
Setelah lima hari istrinya koma di rumah sakit, Farhan berpamitan pada ibunya untuk pergi.
Sore ini, kebetulan Bu Aminah masih berada di rumah sakit. Sementara Galih, seperti biasa dia pergi kerja.
"Bu, aku mau pergi ke pesantren Bu. Udah lama aku nggak mengunjungi kyai Abas. Aku pengin sowan ke sana Bu," ucap Farhan.
Bu Aminah menatap Farhan lekat.
"Kamu yakin mau ke sana? kalau kamu ke sana, bagaimana bayi kamu dan Zia? kamu mau tinggal mereka?" tanya Bu Aminah.
"Iya Bu. Apa ibu bisa nungguin Zia dan bayi aku dulu di sini? aku sudah kehilangan arah Bu. Aku ingin pergi ke sana, siapa tahu setelah aku ke sana, aku akan mendapatkan pencerahan dari Abah," ucap Farhan.
Bu Aminah tampak berfikir. Pesantren Farhan memang cukup jauh. Mungkin dari desa Farhan sampai ke sana membutuhkan waktu tujuh jam perjalanan.
Jika bolak-balik, Farhan mungkin akan membutuhkan waktu satu hari satu malam untuk ke rumah Kyainya.
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin ke sana?" tanya Bu Aminah.
"Ning Azwa kemarin telpon. Katanya Uminya meninggal. Tapi aku kemarin nggak bisa ke sana. Karena fikiran aku masih kacau."
"Ning Azwa siapa? anak kyai kamu?"
"Iya Bu. Aku nggak enak kalau nggak ke sana. Karena yang meninggal itu Bu Nyai istrinya Kyai aku. Siapa tahu kalau aku ke sana, aku akan mendapatkan pencerahan."
"Ya ibu setuju. Sekalian minta kyai kamu untuk mendoakan Zia dan anak mu yang lagi sakit. Biar Zia dan anak kamu di angkat penyakitnya."
"Iya Bu."
"Kapan kamu mau ke sana?"
"Mungkin besok pagi Bu. Pagi-pagi aku mau naik kereta aja ke sananya. Nanti aku mau minta Mas Galih untuk nganter aku ke stasiun."
"Ya udah, ibu setuju Farhan."
"Makasih ya Bu. Udah izinin aku pergi."
Bu Aminah menganggukan kepalanya.
****
Sepulang kerja, biasanya Galih langsung mampir ke rumah sakit, atau dia langsung pulang ke rumah. Tapi untuk saat ini, dia ingin mampir ke rumah Laila dulu.
__ADS_1
Sudah satu bulan lebih Galih tidak nengokin Laila dan Amira ke rumahnya. Terakhir dia ke sana, Amira memang sudah bisa jalan pakai tongkat. Dan Galih ingin melihat perkembangan kondisi Amira.
Seperti biasa, Galih membawakan makanan dan jajanan kesukaan Amira dan Laila.
Beberapa saat kemudian, motor Galih sudah sampai di depan rumah Amira. Galih terkejut saat melihat sebuah mobil sudah terparkir di depan rumah Amira.
"Mobil siapa ya ini. Tumben ada mobil," ucap Galih.
Galih tidak tahu mobil siapa yang ada di depan rumah Amira.
"Sepertinya lagi ada tamu di dalam. Tapi tamu siapa ya," ucap Galih.
Galih yang penasaran, kemudian turun dari motornya. Setelah itu dia pun berjalan sampai ke teras depan rumah Amira.
Pintu rumah Amira, terbuka lebar. Di dalam rumah itu, Galih mendengar suara lelaki yang sedang mengobrol dengan Amira. Nampaknya Amira sudah tampak akrab dengan lelaki itu.
"Pade," ucap Laila sembari menepuk bahu Padenya dari belakang.
Galih terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Di belakangnya berdiri, tampak ponakannya tersenyum padanya.
"Kenapa Pade di sini aja. Pade nggak mau masuk ke dalam?" tanya Laila yang saat ini masih mengenakan mukena. Sepertinya dia baru pulang dari mushola untuk melaksanakan sholat maghrib.
Amira langsung menyambut Galih dengan senyum. Amira memang orang yang sangat ramah sebenarnya. Dia mau tersenyum dengan siapapun walau itu dengan orang yang paling dia benci.
"Mas Galih, kamu udah dari tadi di sini?" tanya Amira.
Galih menatap seorang lelaki jangkung yang ada di dekat Amira.
"Siapa dia Amira?" tanya Galih.
"Dia mas Dion. Teman aku," jawab Amira.
"Oh."
"Mas Dion, ini Mas Galih. Padenya Laila. Walau pun aku sudah mau cerai dengan suamiku, tapi aku masih berteman baik dengan Mas Galih," ucap Amira tanpa ada lagi yang dia tutup-tutupi dari Dion ataupun Galih.
Entah kenapa, hati Galih merasa tidak tenang saat melihat Dion. Tatapan Dion ke Amira juga berbeda. Sepertinya hati Dion masih mengharapkan Amira. Galih seperti sudah bisa membaca fikiran Dion. Dion pasti sedang menunggu perceraian Amira dengan Farhan.
Dion langsung mengulurkan tangannya ke arah Galih. Galih langsung menyambut uluran tangan Dion. Mereka kemudian bersalaman.
Dion menatap Laila dan Amira bergantian.
__ADS_1
"Laila, Amira, aku pulang dulu ya," pamit Dion pada Amira dan Laila.
"Kamu mau pulang Mas, kan aku belum buatin kamu minum," ucap Amira.
"Nggak apa-apa. Nggak usah repot-repot. Aku ke sini cuma mau jengukin kamu aja kok," ucap Dion.
Galih membuang wajahnya ke arah lain. Dia masih tidak nyaman saja saat melihat Amira dan Dion.
Duh aku kenapa ya, kenapa hati aku jadi tidak enak begini. Sebenarnya siapa Dion ini. Apa jangan-jangan Dion ini calon suaminya Amira. Ah, nggak mungkin. Farhan dan Amira kan belum resmi cerai. Amira masih punya masa Iddah kan. Nggak mungkin Amira sudah punya calon lagi. Tapi melihat lelaki ini, aku rasa dia seperti punya rasa dengan Amira, batin Galih.
Sejak tadi Galih masih sibuk dengan asumsinya sendiri.
Setelah berpamitan pada Amira, Galih dan Laila, Dion berjalan ke arah mobilnya. Dia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumah Amira.
Setelah Dion pergi, Laila kemudian masuk ke dalam rumahnya. Sementara Amira dan Galih masih menatap mobil Dion sampai mobil itu menghilang dari hadapan mereka.
"Mas, ayo masuk. Udah lama kamu nggak datang ke sini. Laila udah kangen lho, sama kamu."
Galih tersenyum saat melihat Amira. Setelah satu bulan Galih tidak bertemu , sekarang Amira terlihat lebih gemukan.
Wajahnya juga tampak berseri-seri seperti orang yang tidak pernah punya masalah. Galih fikir, Amira berubah karena Dion.
"Mir, aku seneng melihat kamu yang sekarang. Kamu jadi agak gemukan. Sepertinya kamu lebih bahagia dengan kehidupan kamu yang sekarang ya, ketimbang kehidupan kamu waktu masih sama Farhan," ucap Farhan yang membuat Amira terkekeh.
"Masa sih Mas. Iya sih, memang banyak yang ngatain aku agak gemukan. Tapi menurut aku, aku biasa aja kok. Mungkin karena aku sudah bisa sedikit-sedikit melupakan kenangan buruk aku bersama Mas Farhan."
"Nah gitu dong. Lelaki kayak gitu, nggak usah difikirin lagi. Fikirin anak kamu dan diri kamu sendiri aja."
"Iya Mas. Aku juga lagi nyoba untuk bahagia hidup tanpa seorang suami. Kamu apa kabar Mas, kenapa baru datang lagi ke sini. Kamu tahu nggak, kalau Laila udah nanyain kamu terus dari kemarin. Dia kangen katanya sama kamu,"
Galih tersenyum.
"Masa sih, Laila kangen sama aku?"
"Iya. Masuk yuk Mas, kita ngobrol-ngobrol di dalam sama Laila juga "
"Iya Amira. Makasih ya."
Amira mengangguk.
Amira dan Galih kemudian masuk ke dalam rumah.
__ADS_1