Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Kerapuhan seorang suami


__ADS_3

Galih berjalan memasuki rumah sakit. Dia berjalan sampai ke ruang persalinan. Namun tak nampak Farhan dan ibunya ada di sana.


Galih menatap ke sekeliling.


"Ke mana ya Farhan dan ibu. Kok mereka nggak ada di sini. Apa Zia sudah dipindahkan."


Galih kembali berfikir.


"Tadi katanya, Zia itu koma. Apa mungkin, Farhan dan ibu sekarang ada di depan ruang ICU."


Galih kemudian berjalan ke ruang ICU untuk melihat ibu dan adiknya.


"Benar kan mereka di sana. Sejak kapan Zia dipindahkan di sini ya," ucap Galih.


Netra jernihnya masih menatap tajam ke arah Farhan yang saat ini masih duduk melamun. Sementara ibunya juga masih tampak sedih.


Tanpa butuh waktu lama, Galih mendekati dua orang itu.


"Farhan, ibu," ucap Galih.


Farhan dan Bu Aminah lantas menatap ke arah Galih bersamaan.


"Kamu udah pulang Lih," ucap Bu Aminah sembari bangkit dari duduknya. Dia kemudian mendekat ke arah Galih dan mengajaknya bicara.


"Ibu mau pulang?" tanya Galih.


Bu Aminah mengangguk.


"Iya. Ibu mau nyuci baju-baju nya bayi yang kena ompol."


"Kenapa nggak si Farhan aja yang di suruh nyuci. Kenapa harus ibu."


Bu Aminah menatap Farhan. Farhan yang saat ini sedang terpuruk. Dari tadi Farhan pun sama sekali tidak mau menyapa Galih. Sepertinya fikirannya masih berkelana entah kemana.


"Sudahlah Nak. Biarkan dulu Farhan. Dia masih sedih. Dari semalam Farhan nggak tidur dan dari tadi pagi dia juga belum makan apa-apa. Ibu takutnya, Farhan ikutan sakit. Kalau Farhan sakit, siapa nanti yang akan menjaga Zia."


"Sabar ya Bu," ucap Galih sembari mengusap-usap bahu ibunya. Dia malah lebih prihatin pada ibunya. Sudah tua, tapi masih tetap di repoti oleh Farhan.


"Tapi kalau baju-bajunya Zia, biar Farhan aja yang nyuci Bu. Kasihan ibu, sudah tua, masih ada direpotin oleh Farhan dan istrinya," ucap Galih.


Galih tidak tega saat melihat ibunya. Bu Aminah dari semalam tidak tidur. Matanya juga sudah tampak sayu.


Semalaman dia begadang menunggui Zia di rumah sakit. Begitu juga dengan Galih. Galih juga ikut-ikutan capek karena harus bolak-balik ke rumah sakit. Apalagi dia kalau siang harus kerja.


"Sudahlah, nggak apa-apa. Ini juga sudah tanggung jawab ibu sebagai orang tua. "


"Iya Bu. Aku tahu itu. Siapa lagi yang akan ngurusin Farhan dan Zia, kalau bukan kita Bu," ucap Galih.


"Ya udah, kita pulang sekarang ya Nak. Ibu mau pamit dulu sama Farhan."

__ADS_1


Galih mengangguk.


Bu Aminah kemudian berjalan ke arah Farhan. Dia menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi Farhan.


"Farhan," ucap Bu Aminah.


Farhan yang di ajak bicara hanya diam. Sepertinya dia tidak mendengar ucapan ibunya.


Bu Aminah memegang bahu Farhan.


"Farhan, kamu dengar ibu nggak sih," ucap Bu Aminah lagi.


Farhan menoleh ke samping.


"Ada apa Bu?" tanya Farhan.


"Jangan ngelamun terus Nak. Kamu belum sholat asar kan. Itu Galih udah pulang. Ibu mau pulang dulu sebentar, " ucap Bu Aminah.


Farhan hanya mengangguk.


"Farhan, kamu nggak apa-apa kan ibu tinggal?" tanya Bu Aminah. Merasa khawatir dengan kondisi Farhan. Bu Aminah takut, Farhan akan ikutan sakit karena dia seharian tidak mau makan.


"Aku nggak apa-apa Bu. Ibu nggak usah khawatirkan aku," ucap Farhan memberikan jawaban pada ibunya.


"Sholat asar dulu Farhan. Ini sudah jam lima. Minta ampun sama Allah, dan minta kesembuhan untuk Zia dan bayi kamu sama Allah. Yang tadi ibu lihat, kamu ngelamun terus."


"Kayaknya nggak Farhan. Biar ibu suruh Galih aja nanti yang ke sini. Ibu capek, mau istirahat dulu. Biar Galih nanti malam yang menemani kamu di sini. Ibu besok lagi aja ke sininya."


"Iya deh Bu. Ibu istirahat aja. Kelihatannya ibu juga lelah."


Bu Aminah tersenyum.


"Kamu mau titip apa Farhan? biar nanti kalau Galih ke sini lagi, sekalian dibawain."


"Aku mau titip baju aku Bu. Aku juga lupa bawa baju ganti. Tadi malam, aku cuma bawa baju ganti untuk Zia saja."


"Ya udah, ibu pergi dulu ya. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Bu Aminah kemudian pergi. Dia dan Galih berjalan ke luar dari rumah sakit meninggalkan Farhan sendiri.


Setelah kepergian Bu Aminah dan Galih, Farhan tiba-tiba saja menangis.


Hiks...hiks...hiks...


"Kenapa ya Allah. Kenapa Engkau berikan aku cobaan seberat ini. Dulu Engkau berikan cobaan pada Amira, sekarang pada Zia dan bayinya. Kapan cobaan ini akan berakhir ya Allah," ucap Farhan di sela-sela tangisannya.


Farhan menangis di kesendiriannya. Dia merasa tidak sanggup untuk menerima semua cobaan ini.

__ADS_1


"Benar kata Abah kyai. Semakin tinggi iman seseorang, semakin tinggi pula cobaannya. Mungkin Allah sedang menguji kesabaran aku lewat semua cobaan-cobaan ini. Tapi kenapa rasanya aku tidak sanggup seperti ini. Seandainya ada Amira, Amira pasti bisa menguatkan aku. Tapi Amira sudah tidak mau lagi denganku," ucap Farhan panjang lebar.


Setelah ibu dan Galih pergi, Farhan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun pergi mencari musholla untuk melaksanakan kewajibannya sholat asar.


Selesai sholat asar, Farhan kembali ke ruang ICU. Dia kemudian masuk ke dalam ruangan itu untuk melihat perkembangan kondisi Zia istrinya.


Farhan menatap ke sekeliling ruangan. Alat-alat canggih dokter seperti alat bantu pernapasan pun sudah menempel di seluruh bagian tubuh Zia.


Zia saat ini sudah terbaring koma, Farhan tidak tahu apakah istrinya itu bisa bangun lagi atau tidak. Karena biasanya orang koma itu, sudah di antara hidup dan mati, kemungkinan untuk hidup pun hanya sedikit.


Farhan meneteskan air matanya saat menatap wajah Zia.


"Zia, kamu yang kuat ya. Anak kita sekarang masih berada di ruangan bayi. Dia sekarang sedang mendapatkan perawatan intensif dari dokter, karena anak kita mempunyai kelainan jantung, dia juga lahir prematur,"ucap Farhan.


Farhan semakin mendekatkan tubuhnya ke ranjang tempat Zia berbaring. Farhan kemudian meraih tangan Zia dan menggenggamnya dengan erat.


"Zia, kamu harus sembuh Zi. Aku nggak bisa mengurus bayi kamu sendiri Zi, karena aku juga harus kerja cari uang. Jika kamu seperti ini terus, aku kasihan sama ibu. Ibu sudah tua Zi, apa mungkin, aku akan suruh ibu untuk merawat bayi kita. Kamu harus bangun Zi,"


Karena kerapuhannya, Farhan sampai lupa segalanya, lupa dengan ilmunya juga yang sudah dia dapatkan dari pesantrennya.


Ring ring ring...


Ponsel Farhan tiba-tiba berdering mengejutkan Farhan.


Farhan merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Setelah itu Farhan pun mengangkat panggilan dari nomer ibunya.


"Halo assalamualaikum,"


"Wa'alakiumsalam Farhan. Ibu sudah sampai rumah Farhan. Kamu udah sholat belum?"


"Udah Bu."


"Kamu masih ada di depan ruang ICU ya?"


"Aku lagi di ruangan Zia Bu. Ada apa Bu?"


"Ibu cuma mau ngingetin kamu, kamu bawa mushaf Al-Qur'an nggak?"


"Nggak Bu."


"Dari pada kamu ngelamun, alangkah baiknya kamu ngaji di samping Zia. Biar Zia cepat di beri kesembuhan dan hati kamu akan jauh lebih tenang Nak."


"Oh iya Bu. Aku bisa kok, ngaji lewat hape."


"Ya udah, ngaji dong sekarang. Ibu pengin lihat Farhan yang dulu. Farhan yang selalu tegar, dan selalu ingat Allah. Ibu cuma mau pesan, jangan sampai kamu tinggal sholat ya Nak."


"Iya Bu. Aku sadar, selama aku menikah dengan Zia, aku merasa jauh dari Tuhanku. Terimakasih ya Bu, sudah mengingatkan aku untuk ngaji."


.

__ADS_1


__ADS_2