Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Sakit parah


__ADS_3

"Istriku sudah mengkhianati aku Amira," ucap Galih tampak sedih.


"Mengkhianati bagaimana Mas?" tanya Amira belum mengerti.


"Dia sudah selingkuh dengan lelaki lain dibelakang aku."


Amira terkejut saat mendengar ucapan Galih. Amira baru tahu, kalau perceraian Galih selama ini ternyata karena orang ke tiga.


"Apa! selingkuh?" pekik Amira.


"Iya. Sejak anak ke dua aku masih kecil, dia sudah selingkuh dengan lelaki lain," jelas Galih.


"Kok bisa Mas?"


"Iya Amira. Aku juga nggak tahu. Entah apa yang istriku inginkan selama ini. Padahal kehidupan kami waktu itu sudah lumayan. Dan aku juga punya gajian yang cukup untuk menafkahinya. Tapi, mungkin istriku bukan wanita yang pandai bersyukur sepertimu. Dia lebih mementingkan bisnisnya sendiri dan dia selingkuh dengan lelaki kaya. Yaitu, bosnya sendiri di kantor," ucap Galih.


Seandainya mengingat masa lalunya dengan istrinya, hati Galih begitu sakit. Namun Galih adalah seorang lelaki. Dia tidak mungkin menangis hanya karena masalah itu.


Galih selama ini, menyembunyikan masalahnya dengan istrinya dari orang terdekatnya termasuk ibunya. Masalah perceraiannya dengan Risma hanya dia dan Risma sendiri saja yang tahu.


"Jadi, perceraian kamu dengan Mbak Risma itu bukan karena Mbak Risma dan anak-anak kalian yang tidak betah tinggal di kampung. Tapi karena masalah lain?"


"Itu cuma alasan terakhir aku aja untuk bercerai dari dia Mir. Sebenarnya alasan utama aku cerai dengan Risma adalah perselingkuhan."


"Oh..." Amira hanya manggut-manggut tampak mengerti.


"Waktu aku tahu dia selingkuh, dia minta maaf dan dia berjanji kalau dia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Tapi setelah beberapa waktu lamanya, dia kembali mengulang perselingkuhan itu lagi dengan lelaki yang sama."


"Bosnya sendiri?"


Galih mengangguk.


"Yang sabar ya Mas. Maaf, karena aku sudah mengingatkan kamu lagi pada masa lalu kamu, yang seharusnya sudah kamu lupakan." Amira tampak sedih saat mendengar cerita Galih.


Galih menatap Amira lekat.


"Nggak apa-apa Amira. Sekarang aku juga lagi nyoba untuk bisa melupakan kejadian itu."


"Oh iya Mas, ibu bawa apa aja?" tanya Amira mencoba mengalihkan pembicaraannya.


"Ibu bawa nasi dan lauk untuk kamu makan. Dan kalau aku, bawa martabak. Siapa tahu kamu pengin martabak."


"Kamu kok tahu, aku suka martabak."


"Ya sebenarnya nggak tahu sih. Cuma kata ibu, kamu suka martabak. Dan waktu kamu ada di rumah ibu, kamu juga sering beli martabak kan dengan suami kamu."


"Ya udah, kita masuk ke dalam aja yuk Mas. Kita duduk-duduk aja di ruang tamu. Sekalian makan martabaknya," ucap Amira mengajak Galih masuk ke dalam rumah.


Sepertinya Amira juga sudah lelah, ada di luar rumah. Dia juga sudah merasa bersalah karena sudah membuat Galih sedih.


"Iya Amira."


Galih bangkit dari duduknya. Dia kemudian menatap Amira.

__ADS_1


"Aku dorong kursi roda kamu masuk ya."


"Nggak usah Mas. Aku bisa masuk sendiri."


"Nggak apa-apa Amira. Biar lebih cepat."


"Ya, terserah kamu deh."


Galih kemudian mendorong Amira sampai ke ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, Galih menatap Amira.


"Kamu tunggu di sini ya Amira. Aku akan ambil martabaknya dulu."


"Iya Mas."


Galih kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil martabak. Beberapa saat kemudian, Galih kembali dengan membawa martabaknya.


"Ini Amira, siapa tahu kamu sudah lapar lagi, kamu bisa makan martabak ini."


"Makasih ya Mas."


"Iya Amira."


****


Waktu saat ini sudah menunjukkan jam sepuluh pagi.


Zia masih berada di dalam rumahnya. Setelah dia mengerjakan semua pekerjaan rumahnya, tiba-tiba saja dia teringat dengan kakeknya.


Kakek Zia sudah dari semalam belum keluar dari kamarnya. Dan Zia belum menengoknya ke dalam sejak semalam.


Zia yang penasaran, kemudian mendekat ke kamar kakeknya. Dia kemudian mengetuk pintu kamar itu.


Tok tok tok...


"Kakek, kakek," ucap Zia.


"Kakek, kakek lagi ngapain di dalam. Ini sudah siang Kek. Kakek nggak mau bangun?"


Beberapa kali Zia mencoba untuk memanggil-manggil kakeknya, namun tak ada sahutan dari dalam kamar kakeknya.


Zia yang penasaran, buru-buru membuka pintu kamar kakeknya. Zia terkejut saat melihat wajah kakeknya tampak pucat. Zia buru-buru menghampiri kakeknya.


"Kakek, kakek sakit?" tanya Zia.


Pak Ramli tidak menjawab pertanyaan Zia. Wajah Pak Ramli sangat pucat, di tambah lagi, nafasnya juga sudah tidak beraturan.


"Kakek, kakek, jangan buat Zia takut Kek. Kakek ... bicara Kek. Ayo bicara," ucap Zia.


Zia tidak tahu, apa yang sudah terjadi dengan kakeknya. Yang Zia lihat, kakeknya sesak nafas dan wajahnya juga sangat pucat.


Zia menangis di sisi kakeknya. Dia takut terjadi apa-apa dengan kakeknya. Zia kemudian keluar untuk menelpon Farhan.


"Halo Mas."

__ADS_1


"Halo Zi. Ada apa?"


"Mas, cepat pulang Mas. Kakek aku sakit Mas. Cepat pulang."


"Zi, aku nggak bisa. Aku lagi ngajar. Kalau kakek kamu sakit, kerok, pijat, dan minum kan dia obat. Nanti dia juga sembuh."


"Mas, tapi ini bukan sakit biasa Mas. Cepat pulang Mas. Kakek udah nggak bisa bicara. Wajahnya pucat dan dia juga sesak nafas."


"Duh, aku nggak bisa pulang Zi. Maafkan aku ya Zi."


Sepertinya Farhan tidak percaya dengan ucapan Zia. Karena waktu itu, Zia pernah membohongi Farhan. Sehingga Farhan sulit untuk percaya lagi padanya.


"Mas, cepat Mas. Cepat pulang. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama Kakek."


"Begini aja Zi. Kamu bawa kakek kamu ke rumah sakit dulu. Nanti aku nyusul."


"Tapi siapa yang mau bawa kakek aku ke rumah sakit. Nggak ada orang Mas di sini."


"Nanti aku telpon Pak Ridwan untuk ngantar kamu ke rumah sakit."


"Emang kamu nggak bisa pulang sekarang Mas?"


"Maaf Zi. Aku lagi kerja. Jika aku sering bolos, lama-lama aku bisa dipecat Zi kerjanya."


"Begitu ya? ya udah, kamu telpon kan Pak Ridwan. Suruh dia ke rumah aku bawa mobil."


"Iya Zi. Kalau kamu sudah ada di rumah sakit, sepulang kerja nanti aku nyusul ke rumah sakit ya."


"Iya Mas."


"Ya udah ya Zi. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Saluran telpon itu terputus.


Zia kemudian mendekati Kakeknya lagi. Pak Ramli sekarang sudah tidak bisa apa-apa. Untuk ngobrol dengan Zia pun dia sudah tidak bisa. Membuat Zia sangat sedih.


Beberapa saat kemudian, deru mobil sudah terdengar dari luar rumah Zia.


Zia bangkit dari duduknya. Setelah itu Zia pun berjalan ke depan untuk melihat mobil siapa yang datang.


Ternyata benar kalau itu mobil Pak Ridwan, tetangga Amira yang punya mobil, yang pernah membawa Amira ke rumah sakit.


"Pak Ridwan," ucap Zia yang buru-buru menghampiri mobil Pak Ridwan.


Beberapa saat kemudian, Pak Ridwan turun dari mobilnya. Dia kemudian menatap Zia lekat.


"Tadi saya di telpon Ustadz Farhan. Saya di suruh ke sini. Katanya kamu mau bawa kakek kamu ke rumah sakit. Kakek kamu sakit apa?" tanya pak Ridwan.


"Kakek saya udah nggak bisa apa-apa. Tolong kakek saya Pak Ridwan."


"Baiklah. Sekarang kita bawa kakek kamu ke rumah sakit.

__ADS_1


"Iya Pak Ridwan."


__ADS_2