
Setelah Amira membolehkan suaminya pergi, akhirnya Farhan pun bersiap-siap pergi untuk ke rumah Zia.
Farhan keluar dari kamar Amira dan melangkah ke kamar Laila untuk memanggil Laila di kamarnya. Farhan kemudian mengetuk pintu kamar Laila yang terkunci dari dalam.
Tok tok tok..
"La... buka pintu La. Ini Abi La..." seru Farhan dari luar kamar Laila.
Laila mengerjapkan matanya saat mendengar suara Farhan di luar kamarnya.
Hoaaammm...
"Ih... Abi mau ngapain sih malam-malam gini," ucap Laila sembari turun dari ranjangnya.
Laila yang masih mengantuk kemudian membuka pintu untuk ayahnya.
"La, kamu tidur di kamar Umi dulu ya," ucap Farhan
"Abi emang mau kemana?" tanya Laila.
"Abi mau keluar dulu sebentar."
"Cuma sebentar kan Bi? nggak akan lama," ucap Laila sembari mengucek matanya.
"Iya La."
Dengan ngantuk yang teramat berat, akhirnya Laila menurut juga untuk ke kamar ibunya. Walau dia harus memaksa kan matanya untuk melek.
Sesampainya di dalam kamar ibunya, Laila langsung merobohkan tubuhnya begitu saja di kasur. Dan Laila pun tidur lagi.
Setelah Laila masuk ke kamar, Farhan melongok ke kamar Amira. Farhan tersenyum saat melihat Amira dan Laila tidur.
"Tidur yang nyenyak ya, kalian berdua, Abi pergi dulu. Abi janji Abi akan langsung pulang kalau kakeknya Zia tidak kenapa-kenapa," ucap Farhan sebelum pergi.
Farhan kemudian melangkah keluar dari rumahnya. Seperti biasa dia juga membawa kunci cadangan.
Farhan kemudian naik ke atas motor dan meluncur pergi meninggalkan rumah Amira. Dia akan pergi ke rumah Zia, yang jaraknya hanya lima menit jika dilaju pakai motor.
Sesampainya di depan rumah Zia, Farhan menghentikan laju motornya. .
__ADS_1
Zia yang saat ini ada di ruang tamu, tersenyum saat mendengar suara motor Farhan. Zia buru-buru masuk ke kamar kakeknya.
"Akhirnya, Mas Farhan pulang juga. Aku harus nangis di samping kakek biar Mas Farhan mikirnya beneran kalau kakek aku kenapa-kenapa," ucap Zia.
Setelah memarkirkan motornya di depan rumah Zia, Farhan kemudian turun dari motornya.
Farhan berjalan ke teras depan rumah Zia. Farhan menghentikan langkahnya saat samar-samar dia mendengar tangisan Zia dari dalam rumah.
"Hiks...hiks.. kakek... kakek...! jangan tinggalin aku Kek. Aku mau sama siapa kalau kakek meninggal. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi Kek."
Farhan buru-buru mengetuk pintu rumah Zia. Dia sangat khawatir dengan kondisi kakeknya Zia saat ini.
Beberapa saat kemudian, Zia membuka pintu. Dia mengusap air matanya dan langsung memeluk Farhan.
"Mas Farhan, akhirnya kamu datang juga Mas. Hiks...hiks...," ucap Zia dengan memeluk suaminya erat.
"Zi, ada apa sayang?" tanya Farhan sembari melepas pelukan istri ke duanya.
Zia menatap manik mata Farhan.
Aku kangen banget Mas Farhan sama kamu. Aku nggak bisa tidur kalau kamu nggak ada di samping aku. Entah kenapa, aku jadi kecanduan sama pelukan kamu. Maafkan aku, karena aku sudah membohongi kamu ustazku. Aku nggak sanggup jika kamu ada di rumah Mbak Amira. Aku cemburu Mas, aku nggak suka kamu tidur di sana. Aku ingin kamu sama aku terus, batin Zia..
Farhan melambaikan tangannya di depan Zia.
"Kakek udah nggak apa-apa. Dia sudah aku pakaikan pampers. Tadi aku beli di warung depan."
"Jam segini masih ada warung buka?" tanya Farhan.
"Itu sih, warungnya Bu Inah, kan bukan 24 jam."
"Oh iya. Kalau muntah-muntahnya gimana?"
"Tadi sebelum kamu ke sini dia muntah-muntah. Tapi aku sudah gantiin bajunya kakek dan ganti sepreinya juga. Dan sekarang kakek udah tidur. Baru aja lelap."
Farhan menghela nafas dalam.
"Oh. Syukurlah kalau begitu. Aku bisa pulang lagi ke rumah Amira," ucap Farhan.
Zia meraih ke dua tangan Farhan dan menggenggam tangan Farhan dengan erat.
__ADS_1
"Mas, aku mohon. Kamu udah sampai sini, jangan pulang ke rumah Mbak Amira lagi ya. Temani aku dan kakek. Aku takut kakek akan kambuh lagi sakitnya. Aku bingung kalau sendirian seperti ini. Tadi aja aku panik Mas.
"Kamu kan tahu, rumah aku ada di pinggir sawah jauh dari tetangga. Kalau rumah Mbak Amira kan ramai. Kalau ada apa-apa sama Mbak Amira, banyak tetangga Mbak Amira juga yang bisa nolongin dia," ucap Zia mencoba untuk membujuk suaminya agar suaminya mau tetap di rumahnya.
Farhan diam dan tampak berfikir.
Nggak apa-apa kali ya aku nginap di sini lagi. Lagian, tadi Amira dan Laila juga nyenyak banget tidurnya. Nggak mungkin lah mereka bangun. Kalau ada apa-apa, aku juga bawa hape. Pasti Laila akan telpon aku. Sebentar lagi juga sudah masuk waktu subuh. Sekalian subuh aja deh aku pulangnya. Aku temani Zia dulu di sini, takut kakeknya kambuh lagi, batin Farhan.
Zia mengajak Farhan masuk ke dalam rumahnya. Zia kemudian menutup pintu depan dan mengajak Farhan masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu dingin Mas?" tanya Zia setelah mereka berdua sudah duduk di sisi ranjang.
"Lumayan. Keluar malam, membuat aku sedikit kedinginan. Apalagi di luar tadi anginnya banyak."
"Aku buatin minum ya Mas."
"Boleh."
"Teh manis hangat ya, seperti biasa."
"Iya sayang."
Zia kemudian pergi meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju dapur. Sementara Farhan naik ke atas ranjang dan berbaring di ranjang kecil milik Zia. Tempat di mana dia dan Zia selalu memadu cinta.
"Lumayan repot ternyata punya istri lumpuh. Amira udah nggak bisa apa-apa. Malah selalu ngerepotin aku sekarang. Seharusnya wanita itu melayani suaminya. Kenapa jadi kebalik ya, aku yang selalu melayani Amira," gumam Farhan di kesendiriannya.
"Untung ada Zia, aku masih bisa meminta Zia untuk melayani aku dalam hal apapun. Andai nggak ada Zia. Bagaimana jadinya aku ini," lanjut Farhan.
Beberapa saat kemudian, Zia masuk ke dalam kamar dan membawakan Farhan teh manis hangat.
"Ini mas, teh hangat untuk menghangatkan tubuh kamu," ucap Zia sembari meletakan teh hangat di atas meja.
Farhan menatap Zia yang saat ini tampak cantik. Dia memang setiap hari selalu memoles wajahnya dengan make up tipis. Membuat Farhan tidak bisa lepas saat berada di jeratan Zia seperti malam ini.
"Sebenarnya, yang bisa menghangatkan tubuhku cuma kamu Zi, bukan teh hangat ini,' ucap Farhan.
Zia tahu apa yang Farhan maksud kan.
"Kamu mau sekarang?" tanya Zia yang sudah mulai menggoda.
__ADS_1
"Sebenarnya aku lagi capek Zi. Tapi kalau kamu mau, nggak apa-apa kita begadang lagi sampai subuh. Biar besok kita bisa keramas bareng," ucap Farhan.
Zia tersenyum. Wajahnya merona merah saat suaminya meminta jatahnya untuk malam ini.