Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Kedatangan ibu ke rumah


__ADS_3

Zia menggandeng tangan Farhan sampai masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo mas, kita masuk. Kamu udah makan belum Mas?" tanya Zia.


"Udah Zi," jawab Farhan singkat.


"Mas, makasih untuk barang-barang ini. Aku beli semua ini juga demi kamu. Sebenarnya aku juga malas dandan sih, tapi demi kamu apa sih yang nggak akan aku lakukan demi kamu. Aku mau berubah untuk kamu Mas."


Farhan dan Zia kemudian duduk di atas kursi panjang yang ada di ruang tamu rumah Zia.


Farhan menatap Zia lekat, dan mengusap-usap kepala Zia yang masih berbalut kerudung.


"Mas akan membelikan kamu apa yang kamu mau. Yah, walau pekerjaan Mas cuma sebagai guru honorer, tapi mas kan masih punya usaha sampingan Zi. Jadi insya Allah, Mas masih bisa menafkahi kamu dan Amira."


"Kalau boleh tahu, Mas Farhan punya usaha apa?" tanya Zia yang sudah mulai kepo.


"Mas punya toko barang-barang elektronik. Cuma Mas serahkan ke orang kepercayaan Mas, untuk menghandel semuanya di toko itu. Karena Mas kan sibuk ngajar dan kalau sore juga ngajar ngaji di mesjid."


Zia tiba-tiba saja menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. Tangan yang satunya bergelayut manja di lengan Farhan, dan tangan satunya bermain-main dengan ujung kerudung segi tiganya.


"Jujur aku merasa nyaman banget kalau Mas ada di samping aku seperti ini."


"Iya Zi."


"Mas, untuk sementara Mas Farhan tidur di kamarnya Zia ya. Tapi kamar Zia kecil banget. Beda sama kamar yang ada di rumahnya Mas."


"Nggak apa-apa Zi. Yang penting kita nyaman. Mas mah, nggak masalah tidur di mana aja, asal nyaman."


"Pasti nyaman dong Mas. Kan aku udah semprot parfum, ganti seprei, dan yang penting udah sangat rapi banget Mas kamar pengantin kita," ucap Zia.


"Kamu memang istri Mas yang paling pintar, cantik lagi. Beruntung Mas bisa dapatin gadis seperti kamu," ucap Farhan sembari menarik hidung mancung Zia.


"Auh. Sakit tahu Mas. Aku sama Mbak Amira cantik mana?"


"Mas nggak bisa bandingin sayang. Karena Amira itu cantiknya luar dalam. Dulu waktu masih muda, dia juga cantik, tapi seiringan bertambahnya usia, wajah istriku sudah berubah. Dan kalau dibandingkan kamu sekarang, masih cantik kamu."


****


Waktu saat ini sudah menunjukan jam setengah enam pagi. Rambut Zia sudah basah, wangi sampo sudah menyeruak sampai ke indra penciuman Farhan.


Farhan sejak tadi masih berbaring di atas ranjang kecil Zia. Sepertinya Farhan lelah setelah semalam dia melakukan malam pertama dengan istri barunya.


Sudah setengah bulan juga, Farhan tidak menyalurkan hasratnya pada Amira karena kondisi Amira masih sakit. Dan mungkin akan butuh beberapa waktu yang lama, untuk Amira bisa melayani suaminya lagi seperti dulu.


Zia membuka korden jendelanya. Membiarkan udara sejuk masuk ke dalam ventilasi kamarnya.

__ADS_1


Zia menatap Farhan yang saat ini masih berada di atas ranjang kecilnya. Zia kemudian duduk di sisi ranjang untuk membangunkan suaminya.


"Mas, bangun yuk. Kita sholat subuh jamaah di rumah aja. Nggak usah di mesjid. Mesjid kejauhan Mas." Zia sudah menempelkan tangannya yang basah ke pipi Farhan.


Membuat sensasi dingin menjalar sampai ke tubuh Farhan. Farhan mengerjapkan matanya. Dia menatap istrinya dan tersenyum. Farhan kemudian beringsut duduk. Dia kemudian memegang ujung rambut Zia yang basah.


"Zi, kamu udah mandi? kenapa kamu nggak bangunin aku dari tadi? kan kita bisa mandi bareng," ucap Farhan yang membuat wajah Zia merona merah.


"Mas, kamu bicara apa sih. Ada kakek, malu Mas. Kalau sampai dia tahu kita mandi bareng."


"Hehe... Mas cuma bercanda sayang. Mas juga malu kok,sama kakek kamu. Baru sekali tidur di sini, udah kesiangan begini. Biasanya Mas juga paling cepat bangunnya. Biasanya jam segini Mas udah pulang dari mesjid."


"Dari sini kan mesjid jauh Mas. Tadi Mas tidurnya juga pulas banget. Aku nggak tega mau bangunin Mas."


"Nggak apa-apa Zi. Mas mau langsung ke kamar mandi. Kamu mau jamaah kan sama Mas?"


"Mau Mas. Aku juga belum sholat kok Mas. Aku juga belum wudu. Aku memang sengaja ingin nunggu kamu shalatnya. Biar kita bisa jamaah walau di rumah."


"Iya sayang."


"Oh iya Mas. Aku udah siapin kamu handuk di kamar mandi. Sampo sabun juga udah aku siapkan. Tinggal pakai aja Mas "


"Makasih ya sayang untuk yang semalam," ucap Farhan. Setelah itu dia mengecup singkat kening Zia.


Farhan turun dari ranjangnya. Dia kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sementara Zia hanya tersenyum saat melihat Farhan keluar dari kamarnya.


"Tidak ada sesuatu yang paling membahagiakan di dunia ini kecuali malam indah kita semalam Mas. Dan aku tidak akan pernah melupakan apa yang sudah terjadi semalam di antara kita."


****


Pagi-pagi Bu Rahayu sudah sampai di depan rumah Amira.


Tok tok tok..


Bu Rahayu mengetuk pintu sangat keras. Karena sejak tadi tidak ada yang mau membuka pintu untuknya.


"Kemana sih ini anak-anak. Kenapa aku datang, nggak ada yang mau buka pintu. Dan lampu juga masih nyala semua. Kemana sebenarnya si Farhan ini," ucap Bu Rahayu.


"Assalamualaikum. Farhan...! Farhan ...! buka pintunya Farhan...!"


Amira yang mendengar seruan dari luar rumahnya mencoba untuk membangunkan Laila.


"Laila. Bangun La. Kemana Tante Novi. Kenapa nggak bukain pintu. Laila, itu ada nenek kamu datang," ucap Amira.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Laila mengerjapkan matanya. Dia kemudian mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Ada apa sih Mi?" tanya Laila.


"Itu, nenek kamu ada di depan. Sana, cepat bukain pintu. Keburu dia marah-marah sama kita."


"Iya Mi."


Laila kemudian melangkah keluar dari kamar Amira dan buru-buru untuk membuka pintu depan.


Laila terkejut saat melihat neneknya sudah menatap tajam ke arahnya.


"Laila, kenapa lama sekali bukain pintunya. Mana Abi kamu dan Tante kamu?" tanya Bu Rahayu.


"Mau ngapain nenek ke sini pagi-pagi gini?" tanya Laila.


"Nenek mau ngasih nasi sama lauk untuk kalian berempat. Ini, masakan nenek sudah mateng."


Bu Rahayu memang orang yang sedikit keras, tapi sebenarnya hatinya lembut dan tidak tegaan.


Dia tidak mungkin tega membiarkan anak-anaknya kelaparan. Apalagi Amira sudah tidak bisa masak, dan Novi juga tidak bisa masak.


"Ayo masuk Nek." Laila mempersilahkan neneknya masuk.


Bu Rahayu kemudian masuk ke dalam rumah Amira. Dia kemudian melangkah ke ruang makan untuk meletakkan dua rantang yang dibawanya itu.


"Banyak amat Nek makanannya?" tanya Laila.


"Lah, Tante kamu kan tinggal di sini, dan Amira juga nggak bisa masak sendiri. Makanya nenek yang ngalahin masak untuk makan kalian berempat."


"Baik banget nenek," ucap Laila sembari mengulas senyum.


"Baru tahu, kalau nenek baik."


Laila terkekeh.


Hehehe...


"Sekarang mana Tante kamu? nenek tahu, dia masih tidur kan. Nenek sudah tahu wataknya Tante kamu. Dia itu nggak bisa di andalkan. Dia nggak bisa masak dan tidur pun sampai siang."


"Oh. Tante Novi masih ada di kamarnya. Dan aku juga nggak tahu Tante Novi udah bangun atau belum. Soalnya Laila juga baru bangun Nek."


Bu Rahayu menatap tajam cucunya.


"Apa! kamu baru bangun? udah jam berapa ini Laila. Udah jam setengah tujuh. Kalau kamu baru bangun, kapan kamu mau ke sekolahnya."

__ADS_1


__ADS_2