
"Umi, Pade," ucap Laila mengejutkan Galih dan Amira.
Amira dan Galih kemudian menatap Laila bersamaan.
Amira buru-buru menghempaskan tangan Galih dan menggenggam uang itu dengan erat.
"Laila, kamu udah pulang?" tanya Amira.
Laila menatap ke sekeliling mencari keberadaan Novi.
"Kalian lagi ngapain berdua-duaan di sini. Mana Tante Novi?" tanya Laila.
"Tante kamu pergi keluar tadi. Entah mau ke warung atau mau ke rumah nenek." jawab Amira.
Laila langsung mencium punggung tangan Galih. Dia kemudian duduk di samping Galih.
"Pade udah lama di sini?" tanya Laila.
"Pade baru sampai kok," jawab Galih.
"Tumben pade sore-sore ke sini."
"Iya. Pade sengaja ke sini, karena pade ingin ketemu kamu. Sekalian pade bawain kamu oleh-oleh bakso sama martabak."
Laila tersenyum dan menatap ke atas meja.
"Wah, banyak banget Pade. Makasih banget ya Pade. Pade itu memang padeku yang paling baik," puji Laila.
Galih hanya tersenyum saat mendengar pujian dari Laila.
Beberapa saat kemudian, Novi masuk ke dalam rumah dan berbaur duduk bersama Galih, Amira, dan Laila.
"Tante dari mana?" tanya Laila menatap Novi lekat.
"Dari rumah nenek kamu," jawab Novi.
"Mau ngapain Tan?"
"Mau ambil baju. Tante mau mandi di sini soalnya."
"Oh..." Laila manggut-manggut mengerti.
Laila menatap plastik yang tampak berbeda dari bungkus plastik lain.
"Pade, apa ini pade?" tanya Laila sembari mengambil bungkusan plastik itu.
Laila yang penasaran buru-buru mengambil isi yang ada di dalam bungkus plastik itu.
"Wah, apa ini pade?" tanya Laila saat melihat baju baru yang ada di dalam bungkus plastik itu.
__ADS_1
"Ini seperti gamis? buat aku ya Pade?" tanya Laila.
Galih tampak bingung untuk menjawab pertanyaan Laila. Sebenarnya Galih membelikan gamis itu untuk Amira, tapi entah kenapa Laila yang mengambil gamis itu duluan.
Laila sangat bahagia karena Padenya sudah membelikan dia baju baru. Laila kemudian buru-buru masuk ke dalam kamarnya untuk mencobanya.
"Mas, kamu belikan Laila baju baru?" tanya Amira.
Galih diam.
Duh, kenapa aku cuma beli satu ya. Seharusnya tadi aku beli tiga, biar sekalian untuk Novi dan Laila. Kalau begini, pasti Laila akan kecewa sama aku, batin Galih.
"Iya Amira," jawab Galih.
"Bajunya Laila kan udah banyak. Kenapa mesti di beliin lagi sih Mas."
"Nggak apa-apa Amira. Biar Laila senang."
"Mas Galih, kok cuma beliin Laila doang sih. Aku mau juga dong di beliin. Aku tahu, Mas Galih kan uangnya banyak. Sekali-kali kek, kasih hadiah buat aku juga," ucap Novi yang merasa iri dengan Laila.
"Iya. Kapan-kapan ya. Aku cuma beli untuk Laila doang," ucap Galih.
Beberapa saat kemudian, Laila keluar dari kamarnya. Laila terlihat marah, saat keluar dari kamar.
"Pade, sebenarnya Pade beli gamis untuk siapa sih? Tante Novi, atau Umi. Kenapa gamisnya besar sekali," ucap Laila tampak bersungut-sungut.
Laila kemudian duduk kembali di atas sofa.
"Iya. Masa Pade nggak tahu ukuran badan aku sih. Pade kan udah biasa beli baju yang ukurannya pas buat aku. Tapi sekarang Pade beli gamis seukuran Umi dan Tante Novi. Seharusnya kan pade beli seukuran aku," ucap Laila marah-marah karena kecewa gamisnya kebesaran.
"Coba sini lihat," Novi merebut gamis itu dari tangan Laila.
Dia kemudian melebarkan gamis itu.
"Wah iya. Ini sih seharusnya buat aku. Tapi sayang banget aku nggak begitu suka dengan gamis. Aku biasa pakai rok bawahan atau celana. Yang sering pakai gamis kan Mbak Amira,"
"Sabar La, mungkin Pade kamu lupa sama ukuran badan kamu," ucap Amira.
"Duh, kegedean ya La. Maafin pade ya. Pade cuma mau pilih gamis yang paling bagus yang ada di toko itu. Nggak tahunya kebesaran buat kamu," ucap Galih.
"Ini sih, harusnya untuk Umi," Laila menatap Amira.
"La, nggak apa-apa kebesaran. Kan kita bisa bawa ke tukang jahit," Amira mencoba untuk menghibur Laila agar dia tidak terlalu kecewa.
Laila yang terlanjur marah, kemudian bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah ibunya. Dia kemudian meletakan gamis itu ke pangkuan ibunya.
"Ini, buat Umi aja. Aku nggak mau."
Laila kemudian buru-buru masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.
__ADS_1
Galih tampak menyesal karena hanya membeli satu gamis saja. Tapi Galih fikir, Laila itu sudah sering dia belikan baju. Dan sekarang giliran Amira. Galih pengin membelikan baju baru untuk Amira.
Duh, maafkan pade ya La. Pade fikir, baju Laila masih bagus-bagus. Kan pade udah sering belikan baju untuk Laila. Sebenarnya baju itu untuk Umi kamu. Yang pade lihat, Umi kamu itu bajunya udah jelek-jelek. Sepertinya Farhan tidak pernah membelikan baju baru untuk Umi kamu, ucap Galih dalam hati.
Galih tidak mau berlama-lama berada di rumah Amira. Dia kemudian pamit untuk pulang.
"Amira, Novi, udah sore. Aku pulang dulu ya."
"Lho, Mas Galih. Kok buru-buru banget. Nggak mau sekalian makan di sini?" tanya Novi.
"Nggak usah. Aku mau makan di rumah aja."
Sebelum berdiri, Galih menatap Amira lekat.
"Cepat sembuh ya Amira."
"Iya Mas. Doain aja ya Mas."
Setelah berpamitan dengan Amira dan Novi, Galih kemudian pergi meninggalkan rumah Amira.
Dia meluncur pulang ke rumah dengan motornya.
****
Zia dan Farhan masih berada di dalam kamarnya. Sejak tadi Farhan masih mengusap-usap perut Zia yang masih rata.
"Mas, kamu mau anak kita apa? laki-laki atau perempuan?" tanya Zia sembari menggenggam tangan suaminya dengan erat.
"Apa ya? aku udah punya anak perempuan. Aku pengin anak laki-laki. Untuk gantinya Fauzan."
"Kalau aku pengin anak perempuan Mas. Biar bisa bantu-bantu aku di dapur."
"Anak lelaki sama anak perempuan sama aja Zi. Yang penting sehat dan dia lahir dengan selamat."
Di saat-saat Zia dan Farhan ngobrol di dalam kamar, deru motor dari luar rumah terdengar.
"Itu sepertinya kakak kamu pulang," ucap Zia.
"Biarin aja lah."
"Kok biarin aja sih. Katanya kamu mau pinjam duit untuk periksa kandungan aku."
"Kan periksanya masih lama sayang. Baru kemarin periksa. Masa mau periksa lagi. Nunggu sebulan dong."
"Iya. Tapi aku kan lagi nggak pegang duit. Kamu juga. Pinjam aja sama Mas Galih. Kalau nggak, kamu ambil aja uang modal toko."
Farhan terkejut saat mendengar ucapan Zia.
"Nggak bisa kalau itu dong sayang. Itu kan uang modal, untuk muter lagi. Nggak bisa sembarangan ambil."
__ADS_1
"Tapi masa kamu mau biarkan aku kelaparan. Kamu nggak pegang uang kan. Uang yang udah kamu berikan ke aku, juga selalu kamu minta untuk beli bensin. Bisa habis kan uangnya."
"Sudahlah, kamu tenang aja. Kamu nggak akan kelaparan di sini. Kalau kita nggak punya uang, kita bisa numpang makan sama ibu di sini. Yang penting kamu yang rajin aja bantu-bantu ibu seperti Amira. Pasti ibu akan sayang sama kamu," ucap Farhan mengusulkan.