Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Keinginan Laila


__ADS_3

Farhan dan Zia sejenak saling diam. Beberapa saat kemudian, Pak Ramli keluar dari rumahnya.


"Lho, kalian kok masih duduk di sini. Ayo masuk. Kakek tungguin dari tadi juga," ucap Pak Ramli pada Zia dan Farhan.


Zia menatap kakeknya lekat.


"Kakek duluan aja deh, yang makan. Aku dan Mas Farhan nanti saja makannya," ucap Zia.


"Ya udah, kakek duluan yang makan," ucap Pak Ramli.


Pak Ramli kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya.


"Zi, aku mau tanya sesuatu sama kamu," ucap Farhan serius.


Zia menatap Farhan lekat.


"Mau tanya apa?" tanya Zia.


"Semalam kan aku bawa uang lima ratus ribu, tapi pas aku pulang ke rumah Amira, uangnya udah nggak ada. Apa kamu lihat uang aku Zi?" tanya Farhan.


Zia diam. Dia tampak gugup saat Farhan menanyakan soal uang lima ratus ribu itu.


Mas Farhan lagi marah sama aku. Kalau dia tahu aku yang ngambil uangnya, dia pasti bakal lebih marah lagi sama aku. Aku nggak akan ngaku kalau aku yang ngambil uangnya Mas Farhan. Aku kan memang sengaja ngambil uang itu. Karena aku nggak rela, Mas Farhan itu ngasih uang banyak ke Mbak Amira, sementara ke aku cuma dikasih sedikit, batin Zia.


"Aku tidak tahu Mas," jawab Zia singkat.


"Kamu yakin nggak tahu?" tanya Farhan sekali lagi.


"Nggak. Aku nggak tahu di mana uang kamu. Mungkin kamu lupa Mas nyimpen uangnya."


Farhan diam dan tampak mengingat-ingat sesuatu.


"Tapi aku nggak lupa kok Zi. Semalam aku bawa uang itu di dompet."


"Mas, aku nggak mungkinlah ngambil uang kamu tanpa izin. Walau pun aku butuh banget, aku akan izin dulu sama kamu. Dan aku pasti akan langsung minta sama kamu seperti kemarin."


Farhan menatap Zia lekat. Mencoba untuk mencari tahu, apa yang sedang Zia sembunyikan darinya.

__ADS_1


Zia udah berani membohongi aku. Apa dia juga lagi bohong ya tentang uang itu. Apa jangan-jangan yang dikatakan Laila benar, kalau Zia yang udah ngambil uang aku. Tapi, kemarin aku udah ngasih uang lima ratus ribu ke dia. Apa masih kurang uangnya sampai dia ngambil lagi uang yang ada di dompet aku, batin Farhan.


"Kenapa Mas, kenapa kamu ngelihatin aku seperti itu? kamu mau nuduh aku, yang ngambil uangnya. Aku tahu, pasti istri kamu udah mempengaruhi kamu kan. Dia pasti yang nuduh aku mengambil uang kamu yang ada di dompet. Aku sama sekali nggak ngambil uang kamu Mas. Aku cuma pegang uang yang kemarin kamu kasih aja."


Farhan menghela nafas dalam.


"Aku nggak nuduh Zi. Tapi aku cuma mau tanya aja. Apa kamu lihat atau tidak."


"Ya jelas aku nggak lihat. Mungkin aja kamu taruh uang itu di rumah Mbak Amira. Coba aja kamu cari di rumah kamu sendiri. Mungkin kamu lupa nyimpennya."


"Ya udah deh Zi. Aku mau pulang," ucap Farhan.


Zia terkejut saat mendengar ucapan Farhan.


"Apa? pulang? kenapa pulang Mas? kamu nggak mau makan di sini?" tanya Zia.


"Lain kali aja Zi."


Farhan bangkit dari duduknya.


"Ya, terserah kamu Mas. Aku nggak pernah melarang kamu untuk ke rumah Mbak Amira kok. Karena aku tahu, dia itu juga sekarang kan lagi butuh kamu."


"Baguslah kalau kamu mau ngertiin aku," ucap Farhan.


Setelah berpamitan dengan Zia, Farhan kemudian kembali ke motornya. Dia naik ke atas motor dan meluncur pergi meninggalkan rumah Zia.


*


Amira dan Laila saat ini sudah berada di ruang makan. Mereka masih tampak menikmati makanannya.


Pagi tadi, Farhan sudah memasak untuk Amira dan Laila. Walau cuma lauk seadanya, dan itu masakan suaminya, tapi Amira masih bersyukur karena dia masih bisa makan bersama anaknya.


Untuk saat ini, Amira tidak mau memikirkan apapun. Dia mau fokus saja untuk kesembuhannya.


"Umi, kok Abi nggak pulang-pulang ya," ucap Laila di sela-sela kunyahannya.


"Sudahlah La, nggak usah mikirin Abi. Mulai sekarang kita harus belajar hidup tanpa Abi. Karena sekarang Abi sudah punya istri baru. Jika Abi telat pulang atau tidak pulang ke rumah kita, itu pasti karena Abi pulang ke rumah istri barunya. Kita harus membiasakan diri tanpa Abi," ucap Amira tampak sedih saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Iya Umi. Umi yang sabar ya. Laila tahu apa yang Umi rasakan saat ini. Tapi walau bagaimanapun juga, Abi adalah ayahnya Laila. Dan Umi ibunya Laila. Laila nggak ingin kalian bercerai. Tidak ada anak yang mau ibu dan ayahnya bercerai Mi. Laila mohon, Umi dan Abi, jangan cerai ya, apapun yang terjadi," ucap Laila panjang lebar.


Deg.


Amira terkejut saat mendengar ucapan Laila. Amira tidak tahu, akan sampai kapan hubungan rumah tangganya itu bertahan.


Seandainya Farhan tidak bisa adil padanya, mungkin Amira akan menurut dengan apa yang ibunya ucapkan dulu untuk menggugat cerai Farhan.


Tapi seandainya Farhan masih bisa adil membagi waktu dan cintanya pada Amira dan Zia, mungkin Amira akan memberi kesempatan untuk Farhan.


Hati Amira saat ini, sudah semakin rapuh. Farhan sudah membuatnya kecewa berkali-kali. Dia pun sudah tidak ingin memikirkan suaminya lagi.


Mulai saat ini, Amira akan membebaskan Farhan untuk tinggal di mana saja. Di rumahnya atau di rumah istri barunya atau mungkin di rumah Bu Aminah.


Laila, Umi tidak janji, kalau pernikahan Umi dan Abi kamu akan langgeng sampai tua. Luka yang Abi kamu berikan ke Umi sudah terlalu banyak. Umi tidak tahu, apakah Umi bisa atau tidak untuk bertahan lebih lama lagi, batin Amira.


"Mi, kenapa diam aja? lanjutin dong makannya," ucap Laila.


"Iya La."


"Masakan Abi semakin ke sini, semakin enak ya Mi. Persis rasanya seperti masakan Umi. Ternyata Abi itu udah berhasil nyuri resep masakan Umi."


Amira tersenyum.


"Abi kamu itu sebenernya pintar. Dan dia sayang sama keluarga. Tapi, setelah perempuan itu datang di kehidupan Abi kamu, membuat Abi kamu berubah."


"Mi, seandainya kaki Umi udah sembuh, dan Umi udah bisa jalan lagi, janji ya sama Laila, kalau Umi akan rebut Abi kembali dari tangan pelakor itu. Karena aku nggak rela Abi aku di ambil Mbak Zia. Kasih sayang Abi ke aku, juga jadi berkurang setelah Abi menikah dengan Mbak Zia. Aku nggak rela Abi itu lebih sayang sama Mbak Zia, dari pada sama kita."


"Iya La. Kita serahkan saja ya, semuanya sama Allah. Karena Allah lah Tuhan satu-satunya yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Dan Allah juga yang udah ngatur, jodoh rezeki dan kematian."


"Iya Mi."


"Jika jodoh Umi dan Abi kamu masih panjang, mungkin kita akan menua bersama. Tapi seandainya Allah sudah tidak mentakdirkan Umi dan Abi berjodoh lagi, Laila juga harus terima perceraian Umi dan Abi ya," ucap Amira.


Laila diam. Dia menundukan kepalanya. Sedih saat mendengar ucapan ibunya.


Laila sama sekali tidak ingin melihat perceraian itu terjadi di antara ibu dan ayahnya. Walau Laila sudah remaja, tapi Laila masih butuh ibu dan ayahnya untuk selalu ada di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2