
"Iya Mas, aku janji aku nggak akan pernah bohongin kamu lagi. Dan aku juga kan udah minta maaf , aku udah janji, nggak akan mengulangi perbuatan aku lagi."
Zia tiba-tiba saja memeluk Farhan dengan erat.
"Zi, kamu ngapain peluk aku. Kamu jangan peluk-peluk aku di sini Zi. Malu dilihatin orang."
"Mas, untuk apa malu. Kita kan suami istri Mas. Jadi untuk apa malu."
"Tapi Zi. Ini maghrib. Nggak pantas kita pelukan di teras seperti ini."
"Aku akan peluk kamu terus sebelum kamu janji sama aku, kalau malam ini kamu mau pulang ke rumah aku."
"Iya iya. Aku janji, nanti malam aku pulang ke rumah kamu."
Zia kemudian melepaskan pelukannya. Setelah itu dia tersenyum pada suaminya.
"Kamu mau ngapain sih ke sini? mau sholat di mesjid?"
"Kalau Mas, mau ngapain?"
"Ya aku mau ke mesjid. Udah adzan."
"Ya udah, kita bareng aja. Aku juga udah lama nggak jama'ah di mesjid ini."
"Ya udah ayo. Tapi kamu jangan peluk-peluk aku lagi di depan umum. Malu-maluin aja," geram Farhan.
Setelah itu Farhan dan Zia berjalan bersama menuju ke mesjid.
Setelah sholat jamaah di mesjid, Novi dan Laila kemudian pulang ke rumah Amira.
"Assalamualaikum," ucap Novi dan Laila bersamaan sembari berjalan masuk ke dalam rumah itu.
"Wa'alakiumsalam," ucap Amira yang saat ini ada di ruang tengah.
Novi dan Laila kemudian mencium punggung tangan Amira. Setelah itu mereka berjalan ke arah kamar mereka masing-masing.
Beberapa saat kemudian, Novi keluar dari kamarnya. Dia kemudian mendekati Amira dan duduk di sisi Amira.
"Mbak, Mas Farhan mana?" tanya Novi.
"Masih ada di mesjid."
"Oh. Masih di mesjid."
"Ada apa nanyain Abinya Laila?"
"Mau pinjam motor Mbak."
Amira menatap lekat Novi.
"Mau kemana malam-malam gini?"
"Aku mau beli bakso untuk makan malam."
"Untuk apa beli bakso. Mbak kan masih punya lauk dan nasi di dapur."
"Aku lagi malas makan nasi Mbak. Dan aku nggak suka masakannya suami kamu. Malas aku Mbak. Mendingan aku makan masakannya Mbak Amira atau ibu."
"Ya terserah kamu sih. Emang di rumah ibu nggak ada nasi atau lauk?"
"Ya ada sih. Tapi aku lagi pengin makan bakso. Kalau Mbak Amira mau nitip, nanti aku belikan Mbak."
__ADS_1
Amira diam.
"Coba deh, kamu tanya Laila. Dia mau bakso nggak."
"Iya Mbak. Nanti tak tanyain dulu Lailanya."
Novi bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pergi untuk ke kamar Laila.
"La, kamu mau ikut Tante Novi nggak?"
Laila yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya, menatap ke arah Novi.
"Ikut ke mana?" tanya Laila.
"Aku mau beli bakso di depan."
Laila tersenyum dan langsung meletakan ponselnya di atas kasur. Dia kemudian beringsut duduk dan langsung turun dari ranjangnya.
"Ikut dong Tan," ucap Laila sembari menghampiri Tantenya.
"Ya udah ayo. Tapi Tante Novi cuma punya uang sedikit. Kamu minta uang ke Umi kamu coba kalau kamu mau beli bakso juga."
"Iya Tan."
Laila kemudian mendekat ke arah ibunya dan meminta uang pada Amira untuk beli bakso.
"Mi, ada uang Mi. Aku pengin beli bakso."
"Ada tuh di dompet. Sana, ambil sendiri di kamar Umi."
"Siap Mi."
Laila kemudian pergi ke kamar ibunya untuk mengambil uang untuk beli bakso.
Amira mengambil dompetnya dan mengambil sejumlah uang untuk Laila beli bakso.
"Kalian mau berangkat sekarang?" tanya Amira.
"Ya iya dong. Orang aku juga udah lapar."
"Ya udah, hati-hati ya."
"Oh iya Mbak. Kunci motornya mana?"
"Tuh," ucap Amira sembari menunjuk kunci motor Farhan yang ada di atas meja.
Laila dan Novi kemudian melangkah pergi keluar dari rumahnya. Mereka mengambil motor Farhan yang masih ada di teras depan rumah. Setelah itu mereka pun meluncur pergi meninggalkan rumah untuk beli bakso.
Di depan masjid, Farhan masih tampak ngobrol-ngobrol dengan Zia.
"Mas, kamu ikut aku pulang ya."
"Kamu pulang duluan aja deh Zi."
"Yah Mas. Tapi aku pengin pulang bareng kamu. Kamu ikut aku pulang ya."
"Aku nggak bisa Zi. Aku harus izin dulu sama Amira."
"Yah Mas. Kok pakai acara izin-izin segala sih. Nggak usah izin juga nggak apa-apa. Orang dekat."
"Iya. Tapi kan hape aku dan motor aku juga ada di rumah."
__ADS_1
"Terus? kamu tega lihat aku pulang jalan kaki."
"Ya udah, kalau kamu mau pulang bareng aku. Kamu mampir dulu ke rumah Amira. Kita izin dulu sama Amira. Setelah itu kita pulang ke rumah kamu. Nanti aku boncengin kamu pakai motor. Gimana."
"Boleh deh. Tapi, Mbak Amira nggak apa-apa aku main ke rumahnya."
"Ya nggak apa-apa lah. Orang cuma main."
"Ya udah deh yuk."
Zia dan Farhan kemudian berjalan beriringan sampai ke rumah Amira.
Sesampainya di teras depan rumah, Farhan menghentikan langkahnya. Dia menatap ke sekeliling.
"Lho, motor aku ke mana ya," ucap Farhan.
"Kenapa Mas?"
"Motor aku nggak ada. Kayaknya ada yang make deh."
"Terus kamu mau nganterin aku pulang pakai apa?"
"Ya pakai motor lah. Kita masuk dulu yuk. Kita tunggu di dalam. Mungkin motornya lagi di pakai adik iparku."
"Iya Mas."
Farhan dan Zia kemudian masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Zia dan Farhan bersamaan.
"Wa'alakiumsalam," ucapan Amira sudah terdengar dari ruang tengah.
"Amira," ucap Farhan.
Amira terkejut saat melihat kedatangan Farhan dan Zia.
"Mas Farhan, Zia. Kalian..."
"Sayang, aku mau nganter Zia pulang. Tapi motornya nggak ada di luar. Jadi aku ajak aja Zia ke sini. Nggak apa-apa kan sayang."
Amira diam. Dia tampak tidak suka dengan kedatangan Zia ke rumahnya. Untungnya saat ini, Novi sedang pergi. Jika Novi pulang, pasti akan ada perang besar di antara Novi dengan ,Zia.
"Nggak apa-apa Mas," ucap Amira.
"Zi, ayo duduk Zi."
"Iya Mas. Makasih."
Zia kemudian duduk setelah Farhan mempersilahkannya duduk. Begitu juga dengan Farhan yang ikut duduk. Dia duduk di sisi Amira dan di dekat Zia.
Setelah duduk, Zia menatap Amira lekat.
"Mbak, bagaimana kabar Mbak?" basa-basi Zia menanyakan kondisi Amira.
"Aku baik."
"Mbak udah sehat?"
"Iya. Alhamdulillah."
"Maaf ya Mbak. Aku nggak pernah ke sini jengukin Mbak. Sebenarnya aku ingin ke sini. Tapi di rumah aku selalu repot. Jadi aku baru bisa ke sini"
__ADS_1
Aku tahu apa yang ada di dalam fikiran Zia. Dia ke sini bukan mau jengukin aku. Tapi karena dia lagi butuh sama suamiku. Ih, menyebalkan sekali wanita ini. Kenapa sih, Mas Farhan harus ngajakin dia ke sini. Dan kenapa juga, Zia harus pakai acara berbasa-basi begini, batin Amira.