
"Bu, ibu lagi ngapain?" tanya Farhan setelah sampai di dapur.
"Ibu mau masak lah Farhan."
"Bu, Zia mual-mual terus. Apa ya Bu, obatnya. Setiap aku pakai minyak wangi, dia selalu mual. Dan setiap Zia ke dapur, dia juga mual mencium bau masakan ibu. Makanya dia nggak pernah mau bantuin ibu memasak."
"Duh, itu sih susah juga ya Farhan. Kalau orang masih hamil muda memang gitu. Amira juga dulu gitu kan? tapi nanti juga berhenti sendiri."
"Iya sih. Tapi nggak parah banget begini Bu."
"Kamu mau ngapain ke sini? mau bantu ibu masak?"
"Em, iya Bu, sekalian mau buat kopi."
"Ya udah sono, buat sendiri."
"Sebenarnya aku mau ke rumahnya Amira Bu pagi ini. Ini kan jadwal Amira berobat ke rumah sakit. Aku mau nganter dia."
"Oh, ya udah sana. Kamu kan satu minggu nggak ke sana."
"Aku sebenernya juga capek, kalau harus bolak-balik terus Bu. Aku kan kerjanya juga dekat sini. Pulang ke rumah Amira juga kejauhan. Paling aku cuma bisa seminggu sekali pulang ke rumah Amira."
"Seharusnya jangan begitu kamu Farhan. Itu sama aja nggak adil untuk Amira. Amira itu masih butuh kamu. Kamu seharusnya bisa adil dalam membagi waktu kamu. Kalau kamu di sini satu minggu, di rumah Amira juga kamu harus satu minggu. Itu baru adil namanya."
Di sela-sela Bu Aminah dan Zia ngobrol, tiba-tiba saja Zia datang.
"Aku dengar, kamu mau pergi ke rumahnya Mbak Amira ya?" Zia sudah menatap Farhan lekat.
"Iya Zi. Aku mau ngantar dia ke rumah sakit."
"Selain kamu emang nggak ada yang mau ngantar lagi? seperti ayahnya atau saudaranya."
"Aku suaminya Amira. Aku yang lebih punya tanggung jawab ke Amira."
"Terus kerjaan kamu gimana?"
"Sebelum pergi, aku mau izin dulu dong ke sekolah. Pihak sekolah pasti akan ngizinin kok."
Zia cemberut saat tahu suaminya akan pergi ke rumah istri pertamanya.
Zia kemudian berjalan ke arah meja makan dan menghempaskan tubuhnya di kursi ruang makan.
Sebenarnya aku nggak suka Mas Farhan pergi ke sana. Pasti nanti Mas Farhan akan nginap di sana, batin Zia.
__ADS_1
Setelah menyeduh kopi panas, Farhan kemudian membawa secangkir kopi itu dan meletakannya di atas meja makan. Dia kemudian duduk di dekat istrinya. Farhan mengambil cangkir itu dan menyeruputnya.
"Kok aku nggak dibuatin minuman hangat juga? aku kan lagi mual-mual Mas?" tanya Zia sembari menatap Farhan lekat.
Bu Aminah yang sejak tadi masih berada di dapur, menatap Farhan dan Zia yang saat ini ada di meja makan.
Bu Aminah hanya geleng-geleng kepala saat melihat sikap menantunya. Tidak sekali dua kali Zia menyuruh Farhan untuk membuatkannya teh hangat atau susu hangat.
Tapi sudah berkali-kali Zia itu menyuruh Farhan untuk membuatkannya minuman hangat. Padahal Zia itu bisa sendiri untuk membuatnya.
"Kalau kamu pengin air hangat, ambil sendiri aja lah Zi. Jangan suruh-suruh Farhan terus. Kasihan dia lagi ngopi dulu. Buat sendiri kan kamu bisa. Ini ada gula, ada teh, ada kopi ada susu, air panas juga ada di termos. Tinggal tuang aja."
"Iya Bu," ucap Zia.
***
Farhan menghentikan motornya saat dia sudah sampai di depan rumah Amira.
Farhan mengetuk pintu rumah itu dan memberi salam.
Tok tok tok
"Assalamualaikum," ucap Farhan.
"Wa'alakiumsalam," jawab Amira yang langsung menyambut Farhan dengan senyuman.
"Mas, kamu udah datang. Aku fikir, kamu nggak mau datang. Aku udah nungguin dari tadi lho," ucap Amira.
Farhan diam. Sepertinya dia marah sama Amira karena ucapan Galih semalam. Farhan masuk begitu saja dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
Amira mendorong kursi rodanya dan mendekat ke arah suaminya.
"Ada apa Bi? maaf ya, kalau Umi udah ngerepotin Abi."
Farhan masih diam. Dia sama sekali tidak mau menatap Amira. Amira tidak tahu apa kesalahannya yang membuat suaminya terlihat marah padanya.
"Abi, Abi kenapa diam aja? Abi ada masalah? atau Abi nggak ikhlas mau nganter Umi ke rumah sakit?" tanya Amira.
Farhan menatap Amira lekat.
"Amira, bagaimana perasaan kamu ke aku sekarang?" tanya Farhan datar.
Amira terkejut saat mendengar ucapan Farhan.
__ADS_1
"Apa! apa maksud kamu? kenapa kamu tanya soal perasaan aku ke kamu? bukankah kamu sudah tahu jawabannya," ucap Amira.
"Barang kali, kamu sudah berpaling ke lain hati Amira."
Amira mengernyitkan alisnya, bingung dengan suaminya.
"Bukan Umi yang berpaling. Tapi Abi yang udah berpaling. Abi udah berpaling ke Zia sekarang," ucap Amira menegaskan.
"Kalau Abi berpaling, apa Umi mau ikut-ikutan berpaling juga ?" tanya Farhan yang masih dengan sikap dinginnya.
Amira terkekeh saat dia melihat tingkah suaminya yang seperti anak ABG.
"Bi, Abi ini kenapa sih Bi sebenarnya? kok tiba-tiba Abi bicara seperti ini ke Umi. Abi udah ragu dengan cinta Umi?" tanya Amira.
Amira tampak santai saat menanggapi kemarahan Farhan. Karena Amira saja tidak tahu apa yang menyebabkan suaminya marah.
Mas Farhan kenapa sih, kelihatannya marah banget sama aku. Apa salah aku coba, seharusnya aku yang marah sama dia, karena seminggu dia nggak pulang, dan nggak ngasih uang juga. Seharusnya, dia yang lebih dewasa dari aku, dan mengerti aku. Kok dia malah jadi seperti anak kecil begini, batin Amira.
Farhan masih menatap tajam wajah Amira. Dia masih diam, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Abi, kalau Abi mau menepati janji Abi untuk adil dengan Umi dan Zia, mungkin Umi bisa mempertahankan cinta Umi ke Abi. Tapi sebaliknya, kalau Abi tidak bisa adil dengan Umi dan Zia, jangan salahkan Umi, jika Umi sembuh nanti Umi bisa bertindak dan berbuat sesuatu ke Abi," ucap Amira yang membuat Farhan terkejut.
"Apa! jika Umi sembuh dan bisa jalan lagi, Umi akan melakukan apa emang?"
"Sudahlah Bi. Nggak penting kita membahas seperti ini. Udah siang Bi. Sana, Abi ke rumah Pak Ridwan, dan bilang ke Pak Ridwan untuk ngantar kita ke rumah sakit," pinta Amira.
"Baiklah. Apa Umi udah siap?"tanya Farhan pada istrinya.
"Umi udah siap dari tadi Bi. Abi aja yang datangnya telat," jawab Amira.
"Ya udah, Abi pergi dulu ya. Abi mau ke rumah Pak Ridwan. Mau nanya mobil. Siapa tahu mobilnya nggak ada yang pakai."
"Abi udah telpon Pak Ridwan
nya belum?" tanya Amira.
"Udah, semalam Abi udah chat Pak Ridwan. Abi bilang kalau Abi besok mau ngantar kamu ke rumah sakit dengan mobilnya. "
"Terus dia bilang apa?"
"Cuma iya doang."
"Ya udah kalau gitu. Dia pasti ada di rumah lah sekarang, nggak mungkin dia ke ladang."
__ADS_1
Setelah itu Farhan keluar dari rumah Amira untuk ke rumah Pak Ridwan meminjam mobil.