
Farhan dan Bu Aminah saat ini masih berada di depan ruang operasi.
Sebentar lagi operasi Zia akan segera dilakukan. Sebelum masuk ke ruang operasi, dokter mendekati Farhan.
"Keluarga Bu Zia?" tanya dokter.
"Iya Dok, saya Farhan suaminya Zia," jawab Farhan.
"Banyak berdoa Pak. Agar Bu Zia dan bayinya selamat. Kandungan Bu Zia saat ini sangat lemah. Mungkin ini semua karena Bu Zia jarang periksakan kandungannya ke dokter, atau Bu Zia kurang banyak makan makanan bergizi. Dan bayi ini, juga akan lahir prematur atau kurang bulan, harus dilakukan perawatan intensif untuk bayi setelah bayinya lahir. "
"Iya Dok. Lakukan yang terbaik Dok, untuk anak dan istri saya. Kemarin saya sudah kehilangan anak saya . Dan saya tidak mau kehilangan anak saya lagi Dok."
"Baiklah, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Bu Zia dan bayinya. Kalau begitu saya masuk dulu," ucap Dokter.
"Iya Dok," ucap Farhan.
Dokter kemudian berjalan masuk ke dalam ruang operasi.
Setelah beberapa lama Farhan dan Bu Aminah menunggu di ruang tunggu depan ruang operasi, dokter kemudian keluar dari ruang operasi.
Bu Aminah dan Farhan buru-buru menghampiri dokter. Seperti ada raut kesedihan di wajah dokter.
"Dokter, bagaimana kondisi istri dan anak saya?" tanya Farhan.
Dokter tersenyum.
"Selamat ya, bayi anda sudah lahir dengan selamat," ucap Dokter memberi selamat.
"Alhamdulillah," ucap Bu Aminah dan Farhan bersamaan. Mereka tampak bahagia mendengar ucapan dokter.
"Apa jenis kelamin cucu saya Dok?" tanya Bu Aminah penasaran.
"Dia lelaki dengan berat 3kg," jawab dokter.
"Alhamdulillah. Akhirnya cucuku, selamat," ucap Bu Aminah
"Tapi..." dokter menggantungkan ucapannya.
"Tapi apa Dok?" tanya Farhan penasaran.
"Ada sesuatu serius yang harus anda tahu Pak Farhan," ucap Dokter.
"Apa Dok?"tanya Farhan lagi.
"Sepertinya, bayi anda mempunyai kelainan jantung Pak."
Farhan dan Bu Aminah terkejut saat mendengar ucapan dokter.
"Apa! kelainan jantung!" pekik mereka.
"Iya Pak Farhan, Bu. Dan keadaan ini tidak bisa di biarkan berlarut-larut sampai bayi itu besar. Harus ada operasi pada bayi, agar jantung bayi bisa normal kembali," ucap dokter menjelaskan.
Ucapan dokter membuat Farhan dan Bu Aminah bingung. Setelah Zia operasi, mungkinkah bayi Farhan itu juga akan ikut di operasi.
__ADS_1
"Operasi? tapi bayi saya kan baru lahir, masa mau di operasi sih Dok. Dia kan masih terlalu kecil," protes Farhan.
"Bukan sekarang maksud saya Pak Farhan. Maksud saya nanti, kalau dia sudah agak besaran."
Farhan menghela nafas panjang.
"Terus bagaimana kondisi Zia menantu saya?" tanya Bu Aminah.
"Kondisi Bu Zia, dia masih pingsan, dan belum sadarkan diri. Dan..." Dokter kembali menggantungkan ucapannya.
"Dan apa Dok?" tanya Bu Aminah.
"Hb Bu Zia sangat rendah Pak. Dan besar kemungkinan kalau dia akan mengalami pendarahan termasuk di bagian luka operasinya," jelas dokter.
"Terus? apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Farhan.
"Mungkin, kami harus mencari donor untuk Bu Zia. Karena setok darah di rumah sakit ini sudah habis Pak."
"Apa!" Bu Aminah dan Farhan saling menatap.
"Maaf Bu, Pak, saya tidak bisa berlama-lama di sini. Saya masih ada tugas lain yang harus saya kerjakan. Permisi."
"Iya Dok."
Dokter kemudian pergi meninggalkan Bu Aminah dan Farhan.
"Ya Allah, Farhan. Kenapa bisa jadi seperti ini."
"Dokter... dokter.." Suster itu berlarian mengejar dokter.
"Farhan, ada apa? kenapa suster lari-lari. Jangan-jangan sudah terjadi apa-apa dengan istri atau bayi kamu Farhan," ucap Bu Aminah.
"Nggak tahu Bu."
Beberapa saat kemudian, dokter itu kembali bersama suster masuk ke dalam ruang operasi.
****
Sore ini, Amira masih duduk di teras depan rumah. Tatapannya kosong, sejak tadi dia masih menatap ke depan.
"Mi, umi lagi ngapain di sini?" tanya Laila sembari menghempaskan tubuhnya di kursi dan duduk di sisi ibunya.
Amira yang ditanya hanya diam. Sepertinya dia tidak merasakan kehadiran Laila di sampingnya.
"Umi," ucap Laila sembari memegang bahu Amira.
Amira menoleh ke samping dan tersenyum.
"Laila," ucap Amira.
"Umi nggak ke mesjid?"
"Umi lagi nggak enak badan La."
__ADS_1
"Umi sakit?"
"Iya. Sedikit."
"Umi, jangan banyak fikiran dong Umi. Sebentar lagi Umi sembuh dan nggak perlu memakai tongkat. Umi bisa jalan lagi seperti biasa, dan Umi bisa melakukan aktifitas Umi lagi."
"Iya La. Makasih ya, selama ini Laila udah selalu dukung Umi."
"Iya Mi."
Sejenak, Amira dan Laila saling diam. Tiba-tiba saja Laila teringat dengan Galih Padenya.
"Mi, Pade kok nggak pernah datang ke sini lagi ya Mi," ucap Laila.
Bukan Farhan lagi yang dia kangenin sekarang, tapi Galih.
Sudah satu bulan lebih Galih tidak pernah datang ke rumah Amira. Mungkin karena dia masih sibuk dengan pekerjaannya di kantor.
"Mungkin, Pade kamu lagi sibuk, dia kan kerja. Nggak mungkin dong Pade kamu bolak balik ke sini terus jengukin Umi. Kan Umi sekarang udah bisa jalan."
"Iya sih Mi. Tapi aku kangen sama Pade. Kalau ada Pade di sini, setidaknya aku tidak pernah kekurangan kasih sayang seorang ayah. Karena Pade itu baik Mi. Dia suka banget beliin kita sesuatu. Sementara Abi, jengukin aku aja nggak pernah."
Amira menatap anaknya lekat. Dia kemudian mengusap pipi Laila dengan lembut.
"Sayang, Umi dan Abi kamu sebentar lagi akan berpisah. Setelah hakim mengetuk palu, Umi dan Abi kamu itu sudah bukan pasangan suami istri lagi. Dan itu artinya, Pade kamu juga nggak akan jadi kakak Umi lagi."
"Terus?"
"Kamu jangan ngarepin Pade kamu datang ke sini lagi Nak. Karena kalau dia keseringan ke sini, Umi jadi nggak enak sama tetangga dekat rumah. Nanti mereka fikir, Umi ada apa-apa sama Pade kamu."
"Maksud Umi?" tanya Laila tampak tak mengerti.
"Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti urusan orang dewasa Nak. Kamu nggak apa-apa dekat sama Pade kamu, karena dia mahram kamu. Tapi kalau Umi, Umi nggak bisa dekat-dekat terus sama Pade kamu. Apalagi setelah Abi dan Umi cerai."
"Begitu ya Umi? Umi takut ya, kalau orang-orang nanti ngirain Umi dan Pade itu pacaran."
Glek.
Amira menelan ludahnya.
Ih, ini Laila. Bicara apa sih dia. Kecil-kecil tahu pacaran. Apa nggak ada bahasa yang lebih halus lagi apa selain itu, batin Amira.
"Pacaran, pacaran, kamu itu bicara apa sih La. Dalam islam itu nggak ada yang namanya pacaran."
"Tapi teman-teman Laila banyak kok Mi, yang udah punya pacar. Cuma Laila doang yang nggak pacaran."
Amira terkejut saat mendengar ucapan Laila. Amira kemudian menatap anaknya tajam.
"Laila ingat ya, kamu jangan dekat-dekat ama cowok. Apalagi sampai pacaran. Umi bisa marah besar, sama Laila, kalau Laila ikut-ikutan teman-teman Laila seperti itu."
Laila tersenyum.
"Ya nggaklah Mi. Laila kan anak Ustaz. Em, maksudnya anak Umi. Laila nggak akan mungkin pacaran. Karena Laila tahu pacaran itu dosa."
__ADS_1