
"Farhan, kita belum selesai bicara," ucap Galih.
Farhan mengernyitkan alisnya.
"Duduklah dulu. Nggak usah buru-buru masuk ke dalam!" Galih menyuruh Farhan untuk duduk kembali di tempat duduknya semula.
"Tapi saya mau lanjutin masak Mas," ucap Farhan.
Galih tersenyum.
"Lanjut masak? kamu mau masak apa? kan ada ibu di dalam. Biarkan ibu saja yang masak. Duduklah!" pinta Galih.
"Baiklah."
Farhan kemudian duduk kembali di tempat duduknya semula. Dia kemudian menatap Galih lekat.
"Mas Galih mau bicara apa?" tanya Farhan penasaran.
"Kamu yakin saat ini kamu lagi nggak punya uang sepeserpun. Atau uang kamu sudah kamu kasihkan ke istri baru kamu?" tanya Galih.
Farhan terkejut saat mendengar ucapan Galih. Dia tidak menyangka kalau kakaknya akan menanyakan soal itu.
Farhan tampak bingung untuk menjawab pertanyaan dari kakaknya.
"Sebenarnya uang gaji aku, kemarin aku kasihkan ke istri baru aku Mas. Tapi cuma sedikit kok yang aku kasihkan. Dan uang yang aku pegang sekarang, untuk cadangan sampai satu bulan ke depan," ucap Farhan menjelaskan.
Galih tersenyum kecut.
"Farhan, Farhan, gaya banget sih kamu punya dua istri. Seharusnya kamu berhenti ngasih uang ke Zia. Karena kebutuhan Amira itu lebih penting dari pada kebutuhan Zia."
"Tapi Zia juga istri aku Mas. Dan dia juga sama-sama butuh uang. Karena kakeknya sakit, dia juga butuh uang untuk membelikan obat kakeknya, butuh uang juga untuk belanja. Sama seperti Amira."
"Ya suruh Zia kerja dong. Jangan cuma ngandelin kamu yang gajinya tak seberapa itu."
"Aku kan kepala keluarga. Nggak mungkin lah aku nyuruh istri-istri aku kerja. Selama ini aku juga selalu melarang Amira kerja."
"Farhan, aku rasa kalau kamu nggak sanggup menafkahi dua istri, ceraikan saja salah satunya Farhan. Entah Zia atau Amira."
Farhan terkejut saat mendengar ucapan kakaknya. Dia tampak marah saat mendengar kakaknya bicara seperti itu. Karena Farhan sama sekali tidak menginginkan adanya perceraian dalam rumah tangganya.
__ADS_1
"Apa maksud Mas Galih?" tanya Farhan menatap tajam ke arah Galih.
"Maksud aku kamu ceraikan saja Zia atau Amira. Kamu pilih saja salah satunya kalau kamu keberatan untuk membiayai hidup mereka berdua. Seharusnya poligami itu, kalau kamu sudah punya banyak harta, agar kamu nggak kesusahan seperti ini. Seharusnya kamu itu sediain uang untuk kontrol Amira. Bukan malah ngutang ke aku."
"Mas Galih kenapa sih? tadi katanya mau minjamin aku uang. Kenapa jadi bicara seperti ini dan marah ke aku," ucap Farhan yang sudah tampak kesal meladeni ucapan Galih.
"Aku cuma nasihati kamu aja Farhan. Nggak ada niat apa-apa. Kalau cuma uang satu juta aku juga ada. Aku pasti akan pinjamin kamu uang. Nggak usah khawatir," ucap Galih sembari menepuk-nepuk bahu Farhan.
Farhan diam. Dia masih tampak berfikir.
Sebelum dia menikah dengan Zia, toko elektronik milik Farhan sangat maju. Farhan bisa meraup keuntungan minimal lima juta perbulan.
Jika ramai, Farhan akan mendapatkan keuntungan kelipatannya. Bahkan omsetnya sampai lima belas juta perbulan.
Uang lima belas juta di kampung Farhan, adalah uang yang besar. Dan hidup Amira, Fauzan dan Laila, tidak pernah kekurangan waktu itu.
Mereka bahkan sering banget bersedekah ke orang-orang miskin dan anak-anak yatim.
Keluarga Farhan selama ini juga dibilang keluarga yang sangat harmonis. Karena jarang terjadi percekcokan di antara Farhan dan Amira.
Namun sejak hati Farhan berpaling ke wanita lain, entah kenapa semuanya jadi berubah.
"Mas, sebelum Fauzan meninggal. Toko aku itu ramai dan laris banget. Dan aku bisa mendapatkan keuntungan banyak dari hasil toko itu. Bahkan satu bulan bisa sampai lima belas juta. Tapi, aku nggak tahu kenapa setelah kepergian Fauzan toko aku malah jadi sepi banget begini. Aku juga ditimpa musibah yang bertubi-tubi seperti ini, dan sekarang Amira lumpuh," keluh Farhan.
"Mungkin itu karma buat kamu, karena kamu sudah menyia-nyiakan Amira," ucap Galih sekenanya.
"Apa! karma? karma apanya Mas? Siapa yang udah nyia-nyiain Amira. Aku nggak pernah nyia-nyiain Amira. Aku sekarang aja masih ada di sini ngerawat Amira. Kalau aku nyia-nyiain Amira, mungkin aku tidak akan ada di sini untuk merawat dan ngurusin dia Mas, mungkin aku sudah pergi dari kehidupannya Amira. Atau bahkan aku sudah menceraikan dia," ucap Farhan kesal. Karena sejak tadi kakanya selalu menyudutkan dia.Dan Farhan sama sekali tidak mau disalahkan.
Amira yang sejak tadi duduk di ruang tamu meneteskan air matanya, saat dia samar-samar mendengar perbincangan kakak beradik itu di teras depan rumahnya.
Farhan dan Galih sejak tadi enak saja ngobrol, tanpa mereka ingat kalau Amira masih ada di ruang tamu.
Jadi, uangnya Mas Farhan, sudah diberikan untuk Zia. Dan dia mau minjam beneran ke Mas Galih untuk bawa aku ke rumah sakit besok. Dan toko juga lagi sepi sekarang. Kenapa semua jadi seperti ini ya Allah, batin Amira.
****
Di dapur Bu Aminah masih berkutat memasak bersama cucunya. Tidak terasa, waktu saat ini sudah menunjukkan jam sepuluh pagi.
Setelah semua masakan matang, Bu Aminah dan Laila buru-buru menyajikan masakan itu di atas meja makan.
__ADS_1
"La, Abi kamu masak sendiri terus setiap hari ya?" tanya Bu Aminah sembari meletakan sayur sop di atas meja makan.
"Nggak kok Nek. Biasanya kami dapat jatah makan dari Nek Rahayu. Nek Rahayu setiap pagi datang ke sini membawakan sarapan untuk kami," ucap Laila yang sejak tadi masih membantu neneknya menyiapkan makanan di atas meja makan.
"Oh. Begitu. Terus hari ini Nek Rahayu nggak bawain kamu makanan?" tanya Bu Aminah.
"Nek Rahayu lagi pergi Nek," jelas Laila..
"Pergi ke mana La?"
"Pergi kondangan ke luar kota sama Tante Novi."
"Oh. Berangkat kapan?"
"Baru kemarin sore Nek."
"Jauh ya?"
"Jauh Nek. Tapi katanya mereka mau nginap tiga hari di sana."
"Laila nggak ikut?"
"Nggak lah. Siapa nanti yang mau jagain Umi. Aku mah, sekarang udah nggak percaya sama Abi lagi. Sejak malam itu Abi ninggalin Umi."
Bu Aminah menghentikan aktifitasnya. Setelah itu dia menatap Laila lekat.
"Kenapa dengan Abi kamu?" tanya Bu Aminah.
"Susah Nek, bilang ke Abi. Hampir setiap malam, dia ninggalin Umi sendiri."
"Ninggalin gimana?'
"Abi sering diam-diam pergi ke tempatnya Mbak Zia. Tanpa izin dari aku atau Umi."
Bu Aminah terkejut saat mendengar ucapan Laila.
"Apa! Abi kamu sering diam-diam pergi ke rumah Zia dan ninggalin Amira?"
Laila menganggukan kepalanya.
__ADS_1