dia kemudian mencium punggung tangan Amira.
"Amira. Tolong izin kan aku pergi. Aku ingin menolong Kakeknya Zia. Dia lagi sakit. Katanya Zia mau bawa kakeknya ke rumah sakit. Amira, aku mohon. Kamu itu wanita yang baik Amira. Kamu pasti nggak mau kan, sampai terjadi apa-apa dengan kakeknya Zia. Karena kalau ada apa-apa dengan kakeknya Zia. Aku juga yang repot Amira."
"Ya udahlah sana. Pergi aja. Aku nggak mau melarang kamu lagi. Sekarang sana, kamu panggilkan Laila. Dan suruh Laila tidur di sini."
"Aku janji Amira. Aku mau langsung pulang ke sini kalau urusan aku sudah selesai sama Zia."
__ADS_1
"Iya iya...sana pergi aja."
Akhirnya Amira pun membiarkan saja suaminya pergi. Karena sejak tadi Farhan masih merengek untuk diizinkan pergi ke rumah Zia.