Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Mangga muda


__ADS_3

Pagi ini, Zia dan Farhan masih ada di ruang makan. Mereka masih tampak menikmati sarapannya pagi ini.


Zia sejak tadi hanya bisa mengaduk-aduk makanannya saja. Zia sebenarnya sedih jika dia harus meninggalkan dan mengosongkan rumah kakeknya. Rumah itu satu-satunya kenang-kenangan Zia bersama kakeknya.


"Zi, kok di diamin aja makanannya. Di makan dong sayang, jangan di aduk-aduk gitu, ucap Farhan di sela-sela kunyahannya.


Zia menggeleng.


"Aku lagi nggak enak makan Mas. Aku lagi malas makan nasi," ucap Zia sembari menatap suaminya lekat.


"Terus, kamu maunya makan apa?" tanya Farhan merasa prihatin dengan kondisi Zia.


"Mas, aku pengin makan mangga muda," jawab Zia.


"Mangga muda? kamu ingin makan mangga? kenapa nggak bilang sama Mas. Di depan rumah Laila kan ada pohon mangga dan buahnya juga cukup banyak. Kalau tahu kamu pengin mangga muda, udah dari kemarin Mas ambilin di depan rumah Mas."


"Yah, aku nggak enak ngomongnya. Aku takut kamu nggak mau ngambilin mangga itu. Karena kata kamu, rumah itu kan rumahnya Mbak Amira. Dan kalau kamu ngambil mangganya di situ, aku takutnya Mbak Amira nggak akan ngizinin."


"Kata siapa? Amira itu wanita yang baik. Dia tidak mungkin lah, nggak ngizinin aku untuk ngambil mangga di situ. Kalau Amira nggak ngizinin aku ambil mangganya, di depan rumah ibu juga ada mangga. Tapi ya, buahnya nggak sebanyak pohon mangganya Laila."


Hoek...Hoek...Hoek...


Farhan terkejut saat tiba-tiba saja istrinya mual-mual. Zia bangkit dari duduknya dan langsung berlarian ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya di sana.


Hoek... Hoek...Hoek...


Farhan tidak tinggal diam. Dia kemudian berjalan untuk menghampiri Zia di dalam kamar mandi.


Zia mengusap mulutnya dengan air. Setelah itu dia memutar tubuhnya untuk keluar dari kamar mandi.


Di depan kamar mandi, Farhan sudah berdiri. Dia kemudian merangkul bahu Zia dan membawanya kembali ke ruang makan.


"Duduk dulu sayang. Mas siapkan air hangat dulu untuk kamu," ucap Farhan.


Farhan kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil air hangat untuk istrinya minum. Sementara Zia duduk kembali di ruang makan.


"Minum dulu sayang. Kita mau ke rumah ibu. Rumah ibu cukup jauh dari sini, perut kamu jangan dibiarkan kosong, nanti di rumah ibu, kamu mual-mual lagi," ucap Farhan sembari menyodorkan satu gelas air putih hangat pada Zia.


Zia mengangguk. Dia mengambil gelas itu. Dia kemudian minum sampai setengah gelas air putih hangat.


"Kamu kelihatannya lemas banget sayang. Mas bingung sekarang. Mas mau berangkat kerja, tapi Mas nggak tega melihat kamu seperti ini."

__ADS_1


"Ya udahlah, nggak usah mikirin aku Mas. Kalau mau kerja, kerja aja," ucap Zia sembari meletakan gelasnya di atas meja ruang makan.


"Tapi Mas nggak tega ninggalin kamu sendiri sayang. Kita harus ke rumah ibu sekarang. Biar Mas bisa tenang ninggalin kamu. Soalnya Mas mau kerja."


"Terserah kamu aja deh Mas. Yang penting aku pengin mangga."


"Iya sayang. Kamu tunggu di sini ya. Mas mau ambil tas kamu, setelah itu kita ke rumah Amira dulu untuk ngambil mangga."


Zia tersenyum.


"Iya Mas."


Farhan kemudian buru-buru berjalan ke kamarnya untuk mengambil tas bajunya yang semalam sudah dia siapkan. Setelah itu Farhan pun pergi menghampiri Zia.


"Ayo sekarang kita pergi, kita kosongkan rumah ini untuk sementara waktu!"


Zia mengangguk. Untuk saat ini, dia hanya menuruti semua keinginan suaminya.


Zia dan Farhan kemudian keluar dari rumah Pak Ramli. Sebelum pergi, mereka mengunci pintu rumah itu.


"Ini, bawa kuncinya. Kalau kamu kangen sama rumah ini, dan ingin ke sini, kamu bilang sama Mas, biar Mas antarkan kamu ke sini," ucap Farhan sembari memberikan kunci rumah itu pada Zia.


"Iya Mas."


Pagi-pagi sekali Amira sudah berada di teras depan rumah. Amira terkejut saat melihat suaminya berboncengan motor dengan madunya.


Astaghfirullahaladzim, kenapa Mas Farhan dan Zia bisa sampai ke sini. Mau ngapain sebenarnya mereka, batin Amira.


Hatinya merasa tidak tenang dengan kehadiran dua orang manusia itu. Amira fikir, hidup poligami itu mudah, tapi nyatanya dia tidak sanggup untuk melihat kemesraan pasangan Farhan dan Zia.


Setelah sampai di depan rumah Amira, Zia dan Farhan turun dari motornya. Mereka menatap Amira yang ada di teras depan rumah. Mereka kemudian mendekat menghampiri Amira.


"Assalamualaikum," ucap Zia dan Farhan bersamaan.


"Wa'alakiumsalam," ucap Amira menjawab salam dari mereka.


"Amira, kami ke sini mau minta mangga muda. Zia pengin mangga muda. Sepertinya dia lagi ngidam mangga muda. Aku lihat pohon mangga di sini, buahnya cukup banyak. Aku mau minta dua atau tiga buah mangga untuk Zia,"ucap Farhan menjelaskan keinginannya.


"Silahkan aja mas, ambil aja," ucap Amira.


Setelah Amira mempersilahkan Farhan untuk mengambil mangga, Farhan kemudian lekas bersiap-siap untuk mengambil mangga itu.

__ADS_1


Farhan menatap ke sekeliling. Dia masih mencari cara agar dia bisa mengambil mangga itu tanpa memanjatnya.


"Nggak ada kayu atau apapun ya untuk ngambil mangga," gumam Farhan.


Farhan menatap pohon mangga yang ada di depannya. Pohon itu cukup tinggi untuk dia panjat. Apalagi sekarang dia sudah mengenakan seragam guru.


Kayaknya aku harus panjat ini pohon demi Zia, batin Farhan.


Tanpa perduli ada semut, atau lebah yang ada di pohon mangga itu, Farhan pun memanjat pohon mangga itu untuk mengambil buahnya.


Amira terkejut saat suaminya memanjat pohon mangga. Sesekali Amira menelan ludahnya. Karena yang Amira tahu di atas pohon itu ada lebahnya.


Amira takut, Farhan akan tersengat lebah dan akan di gigit semut besar.


Duh Mas Farhan nekat juga ya panjat pohon itu. Apa dia lupa kalau ada lebah di atas yang sangat berbahaya untuknya. Gimana kalau dia di sengat lebah, batin Amira.


Sejak tadi Amira merinding menatap ke atas. Takut suaminya di sengat lebah atau terjatuh ke bawah.


Sebegitu cintanya kah Mas Farhan pada Zia, sampai dia tidak perduli dengan keselamatannya sendiri. Kenapa Mas Farhan tidak beli saja buah mangga, di toko buah. Ini kan lagi musim mangga, pasti banyak mangga di toko buah. Dasar suami bodoh, geram Amira dalam hati.


Beberapa saat kemudian, Novi dan Laila keluar dari rumah. Laila sudah mengenakan seragam sekolahnya. Dia sudah siap untuk berangkat sekolah.


"Mbak Zia," ucap Laila yang melihat ada Zia di depan rumahnya.


"Zia, ngapain di berdiri di luar rumah Mbak Amira," gumam Novi saat melihat Zia ada di depan rumah Amira.


Novi buru-buru mendekat ke arah Zia dan menyenggolnya.


"Hei pelakor, ngapain kamu di sini? berani sekali kamu datang ke sini," ucap Novi.


Zia yang sejak tadi masih menatap suaminya yang lagi di atas, langsung menatap ke arah Novi. Dia kemudian menatap Novi tajam.


"Novi, kamu bilang apa tadi?" tanya Zia.


"Aku nggak bilang apa-apa," Novi mengelak.


"Tadi aku dengar kamu ngatain aku pelakor. Apa maksud kamu Novi?"


"Kamu ngerasa jadi perebut suami orang? makanya kamu marah pas aku bilang seperti itu?"


"Nggak. Aku nggak marah kok. Kamu cuma nggak sopan banget, udah nyenggol-nyenggol aku. Asal kamu tahu ya, aku ini sekarang lagi hamil anaknya Mas Farhan. Kalau sampai ada apa-apa sama kandungan aku, kamu harus tanggung jawab ya Novi."

__ADS_1


Amira terkejut saat melihat perdebatan Novi dengan Zia.


__ADS_2