Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Pergi diam-diam


__ADS_3

Zia tiba-tiba saja memeluk Farhan dengan erat.


"Aku kangen sama kamu Mas. Kamu jangan tinggalin aku lagi ya," ucap Zia.


"Iya Zi. Aku akan temani kamu tidur di sini," ucap Farhan sembari mengusap-usap kepala Zia.


****


Jam dua belas malam, Amira terbangun. Amira manatap ke sampingnya tidur. Ternyata suaminya sudah tidak ada di sisinya lagi.


"Mas Farhan kemana ya, kenapa dia pergi. Haus banget aku, pengin minum," ucap Amira.


Amira menatap jam dinding. Waktu saat ini sudah menunjukkan jam dua belas malam. Amira mencoba untuk bangun sendiri dan duduk. Namun nampaknya dia tidak sanggup untuk duduk sendiri. Karena tubuhnya masih sakit dan masih susah untuk bergerak.


"Mas... Mas Farhan .." seru Amira memanggil-manggil suaminya.


Namun Farhan yang sejak tadi dipanggil tidak menyahut. Membuat Amira bingung. Kemana sebenarnya suaminya itu pergi.


"Ya ampun. Mas Farhan kemana sih sebenarnya. Apa dia tidur di ruang tengah atau di ruang tamu," ucap Amira.


Amira menatap gelas yang ada di atas nakas. Amira tersenyum saat melihat masih ada sisa air minum yang ada di dalam gelas itu.


Amira mengulurkan tangannya mencoba untuk meraih gelas itu. Tapi apa yang terjadi, gelas itu jatuh di lantai.


Prang...


Amira terkejut saat melihat gelas itu jatuh berserakan di lantai.


Di sisi lain, Novi dan Bu Rahayu yang tidur di kamar yang sama terbangun. Mereka saling menatap.


"Amira," ucap Bu Rahayu.


"Suara apa itu ya Bu," ucap Novi.


Bu Rahayu mengedikan bahunya. "Ibu nggak tahu. Apa jangan-jangan itu Amira?"


"Nggak mungkin Bu. Mbak Amira dan Mas Farhan kan sudah tidur dari sore. Itu pasti tikus atau kucing di dapur. Biasa, rumah ini kan banyak tikusnya."


Bu Rahayu akan turun dari tempat tidurnya. Buru-buru Novi mencekal tangannya.


"Mau ke mana Bu?" tanya Novi.


"Ibu mau lihat ke belakang."


"Jangan Bu. Udah malam. Besok aja udah bersihinnya. Itu paling tikus yang mecahin gelasnya. Nggak mungkin Mbak Amira."


Bu Rahayu mengangguk. Dia kemudian naik lagi ke atas tempat tidurnya dan kembali berbaring.


Di kamarnya, Laila juga terbangun saat mendengar sesuatu pecah. Laila buru-buru turun dari tempat tidurnya untuk melihat apa yang terjadi di luar kamarnya.


"Suara apa sih itu," ucap Laila.


Laila keluar dari kamarnya dan berjalan ke dapur. Namun di dapur sepi dan tidak ada apa-apa.


"Tadi aku dengar, suara sesuatu pecah, tapi di mana ya. Apa jangan-jangan, itu suara di kamar Umi. Tapi apa Umi atau Abi yang mecahin gelas atau piring," ucap Laila.

__ADS_1


Laila kemudian melangkah untuk ke kamar ayah dan ibunya.


"Abi...Abi...Umi...Umi..." seru Laila dari luar kamar orang tuanya.


Laila tidak mendengar sahutan apapun dari dalam kamar orang tuanya.


"Sepertinya mereka udah nyenyak tidur. Apa mereka nggak dengar ada suara sesuatu yang pecah tadi," ucap Laila.


Laila memutar tubuhnya. Dia akan melangkah pergi meninggalkan kamar Amira. Namun samar-samar Laila mendengar suara isakan ibunya.


"Umi, aku seperti dengar Umi nangis," ucap Laila.


Laila kemudian membuka pintu kamar Amira. Dia terkejut saat melihat Amira menangis dan pecahan gelas sudah berserakan di lantai.


"Ya Allah Umi. Apa yang terjadi? kenapa gelasnya bisa pecah?" tanya Laila.


Laila menatap ke sekeliling. Namun tak dilihatnya Farhan ada di kamar.


"Dan mana Abi Mi?" tanya Laila sembari berjalan mendekat ke arah ibunya.


Amira mengusap air matanya. Setelah itu dia menatap Laila.


"Umi haus banget Laila. Umi pengin minum. Tadi Umi mau ngambil gelas itu, masih sisa sedikit air. Eh, malah terjatuh gelasnya."


Laila menghela nafas dalam.


"Ya Allah, Umi kasihan banget. Kenapa nggak nyuruh Abi saja untuk ambilin Umi minum."


"Abi kamu nggak ada Laila."


"Umi juga nggak tahu. Pas tadi Umi bangun, Abi kamu sudah nggak ada. Mungkin dia tidur di ruang tamu atau ruang tengah."


Laila merasa prihatin dengan kondisi ibunya. Untuk ambil minum saja dia masih kesusahan. Laila tidak tinggal diam. Dia buru-buru berjalan ke dapur untuk mengambil air minum untuk Amira.


Laila mengambil gelas dan menuang segelas air putih ke dalam gelas itu. Setelah itu dia melangkah kembali untuk ke kamar ibunya.


"Umi, ini Laila bawain Umi air minum," ucap Laila.


Laila kemudian duduk kembali di atas tempat tidur ibunya.


"Laila bantu Umi duduk ya," ucap Laila.


"Iya Laila."


Laila kemudian membantu Amira untuk duduk. Setelah Amira duduk, Laila mengambil gelas itu dan menyodorkan gelas itu di depan Amira. Laila kemudian membantu Amira untuk minum.


"Makasih ya sayang. Sekarang Umi udah nggak haus," ucap Amira setelah dia menghabiskan setengah gelas air putih bawaan Laila tadi.


Laila tersenyum.


"Iya Umi. Tunggu di sini ya Umi. Aku mau lihat Abi dulu. Siapa tahu benar kata Umi kalau Abi tidur di depan."


"Iya Laila."


Laila kemudian melangkah keluar dari kamarnya. Setelah itu dia mencari ayahnya di ruang tengah. Namun Laila tidak melihat ayahnya di ruang tengah. Dia mencari ayahnya ke ruang tamu. Farhan juga tidak nampak ada di ruang tamu.

__ADS_1


Laila menghela nafas dalam.


"Abi sebenarnya kemana sih. Kenapa Abi harus tinggalin Umi," ucap Laila.


Laila menatap ke pintu. Dia terkejut saat melihat pintu depan sudah dalam keadaan tidak terkunci.


"Jangan-jangan Abi pergi lagi. Tapi Abi mau pergi ke mana malam-malam begini."


Laila yang merasa penasaran, kemudian membuka pintu depan. Ternyata motor ayahnya sudah tidak ada di depan.


"Tuh kan benar, Abi pergi pakai motornya. Lalu Abi pergi ke mana malam-malam begini. Jangan-jangan, Abi pergi ke rumah Mbak Zia. Ih, semakin ke sini, kok Abi semakin nyebelin ya," ucap Laila.


Laila kemudian melangkah masuk ke kembali ke dalam rumahnya. Tidak lupa, Laila mengunci pintu depan. Takut ada orang yang masuk jika Laila membiarkan pintu itu tak terkunci.


Laila berjalan untuk ke kamar Amira. Dia masuk ke dalam kamar Amira.


"Laila, kamu dari mana?" tanya Amira.


"Aku tadi dari depan nyariin Abi. Ternyata Abi nggak ada di rumah Mi. Pas aku cek ke depan, motor Abi udah nggak ada. Apa jangan-jangan Abi pulang ke istri barunya ya Mi."


Deg.


Amira terkejut saat mendengar ucapan Laila.


"Kamu yakin, Abi kamu pergi?'


"Iya Mi. Pasti Abi udah pergi dari tadi nih."


"Tapi kan dia udah janji, kalau malam ini dia mau tidur sama Umi."


"Abi sekarang udah nggak bisa dipercaya. Dia udah berubah Mi, sejak kenal Mbak Zia. Abi seperti sudah bukan Abinya Laila. Dia udah banyak bohongin kita."


Amira menghela nafas dalam. Sementara Laila mendekat ke arah pecahan gelas itu.


"Kamu mau ngapain?" tanya Amira.


"Mau beresin pecahan gelasnya Umi."


"Jangan. Nggak usah. Udah malam. Biar besok aja beresinnya. Nanti kamu kena pecahan gelas itu. Tajam lho. Bisa terluka tangan kamu nanti " ucap Amira.


"Iya Umi."


"Sini La, naik ke ranjang Umi. Dan temani Umi tidur di sini," ucap Amira.


Laila tersenyum dan mengangguk. Dia kemudian menurut naik ke atas ranjang Amira dan duduk di sisi Amira


Amira tiba-tiba saja memeluk Laila dengan erat.


"Laila, cuma kamu harapan Umi saat ini. Kamu anak Umi satu-satunya. Fauzan sekarang sudah nggak ada Laila. Laila janji ya, Laila jangan ninggalin Umi. Umi nggak sanggup kalau Laila juga harus pergi dari hidup Umi," ucap Amira. Setetes air mata Amira mengalir dari pelupuknya.


"Iya. Laila janji, Laila akan terus ada di samping Umi. Walau Laila nanti nikah dan punya suami, Laila juga akan selalu bersama Umi. Bila perlu, Laila akan ajak Umi dimana pun Laila tinggal."


Amira menangis, sembari sesekali mengecup kepala anaknya.


"Umi sayang banget sama Laila."

__ADS_1


"Laila juga sayang sama Umi"


__ADS_2