Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Kecewa


__ADS_3

Sepulang dari sekolah, Farhan meluncur untuk pergi ke rumah Zia. Dia ingin menanyakan soal uang yang kemarin hilang pada istri ke duanya itu.


Sesampainya di depan rumah Zia, Farhan melihat kakek Zia ada di teras depan rumah. Pak Ramli siang ini masih tampak duduk-duduk di depan teras. Dia tampak masih bertelanjang dada.


Farhan turun dari motornya. Setang itu dia menghampiri kakek Zia.


"Assalamualaikum," ucap Farhan.


"Wa'alakiumsalam," jawab Pak Ramli.


"Kemana Zia Kek?" tanya Farhan.


"Dia lagi beli lauk di warung depan."


"Zia nggak masak Kek?"


"Zia itu kan malas Farhan. Dia lebih suka beli aja. Biar praktis katanya."


Farhan kemudian menghempaskan tubuhnya di sisi Pak Ramli.


"Kakek kok buka baju dan duduk di luar? kakek udah sehat emang?"


"Kakek di dalam gerah. Pengin cari angin Farhan."


"Kakek kan semalam kena muntaber. Seharusnya kakek itu istirahat aja di dalam. Jangan angin-anginan di sini," ucap Farhan.


Kakek Zia menatap Farhan lekat.


"Kata siapa semalam kakek sakit? kakek alhamdulillah akhir-akhir ini jauh lebih sehat."


"Kakek yakin semalam nggak sakit?"


"Kakek itu kemarin baru di beliin Zia obat ke apotik. Setelah minum obat, semalam kakek habis isya udah tidur. Nyenyak banget kakek sampai pagi."


"Jadi semalam kakek baik-baik aja? tapi kata Zia kakek sakit kena muntaber."

__ADS_1


Pak Ramli diam. Setelah itu dia menatap Farhan.


"Zia bilang seperti itu?" tanya Pak Ramli.


Farhan mengangguk.


"Iya Kek. Zia bilang seperti itu. Malah semalam dia nangis-nangis minta aku ke sini. Padahal aku kan lagi jagain Amira. Dia sendirian di rumah. Tapi Zia bilang kalau kakek itu lagi sakit. Tapi pas aku ke sini kakek udah tidur."


"Zia itu udah bohong sama kamu Farhan. Orang kakek dari kemarin baik-baik aja kok,"


Farhan diam dan tampak berfikir.


Kenapa tega sekali Zia bohongin aku, suaminya sendiri. Apa maksud semua ini, ucap Farhan dalam hati.


Beberapa saat kemudian, Zia pulang dengan sepedanya. Dia membawa plastik kresek yang mungkin itu lauk.


"Mas, kamu pulang ke sini?" tanya Zia sembari turun dari sepedanya.


Zia kemudian mendekat ke arah Farhan dan kakeknya yang duduk di depan.


"Kebetulan nih, aku udah beli lauk. Kita masuk ke dalam yuk, kita makan siang bareng, sama kakek juga."


"Ayo Nak Farhan , kita masuk aja ke dalam. Nak Farhan juga pasti sudah lapar kan."


Zia dan kakeknya kemudian masuk ke dalam rumah. Sementara Farhan masih duduk di teras.


Apa yang sudah Zia lakukan padaku. Kenapa dia berani sekali membohongiku, apa yang harus aku lakukan. Aku sudah membuat Amira kecewa karena aku tidak mengantarnya ke rumah sakit. Ini semua gara-gara Zia, geram Farhan dalam hati.


Beberapa saat kemudian, Zia keluar dan mendekati suaminya. Dia kemudian duduk di sisi Farhan.


"Sayang, kenapa kamu masih duduk di sini, ayo kita makan di dalam," " ajak Zia.


Farhan menatap Zia lekat.


"Kamu berani sekali bohongin aku Zi," ucap Farhan yang sudah mulai kesal pada sikap istri barunya.

__ADS_1


"Bohongin apa Mas?" Zia tidak tahu apa maksud suaminya.


"Kamu sudah bohongin aku. Kata kamu, kakek kamu semalam kena muntaber. Tapi aku tanya sama dia, semalam dia nggak kenapa-kenapa. Dia baik-baik aja Zi. Dan tadi aku lihat kakek duduk di teras dan tidak pakai baju. Apa itu yang dinamakan orang sakit?" ucap Farhan.


Zia diam.


Ternyata Mas Farhan sudah tahu kalau aku udah bohongin dia, batin Zia.


Zia meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat.


"Mas, maafkan aku ya Mas. Aku udah bohong soal kakek. Sebenarnya, aku melakukan itu karena aku pengin ada di dekat kamu terus Mas. Aku cemburu kalau kamu terlalu lama berada di rumah Mbak Amira," ucap Zia


Farhan yang sudah terlanjur kecewa, melepaskan genggaman tangan istri barunya.


"Zi. Seharusnya kamu jangan seperti ini. Aku pun lagi mencoba untuk bersikap adil sama kamu dan Amira. Termasuk adil dalam membagi waktu aku untuk kamu dan Amira. Sekarang Amira marah kan sama aku, karena aku nggak bisa ngantar dia ke rumah sakit."


"Maaf ya Mas. Aku nggak tahu kalau Mbak Amira akan marah sama kamu. Seharusnya Mbak Amira bisa dong memaklumi aku dan kamu. Kita kan pengantin baru. Jangan mentang-mentang dia sakit, dia maunya sama kamu terus, dan kamu nggak ngantar kontrol aja, dia marah sama kamu. Seharusnya dia nggak usah marah dong. Kan dia sudah ikhlasin pernikahan kita, " ucap Zia yang tidak mau disalahkan.


"Aku kecewa banget sama kamu Zi. Kenapa kamu tega banget bohongin aku. Apa kamu tahu Zi, kalau bohong itu dosa. Apa lagi yang kamu bohongi itu suami kamu sendiri,"ucap Farhan.


"Mas, tapi aku nggak bisa jauh dari kamu Mas. Maafkan aku ya Mas, aku janji aku nggak akan bohongin kamu lagi," ucap Zia sembari menatap manik mata Farhan.


Farhan diam. Dia saat ini sangat kecewa sama istrinya. Farhan tidak menyangka, kalau Zia berani untuk membohonginya.


Padahal yang Farhan tahu selama ini, Zia adalah wanita yang baik. Walau usianya masih 20 tahun, tapi sikapnya sangat dewasa. Dia juga anak yang giat dan rajin, mungkin itu yang membuat Farhan menyukainya.


Sementara Farhan masih 40 tahun. Tapi Zia menyukai Farhan karena Farhan itu tampan, dan yang Zia tahu, Farhan itu mempunyai banyak cabang toko yang di kelolanya.


Farhan sejak tadi masih diam. Sementara Zia masih membujuk Farhan agar Farhan mau memaafkan kesalahannya.


"Mas, maafkan aku ya. Aku nggak punya maksud apa-apa kok, aku cuma nggak mau kehilangan kamu aja Mas," bujuk Zia.


"Tapi nggak begitu caranya Zi. Aku kan sudah ngasih banyak waktu untuk kamu, dan seharusnya kemarin dan sekarang aku itu bersama Amira. Dan seharusnya tadi pagi aku ngantar Amira ke rumah sakit. Gara-gara kamu, Amira marah sama aku."


"Mas, jangan marah sama aku dong."

__ADS_1


"Zi. Aku nggak marah sama kamu. Tapi aku kecewa Zi sama kamu. Aku itu cinta sama kamu. Tapi aku juga cinta sama Amira. Jika kamu menyuruh aku untuk meninggalkan Amira, aku tidak mungkin bisa meninggalkan dia," ucap Farhan lagi.


"Siapa yang nyuruh kamu untuk meninggalkan Mbak Amira. Nggak ada yang nyuruh kamu untuk menceraikan Mbak Amira. Aku juga ikhlas kok jadi istri kamu yang ke dua. Aku nggak minta lebih dari itu, karena aku tulus cinta sama kamu. Aku cuma ingin punya suami sholeh yang mau membimbing aku ke jalan yang benar. Yang bisa menjadi imam yang baik untuk aku dan anak-anak kita."


__ADS_2