Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Keinginan Laila


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian. 


Laila dan Gus Farid siang  ini masih duduk  berdua di teras depan rumah Laila yang ada di dekat mesjid.


Gus Farid dan Laila tampaknya masih bercakap-cakap serius. Entah apa yang sedang mereka bahas kali ini. 


Laila menatap wajah Gus Farid lekat. 


"Gus, Laila mohon Gus. Gus jangan nikah sama Umi ya Gus," ucap Laila 


Gus Farid menatap Laila lekat. 


"Laila, kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Gus Farid. 


"Aku sebenarnya nggak setuju Gus nikah sama Umi."


Gus Farid terkejut saat mendengar ucapan Laila. 


"Kamu nggak setuju dengan hubungan aku dengan Umi kamu?"


"Iya Gus. Batalkan saja Gus pernikahan kalian."


"Apa! di batalkan?"


"Iya Gus. Batalkan saja pernikahan Gus dengan Umi. Gus itu tampan dan masih sangat muda. Apa Gus tidak mau mencari  wanita yang masih gadis, wanita yang usianya lebih muda dari Gus?" 


"Tapi aku nggak bisa Laila membatalkan pernikahan ini."


"Kenapa Gus? jika Gus masih mau melanjutkan pernikahan ini, Gus akan melukai hati orang lain." 


Gus Farid kembali terkejut saat mendengar ucapan Laila. 


"Maksud kamu apa?" tanya Gus Farid tidak mengerti. 


"Gus, kalau Gus nikah sama Umi, Gus akan melukai perasaan dua orang yang mencintai Umi."

__ADS_1


"Dua orang yang mencintai Umi kamu? siapa?" tanya Gus penasaran. 


"Abi dan Pade."


"Apa!"


"Iya Gus. Biarkanlah Umi bahagia dengan lelaki pilihan Laila. Dan Laila hanya punya dua lelaki pilihan. Jika Umi tidak mau rujuk lagi sama Abi, Laila pengin Umi nikah sama Pade."


Gus Farid menelan ludahnya. Dia bingung dengan Laila anaknya Amira. Kenapa setelah pernikahan sudah dekat, Laila baru bicara dengan Gus tentang ketidaksetujuannya itu. 


Yang membuat Gus Farid sulit untuk memutuskan. Padahal seandainya Laila bicara dari dulu, mungkin Gus Farid akan pertimbangkan lagi untuk menikahi Amira.


Gus Farid dan Laila saling diam. Mereka tampak larut dalam fikiran mereka masing-masing. 


Mana mungkin aku membatalkan pernikahan yang satu minggu lagi sudah akan dilaksanakan. Apa kata orang nanti, apa kata santri-santri yang ada di pesantren jika aku menggagalkan pernikahan ini hanya karena satu orang yang tidak setuju dengan pernikahan ini. Apa kata keluarga besarku di pesantren jika aku gagal menikah. Bagaimana dengan wasiat almarhum kakek. Aku pasti akan mengecewakan almarhum  kakek jika aku tidak menikah dengan Amira, batin Gus Farid. 


Gus, jika Gus meneruskan pernikahan ini, Gus juga akan  melukai hati Laila, karena Laila cinta sama Gus. Maafkan Laila Gus, tidak seharusnya Laila mencintai Gus. Tidak seharusnya Laila mencintai calon ayah tiri Laila sendiri. Tapi jujur, Gus adalah lelaki pertama yang bisa membuat Laila jatuh cinta, batin Laila. 


Ya, sejak keberadaan Gus di kampung Laila, Laila memang sudah memendam rasa pada Gus Farid.


Begitu juga dengan Novi dan Laila. Mereka juga sebenarnya suka sama Gus Farid.


Namun, dari semua wanita yang ada di kampung Laila, tidak ada yang berani untuk mengungkapkan perasaannya pada  Gus. Karena Gus Farid sangat disegani di kampung itu dan mereka juga sudah tahu, kalau Gus Farid itu calon suaminya Amira. Jadi tidak ada wanita yang berani mendekati Gus Farid.


Gus menatap Laila lekat. 


"Maafkan aku Laila, aku tidak bisa membatalkan pernikahan ini," ucap Gus. 


"Kenapa Gus?" tanya Laila.


"Karena ini amanat dari almarhum kakek aku. Kakek aku memintaku untuk menikah dengan salah satu anak Pak Husen,"


"Kenapa Gus nggak memilih Tante Novi. Yang jelas-jelas dia itu masih sendiri, masih muda, dan belum pernah menikah."


"Tapi aku juga nggak bisa dengan Novi. Karena aku kurang suka dengan penampilan dan sifatnya. Menurutku, Umi kamu jauh lebih baik dari Novi, walau dia sudah pernah menikah dengan lelaki lain. Yang aku cari itu, istri saleha Laila."

__ADS_1


"Gus, tolong Gus. Aku cuma kasihan sama Pade. Dia itu cinta banget sama Umi Gus. Dia sudah rela melakukan apa saja untuk Umi. Waktu Umi sakit, Pade lah yang merawat Umi sampai sembuh. Aku tidak tega, melihat penderitaan Pade."


"Laila, cinta itu tidak harus saling memiliki. Pade kamu juga pasti akan ngerti kok. Dan dia juga pasti sudah ikhlas , aku nikah sama Umi kamu."


"Jika Umi tidak mau sama Pade, Laila juga masih berharap, Umi mau rujuk lagi sama Abi. Setidaknya, cuma itu yang membuat Laila bahagia."


"Terus maksud kamu, kamu tidak bahagia, melihat aku menikah dengan Umi kamu?" tanya Gus Farid yang sudah tampak kesal dengan Laila.


Laila mengangguk sedih. 


"Iya Gus. Laila nggak bahagia Gus nikah sama Umi. Karena dari awal, Laila juga nggak pernah setuju kalau Gus jadi ayah Laila."


"Tapi kenapa kamu baru bicara sekarang Laila. Setelah pernikahan itu sudah dekat. Kenapa nggak jauh-jauh hari kamu bicarakan masalah ini."


"Maafkan Laila Gus. Sepertinya Laila sudah terlambat membicarakan soal ini. Tapi Gus, Laila mohon, batalkan saja pernikahan Gus dengan Umi."


"Kenapa Laila, itu tidak mungkin. Mau di taruh di mana wajah aku kalau aku gagal menikah. Sudah jauh-jauh aku ta'arufan dengan Umi kamu, masa aku akan menggagalkannya. Aku pasti yang akan di salahkan."


"Ya udah, sebagai gantinya, Gus nikahin Laila saja. Laila ikhlas, menggantikan posisi Umi jadi istrinya Gus. Laila akan melakukan apapun untuk Gus. Laila pun ikhlas jika Gus mau membawa Laila ke pesantren. Dan Laila itu juga kan masih cucu Pak Husen. Pasti almarhum kyai Hanafi akan bahagia melihat Gus menikah dengan cucunya Pak Husen. Dan Laila juga masih sangat muda Gus."


Gus Farid menghela nafas dalam. Dia kemudian tersenyum menunjukan  deretan gigi putihnya. Dia merasa lucu dengan ucapan Laila. 


"Laila, kamu fikir pernikahan itu cuma untuk main-main. Nggak Laila. Pernikahan itu adalah janji sakral yang akan mengikat dua orang insan ke dalam yang namanya pernikahan. Kamu itu masih kecil, untuk apa kamu bicara seperti itu. Dan usia kita juga jauh berbeda Laila."


"Gus, aku sudah lulus SMP, sebentar lagi aku akan memasuki bangku SMA. Jangan bilang aku anak kecil lagi. Karena aku sudah besar Gus."


Gus Farid hanya geleng-geleng kepala setelah mendengar semua ucapan Laila. Sepertinya, Gus Farid tidak mau menggubris perkataan anak kecil itu. Dia akan tetap menikah dengan Amira. 


Setelah Laila lelah membujuk Gus Farid, akhirnya Laila pun pergi dengan membawa rasa kecewanya yang begitu besar.  Dia kecewa, karena Gus Farid tetap bersikeras untuk menikah dengan Amira ibunya . 


Laila fikir, Gus mau mengikuti keinginan konyolnya itu. Tapi nampaknya, Gus tidak mau menggubris perkataan-perkataan Laila yang terlihat bodoh itu. 


Gus Farid masih menganggap ucapan-ucapan Laila itu adalah sebuah lelucon. Padahal sebenarnya ucapan Laila itu ada benarnya. Jika Gus Farid tetap menikah dengan Amira, akan banyak hati yang tersakiti dan terkecewakan.


****

__ADS_1


__ADS_2