Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Kehilangan uang


__ADS_3

"Abi..." ucap Laila.


"Mas Farhan," ucap Amira.


Amira dan Laila terkejut saat melihat kedatangan Farhan.


Laila bangkit dari duduknya. Entah kenapa Laila jadi emosi saat melihat ayahnya datang.


"Abi dari mana aja Abi? kenapa hape Abi nggak pernah aktif?" tanya Laila menatap tajam Farhan.


"Abi... sebenarnya Abi lagi sakit Laila. Kepala Abi pusing banget. Abi lagi nggak enak badan La," ucap Farhan sembari memegangi kepalanya..


"Abi, tadi malam Abi bilang mau ke rumah Mbak Zia hanya sebentar. Nyatanya Abi baru pulang setelah dzuhur. Dan hape Abi kenapa nggak aktif?" tanya Laila.


Farhan bingung, akan memberi jawaban apa untuk pertanyaan Laila. Farhan tidak mungkin berbohong pada Laila.


"Abi, seharusnya kalau Abi mau pergi sama Mbak Zia ke rumah sakit untuk mengantar kakeknya Mbak Zia ke dokter, seharusnya Abi bilang dulu sama Umi dan Laila. Jangan membuat kami khawatir seperti ini," ucap Laila.


"Siapa yang sudah membawa kakeknya Zia ke dokter. Sebenarnya Abi itu ketiduran di rumahnya Mbak Zia Laila. Dan Abi baru bangun ini. Sebenarnya tadi subuh Abi udah mau pulang. Tapi entah kenapa kepala Abi sakit banget. Dan Abi tidur dan nggak ingat apa-apa lagi. Pas Abi bangun, badan Abi seperti meriang begini,," jelas Farhan panjang lebar.


Amira terkejut saat mendengar penjelasan Farhan. Begitu juga dengan Laila. Ternyata Farhan tidak mengantar kakeknya Zia ke dokter, melainkan dia tidur seharian di rumahnya Zia.


"Jadi kamu ketiduran Mas? kenapa kamu bisa ketiduran ? apa semalam kamu nggak tidur ? apa yang sudah kamu lakukan semalam di rumahnya Zia sampai kamu nggak tidur?" tanya Amira.


Deg.


Farhan terkejut saat mendengar pertanyaan dari Amira. Mungkinkah dia harus jujur kalau dia dan Zia semalam begadang hanya untuk bersenang-senang di atas ranjang.


Sepertinya untuk soal itu Farhan tidak akan jujur pada Amira. Farhan tidak mungkin membuat Amira tambah marah padanya. Dan dia tidak mau membuat Amira terluka.


"Semalam kakeknya Zia sakit Amira. Dan aku begadang sampai subuh untuk menjaganya," bohong Farhan.


"Jadi Mbak Zia bohong dong, kalau Mbak Zia akan pergi sama Abi untuk nganter kakeknya ke dokter," ucap Laila.


"Zia bilang gitu?" Farhan terkejut saat mendengar ucapan Laila.


"Iya Mas. Tadi pagi Mas Galih ke sini. Katanya dia di suruh Zia untuk ngantar aku ke rumah sakit. Katanya pagi ini kamu mau ke rumah sakit ngantar Pak Ramli ke dokter. Kok tadi kamu bilang, kamu baru bangun. Jadi seharian ini kamu cuma tidur di rumah Zia. Kamu nggak kemana-mana sebenarnya?" tanya Amira.


Farhan hanya mengangguk.


"Abi kok jahat banget sih sama Umi. Abi udah bohongin aku dan Umi. Abi kan selalu ngajarin Laila untuk selalu berkata jujur. Tapi Abi kenapa malah bohong."


"Abi nggak pernah bohongin kamu dan Umi. Abi kan udah jujur sama kalian. Kalau Abi ketiduran di rumah Mbak Zia. Sebenarnya tadi subuh, Abi udah mau pulang ke rumah. Tapi mata Abi ngantuk banget. Dan Abi langsung ketiduran di sana. Abi tidak tahu apa yang sebenernya terjadi, pas Abi bangun, tahu-tahu sudah jam dua siang. Abi juga nggak tahu, kalau Zia nelpon Mas Galih."


Amira benar-benar tidak menyangka dengan suaminya. Ternyata Farhan tidur seharian di rumah Zia.


Ternyata Zia sudah membohongi Galih, Amira dan Laila kalau pagi ini dia akan membawa kakeknya ke dokter bersama Farhan. Tak tahunya Zia sudah mengurung Farhan di dalam rumahnya seharian.

__ADS_1


Duh Zi, kenapa kamu harus bohongin Mas Galih, Amira dan Laila sih. Kan aku nggak pernah membawa kakek kamu kemana-mana, batin Farhan.


Galih yang sejak tadi masih mencuci piring, menghentikan aktifitasnya saat samar-samar dia mendengar suara ribut-ribut di ruang tengah.


"Seperti suara Farhan. Apa dia sudah pulang," ucap Galih.


Galih yang penasaran langsung berjalan ke ruang tengah untuk melihat apa yang terjadi di ruang tengah.


"Farhan, kamu udah pulang?" tanya Galih sembari mendekat ke arah Farhan.


"Tadi aku udah ngantar Amira kontrol ke rumah sakit. Amira sudah mendapatkan obat, dan kata dokter, minggu depan Amira harus kontrol ke sana lagi," jelas Galih.


Farhan terkejut saat mendengar ucapan Galih.


"Kontrol lagi?" tanya Farhan.


"Iya. Selama kaki dan lehernya belum sembuh, dia dianjurkan untuk kontrol satu minggu sekali. Sampai kondisinya kembali pulih."


Farhan mengusap wajahnya kasar. Begitu berat ujian yang dia hadapi saat ini. Jika Amira kontrol, Farhan pun harus menyiapkan uang untuk kontrol Amira lagi.


"Jadi Amira kontrol pakai uang Mas Galih tadi?" tanya Farhan.


"Iya," jawab Galih singkat.


"Habis berapa Mas?"


"Oh. Aku fikir, habis banyak Mas."


"Mas Farhan, kamu harus kembalikan uangnya Mas Galih. Kasihan Mas Galih, kamu kan kemarin sudah meminjam uang satu juta ke Mas Galih. Masa kontrol aja harus pakai uang Mas Galih lagi," ucap Amira.


"Iya Amira. Aku akan kembalikan uangnya Mas Galih yang tadi untuk bayar kamu kontrol."


Farhan kemudian mengambil dompet yang ada di saku celananya. Farhan terkejut saat membuka dompetnya. Ternyata dompet Farhan kosong. Tak ada uang sama sekali di dalamnya.


Padahal seingat Farhan, di dompet itu ada uang lima ratus ribu untuk persediaan Amira kontrol.


"Duh, uangku kemana ya. Kok nggak ada di dompet," ucap Farhan.


Amira dan Laila saling menatap.Begitu juga dengan Galih. Mereka merasa heran dengan Farhan.


Farhan kemudian merogoh saku-saku celananya. Tak ada uang sepeser pun di dalam saku.


"Mas Farhan, kenapa? ada apa?" tanya Amira.


"Uangku hilang Mir. Perasaan aku sudah taruh di dompet. Tapi nggak ada."


"Abi serius, uangnya hilang? berapa uang yang hilang?" tanya Laila.

__ADS_1


"Lima ratus ribu. Padahal semalam masih ada di dompet. Aku nggak tahu kenapa uangnya bisa hilang," ucap Farhan.


"Jangan-jangan ada yang ngambil Bi," ucap Laila.


"Siapa yang ngambil?" Farhan menatap Laila lekat.


"Mungkin aja Mbak Zia," celetuk Laila.


"Hush, Laila. Kamu jangan bicara sembarangan. Kita tidak boleh nuduh tanpa bukti. Siapa tahu Abi kamu, yang lupa," ucap Amira.


"Tapi bisa aja kan Mi. Mbak Zia kan istrinya Abi. Mungkin saja dia udah ambil uangnya Abi. Karena Mbak Zia lagi butuh uang."


Farhan tampak berfikir.


Mungkinkah Zia yang ngambil uang aku. Karena semalam perasaan aku bawa uang itu ke rumahnya Zia. Tapi, kalau Zia mau ambil uang aku, seharusnya dia izin dulu. Aku harus tanya ini pada Zia, batin Farhan.


Halah, kebanyakan drama si Farhan ini, geram Galih dalam hati.


"Ya udahlah, Farhan. Nggak usah kamu kembalikan uang yang dua ratus itu. Aku udah ikhlaskan uang itu untuk istri kamu," ucap Galih.


Farhan menatap Galih lekat.


"Mas Galih yakin?" tanya Farhan.


"Yakinlah. Aku mau buru-buru pulang. Soalnya aku pakai mobil orang yang ada di bengkelnya Yudi. Takut Yudi nungguin," ucap Galih.


"Oh. Ya udah Mas. Makasih banyak ya Mas," ucap Farhan.


"Iya. Sama-sama."


Amira menatap Galih.


"Mas Galih, makasih ya Mas. Dan maaf, kalau udah ngerepotin kamu," ucap Amira.


Galih tersenyum dan menatap Amira lekat.


"Iya Amira. Aku sama sekali nggak merasa direpotin kok. Kalau minggu depan kamu mau kontrol sama aku lagi, aku akan dengan senang hati mengantar kamu lagi," ucap Galih.


"Kayaknya kalau minggu depan, Mas Farhan yang mau ngantar aku deh. Kalau Mas Farhan nggak bisa nganter, masih ada bapak aku, Om aku, dan Padhe ku. Masih banyak saudara lelaki aku Mas. Dan mereka juga nggak kerja di kantor seperti kamu. Jadi bebas."


Galih tersenyum.


"Ya udah Amira. Aku pergi dulu ya. Kalau kamu butuh bantuan, kamu tinggal telpon aku aja nggak apa-apa. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam," ucap Farhan, Laila dan Amira bersamaan.


Setelah berpamitan pada Amira, Farhan dan Laila, Galih kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah Amira.

__ADS_1


Dia berjalan menuju ke mobilnya. Setelah itu Galih pun meluncur pergi meninggalkan rumah Amira.


__ADS_2