Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Telpon dari Rachel


__ADS_3

Tok tok tok...


"Assalamualaikum," ucap Galih setelah sampai di teras depan rumahnya.


Beberapa saat kemudian, Bu Aminah membuka pintu rumahnya. Dia tersenyum saat melihat Galih.


"Wa'alakiumsalam. Kamu kok baru pulang Galih. Sore banget kamu pulangnya?" tanya Bu Aminah.


Galih tersenyum. Dia meraih tangan ibunya dan mencium punggung tangan ibunya.


"Saya baru dari rumah Laila," ucap Galih menjelaskan.


"Oh. Kamu dari rumahnya Amira? bagaimana keadaan cucu dan menantu ibu?" tanya Bu Aminah.


"Mereka baik kok Bu," jawab Galih sembari masuk ke dalam rumah.


Galih kemudian duduk di ruang tengah. Sementara Bu Aminah menutup pintu depan dan langsung menyusul Galih ke ruang tengah.


Bu Aminah kemudian duduk di dekat Galih.


"Bu, Galih belikan ibu martabak sama bakso," ucap Galih sembari meletakan bungkusan bakso dan bungkusan martabak di atas meja ruang tengah.


"Kenapa cuma sedikit Galih?" tanya Bu Aminah.


"Lah terus?" Galih menatap ibunya. Dia heran dengan ibunya. Tidak biasanya Bu Aminah itu protes.


"Kita kan sekarang udah nggak tinggal berdua. Ada Zia dan Farhan juga di sini. Seharusnya kamu belikan juga untuk mereka. Kasihan Zia, bisa ngiler bayinya kalau lihat ibu makan martabak dan bakso ini," ucap Bu Aminah menjelaskan.


"Biarin aja ngiler. Suruh aja mereka beli sendiri."


"Galih, jangan bicara seperti itu dong. Bagaimana juga, Farhan itu adik kamu. Dan Zia juga istri Farhan. Sekarang Farhan dan Zia kan tinggal di sini. Kita harus berbagi dengan mereka. Apalagi sekarang Zia kan lagi hamil."


"Bu, aku nggak suka sama Farhan. Udah jauh-jauh ibu dan bapak mondokin dia ke pesantren. Udah bayar mahal-mahal pesantrennya. Tapi Farhan tidak pakai juga ilmunya."


"Maksud kamu apa?" tanya Bu Aminah tidak mengerti.


"Farhan itu sok sokan poligami. Seperti Rasulullah katanya. Ingin membantu wanita yang kesusahan. Tapi nyatanya dia nggak bisa berlaku adil kan Bu. Untuk apa coba dia bawa Zia tinggal di sini, untuk pamer sama aku, kalau dia punya dua istri sementara aku sekarang duda."


Bu Aminah menghela nafas dalam.


Bu Aminah bukannya sedang membela Farhan, tapi dia mencoba untuk bisa ikhlas menerima Farhan di rumahnya. Karena Zia saat ini sedang hamil.


Bu Aminah memang seorang wanita yang tidak tegaan dan tidak bisa melihat orang lain kesusahan. Dia ibu dan mertua yang sangat baik. Dia juga ingin mencoba adil untuk membagi kasih sayangnya untuk ke dua putranya.Dia tidak mau berat sebelah.


Bu Aminah juga kasihan saat melihat Zia tinggal sendirian di rumah reot. Apalagi dia dalam keadaan hamil. Bu Aminah tidak bisa membayangkan bagaimana jika ada hujan yang disertai angin kencang, atau rumah itu roboh. Bu Aminah tidak mau ada musibah lagi yang menimpa Farhan. Sudah cukup berat cobaan Farhan selama ini.


Sebenarnya, Farhan dan Galih itu punya warisan tanah yang luas dari mendiang bapak mereka.

__ADS_1


Namun Bu Aminah belum siap untuk mengatakan pada ke dua anaknya itu, kalau mereka punya warisan. Bu Aminah takut, warisan itu akan di perebutkan oleh ke dua anaknya.


Bu Aminah saat ini, masih ragu untuk membagi warisan itu pada ke dua anaknya. Dia masih memikirkan untuk mewakafkan salah satu tanah mendiang suaminya untuk keperluan pembangunan mesjid di kampung mendiang suaminya.


"Galih sudahlah, semua ini sudah terlanjur terjadi. Itu juga sudah keinginan Amira dan Farhan. Ibu tidak berhak untuk mencampuri urusan rumah tangga mereka. Seperti ibu yang tidak berhak untuk mencampuri urusan rumah tangga kamu dengan Risma," ucap Bu Aminah.


Galih malas jika saja ibunya harus menyebut nama Risma di depannya.


"Sudahlah, aku capek Bu. Aku mau ke kamar. Aku juga belum mandi. Aku mau mandi dulu. Setelah itu aku mau istirahat. Makan ya Bu, bakso dan martabaknya. Nggak usah mikirin anak dan menantu ibu yang nggak tahu diri itu. Makan sendiri aja itu makanannya," ucap Galih sebelum pergi meninggalkan ibunya.


Galih bangkit dari duduknya. Setelah itu Galih pergi ke kamarnya. Sesampainya di dalam kamarnya, Galih menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Setelah itu Galih mengambil handuk dan berjalan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


****


Setelah mandi, Galih kembali ke kamarnya. Dia kemudian memakai bajunya dan bersiap-siap untuk sholat maghrib.


Usai melakukan sholat maghrib di rumah, Galih kemudian naik ke atas tempat tidurnya.


Galih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia mencoba untuk memejamkan matanya sejenak.


Ring ring ring...


Suara ponsel Galih berdering. Galih membuka matanya saat mendengar deringan ponselnya.


"Halo. Assalamualaikum sayang."


"Halo. Wa'alakiumsalam Papa, lagi ngapain Papa?"


"Papa sebenarnya mau tidur sayang. Tapi kamu nelpon."


"Lho, papa mau tidur. Ini maghrib lho. Papa udah sholat belum?"


"Udah barusan sayang. Ada apa sayang? tumben banget kamu nelpon Papa. Kamu kangen ya sama Papa?"


"Papa, aku cuma mau ngasih tahu Papa. Kalau besok adalah pernikahan mama."


Galih terkejut saat mendengar ucapan anaknya.


"Mama kamu mau nikah? sama siapa? sama Pak Bastian ya?"


"Iya Pa. Jangan sedih ya Pa."


"Nggak kok, Papa nggak sedih. Papa malah seneng, akhirnya mama kamu bersatu juga dengan lelaki pujaannya. Lelaki yang lebih kaya, lebih muda, lebih tampan, dan lebih segala-galanya dari Papa."


"Sabar ya Papa."

__ADS_1


"Iya Rachel, Papa kamu mah orang yang paling sabar."


"Papa, kapan-kapan aku sama Kak Romi mau main ke kampung Papa . Boleh nggak Papa. Entah kenapa aku jadi kangen sama Papa."


"Ya boleh banget dong Rachel. Papa malah seneng kamu mau main ke kampung."


"Iya Papa."


Sudah lama, Rachel tidak pernah menelpon Galih. Dan sekali menelpon, dia malah membawa kabar buruk yang mengejutkan untuk Galih.


Benar dugaan Galih selama ini, setelah bercerai dari Galih, pasti Risma akan menikah dengan Bastian bosnya Risma sendiri di kantor. Lelaki yang selama ini menjadi selingkuhan Risma.


Beberapa saat kemudian, ketukan pintu dari luar kamar Galih terdengar.


"Rachel udah dulu ya sayang telponnya. Nanti kita sambung lagi telponnya."


"Iya Papa. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Setelah memutuskan saluran telponnya, Galih kemudian meletakkan ponselnya di atas ranjang. Dia kemudian berjalan untuk membuka pintu kamarnya.


"Ibu, ada apa?" tanya Galih saat melihat ibunya ada di depan kamarnya.


"Galih, ibu sudah siapkan kamu makanan di ruang makan. Kita makan bareng yuk!" ajak Bu Aminah.


"Sama Farhan juga?"


"Iya."


"Aku ngga mau ah Bu, kalau semeja dengan mereka. Ibu aja sana yang makan sama mereka."


"Galih, kamu kenapa sih. Kamu nggak boleh seperti itu dong."


"Tapi aku nggak suka Bu."


"Nggak suka kenapa?"


"Aku takutnya, wanita itu akan jadi benalu di keluarga kita. Ibu jangan terlalu baik sama wanita itu. Dia sangat berbeda dengan Amira. Aku cuma takut, wanita itu akan memanfaatkan kebaikan ibu untuk kepentingannya sendiri."


"Galih, tahu dari mana kamu soal Zia. Kita itu belum mengenal dia. Kita tidak boleh membuat kesimpulan sendiri kalau Zia seperti ini seperti itu. Kita berbaik sangka aja sama dia. Terima nggak terima, kamu harus terima istri ke dua adik kamu tinggal di sini bersama kita. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi Galih yang mau membantu Zia. Ingat Galih, Zia itu lagi mengandung cucu ibu."


"Ah, ibu ini. Nggak percayaan banget sih sama aku."


"Sudahlah, kamu mau ikut ibu makan malam nggak? ibu tunggu kamu di ruang makan."


Bu Aminah kemudian meninggalkan Galih begitu saja.

__ADS_1


Ibu ini nggak adil banget sama aku dan Farhan. Waktu aku masih sama Risma, ibu benci sekali sama Risma. Nah, ini Zia. Ibu malah bela-belain wanita itu, aneh banget ibu. Padahal ibu kan belum kenal betul dengan si Zia ini, seperti apa sifatnya, batin Galih.


__ADS_2