Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Telpon dari istri muda


__ADS_3

Malam ini, Galih sudah sampai di depan rumah sakit. Dia meminjam salah satu motor Yudi untuk ke rumah sakit, karena motornya belum jadi dan masih ada di bengkel. Mungkin satu minggu lagi motor itu bisa kembali di pakai.


Sesampainya di halaman depan rumah sakit, Galih kemudian melajukan motornya sampai ke tempat parkir. Setelah itu dia memarkirkan motornya di sana.


Galih membuka helemnya dan meletakannya di atas motornya. Galih saat ini sudah membawa parcel buah untuk Amira. Setelah turun dari motor, Galih kemudian membawa parcel buah itu masuk ke dalam rumah sakit.


Setelah Galih sampai di depan ruangan Amira, Galih membuka pintu ruangan itu dan masuk begitu saja ke dalam ruangan itu.


Galih kemudian mendekat ke ranjang di mana Amira berbaring.


"Amira, aku bawain kamu buah-buahan Mir," ucap Galih.


"Mas Galih," Amira menatap Galih lekat. Sepertinya dia terkejut saat melihat kedatangan Galih.


Galih tersenyum. "Iya Mir."


"Biasakanlah salam dulu ya Mas, kalau masuk ruangan atau mau masuk rumah," ucap Amira.


"Oh, maaf Amira. Aku lupa," ucap Galih sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh ya. Assalamualaikum Amira."


"Wa'alaikumsalam."


Galih menatap ke sekeliling. Dia kemudian meletakkan parcel buahnya di atas meja.


"Mana suami kamu?" tanya Galih.


"Dia lagi sholat Maghrib Mas di mushola," jawab Amira.


"Maghrib? sebentar lagi kan isya Mir."


"Mas Farhan perginya udah dari tadi kok. Mungkin dia mau langsung lanjut sholat isya."


"Oh. Boleh aku duduk Mir?" tanya Galih.


"Boleh dong Mas. Silahkan."


Galih kemudian duduk di kursi yang ada di samping ranjang Amira.


Setelah duduk, Galih menatap wanita berhijab lebar itu lekat.


"Gimana kondisi kamu Mir?" tanya Galih.


"Masih sama Mas. Leher belum bisa di gerakin. Masih sangat sakit," jelas Amira.


"Kalau kaki?" tanya Galih lagi. Dia bingung untuk memulai pembicaraannya dari mana.


"Kaki juga apalagi Mas. Masih sakit."


"Sabar ya Mir."


Amira tersenyum.


"Iya Mas. Aku sabar kok. Dan aku akan selalu sabar. Oh ya. Ngomong-ngomong, Mas Galih ke sini naik apa dan sama siapa? bukannya Mas Galih masih sakit dan baru pulang kemarin." Runtutan pertanyaan sudah dilontarkan Amira pada Galih.


"Aku udah nggak apa-apa kok Mir. Cuma luka ringan aja. Di kepala, lutut dan siku," ucap Galih sembari menunjukan luka-lukanya pada Amira.


"Dan nggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," lanjut Galih.

__ADS_1


"Syukurlah kalau Mas Galih nggak apa-apa."


"Sebenarnya aku ke sini karena aku mau minta maaf sama kamu Mir," ucap Galih yang sudah menunjukan tampang serius.


"Maaf untuk apa Mas?" tanya Amira.


"Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini. Maafin aku ya Mir."


"Nggak apa-apa Mas. Ini bukan sepenuhnya salah kamu kok Mas. Ini salah aku juga. Coba kalau aku nggak maksa pulang waktu malam itu. Kejadiannya mungkin kan nggak akan seperti ini."


"Tapi kata suami kamu, ini takdir Mir."


"Iya sih. Takdir Manusia siapa yang tahu ya Mas. Kita juga tidak tahu kapan waktunya Tuhan mencabut nyawa kita "


"Mir, kamu udah makan belum Mir?" tanya Galih.


"Belum Mas. Aku lagi nungguin Mas Farhan,"jawab Amira.


Galih melirik ke atas nakas. Sudah ada banyak makanan di atas nakas.


"Banyak banget makanannya. Kamu mau makan apa Mir? biar aku ambilin."


Amira tersenyum.


"Mas, aku belum bisa makan sendiri Mas. Aku aja belum bisa duduk karena leher aku sakit."


"Oh, mau aku suapin Mir?" ucap Galih menawarkan.


"Nggak usah Mas, biar Mas Farhan saja nanti yang nyuapin aku," ucap Amira.


"Kalau mau aku suapin juga nggak apa-apa Mir. Aku kan kakak kamu juga. Jadi, nggak usah malu-malu."


"Oh, ya tentu nggak ngerepotin lah. Aku malah seneng bisa bantu kamu."


"Nggak usah Mas. Aku mau nunggu Mas Farhan saja."


****


Di mushola, Farhan masih duduk menunggu waktu sholat isya.


Suara Adzan akhirnya berkumandang. Setelah masuk waktu isya, Farhan pun kemudian melakukan sholat isya. Selesai shalat isya Farhan menyempatkan waktu untuk berdzikir.


Ring ring ring...


Suara ponsel Farhan tiba-tiba saja berdering. Farhan mengambil ponselnya yang ada di sisinya duduk.


Dia kemudian mengangkat panggilan dari Zia istri barunya.


"Halo. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam Ustadz. Ini Zia ustadz."


"Zia. Ada apa Zi?"


"Nggak ada apa-apa ustadz. Aku cuma mau tanya kondisi Mbak Amira aja."


"Oh, Amira baik-baik saja Zi."


"Mbak Amiranya mana? aku pengin ngobrol sama dia."

__ADS_1


"Amira ada di ruangannya. Dia juga belum bisa angkat telpon Zi. Kalau mau ngobrol sekarang, nggak bisa. Karena saya lagi di mushola sekarang."


"Ustadz Farhan lagi di mushola rumah sakit ya sekarang? jadi nggak ada Mbak Amira ya di sana."


"Iya Zi. Nggak ada. Aku baru selesai sholat isya."


"Oh iya. Ganggu nggak nih ustadz?"


"Oh, nggak kok. Aku juga udah sholatnya."


"Oya, Ngomong-ngomong, Mbak Amira kenapa ya Ustadz?"


"Leher Amira retak. Dan tulang di kakinya patah."


"Ya Allah, kasihan banget ya Mbak Amira. Maaf ya ustadz. Aku belum bisa jengukin Mbak Amira lagi. Soalnya aku juga lagi jagain kakek aku."


"Kakek kamu gimana kabarnya?"


"Baik kok Ustadz. Kondisinya ya masih sama seperti biasa."


"Zi, bisa nggak Zi, panggil aku jangan ustadz. Kamu lupa ya, kalau kita itu suami istri."


"Oh. Hehe... aku fikir Mas Farhan udah lupa kalau kita suami istri."


"Bagaimana aku bisa lupa sama istri aku sendiri. Apalagi istri yang baru kemarin aku nikahi dan belum sempat malam pertama."


"Iya. Musibah nggak ada yang tahu ya Mas."


"Iya. Kamu lagi ngapain sekarang Zi?"


"Aku lagi nelpon kamu Mas. Sebenarnya aku kangen sama kamu."


"Kangen?"


"Iya Mas."


"Aku juga kangen sama kamu. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku harus tungguin Amira dulu di sini."


"Sebenarnya aku sedih mendengar kondisi Mbak Amira sekarang Mas."


"Kenapa sedih?"


"Mbak Amira kan patah tulang, kalau dia patah tulang di kakinya, pasti nanti dia nggak akan bisa jalan. Aku yakin, pasti kasih sayang kamu, akan tercurahkan ke Mbak Amira semua. Pasti nanti kamu lupa, kalau kamu juga punya istri aku "


"Kamu tenang saja. Aku pasti akan penuhi hak dan kewajiban kamu juga Zi, aku akan memperlakukan kamu sama seperti aku memperlakukan Amira. Karena kalian berdua adalah istri-istri aku. Aku akan berusaha adil sama kalian."


"Makasih ya Mas."


"Iya sama-sama Zi. Kamu lagi ngapain sekarang sayang?"


"Aku lagi tiduran Mas."


"Mau aku temani?"


"Mau dong Mas. Dari kemarin aku juga nggak bisa tidur. Aku mikirin kamu terus ."


"Kamu tenang aja. Kalau Amira sudah pulang dari rumah sakit ,nanti aku ke rumah kamu Zi."


***

__ADS_1


__ADS_2