Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Kebohongan Zia


__ADS_3

Setelah Galih pergi, Amira menatap Laila tajam.


"La, kamu bicara apa sih La tadi. Malu-maluin aja. Umi kan malu La. Masa kamu nyuruh pade untuk bantuin Umi ganti baju."


Laila hanya tersenyum. Tampak santai saat menanggapi kemarahan ibunya.


"Maaf Mi. Laila nggak sengaja. Ya udahlah, Umi pakai seperti itu aja nggak apa-apa. Kalau orang cantik mah, mau pakai baju apa aja tetap aja cantik. Umi kan cantik," puji Laila.


"Tapi masa Umi pakai baju tidur. Celana lagi."


"Yah, namanya juga orang sakit. Dokter pasti akan memaklumilah Mi."


"Ya udahlah, nggak apa-apa Umi pakai kayak gini. Ganti bajunya nanti aja, nungguin Abi kamu pulang," ucap Amira.


Laila berjalan untuk mengambil kursi roda yang ada di pojok kamar. Setelah itu dia mendekatkan kursi roda itu di dekat ranjang ibunya.


"Umi bisa nggak naik ke atas kursi roda ini?" tanya Laila.


"Jujur Umi itu berat. Kalau Laila harus gotong tubuh Umi, Laila nggak kuat," lanjut Laila.


Amira diam.


Duh, kenapa nasib aku begini banget. Aku sudah selalu merepotkan suami dan anak aku. Bahkan sekarang aku sudah merepotkan Mas Galih kakak ipar aku, batin Amira.


"Em... Umi...Umi nggak bisa naik ke atas kursi roda sendiri La. Kaki Umi kan dua-duanya masih sakit. Nggak tahu akan sampai kapan sembuhnya."


"Kata dokter, kalau tulang-tulang Umi udah nyambung lagi, Umi pasti akan bisa jalan kok. Itu kan cuma patah tulang."


"Tapi kan lama La. Harus butuh waktu berbulan-bulan. Dan belum juga untuk latihan jalan. Mungkin setahun Umi baru bisa berdiri."


"Sabar aja lah Umi. Apa mau aku panggilkan Pade lagi. Biar pade yang gendong Umi untuk naik ke atas kursi roda."


Sebenarnya Amira malu harus minta tolong Galih untuk mengangkat tubuhnya dan menaikan Amira ke kursi roda.


Tapi Amira tidak tahu lagi, siapa yang bisa bantu dia selain Galih. Seandainya keluarga besarnya ada di rumah, pasti Amira akan lebih memilih mereka untuk nganter kontrol.


"Ya udah. Panggilkan Pade sekarang."


"Iya Umi."


Laila kemudian pergi untuk memanggil Galih yang saat ini ada di luar rumah.


"Pade," ucap Laila.


Galih yang masih ada di teras depan rumah Amira menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Ada apa La?" tanya Galih.


"Tolong dong angkat Umi naik atas ke kursi roda."


"Umi kamu udah siap? dia udah ganti baju?" tanya Galih.


Laila menggeleng.


"Aku nggak berani gantiin baju Umi. Aku takut Umi kesakitan Pade."


"Ya udahlah. Nggak usah ganti baju. Pakai baju tidur juga nggak apa-apa. Namanya juga orang sakit," ucap Galih.


"Ayo pade, kita udah siap. Pade harus bawa Umi ke mobil."


"Ya udah."


Galih kemudian masuk kembali ke dalam rumah Amira. Setelah itu dia berjalan dan masuk ke dalam kamar Amira.


"Amira, kamu sudah siap? mau aku bantu naik ke atas kursi roda?" tanya Galih tiba-tiba.


Amira hanya mengangguk pasrah. Dalam keadaan darurat seperti ini, dia tidak bisa menolak Galih untuk mengangkat tubuhnya.


Galih bingung bagaimana caranya dia mengangkat Amira. Galih benar-benar tidak enak sebenarnya.


Dia masih tampak canggung untuk menggendong Amira. Karena Amira wanita yang agamis. Mungkin bersalaman dengan lawan jenis saja dia tidak pernah. Apalagi untuk saling menyentuh.


Namun dalam keadaan genting seperti ini apa yang bisa Galih lakukan kecuali menggendong Amira sampai masuk ke dalam mobilnya.


"Laila, Pade mau bawa Umi kamu langsung ke mobil. Laila bisa bukain pintu depan mobil pade?" ucap Galih.


"Baik Pade."


Laila kemudian melangkah keluar dari kamar Amira untuk melaksanakan perintah dari pade nya. Sementara Galih menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi tempat tidur Amira.


"Amira, maaf ya. Aku harus gendong kamu keluar. Sebenarnya aku nggak enak Amira. Aku takut kamu marah kalau aku gendong kamu," ucap Galih. Dia memang harus izin dulu sama Amira.


Amira tersenyum.


"Nggak apa-apa Mas, kalau kamu mau gendong aku. Kalau kamu nggak mau gendong aku, gimana caranya aku jalan ke mobil."


"Jadi, kamu izinkan aku gendong kamu."


"Iya Mas. Nggak apa-apa. Kalau kamunya nggak keberatan. Karena tubuh aku berat lho Mas."


"Nggak apa-apa kalau itu mah. Nggak masalah untuk aku."

__ADS_1


Galih bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menggendong Amira dan membawa Amira sampai ke mobil.


"Amira, kamu duduk di depan aja ya sama aku. Biar kursi roda kamu aku masukin ke belakang mobil."


"Iya Mas," ucap Amira dalam gendongan Galih.


Galih kemudian mendudukan Amira di kursi depan mobil. Setelah itu Galih masuk ke dalam rumah Amira untuk mengambil kursi roda.


Setelah semua siap, pintu sudah dikunci dan Laila pun sudah masuk ke dalam mobil, Galih pun kemudian ikut masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka bertiga meluncur pergi meninggalkan rumah untuk ke rumah sakit.


***


Uhuk uhuk uhuk...


Suara batuk-batuk Pak Ramli sudah terdengar di dalam kamar Pak Ramli. Ternyata sejak tadi Pak Ramli sudah bangun, namun dia belum keluar dari kamar karena kondisi kesehatannya lagi tidak stabil.


Sebenarnya semalam Pak Ramli tidak kenapa-kenapa. Dia hanya batuk-batuk saja seperti biasa. Karena dia memang pengidap TBC dan paru-paru kronis. Jadi dia sering batuk-batuk sampai keluar darah.


Tapi semalam Pak Ramli tidak kenapa-kenapa. Bahkan dia bisa tidur nyenyak karena obat yang dibelikan Zia kemarin di apotik.


Pak Ramli turun dari tempat tidurnya. Dia kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur. Pak Ramli terkejut saat di dapur tidak ada makanan apapun. Pak Ramli kemudian melangkah untuk ke kamar Zia.


Tok tok tok...


Pak Ramli mengetuk pintu kamar Zia.


"Zi, kamu nggak masak Zi...!" seru Pak Ramli dari luar kamar Zia


Beberapa saat kemudian, Zia membuka pintu kamarnya. Pak Ramli terkejut saat melihat Farhan masih berbaring di atas ranjang kamar Zia.


"Lho, suami kamu masih tidur. Dia nggak kerja toh? dia nggak pulang ke rumah Amira?"


"Sssttt... jangan berisik Kek. Nanti Mas Farhan terganggu tidurnya. Mas Farhan itu lagi sakit. Tadi pagi dia mau pulang ke rumah Mbak Amira. Tapi kepalanya sakit. Jadi aku suruh dia istirahat aja di sini."


"Oh. Begitu ya."


"Iya lah. Kalau di rumah Mbak Amira, kasihan dia nggak bisa istirahat. Karena dia harus masak, nyuci, ngepel, malah repot dan capek dia di sana. Makanya biarkan saja Mas Farhan di sini."


"Kakek sih tidak pernah melarang Farhan untuk tinggal di sini Zi. Tapi kakek cuma mau mengingatkan kamu, jangan terlalu ngekang Farhan. Karena dia juga punya istri lain selain kamu. Kakek harap, kamu jangan egois ya. Karena Amira juga lagi sangat membutuhkan Farhan."


"Iya iya. Kakek nggak usah ceramahin aku. Aku udah tahu Kek. Kakek mau ngapain sih ketuk-ketuk kamar aku "


"Kakek lapar. Pengin makan. Tapi tadi lihat di dapur nggak ada apa-apa."


"Duh, aku kan cuma masak nasi aja Kek. Rencananya aku mau beli lauk aja nanti agak siangan."

__ADS_1


"Beli sekarang aja Zi. Perut kakek udah sakit," ucap Pak Ramli sembari mengusap-usap perutnya.


Kakek renta itu hanya bisa mengandalkan Zia cucu satu-satunya. Jika Zia tidak masak, kadang kakek Zia sampai seharian dia tidak makan.


__ADS_2