Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Kedatangan Gus Farid


__ADS_3

Sore ini, keluarga Pak Husen sedang berkumpul di ruang tengah. Begitu juga dengan Amira dan Laila. Mereka sore ini juga tampaknya ada di rumah.


Saat ini, mereka semua sedang santai duduk di ruang keluarga. Di tengah-tengah percakapan Pak Husen dan Bu Rahayu, tiba-tiba saja deringan ponsel Pak Husen mengejutkan mereka semua.


"Pak, tuh hapenya bunyi," ucap Novi.


Pak Husen kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia menatap nomer baru yang memanggilnya.


"Dari siapa Pak?" tanya Amira.


"Nggak tahu. Nomer baru," jawab Pak Husen.


"Angkat aja Pak. Siapa tahu penting," pinta Bu Rahayu.


Pak Husen kemudian mengangkat panggilan dari nomer baru itu.


"Halo Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam. Benar ini nomernya Pak Husen ?"


"Iya. Benar. Saya Husen. Kalau boleh tahu, ini siapa ya?"


"Saya Farid. Cucunya kyai Hanafi."


"Oh, astaghfirullahaladzim. Maaf ya Gus, saya tidak tahu nomer Gus. Jadi saya fikir siapa. Ada apa Gus?"


"Saya sekarang sudah ada di terminal dekat kampung bapak. Apa ada yang bisa jemput saya? saya bingung soalnya mau ke alamat rumah bapak."


"Oh... cepat banget Gus. Saya fikir besok Gus sampainya."


"Nggak Pak. Saya sekarang sudah ada di terminal."


"Ya udah, nanti saya yang akan jemput ke terminal ya Gus."


"Iya Pak."


"Ya udah Gus. Saya mau siap-siap dulu. Tunggu dulu sebentar ya Gus. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Setelah menutup saluran telponnya, Pak Husen menatap istri anak dan cucunya bergantian.


"Siapa Pak?" tanya Bu Rahayu.


"Gus. Gus Farid. Ternyata sekarang dia sudah sampai terminal."

__ADS_1


"Oh ya?" ucap Bu Rahayu menatap wajah suaminya lekat. Dia kemudian menatap Novi dan Amira.


"Gus Farid ternyata mau datang juga ke sini," ucap Bu Rahayu.


Tampaknya dia sangat bahagia mendengar kedatangan Gus Farid. Karena Bu Rahayu orang yang paling mendukung anaknya menikah dengan Gus Farid.


Amira diam.


Gus sudah sampai ke terminal. Duh, kenapa hati aku jadi nggak nyaman banget begini ya. Beda banget sama dulu, waktu aku mau ketemu Mas Farhan pertama kali. Rasanya aku jadi minder sendiri mau ketemu sama Gus, batin Amira.


Seperti apa ya Gus Farid itu. Di foto, dia itu sangat tampan. Apakah dia akan lebih tampan dari di foto? ya ampun, aku jadi nggak sabar deh, pengin lihat wajah Gus, batin Novi.


Sepertinya Novi juga penasaran dengan Gus Farid. Sementara Laila, dia masih diam. Entah apa yang sedang dia rasakan saat ini. Laila seperti tidak suka mendengar kabar kedatangan Gus Farid.


Aku nggak kenal sama Gus Farid. Bagaimana jika dia nanti jadi ayah sambung aku. Pasti aku nggak nyaman banget hidup berdampingan dengan dia. Seandainya Umi mau, aku ingin Umi nikah sama Pade aja. Atau Umi kembali lagi sama Abi. Aku nggak setuju Umi sama Gus, karena aku nggak kenal sama Gus, batin Laila.


Pak Husen bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menatap istrinya.


"Bapak mau siap-siap Bu. Mau ke terminal jemput Gus."


"Iya Pak. Ibu tunggu di rumah ya Pak."


Pak Husen mengangguk. Dia kemudian pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.


****


Satu jam kemudian, deru motor Pak Husen sudah terdengar dari luar rumah. Pak Husen turun dari motornya bersama seorang pemuda tampan yang tak lain adalah Gus Farid cucu dari kyai Hanafi.


Tujuan Gus Farid datang ke rumah Amira , karena dia ingin ta'arufan dengan Amira, seperti apa yang sudah diamanati kakeknya yang saat ini sedang sakit.


Sebenarnya Gus ingin menolak perjodohan itu, tapi karena dia tidak tega pada kakeknya yang sangat mengharapkannya menikah dan menginginkan Gus menikah dengan Amira, akhirnya Gus pun mau mendatangi rumah Amira untuk ta'arufan dulu dengan Amira.


Bagi Gus Farid, masalah jodoh itu sudah ada yang mengatur. Jika dia berjodoh dengan Amira, Insya Allah Allah akan menyatukan mereka berdua. Tapi jika belum ada jodoh untuk mereka, Gus pun ikhlas dan ingin bersilaturahmi saja dengan keluarga Amira.


"Gus, biar bapak yang bawakan tasnya ke dalam."


"Tidak usah Pak. Saya bisa bawa tas saya sendiri."


"Nggak apa-apa Gus. Sini saya bawa kan tasnya."


Pak Husen merebut begitu saja tas baju Gus Farid. Dia kemudian buru-buru membawa tas itu masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di teras depan rumah, Gus Farid menghentikan langkahnya. Dia kemudian mengucapkan salam.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'alakiumsalam," jawab Pak Husen.


"Ayo Gus masuk!" Pak Husen mempersilahkan Gus Farid masuk ke dalam.


Sesampainya Pak Husen dan Gus Farid di ruang tengah, Amira, Laila, Bu Rahayu dan Novi menatap Gus Farid bersamaan. Mereka terpaku sejenak saat melihat kedatangan Gus Farid.


"Assalamualaikum,"


"Wa'alakiumsalam," ucap Bu Rahayu, Amira, Novi dan Laila bersamaan.


Bu Rahayu tersenyum dia buru-buru mendekat ke arah Gus Farid. Sementara Laila, Novi, dan Amira masih diam sembari menatap wajah Gus Farid lekat. Entah apa yang sedang mereka fikirkan saat ini.


Wah, ternyata Gus Farid cakep banget. Beda banget sama di foto, lebih cakep aslinya. Tapi kenapa dia harus dijodohkan dengan Mbak Amira. Kenapa nggak sama aku aja, batin Novi.


Gus nggak pantas banget sama Umi. Dia masih muda banget begitu. Nggak banget deh, punya Papa muda seperti itu. Nggak kebayang bagaimana rasanya punya Papa muda, tampan banget lagi, batin Laila.


"Gus, silahkan duduk Gus. Kebetulan, kami semua lagi kumpul-kumpul di sini," ucap Bu Rahayu mempersilahkan Gus duduk.


Gus Farid tersenyum. Dia kemudian duduk berbaur bersama keluarga Pak Husen.


"Gus, kok nggak nelpon dulu kalau mau ke sini. Ibu fikir, Gus besok datangnya," ucap Bu Rahayu.


Gus Farid hanya tersenyum.


"Iya Bu. Kakek nyuruh aku cepat-cepat datang ke sini."


"Kenapa sendirian aja Gus datang ke sininya? nggak ngajak teman atau saudara?" tanya Pak Husen.


"Iya Pak. Kakek lagi sakit. Dan Umi juga harus ngurusin kakek. Kalau Husna, juga lagi sibuk. Jadi saya sendiri saja ke sininya. Yang penting sampai tujuan dengan selamat."


"Iya betul itu. Kalau lelaki ya harus berani pergi sendiri," celetuk Novi.


Pandangan Gus Farid jatuh ke arah Novi. Dia hanya tersenyum kecil saat melihat Novi.


Novi mengulurkan tangannya.


"Oh ya Gus, nama saya Novi. Saya adiknya Mbak Amira," ucap Novi.


Gus Farid hanya menangkup ke dua tangannya di depan dada. Dia tidak mau bersalaman dengan Novi.


"Iya. Saya Farid.'


Tampaknya Novi lupa kalau dia adalah cucu kyai. Jadi mana mungkin Gus mau bersalaman dengan seorang wanita.


Novi yang merasa malu, dan tidak enak sendiri, akhirnya menarik tangannya kembali.

__ADS_1


__ADS_2