Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Sekali kecewa akan tetap kecewa


__ADS_3

Suara adzan subuh sudah terdengar di mushola-mushola dekat rumah Zia. Farhan saat ini masih berada di kamar Zia.


Farhan sudah mandi, dan dia tampak sudah rapi dengan jaket yang dia gunakan semalam. Sebelum pergi, Farhan duduk di sisi ranjangnya. Dia kemudian menatap Zia lekat.


"Zia sayang, Mas pulang dulu ya," ucap Farhan sembari mengusap-usap kepala Zia.


Namun tampaknya Zia sangat nyenyak sekali tidurnya. Dia tidak merasakan sentuhan tangan Farhan di wajahnya.


Farhan mengecup kening Zia. Setelah itu dia pergi meninggalkan Zia begitu saja. Masa bodoh jika nanti Zia marah padanya karena Farhan pergi begitu saja meninggalkannya.


Farhan keluar dari kamarnya. Setelah itu dia melangkah keluar dari rumah Zia dan menutup pintu depan rumah itu.


Farhan berjalan ke arah di mana motornya terparkir. Dia kemudian naik ke atas motor dan menyalakan mesin motornya. Setelah itu Farhan pun mengendari motornya untuk pulang kembali ke rumah Amira.


"Mudah-mudahan, Amira, Laila, ibu dan Novi belum pada bangun," ucap Farhan di sela-sela menyetirnya.


Setelah Farhan pergi, Zia mengerjapkan matanya. Zia terkejut saat tidak melihat Farhan ada di sampingnya.


"Mas Farhan kemana. Dia udah bangun duluan ternyata. Apa dia ke kamar mandi ya," ucap Zia sembari beringsut duduk.


Zia menatap jam dinding. Waktu saat ini, sudah jam setengah lima lebih.


Zia turun dari tempat tidurnya. Setelah itu dia keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Farhan di luar kamar.


Zia berjalan ke kamar mandi untuk melihat suaminya.


"Mas. Kamu ada di dalam Mas..." seru Zia setelah dia sampai di depan kamar mandi.


Namun tak ada sahutan dari dalam kamar mandi. Padahal pintu kamar mandi tertutup rapat. Zia yang penasaran, kemudian membuka pintu kamar mandi, yang ternyata di dalam kamar mandi itu kosong tidak ada orang.


"Lho, Mas Farhan nggak ada. Kemana dia. Jangan-jangan dia udah pulang ke rumahnya lagi. Kok dia pulang diam-diam aja sih. Nggak izin dulu sama aku. Apa dia nggak tahu kalau aku lagi butuh duit. Beras udah habis, pulsa listrik juga sebentar lagi habis," ucap Zia.


Zia berjalan untuk ke ruang tamu. Dia kemudian mengintip ke depan rumah dari jendela rumahnya. Ternyata memang benar kalau motor Farhan sudah tidak ada di depan rumahnya.


Zia menghela nafas dalam. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Karena Farhan pergi begitu saja tanpa meninggalkan uang.


Padahal Zia menyuruh Farhan pulang, karena dia lagi butuh uang. Uang yang kemarin Farhan berikan sudah habis untuk memeriksakan kakeknya ke dokter.

__ADS_1


"Aku telpon aja deh, Mas Farhannya. Dia kok pergi begitu aja sih, tanpa meninggalkan uang sepeser pun untuk aku," ucap Zia.


Zia kemudian kembali ke kamar. Dia akan mengambil ponselnya untuk menelpon suaminya. Zia terkejut saat melihat uang ratusan terselip di bawa hapenya.


"Wah, kok bisa ada uang di sini,"ucap Zia.


Zia mengambil uang itu dan menghitungnya.


"Seratus, dua ratus, tiga ratus, empat ratus, lima ratus," ucap Zia.


Zia tersenyum.


"Alhamdulillah, rezeki memang tidak kemana. Ternyata enak punya suami. Nggak usah repot-repot kerja nyari uang. Tanpa di mintapun udah pasti dikasih. Kenapa aku nggak nikah dari dulu aja ya. Lima ratus ribu lumayanlah buat satu minggu ke depan," ucap Zia.


Di sisi lain, Farhan sudah sampai di depan rumahnya. Farhan turun dari motornya. Dia kemudian membuka pintu rumahnya yang ternyata sudah terkunci dari dalam.


"Perasaan, waktu aku pergi, pintunya nggak aku kunci. Kok, ini udah terkunci dari dalam. Siapa yang udah ngunci ya, jangan-jangan ibu lagi," ucap Farhan.


Farhan kemudian berjalan ke belakang rumah untuk masuk lewat pintu belakang.


"Mudah-mudahan, pintu belakang nggak di kunci. Tapi bagaimana kalau ibu sudah ada di dapur ya, bisa kena marah lagi aku. biasanya jam segini ibu sudah siap-siap mau masak," ucap Farhan.


Farhan melangkah masuk ke dalam rumah. Dia menatap ke sekeliling. Nampaknya tidak ada siapa-siapa di dapur saat ini.


"Aman," ucap Farhan.


Farhan buru-buru masuk ke kamarnya untuk melihat Amira.


Farhan terkejut saat melihat Amira dan Laila tidur bersama. Dan dia juga terkejut saat melihat banyak beling yang berserakan di atas lantai kamarnya.


"Ya Allah, apa yang sudah terjadi semalam. Kenapa banyak sekali pecahan beling di sini," ucap Farhan.


Farhan menatap Amira dan Laila lekat. Setelah itu dia melangkah mendekati Laila untuk membangunkan Laila.


"Laila..." ucap Farhan.


Amira yang samar-samar mendengar suara Farhan. Mengerjapkan matanya. Pandangannya terfokus pada suaminya yang masih tampak rapi memakai jaket.

__ADS_1


"Dari mana aja kamu Mas?" tanya Amira menatap Farhan tajam.


"Amira, kamu bangun," ucap Farhan.


"Kenapa kamu tinggalin aku semalam."


"Umi. Apa yang terjadi semalam. Umi nggak kenapa-kenapa kan?"


"Bi. Abi belum jawab pertanyaan Umi. Abi dari mana sih semalam? kenapa Abi tinggalin Umi sendirian?" tanya Amira satu kali lagi..


"Abi..." Farhan bingung untuk bicara apa pada Amira saat ini.


"Jujur aja Bi. Nggak usah banyak alasan. Umi nggak suka orang yang suka bohong. Jujur lebih baik, walau itu menyakitkan."


"Abi dari rumahnya Zia."


"Apa! Abi nginap di sana lagi Bi? dan Abi pergi ke sana tanpa sepengetahuan Umi. Kenapa Abi nggak izin dulu sama Umi."


"Umi kan semalam tidur. Dan Zia minta Abi ke sana."


"Abi udah mengecewakan Umi dua kali Bi. Apa Abi nggak bisa tolak Zia."


Farhan menghela nafas dalam


"Maaf Umi. Karena Abi nggak bisa tegas sama Zia. Abi nggak tega sama dia."


Amira menghela nafas dalam.


"Mas, kamu kan udah janji, kalau kamu mau adil dengan aku dan Zia. Tapi mana keadilan itu. Aku lho Mas, istri yang lebih membutuhkan kamu dari pada Zia. Aku ini lagi sakit, sementara Zia sehat. Dia tidak terlalu membutuhkan kamu Mas."


"Iya Abi tahu. Tapi Abi nggak enak kalau nolak Zia. Nanti dia ngambek dan marah."


"Apa Abi fikir, Umi juga nggak bisa marah dan ngambek?"


Farhan tersenyum.


"Nggak. Umi nggak pernah marah-marah sama Abi. Karena Umi wanita yang baik dan sempurna. Dan sampai kapanpun Abi nggak akan pernah melepaskan Umi. Apalagi untuk menceraikan Umi. Karena Umi dan Laila adalah harta paling berharga untuk Abi," ucap Farhan.

__ADS_1


Farhan kira, dengan dia merayu Amira, dia akan bisa menenangkan amarah Amira. Tidak, Farhan salah. Sekali Amira kecewa, dia akan selalu kecewa jika Farhan masih mengulangi hal yang sama.


__ADS_2