
Sore ini, Farhan masih berada di ruang tengah. Dia sejak tadi masih diam. Matanya menatap layar tivi, namun fikirannya seakan kosong entah kemana.
Beberapa saat kemudian, suara salam Galih sudah terdengar dari luar rumah.
"Assalamualaikum,"
Beberapa saat kemudian, Galih masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruang tengah, Galih menghentikan langkahnya.
"Farhan, mana ibu?" tanya Galih.
Dia kemudian duduk di dekat Farhan.
Galih menatap wajah Farhan lekat. Farhan tidak seperti biasanya. Saat ini dia terlihat sangat galau. Tadi saja Farhan tidak menjawab salam dari Galih karena saking sibuknya dia melamun. Sepertinya Farhan memang tidak merasakan kehadiran kakaknya.
"Farhan, kamu kenapa?" tanya Galih lagi. Namun Farhan yang di ajak bicara lagi-lagi hanya diam. Membuat Galih sedikit kesal.
"Woi…!" ucap Galih sembari menepuk bahu Farhan sedikit keras.
Farhan terkejut. Dia kemudian langsung menatap ke sampingnya duduk.
"Mas Galih,"
Galih tersenyum.
"Kenapa kamu? kenapa tuh muka di tekuk gitu?" tanya Galih.
"Aku nggak apa-apa Mas. Cuma sedikit kecewa aja."
"Kecewa kenapa?"
"Ternyata Amira udah punya calon suami," ucap Farhan yang membuat Galih terkejut.
"Apa! punya calon suami? dari mana kamu tahu soal itu Farhan?" tanya Galih. Nampaknya Galih belum tahu tentang hal itu. Karena Amira juga belum pernah cerita tentang Gus Farid pada Galih.
"Kemarin aku dari tokonya Amira. Dan Amira sendiri yang bilang sama aku, kalau dia sedang ta'arufan sama seorang Gus."
"Gus siapa? selama ini Amira tidak pernah bilang apa-apa sama aku. Terus, mau ngapain kamu ke tokonya Amira?"
"Aku ke sana, mau ngasih uang untuk Laila. Tapi Laila katanya lagi sekolah. Makanya aku titipkan sama Amira."
"Kamu ngobrol apa aja sama Amira?"
"Aku ngobrol banyak Mas. Aku bahkan minta rujuk sama dia."
Galih kembali terkejut.
__ADS_1
"Kamu datang ke sana mau merujuk Amira?"
Wajah Galih tiba-tiba saja berubah saat mendengar ucapan Farhan.
Farhan ngajak Amira rujuk, tapi apa Amira mau rujuk kembali dengan Farhan. Lalu, bagaimana dengan hati aku. Selama mencintai wanita, baru pernah aku merasakan hati aku sesakit ini. Karena wanita yang aku cintai adalah mantan adik iparku sendiri. Dan sejak penolakan itu, aku belum bisa melupakan Amira, batin Galih.
Sekarang, giliran Galih yang melamun. Dadanya terasa sesak saat mendengar kalau Amira sudah punya calon suami.
"Mas, kenapa Mas?" tanya Farhan saat melihat kakaknya melamun.
"Mas Galih…!" ucap Farhan dengan meninggikan nada suaranya.
"Aku nggak apa-apa," jawab Galih.
Galih kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah Farhan dan menatap Farhan lekat.
"Kamu yakin Farhan dengan ucapan kamu barusan? kamu yakin Amira sudah punya calon suami?" tanya Galih ingin memastikan sekali lagi kalau ucapan Farhan itu memang benar.
"Iya. Amira mau dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang lelaki cucu kyai. Dan katanya dia masih bujangan."
"Kamu sudah pernah lihat lelaki itu?"
Farhan menggeleng.
"Amira wanita yang jujur. Dia tidak pernah berbohong dengan semua yang dia ucapkan. Seandainya Amira sudah berkata seperti itu, itu artinya memang Amira sudah punya calon pendamping hidup," ucap Farhan.
***
Laila dan Amira saat ini ada dibelakang toko. Mereka masih tampak bercakap-cakap. Setelah pulang sekolah, Laila tidak langsung pulang ke rumah neneknya. Namun dia mampir dulu ke toko.
"Umi, apa Umi yakin, mau nikah sama Gus? Gus itu masih terlalu muda untuk Umi?" tanya Laila saat bicara berdua dengan Amira.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu Laila? bukankah kamu tahu, kalau nenek dan kakek kamu yang menjodohkan Umi dengan Gus."
"Umi, apa Umi cinta sama Gus?"
Amira diam. Dia kemudian menatap Laila lekat.
"Cinta?"
"Iya."
"Kalau itu, Umi nggak bisa jawab Laila. Karena Umi juga masih baru kenal sama Gus."
"Apa Gus cinta sama Umi?"
__ADS_1
"Umi juga nggak tahu perasaan Gus. Tapi Gus udah mau nerima Umi kok untuk jadi istrinya."
"Umi, apa Umi nggak mau nyari yang lebih tuaan dikit Umi?"
Amira menatap Laila tajam. Sebenarnya Amira tidak mengerti maksud dari pertanyaan-pertanyaan Laila itu.
"Maksud kamu? kamu minta Umi untuk nyari lelaki lain? kan kamu sudah tahu, kalau Gus itu baik. Dia juga sayang sama kamu. Belum tentu kan, lelaki lain ada yang mau nerima Umi dan nerima kamu seperti Gus. Dan Gus juga bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga kita. Dia cucu kyai, dan Umi tidak meragukan lagi ilmu dan keimanannya."
"Tapi…" Laila menggantungkan ucapannya. Entah kenapa, dari pertama kali melihat Gus, Laila tidak setuju Amira sama Gus.
"Sudahlah, nggak usah tapi-tapian. Gus memang masih muda, tapi dia bisa kok jadi sosok ayah yang baik untuk kamu. Dan Gus itu juga cucu kyai, dia lebih alim dari Abi mu."
"Terserah Umi deh. Tapi Laila nggak setuju Umi nikah sama Gus. Umi itu nggak pantas untuk Gus. Karena Gus lebih muda dari Umi."
"Lho, Laila, kamu kok bicara seperti itu. Tidak ada yang salah dengan perbedaan usia. Nabi Muhammad saja menikah dengan wanita janda, yang usianya lebih tua darinya. Yaitu Siti Khadijah. Kenapa Umi nggak boleh nikah sama Gus?"
"Perbedaan usia itu tidak menjadi masalah Laila. Asal Umi dan Gus menikah karena Allah, tidak ada yang menjadi penghalang untuk kami. Karena orang tua kami, sama-sama setuju. Kalau masalah cinta, itu kan bisa hadir dengan sendirinya. Dulu, Umi sama Abi kamu menikah juga karena di jodohkan. Dan cinta itu hadir setelah kami menikah."
"Apa Umi masih cinta sama Abi?" tanya Laila.
Amira kembali diam.
"Maksud kamu bertanya seperti itu apa?"
"Aku pengin Umi kembali lagi sama Abi. Kalau nggak, Umi nikah aja sama Pade. Pade udah baik banget sama Umi. Dia udah banyak berkorban untuk kita, apa Umi tega mencampakan Pade begitu saja. Dan Pade juga cinta kan sama Umi."
Amira terkejut saat mendengar ucapan Laila.
"Kamu, tahu dari mana soal itu?"
"Aku udah dengar percakapan Pade dengan Umi waktu itu. Dan Pade juga udah pernah nembak Umi dua kali. Aku pun tahu itu."
"Ja-jadi kamu sudah tahu, perasaan Pade kamu."
Laila mengangguk.
"Iya. Pade itu cinta sama Umi. Dan aku kecewa, kenapa Umi lebih milih Gus, orang yang baru Umi kenal, dari pada memilih Pade yang jelas-jelas tidak diragukan lagi cintanya. Jika Umi tidak memilih Pade, setidaknya berilah Abi kesempatan ke dua."
Amira benar-benar tidak menyangka dengan anaknya, walau dia masih kecil, dia ternyata tahu segala-galanya tentang Pade dan Abinya. Dan yang Amira bingung, kenapa anaknya lebih memilih dua lelaki itu dari pada memilih Gus Farid.
"Tapi maaf Laila, Umi tetap akan nikah sama Gus, karena ini amanat dari Kyai Hanafi. Dan ini juga permintaan ke dua orang tua Umi. Umi tidak mau mengecewakan nenek dan kakek kamu. Karena Umi ingin berbakti sama mereka."
"Terserah Umi, tapi sampai kapan pun Laila tetap tidak setuju Umi nikah sama Gus. Laila cuma ingin Umi nikah sama Pade atau rujuk lagi sama Abi. Karena cuma dua lelaki itu yang Laila setujui untuk menikah dengan Umi."
Laila bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan toko itu.
__ADS_1
Amira hanya bisa geleng-geleng kepala dengan anaknya yang egois.