
Setelah Galih membereskan semua barang-barangnya, Galih kemudian keluar dari ruangannya.
Dia berjalan keluar dari kantor. Sesampainya di depan kantor, dia ke arah parkiran motor untuk mengambil motornya.
Setelah itu Galih pun naik ke atas motor dan meluncur pergi meninggalkan kantor. Sore ini Galih tidak mau langsung pulang ke rumah. Melainkan dia ingin mampir dulu ke tokonya Amira.
Beberapa saat kemudian, Galih sudah sampai di depan toko Amira. Galih tersenyum setelah dia sampai di depan toko Amira. Toko Amira sore ini tampak ramai karena banyak pembeli yang berdatangan memenuhi toko itu.
"Tokonya belum tutup. Mungkin nggak ya kalau Amira atau Laila masih ada di dalam," ucap Galih.
Galih kemudian turun dari motornya. Setelah itu dia masuk ke dalam toko Amira. Galih tersenyum saat melihat Amira. Dia sejak tadi hanya bisa memperhatikan Amira dari kejauhan.
Amira, aku bahagia lihat kamu sukses seperti ini. Andai kamu mau menerima aku Amira, batin Galih.
Galih masih berharap Amira mau menerimanya. Dan sebelum ada janur kuning melengkung, Galih akan tetap menunggu Amira.
"Pade...!" ucap Laila sembari menepuk bahu Galih dari belakang.
Galih tersentak. Dia lantas menatap ke belakang di mana Laila berdiri. Galih tidak tahu dari mana datangnya Laila, bisa-bisanya Laila sudah berada di belakangnya dan mengagetinya.
"Laila, kamu ngagetin Pade aja. Kenapa kamu bisa tiba-tiba ada di sini?" tanya Galih pada Laila.
"Tadi aku keluar sebentar, baru beli jajan. Tadi aku lihat motor Pade di depan, ya udah aku langsung aja masuk ke sini," ucap Laila.
"Oh... gitu," Galih hanya bisa ber'oh ria.
"Pade diam aja, lagi ngelihatin apa sih?" tanya Laila. Pandangannya tertuju pada ibunya yang sedang melayani pembeli.
"Em... nggak. Pade nggak ngelihatin apa-apa kok. Cuma lagi lihat-lihat baju-baju di sini aja, bajunya bagus-bagus,"ucap Galih.
"Oh, Laila fikir, Pade lagi ngelihatin yang punya toko ini," celetuk Laila yang membuat Galih terkejut.
"Yang punya toko ini siapa?"
"Ya Umi lah. Masa Pade nggak paham sih."
"Oh... hehe... Laila Laila. Ada-ada aja kamu ini. Pade nggak lagi lihatin Umi kamu kok," bohong Galih pada Laila. Padahal sejak tadi, Galih memang lagi memperhatikan Amira.
"Yang benar? jangan-jangan, Pade udah mulai suka lagi sama Umi. Kalau Pade suka sama Umi, nggak apa-apa deh Laila restuin."
Galih terkejut saat mendengar ucapan Laila. Dia lantas menatap Laila lekat.
"Kamu yakin, dengan ucapan kamu?" tanya Galih.
"Yakinlah Pade. Kan Pade baik. Dari pada Abi. Ngasih uang jajan aja cuma sedikit."
Galih mengernyitkan alisnya bingung.
"Abi kamu ngasih uang jajan? kapan?" tanya Galih penasaran.
"Kemarin-kemarin kan Abi ke sini. Dia ngasih uang jajan seratus ribu untuk Laila," ucap Laila menuturkan.
__ADS_1
"Oh, jadi Abi kamu datang ke sini? terus dia bilang apa sama kamu?"
"Nggak tahu. Laila kan waktu Abi ke sini, lagi tidur. Dan waktu ada Abi, Umi nggak bangunin Laila. Jadi Laila nggak tahu deh, kalau Abi datang ke sini," ucap Laila menjelaskan.
"Oh, jadi Abi kamu ke sini, cuma ketemu sama Umi kamu?"
"Iya. Kata Umi sih, Abi ke sini mau minta maaf sama aku dan Umi."
"Oh..." Galih manggut-manggut mengerti.
Setelah pembeli sepi, pandangan Amira tertuju pada Galih dan Laila yang sedang mengobrol di depan toko. Sejak tadi Amira tidak merasakan keberadaan Galih dan Laila karena saking sibuknya.
Amira tersenyum dan buru-buru berjalan menghampiri Galih dan Laila..
"Mas Galih, Laila, kalian lagi ngapain di sini?" tanya Amira.
Galih dan Laila menatap Amira bersamaan.
"Umi, kita nggak lagi ngapa-ngapain kok. Kita cuma lagi ngobrol-ngobrol aja. Iya kan Pade," ucap Laila.
Galih tersenyum dan hanya mengangguk.
"Kenapa ngobrol-ngobrolnya malah di luar, ngobrol di dalam kan enak. Kenapa kamu nggak suruh Pade kamu masuk Laila. Kalian kan bisa ngobrol-ngobrol di belakang."
"Oh iya. Ayo Pade kita masuk!" pinta Laila.
"Iya."
Galih dan Laila kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Begitu juga dengan Amira yang mengikuti mereka duduk.
"Mas Galih mau minum apa? " tanya Amira.
"Nggak usah repot-repot Amira. Aku ke sini cuma mau sebentar kok. Udah sore, lagian kamu dan Laila juga udah mau pulang kan kalau jam segini?"
"Kalau toko lagi ramai, kami nggak pernah pulang jam segini. Paling pulang malam. Iya kan La?" ucap Amira.
Laila mengangguk.
"Maaf ya, aku ke sini nggak bawa apa-apa," ucap Galih menatap Laila dan Amira bergantian.
"Nggak usah repot-repot Mas sebenarnya. Kamu ke sini, sebenarnya aku juga udah seneng kok. Karena kalau kamu nggak ke sini, Laila pasti akan nanyain kamu. Dan katanya juga Laila pengin main ke rumah kamu."
Galih menatap Laila lekat.
"Yang benar, Laila mau main ke rumah Pade?" tanya Galih pada Laila.
"Iya Pade. Aku pengin ketemu sama Abi dan nenek. Udah lama aku nggak ke sana. Lebaran kemarin juga aku nggak ke sana."
"Baiklah kalau kamu mau main ke rumah Pade. Setelah ini, kamu ikut Pade pulang ya."
"Siap Pade."
__ADS_1
Laila bangkit dari duduknya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Amira.
"Aku lupa sesuatu Mi," jawab Laila.
"Lupa apa?"
"Tadi aku beli jajan . Tapi belum kembalian."
"Lho, kok bisa."
"Iya. Tadi aku buru-buru soalnya."
"Ya udah sana kalau mau minta kembalian."
"Iya. Aku tinggal dulu ya Pade."
"Iya."
Setelah Laila pergi, pandangan Galih beralih pada Amira.
"Amira, kata Laila Farhan kemarin ke sini?" tanya Galih.
"Iya Mas."
"Mau ngapain dia ke sini?"
"Dia mau mampir doang kok. Katanya dia dari rumah sakit jiwa jengukin Zia," jelas Amira.
"Oh ya, kemarin-kemarin dia sempat pinjam motor ke aku. Seumur-umur dia nggak pernah jengukin kamu dan Laila. Ada angin apa dia bisa datang ke sini."
Amira tersenyum.
"Mungkin dia sudah menyadari semua kesalahannya Mas. Makanya kemarin dia ke sini minta maaf sama aku."
"Satu tahun , dia baru sadar akan kesalahannya? ada di mana sebenarnya hati nurani Farhan selama ini."
"Entahlah Mas. Tapi aku seneng kok, Mas Farhan udah mau mengakui kesalahannya dan mau minta maaf sama aku. Aku akan selalu doain yang terbaik untuk Mas Farhan," ucap Amira.
"Kamu nggak mau doain aku juga?" canda Galih.
Amira terkekeh.
"Hehe... ya aku juga doain kamu kok. Setiap hari malahan."
"Benar-benar ya, doa orang yang terzalimi itu bisa menembus langit."
"Maksud Mas Galih apa?" tanya Amira tidak mengerti.
"Nggak. Maksud aku, karma itu memang ada ternyata. Aku fikir, karma cuma ada di film-film dan sinetron aja. Tapi di dunia nyata ada karma juga. Mungkin si Farhan itu sudah kena karma karena sudah melukai hati kamu Amira."
__ADS_1
"Sudahlah Mas, jangan bicara karma lagi. Aku udah memaafkan semua kesalahan Mas Farhan kok. Semoga suatu saat nanti, Mas Farhan bisa mendapatkan jodoh yang baik."