Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Cerita Farhan


__ADS_3

"Maaf Mas, sepertinya itu nggak akan mungkin deh," ucap Amira. 


"Kenapa Amira?" 


"Aku sebenarnya sudah di jodohkan oleh orang tuaku dengan seorang lelaki."


"Siapa? orang mana?"


"Dia cucunya kyai Hanafi. Kyai bapak ku waktu dia mondok dulu."


"Oh, terus kamu mau?"


Amira tersenyum. 


"Insya Allah mau. Aku dan dia saat ini juga lagi ta'arufan Mas."


Dion menghela nafas dalam. Sudah dua kali Amira menolaknya. Namun untuk kali ini, dia tidak begitu kecewa karena dia cuma iseng aja. Tapi kalau Amira mau, nggak ada salahnya Dion ngajakin dia nikah.


"Oh, aku fikir, kamu belum ada yang punya. Kalau kamu belum ada yang punya, aku sebenarnya pengin ngajakin kamu nikah. Biar kita bisa sukses bareng gitu. Kamu punya toko, aku pun punya kios bakso."


"Maaf ya Mas. Aku udah buat kamu kecewa. Aku cuma mau berbakti saja sama ke dua orang tuaku."


"Oh. Iya. Saya mengerti Amira. Selamat ya kalau begitu. Semoga kamu sama dia berjodoh dan semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek."


"Amin."


Beberapa saat kemudian, seorang pelayan mendekati Amira. 


"Ini Mbak baksonya," ucap pelayan itu sembari menyodorkan plastik yang berisi lima bungkus bakso itu. 


"Oh, makasih ya. Berapa semuanya?" tanya Amira. 


"Gratis Amira buat kamu."


Amira terkejut saat mendengar ucapan Dion. 


"Lho, jangan gitu dong Mas. Main gratis aja. Aku mau beli lho, bukan mau minta."


Dion tersenyum. 


"Jangan tersinggung Amira. Saya ikhlas kok, itung-itung untuk sedekah saya. Untuk penglaris jualan saya hari."


Amira bangkit dari duduknya.


"Ya Allah Mas, baik banget sih kamu Mas. Makasih banyak ya kalau begitu."


"Iya Amira. Sama-sama." 


Setelah membeli bakso, Amira langsung pergi meninggalkan kios Dion. Setelah itu dia meluncur untuk kembali ke tokonya. 


***


Setengah bulan kemudian, Amira dan Gus Farid sudah dekat. Setiap hari, sebelum berangkat ke toko Amira selalu mengantar makanan untuk Gus Farid. 


Saat ini, Amira sudah sampai di depan rumah Gus Farid. Dia kemudian mengetuk pintu rumah itu. 


Tok tok tok ..


"Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam." 


Gus Farid membuka pintu. Dia tersenyum saat melihat Amira. 


"Amira."

__ADS_1


"Biasa Gus. Ini makanan untuk kamu," ucap Amira sembari menyodorkan rantang kecil yang berisi  nasi dan lauk untuk Gus Farid makan. Karena selama tinggal di rumah itu, Pak Husen yang memberikan Gus Farid makan. Karena Pak Husen juga sudah menganggap Gus Farid seperti anak kandungnya sendiri. Apalagi Pak Husen itu tidak punya anak laki-laki. Dan sebentar lagi, Gus Farid juga akan menjadi menantunya. 


Gus  Farid mengambil rantang itu. 


"Alhamdulillah. Makasih ya Amira. Ini kamu yang masak?" 


"Bukan Gus. Tapi ibu yang masak. Aku nggak sempat Gus. Soalnya aku juga harus siap-siap ke toko."


"Kalau kamu sudah jadi istriku, apa ibu terus yang akan masakin untuk aku?"


"Ya nggaklah Gus. Kalau aku sudah jadi istri kamu, terserah kamu Gus, mau bawa aku ke mana. Karena kalau aku sudah jadi seorang istri, aku adalah milik kamu seutuhnya Gus."


"Jelaslah aku akan bawa kamu pulang ke pesantren. Bersama anak kamu juga Laila. Biar kalian bisa lebih Istikomah lagi dalam beribadah. Nanti aku ajak umrah kalian setahun sekali bersama keluarga besar pesantren.


"Iya Gus. Itu kan nanti kalau sudah nikah. Sekarang kan kita belum nikah."


"Iya Amira. Makasih ya Amira, untuk makanannya."


"Iya Gus. Kalau begitu, aku pergi dulu ya Gus."


"Kamu mau ke toko?" 


"Iya Gus. Karyawan aku sudah nungguin."


"Ya udah, hati-hati di jalan ya Amira."


"Iya Gus."


"Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Amira kemudian pergi meninggalkan Gus Farid dan meluncur pergi ke toko. 


Sesampainya di depan toko, Amira terkejut saat melihat ada motor Farhan. 


"Tapi kemana ya Mas Farhannya."


Amira tampak mencari keberadaan Farhan. Namun tampaknya Farhan tidak ada di sekitar toko itu. Amira terkejut saat tiba-tiba saja Farhan keluar dari tokonya. 


Farhan tersenyum saat melihat Amira. 


"Amira. Kamu ternyata baru datang. Aku cariin kamu dari tadi."


"Maaf Mas. Ada perlu apa ya kamu datang ke sini "


"Nggak ada apa-apa. Aku cuma pengin ketemu kamu. Cuma pengin ngobrol-ngobrol aja sama kamu. Lama kan kita nggak ngobrol-ngobrol. Lagian, yang aku lihat toko kamu masih sepi."


"Kamu nggak ngajar Mas?"


"Aku lagi cuti dulu Amira. Karena mau ketemu kamu."


Amira diam. Amira tidak tahu, apa yang mau Farhan bicarakan. 


"Kita masuk aja ya mas. Kita bicara saja di dalam. Nggak enak kalau kita bicara di pinggir jalan seperti ini."


"Iya Amira."


Farhan dan Amira kemudian masuk ke dalam toko. Amira mengajak Farhan duduk di belakang toko. 


"Duduk Mas."


Farhan mengangguk. Dia kemudian duduk di dekat Amira duduk. 


"Laila sekolah ya?" 

__ADS_1


Amira mengangguk. "Iya Mas."


"Aku sebenarnya pengin ketemu Laila sih. Tapi nggak apa-apa kalau aku ketemunya sama kamu."


"Iya Mas." 


Farhan mengambil uang lima ratus ribu dari dalam dompetnya. 


"Ini uang lebihan gaji aku Amira," ucap Farhan sembari meletakan uang itu di atas meja. 


"Uang gaji kamu untuk apa?"


"Iya. Aku tahu, uang itu nggak seberapa. Tapi aku minta kamu terima ya, itu nafkah untuk Laila. Aku tahu, kita sudah bercerai dan kita sudah menjadi mantan. Tapi Laila itu tetap anak kandung aku. Dan aku masih punya kewajiban untuk menafkahinya."


Amira tersenyum. 


"Alhamdulillah kalau kamu sudah sadar Mas."


Amira diam, saat melihat Farhan. Dia  terlihat sedih saat bicara dengan Amira. Mata Farhan sudah mulai berkaca-kaca. Air mata itu sudah berkumpul dan menggenangi pelupuk mata Farhan. 


"Mas, kamu kenapa?" tanya Amira.


"Zia sudah meninggal Amira. Dan ibu kemarin jatuh dari kamar mandi. Dan sekarang ibu sudah nggak bisa apa-apa Amira."


Hiks…hiks…hiks…"


Amira terkejut saat mendengar ucapan Farhan. 


"Apa! Zia meninggal? inalilahi wa innailaihi rojiun kapan Mas?" 


"Sudah satu minggu yang lalu Amira," jawab Farhan sembari mengusap-usap air matanya. 


"Terus ibu? kapan dia jatuh?" 


"Tadi sore Amira. Dan ibu nggak bisa jalan. Mungkin tulang di kakinya ada yang patah."


"Kenapa kamu ngga bawa ibu ke rumah sakit?"


"Ibu nggak mau Amira. Kamu kan tahu, kalau ibu itu takut sama dokter dan suntik." 


"Terus kamu biarkan ibu begitu saja?" 


"Nggak Amira. Aku ajak ibu ke tukang urut."


"Terus, ibu sama siapa di rumah?" 


"Mas Galih panggil tetangga untuk merawat ibu. Dan Mas Galih yang akan membayar tetangga itu."


"Oh. Semacam perawat lansia gitu ya mas."


"Iya. Tapi untungnya ada tetangga yang baik mau merawat ibu dan mau bantu-bantu beres-beres rumah dan masak."


"Syukurlah kalau begitu."


"Mas, mending kamu ambil aja uang kamu untuk berobat ibu. Kenapa kamu harus berikan ke Laila."


"Nggak apa-apa Amira. Ambil saja. Aku masih punya uang kok "


"Kamu yakin Mas?"


"Yakin Amira."


"Terus Zia kenapa dia bisa meninggal mas?"


"Di rumah sakit jiwa, Zia itu nggak mau makan. Dia semakin kurus semakin kurus dan akhirnya meninggal."

__ADS_1


"Inalillahi wa innailaihi rojiun. Yang sabar ya mas."


"Iya Amira."


__ADS_2