Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Di ruang operasi


__ADS_3

"Bu, sudahlah, nggak usah kamu mikirin macam-macam. Kita doakan saja yang terbaik untuk Amira sekarang. Dia butuh dukungan dari kita Bu. Jangan menambah rumit beban fikiran anak kita," ucap Pak Husen.


Bu Rahayu mengangguk. "Iya Pak."


Novi dan Laila bangkit dari duduknya.


"Kalian mau ke mana?" tanya Bu Rahayu pada anak dan cucunya.


"Aku dan Laila mau keluar sebentar Bu. Kami mau beli minum. Tadi lupa bawa minum," jawab Novi.


"Ya udah, jangan lama-lama ya," ucap Pak Husen.


"Iya Pak."


"Kami pergi dulu ya Kek, Nek," ucap Laila.


"Assalamualaikum," ucap Novi dan Laila sebelum pergi


"Wa'alaikumsalam," ucap Pak Husen dan Bu Rahayu bersamaan.


Novi dan Laila kemudian pergi meninggalkan Bu Rahayu dan Pak Husen. Mereka keluar dari rumah sakit untuk membeli minum.


*


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah sampai ke rumah sakit, akhirnya motor Farhan sampai juga di depan rumah sakit.


"Bu, ibu turun di sini dulu Bu. Farhan mau parkir kan motor Farhan dulu di tempat parkir, " ucap Farhan.


Bu Aminah turun dari motor Farhan. Dia kemudian melepas helemnya dan memberikannya ke Farhan.


"Ini Farhan sekalian bawa helmnya," ucap Bu Aminah.


Farhan mengambil helem dari tangan ibunya.


"Ibu tunggu di sini dulu ya. Jangan kemana-mana. Nanti sama aku masuknya."


"Iya Farhan."


Farhan kemudian melaju ke arah parkiran untuk memarkirkan motornya. Setelah itu dia berjalan kembali menghampiri ibunya.


"Ayo Bu, kita masuk."


"Iya."


Farhan dan Bu Aminah kemudian berjalan masuk ke rumah sakit. Mereka berjalan sampai ke ruang Operasi.


Sesampainya di sana, seorang dokter sudah keluar dari ruangan Operasi. Dokter itu, masih tampak bercakap-cakap dengan ke dua orang tua Amira.


Farhan dan Bu Aminah buru-buru menghampiri dokter itu.


"Dokter, bagaimana Dok, kondisi istri saya?" tanya Farhan.


Dokter tersenyum.


"Alhamdulillah, berkat doa kalian semua, operasi Bu Amira berjalan lancar," jawab Dokter.

__ADS_1


"Alhamdulillah, terus, ke dua kakinya Dok. Apakah masih bisa di sembuhkan? apakah nanti istri saya masih bisa jalan?"


"Bu Amira itu kan cuma patah tulang biasa. Dan setelah operasi ini, insya Allah dia bisa sembuh. Cuma mungkin memerlukan waktu yang lama untuk dia bisa berjalan normal lagi."


"Terus, bagaimana cedera yang ada dilehernya?"


Farhan masih mencecar pertanyaan tentang kondisi Amira pada dokter.


"Kalau di leher cuma mengalami keretakan. Dan tidak akan lama. Mungkin dalam dua sampai tiga bulan akan sembuh."


"Alhamdulillah, kalau istri saya masih bisa normal lagi."


"Sebentar lagi, perawat akan membawa Bu Amira ke ruangannya. Dan kalian bisa tunggu di ruangannya. Kecuali Pak Farhan. Bapak bisa kan dampingi Bu Amira terus."


"Iya. Bisa Dok."


****


Ruang rawat Galih terbuka lebar. Suster Arin masuk kembali ke dalam ruangan Galih setelah tadi pagi dia memeriksa kondisi Galih.


"Selamat siang Pak Galih," ucap Arin.


"Bagaimana kondisi bapak sekarang?" tanya Suster Arin pada Galih.


Galih yang ditanya hanya diam. Entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini.


"Ehemm... Pak Galih..."


Galih menoleh ke arah suster Arin.


Suster Arin tersenyum.


"Pak Galih lagi ngelamun ya? makanya tidak tahu kedatanganku. Pak Galih lagi ngelamunin apa sih?" tanya suster Arin.


"Ibu saya sudah datang belum?"


"Saya tidak tahu Pak Galih."


"Kalau Amira. Dia masih di ruangannya?"


"Dia masih ada di ruang Operasi Pak."


"Bagaimana kondisinya sekarang? apakah operasinya berjalan lancar?"


"Saya juga kurang tahu Pak. Karena dia kan belum keluar dari ruangan Operasi. Dan saya juga belum memeriksa ke sana."


Galih menghela nafas dalam. Sejak tadi ternyata dia masih memikirkan Amira.


Galih memang masih merasa bersalah karena sudah membuat Amira cacat dan sudah membuat anak Amira meninggal.


"Ciyee... Pak Galih ternyata lagi mikirin Bu Amira ya sejak tadi. Pak Galih perhatian banget sama Bu Amira. Setiap saya datang ke sini, pasti Pak Galih selalu nanyain kondisi Bu Amira. Jangan-jangan, Pak Galih sudah mulai ada rasa ya sama dia," ledek Suter Arin.


Galih terkejut saat mendengar ucapan Suster Arin.


"Bicara apa kamu Sus? jangan sembarangan bicara. Kalau dengar adikku bisa salah paham dia nanti. Amira itu kan adik ipar ku. Mana mungkin aku punya rasa sama dia. Ada-ada aja kamu. Dari pada sama Amira yang sudah punya suami, mending sama kamu aja Sus, yang masih sendiri."

__ADS_1


"Tapi saya sudah punya calon. Dan calon saya itu masih muda Pak Galih. Kalau Pak Galih kan sudah... Maaf. Sudah berumur. Nggak pantas lah buat saya."


Galih menatap suster Arin tajam. Dia terlihat kesal dengan ucapan yang di lontarkan suster Arin dengan asal.


"Gini, gini, saya masih perkasa Sus. Masih bisa memberikan keturunan untuk wanita. Jangan ngatain yang tidak-tidak Sus. Usia saya saja masih 42 tahun. Masih di cari banyak wanita. Terutama wanita cantik seperti suster."


"Iya deh. Percaya. Saya ke sini, sebenarnya mau ganti infus sekaligus mau buka perbannya Pak Galih."


"Mau ganti perban lagi?"


"Iya Pak Galih. Sampai luka bapak, benar-benar kering. Baru bisa lepas perban."


"Iya. Silahkan Sus."


Di tengah-tengah suster membuka perban, Bu Aminah masuk ke dalam ruangan Galih.


"Assalamualaikum," ucap Bu Aminah.


Suster menoleh ke arah Bu Aminah.


"Wa'alaikumsalam," ucap Galih dan suster kompakan.


Galih tersenyum saat melihat ibunya.


"Galih, kamu tidak apa-apa?" tanya Bu Aminah sembari mendekat ke arah Galih.


"Iya Bu. Aku tidak apa-apa. Aku mau ganti perban Bu."


"Oh."


Suster Arin menatap Bu Aminah lekat.


"Ibunya Pak Galih ya?" tanya Suster Arin.


"Iya. Saya ibunya Galih. Bagaimana kondisi anak saya?"


"Pak Galih seperti yang ibu lihat. Dia cuma luka-luka ringan aja. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Pak Galih sudah bisa duduk, berdiri dan ke kamar mandi sendiri. Tidak perlu bantuan. Besok juga mungkin Pak Galih sudah boleh pulang," ucap Suster menjelaskan.


"Alhamdulillah kalau begitu. Kalau Galih seperti Amira, nggak kebayang bagaimana repotnya ibu. Ibu nanti pasti yang akan repot ngurusin dia. Ibu kan udah tua. Galih juga udah lama pisah dari istri dan anaknya. Siapa nanti yang akan ngurusin dia kalau dia sampai patah tulang."


"Emang istri dan anak Pak Galih tinggal di mana Bu?" tanya Suter Arin.


"Mereka di Jakarta. Mereka nggak ada yang mau ikut ke kampung. Mereka nggak betah tinggal di kampung. Galih juga lama-lama nggak betah tinggal di Jakarta. Ya udah, akhirnya mereka cerai."


"Sayang banget ya udah punya anak harus cerai."


"Kalau saya seperti Amira, nanti suster Arin aja yang akan saya suruh merawat saya. Sekalian aja saya akan jadikan suster Arin istri dan ibu untuk anak-anak saya."


Wajah suster Arin memerah saat mendengar ucapan Galih. Dia sebenarnya malu, harus mendapat gombalan Galih di depan Bu Aminah.


"Galih, bicara apa kamu?"


"Hehe..." Galih hanya terkekeh saat melihat ekspresi Arin dan ibunya.


"Aku cuma bercanda Sus, Bu. Jangan di anggap serius dong."

__ADS_1


__ADS_2