
Semua orang siang ini, masih berada di sisi makam Farhan. Setelah mereka mendoakan Farhan, mereka kemudian menabur bunga di atas makam Farhan.
Bu Aminah masih menangis di sisi makam anaknya. Sementara semua orang silih berganti meninggalkan makam Farhan.
"Farhan, kenapa kamu tinggalin ibu secepat ini Nak, kenapa hiks…hiks…" ucap Bu Aminah sembari mengusap air mata yang ada di pipinya.
Bu Rahayu dan Pak Husen mendekati Bu Aminah yang saat ini masih berdiri di dekat Amira. Sejak tadi Bu Aminah tidak berhenti menangis.
"Bu Aminah. Yang sabar ya. Kita tidak tahu, umur manusia. Mungkin, Allah lebih sayang dengan Farhan. Makanya dia panggil Farhan secepat ini. Yang sabar ya Bu Aminah. Yang ikhlas, dan tidak usah ditangisi terus, biarkan Farhan tenang di sisi Nya," ucap Pak Husen.
"Sabar Bu Aminah. Farhan sudah bahagia sekarang. Dia sudah tidak merasakan sakitnya lagi. Dan kita semua tahu, Farhan sudah mengucapkan kalimat Allah di akhir hidupnya. Jangan ditangisi terus. Saya sudah memaafkan Farhan, kami semua sudah memaafkan semua kesalahan Farhan Bu Aminah. Insya Allah, Allah akan melapangkan kubur Farhan," ucap Bu Rahayu sebelum pergi meninggalkan makam.
Bu Aminah menatap Bu Rahayu lekat.
"Terima kasih karena kalian sudah mau mendoakan anak saya. Maafkan semua kesalahan anak saya," ucap Bu Aminah sembari menatap Bu Rahayu dan Pak Husen bergantian.
"Iya Bu Aminah. Kalau begitu, kami pulang dulu ya. Kami mau melihat Laila di rumah. Katanya dia belum sadar sampai sekarang," ucap Bu Rahayu lagi.
Bu Aminah menganggukan kepalanya. Setelah berpamitan pada Bu Aminah, Bu Rahayu dan Pak Husen kemudian pulang ke rumahnya.
Setelah Umi Zahra dan Ning Husna pergi meninggalkan makam, giliran Gus Farid yang pamit pulang pada Amira, Galih dan Bu Aminah.
"Jangan ditangisi Bu Aminah. Ikhlaskan Mas Farhan. Biarkan dia tenang di alam barunya. Tangisan seseorang pada orang yang sudah meninggal, akan membuat gelap alam kuburnya. Dan ratapan seseorang pada orang yang sudah meninggal, akan membuat mayit di siksa dalam kuburnya, " ucap Gus Farid yang membuat Bu Aminah menghentikan tangisannya.
"Benarkah begitu Gus?'
"Iya Bu Aminah. Alangkah baiknya, Bu Aminah taburkan bunga yang banyak di atas makam Farhan. Karena itu bisa meringankan siksa kuburnya."
Bu Aminah mengangguk. Dia kemudian mengusap air matanya yang sejak tadi membasahi pipinya.
"Iya Gus. Makasih untuk nasihatnya."
Gus Farid tersenyum.
"Aku pergi dulu ya Amira, Mas Galih, Bu Aminah."
__ADS_1
"Iya Gus."
Gus Farid kemudian pergi meninggalkan makam.
Ya, sebelum meninggal, Farhan sempat berpesan pada Galih, agar setelah dia meninggal, dia ingin di makamkan di desa Amira.
Karena dia ingin dimakamkan di dekat makam Fauzan anaknya. Galih dan Bu Aminah sudah mengabulkan keinginan Farhan untuk yang terakhir kalinya yaitu memakamkan Farhan di dekat makam Fauzan.
Setelah semua orang pergi, Amira menatap Galih lekat.
"Sudah sejak kapan kamu tahu penyakit Mas Farhan Mas?" tanya Amira pada Galih.
"Sudah delapan bulan yang lalu," jawab Galih yang sejak tadi masih menatap gundukan tanah yang ada di depannya.
"Benarkah kalau dia sakit kanker otak stadium akhir?"
"Iya Amira. Waktu itu aku yang ngantar Farhan periksa, karena dia keluar darah dari hidungnya. Dan dia juga sering sakit kepala bahkan sampai dia pingsan,"
"Pas aku bawa ke dokter dan melihat hasil ronsen, ternyata Farhan sudah mengidap penyakit itu. Mungkin itu sudah sangat lama. Penyakit yang nggak Farhan rasakan," lanjut Galih.
"Farhan memang sengaja ingin merahasiakan semua ini dari kalian semua. Karena dia tidak mau membuat kalian semua khawatir, dan aku sudah janji sama Farhan untuk tidak cerita-cerita pada kalian semua tentang penyakitnya," jawab Galih menerangkan panjang lebar, apa yang sudah terjadi pada Farhan selama ini.
"Farhan juga tidak mau periksa atau pun ikut kemo. Padahal aku sudah siap untuk membiayai pengobatannya. Namun Farhan sepertinya pesimis untuk sembuh. Dia tidak punya semangat untuk sembuh apalagi saat dia mendengar kamu sudah punya calon suami. Dan kamu menolak rujuknya. Farhan jadi semakin terpuruk."
"Oh, ternyata itu masalahnya?"
"Waktu itu dia cerita sama aku, kalau dia mau merujuk kamu. Tapi kamu tolak,karena kamu sudah punya calon suami. Dan sejak saat itu Farhan tahu penyakitnya. Dia lebih memilih untuk membahagiakan dirinya dengan dekat sama kamu dan Laila lagi dari pada mengobati penyakitnya."
Amira kembali menangis.
"Ya Allah Mas Farhan. Kenapa kamu sembunyikan semua ini dari kami. Kami semua sayang sama kamu Mas. Seandainya kamu mau berobat, pasti kamu akan sembuh Mas."
"Aku sayang sama kamu Mas. Semoga kamu bahagia dan bisa bertemu Fauzan di alam sana. Allah sudah menghilangkan rasa sakitmu Mas. Aku sudah mengikhlaskan kamu pergi, dan aku juga sudah memaafkan semua kesalahan kamu."
"Farhan, aku janji. Aku akan jaga Laila dengan baik. Aku akan sayangi dia dan aku akan menganggap dia seperti putri kandung aku sendiri. Farhan, kamu jangan khawatirkan Laila ya. Laila pasti akan kuat melewati cobaan ini," ucap Galih.
__ADS_1
Setelah lama berada di makam, akhirnya Bu Aminah, Galih dan Amira memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Mereka pulang ke rumah Amira yang ada dibelakang mesjid. Karena semua orang sekarang sudah berkumpul di sana. Mungkin, nanti malam mereka semua akan menggelar pengajian untuk mendoakan Farhan sampai tujuh hari ke depan.
"Assalamualaikum," ucap Amira, Galih dan Bu Aminah bersamaan setelah sampai di depan rumah Amira.
Semua orang menjawab salam dari ke tiga orang itu.
Di dalam ruang tamu, Bu Rahayu, Pak Husen, Ning Husna, Gus Farid dan Umi Zahra sudah tampak berkumpul di sana.
Mereka semua tersenyum saat melihat kedatangan Amira, Bu Aminah dan Galih. Ketiga orang yang pulang dari makam itu, langsung duduk berbaur bersama mereka semua.
"Di mana Laila?" tanya Amira.
"Laila masih pingsan. Dia masih sama Novi di dalam."
"Aku mau ke kamar Laila."
Amira bangkit dari duduknya. Setelah itu dia ke kamar anaknya untuk melihat anaknya.
"Novi, bagaimana kondisi Laila?" tanya Amira.
"Dia belum sadar Mbak. Sudah enam jam dia pingsan."
"Ya Allah anakku. Umi sudah kehilangan Fauzan dan Abi kamu, Umi juga nggak mau kehilangan kamu Nak. Bangun Nak, bangun demi Umi."
Novi menatap Amira lekat.
"Mbak, Laila itu cuma pingsan. Pingsan biasa. Kenapa Mbakk bicara begitu sih." Novi tampak kesal dengan Amira.
"Mbak cuma takut aja kehilangan Laila. Laila anak Mbak satu-satunya."
"Mbak, dunia ini fana. Kehilangan itu udah biasa untuk orang yang hidup. Kita tidak mungkin bersama terus selamanya. Nanti juga Mbak harus ikhlas kalau Laila di ambil suaminya."
"Iya. Mbak tahu itu."
__ADS_1
****