
Minggu pagi, Galih sudah berada di depan rumahnya. Dia masih mencuci motornya untuk dia pakai kerja Senin besok.
"Ya Allah kenapa aku belum bisa melupakan Farhan. Sosok Farhan seperti masih ada di sekitarku. Kapan ya Allah, aku bisa mengikhlaskan Farhan pergi. Padahal kemarin sudah empat puluh hari kematiannya," ucap Galih sembari mengelus-elus motornya.
"Galih...! Galih...!" seruan Bu Aminah sudah terdengar dari dalam rumah. Bu Aminah buru-buru berjalan mendekati Galih.
"Ada apa Bu?" tanya Galih pada ibunya.
"Amira dan Laila lagi dalam perjalanan ke sini. Tapi katanya motornya mogok di jalan. Kamu bisa nggak nyusulin mereka."
"Di mana mereka sekarang?"
"Di depan wartegnya Bu Inah. Di perempatan jalan depan."
"Oh, ya udah. Aku akan segera ke sana. Ibu telpon lagi mereka. Aku mau nyusulin mereka ke sana sekarang."
"Ya udah, cepat sana. Kasihan Laila dan Amira."
"Iya Bu. Aku mau siap-siap dulu."
Galih kemudian masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap dan mengambil kunci motor. Setelah itu dia keluar dengan baju yang sudah rapi.
"Aku pergi dulu ya Bu "
"Iya Galih."
Galih naik ke atas motor dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.
Sesampainya di depan wartegnya Bu Inah, Galih menghentikan motornya.
"Amira, Laila. Kalian kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?" tanya Galih yang motornya sudah berhenti tepat di sisi Amira dan Laila berdiri.
Laila tersenyum saat melihat Padenya.
"Pade..."
Galih turun dari motornya dan mendekati Laila.
Laila yang sudah kangen dengan Galih langsung memeluk Galih dengan erat.
"Pade, aku kangen banget sama Pade."
Amira sejak tadi hanya bisa tersenyum kecil saat melihat anaknya.
Ternyata Laila sedekat ini sama Padenya. Aku baru tahu, kalau ternyata Laila lebih dekat dan lebih sayang sama Padenya dari pada sama Abinya . Apakah ini alasan Laila, dia tidak merestui hubungan aku dengan Gus, karena dia menginginkan aku bersama Mas Galih. Maafkan Umi Laila, yang tidak pernah mau mengerti perasaan kamu.
Galih dan Laila melepaskan pelukannya. Mereka kemudian menatap Amira lekat.
"Amira, kenapa motor kamu?" tanya Galih.
"Mogok Mas."
"Kehabisan bensin?"
__ADS_1
"Bensin masih ada kok Mas."
"Ya udah, kalian berdua naik motor aku aja. Nanti aku yang akan bawa motor ini ke bengkel."
" Terus, kamu mau jalan kaki Mas?"
"Iya. Nggak apa-apa jalan kaki. Untuk olah raga. Lagian ini kan masih pagi. Matahari belum terlalu panas. Kalau kalian mau ke rumahku, bawa saja motorku. Nanti aku mau bawa motor kalian ke bengkel."
"Iya Mas. Makasih ya Mas."
Galih tersenyum dan mengangguk.
****
"Assalamualaikum." Suara salam Galih sudah terdengar dari luar rumah.
"Wa'alakiumsalam," jawab Amira.
Beberapa saat kemudian, Galih masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruang tengah Galih menghentikan langkahnya.
"Amira, kamu sendirian aja?" tanya Galih pada Amira.
"Iya Mas. Laila dan ibu lagi pergi. Mereka naik motor tadi."
"Pergi ke mana?"
"Nggak tahu. Katanya sih mau beli makanan."
"Amira, kenapa kamu nggak bilang kalau kamu mau ke sini. Suami kamu sudah tahu, kamu ke sini?" tanya Galih.
Tampaknya Galih belum tahu kalau Amira dan Gus Farid tidak jadi menikah.
"Suami? suami siapa?"
"Suami kamu. Gus Farid. Katanya kamu dan Laila mau ikut ke pesantren setelah kamu menikah. Kenapa kamu masih ada di sini."
"Kami nggak jadi menikah Mas."
Galih terkejut saat mendengar ucapan Laila.
"Kenapa? apa karena Farhan meninggal kalian tidak jadi menikah?"
"Bukan itu. Tapi aku lebih mengutamakan kebahagiaan Laila sekarang dari pada kebahagiaan diri aku sendiri. Dan aku mau mengabulkan semua keinginan Laila."
"Apa keinginan Laila?"
"Dia ingin aku dan kamu bersama Mas. Dia cuma mau kamu yang jadi ayahnya. Dia nggak mau punya ayah selain kamu."
"Apa! terus maksud kamu?"
"Maksud aku, kalau kamu sayang sama Laila, nggak ada salahnya kan Mas, kalau kita mencobanya."
"Mencoba apa?"
__ADS_1
"Mencoba membuka hati kita "
Galih tersenyum.
"Kamu yakin dengan ucapan kamu?"
"Itu sih, kalau kamu masih mau sama aku dan kamu belum punya calon pendamping hidup."
"Tapi Laila nggak pernah cerita apa-apa tentang masalah ini. Dan aku baru tahu semua ini dari kamu."
"Setelah kematian Mas Farhan, kenapa kamu harus hilang kontak sih. Kamu sama sekali nggak mau telpon aku atau telpon Laila."
"Di sini aku lagi sibuk banget gelar pengajian untuk Farhan. Dan sampai kemarin hari ke empat puluh kematiannya. Dan aku fikir, kamu sudah ikut bersama Gus Farid. Jadi aku nggak mau menggangu kehidupan baru kamu "
"Maafkan aku ya Mas. Aku nggak pernah datang ke sini saat kamu menggelar pengajian untuk Mas Farhan. Aku juga lagi punya kesibukan sendiri di rumah."
"Aku tahu kok Amira."
Galih dan Amira sejak tadi saling diam. Setelah itu Galih menatap Amira.
"Kalau kamu serius dengan ucapan kamu, apa ibu dan bapak kamu setuju kamu sama aku?" tanya Galih yang sudah mulai serius.
"Mereka sudah setuju kok Mas, dari pertama kali aku cerita. Mereka juga saat ini sedang mengutamakan kebahagiaan Laila."
"Terus bagaimana perasaan kamu dengan Gus Farid?"
"Aku udah lupain dia. Aku sekarang sadar, kalau cuma kamu lelaki yang paling pantas untuk jadi ayahnya Laila."
"Tapi kalau kamu sama aku, kamu nggak akan ke ingat Farhan nantinya. Aku kan punya banyak kemiripan dengan adik aku."
"Nggaklah. Aku udah lama melupakan Mas Farhan. Dan kamu Mas Galih, berbeda dari Mas Farhan. Kalau Mas Galih ya Mas Galih, kalau Mas Farhan ya Mas Farhan."
"Ya udah kalau begitu. Aku juga sebenarnya belum bisa melupakan kamu Amira. Kemarin-kemarin aku hilang kontak, karena aku ingin melupakan perasaan aku ke kamu. Aku tidak mau berharap lagi sama kamu karena aku fikir, setelah menikah dengan Gus, kamu akan pergi selamanya dari kehidupan aku."
"Dan sekarang aku ada di depan kamu. Aku dan Laila, sekarang milik kamu Mas."
Galih manggut-manggut mengerti.
Ini
"Aku sebenarnya mau ke makamnya Farhan nanti sore. Mau nabur bunga, sekalian mau nyiram makam dengan air doa kemarin malam. Tapi aku belum sempat. Rencana sih nanti sore."
"Ya udah, sekalian kamu antar kami pulang ya. Aku juga mau ikut ke makam Mas Farhan."
"Sekalian aku mau bicara sama Farhan dan izin untuk meminang kamu. Agar aku nggak di mimpiin Farhan terus."
"Kamu mimpi Mas Farhan terus."
"Iya. Entah apa mau Farhan itu. Dia seperti selalu menghantuiku. Padahal aku nggak punya salah apa-apa sama dia. Aku bahkan selama ini baik banget sama dia."
"Mungkin dia punya pesan yang belum tersampaikan sama kamu."
"Yah, palingan juga soal Laila. Farhan pengin aku yang mengurus Laila, yang membesarkan Laila dan merawat Laila. Karena Farhan cuma percaya sama aku Amira."
__ADS_1