Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Teman-teman Laila.


__ADS_3

Siang ini, Laila sudah keluar dari sekolahnya. Dia berjalan ke parkiran untuk mengambil sepedanya.


"Laila tunggu...!" seru seorang anak perempuan menghampiri Laila.


Laila menoleh ke arah Riri teman sekelasnya. Laila tersenyum saat melihat Riri.


"Riri, ada apa?" tanya Laila.


"Aku boleh nggak ikut kamu pulang ke rumah kamu?"


Laila mengernyitkan alisnya.


"Ikut pulang?"


"Iya La. Rencananya aku dan teman-teman mau jengukin ibu kamu. Waktu ibu kamu kecelakaan, kita belum sempat jengukin ibu kamu," ucap Riri menjelaskan.


"Oh."


Beberapa saat kemudian, empat orang teman perempuan Laila menghampiri Laila dan Riri.


"Laila, kami mau main ke rumah kamu. Boleh nggak?" tanya salah satu dari mereka.


Laila tersenyum.


"Boleh. Tapi..."


"Tapi kenapa La?" tanya Evi teman yang satunya lagi.


"Ibu aku lagi kontrol ke rumah sakit. Nggak tahu pulangnya sampai kapan. Kemarin aja pulangnya lama."


"Ya nggak apa-apa. Kita akan tungguin. Iya nggak teman-teman."


"Iya dong," ucap teman-teman Laila kompakan.


"Ya udah deh, kalau mau main. Ayo..."


Laila dan ke lima temannya kemudian rombongan naik sepeda sampai ke rumah Laila.


Setelah sampai di depan rumah Amira, Laila dan teman-temannya memarkirkan sepedanya.


"Ibu aku lagi ke rumah sakit teman-teman. Sepertinya ayah dan ibu aku itu belum pulang. Tapi mungkin sebentar lagi mereka pulang," ucap Laila pada teman-temannya.


"Ya udah, nggak apa-apa. Kita tungguin aja. Iya kan teman-teman."


"Iya."


Laila turun dari sepedanya. Setelah itu dia menyuruh teman-temannya untuk masuk ke dalam rumahnya.


***


Amira dan Farhan masih berada di dalam perjalanan pulang ke rumah mereka.


Farhan sejak tadi masih menatap Amira. Sejak pulang dari rumah sakit, Amira lebih banyak diam.


Farhan melihat ada yang berubah dalam diri Amira. Farhan sampai saat ini tidak tahu, kenapa Amira jadi lebih banyak diam dari pada bicara.


"Amira, kenapa kamu diam aja dari tadi? ada yang lagi kamu fikirkan?" tanya Farhan.

__ADS_1


"Aku nggak lagi mikirin apa-apa kok Mas. Aku cuma nggak suka aja kamu bawa Zia ke rumah aku," ucap Amira.


"Oh, jadi kamu lagi mikirin soal semalam. Maaf Amira, aku nggak tahu kalau kamu keberatan menerima kehadiran Zia di rumah kamu."


Amira menatap Farhan tajam.


"Mas, aku udah ngizinin kamu nikah lagi, tapi tolong dong, kamu hargai aku. Kamu peka sedikit dong dengan perasaan aku. Aku nggak suka kamu ngajak Zia ke rumah aku."


Farhan tersenyum. Dia kemudian meraih tangan Amira dan menggenggamnya erat.


"Baiklah. Aku janji, aku nggak akan bawa Zia ke rumah kamu lagi. Maafin aku ya sayang."


"Semalam ibu nelpon Mas. Dia nanyain kamu."


"Nanyain aku? terus kamu bilang apa?"


"Aku bilang kamu nggak ada di rumah. Karena semalam kan kamu udah pergi ke rumahnya Zia."


"Ibu ada perlu apa ya nelpon aku."


"Dia nggak ada perlu apa-apa kok. Dia cuma mau tanya kondisi aku aja, sekalian pengin ngomong sama kamu. Tapi kamu nya nggak ada, ya udah ibu nggak jadi ngomong sama kamu."


Beberapa saat kemudian, mobil yang ditumpangi Farhan dan Amira sudah sampai di depan rumahnya.


Farhan turun dari mobilnya. Begitu juga dengan sopir yang ada di depan. Dia juga ikut turun.


Sopir itu membantu Farhan menurunkan kursi roda Amira. Tanpa butuh waktu lama, Farhan menggendong Amira dan mendudukan Amira di kursi roda.


"Pak Ridwan, makasih ya untuk tumpangannya," ucap Farhan.


Farhan mengeluarkan amplop yang berisi uang untuk Pak Ridwan tetangganya yang sudah mengantar mereka ke rumah sakit.


"Duh Pak Ridwan, aku jadi nggak enak. Terima aja Pak Ridwan. Ini untuk jajan anaknya," ucap Farhan sembari menyodorkan kembali amplop itu.


"Nggak usah. Ambil aja Pak Ustadz buat Mbak Amira atau buat Laila."


"Pak Ridwan, ambil aja Pak. Nggak apa-apa," ucap Amira. Dia merasa tidak enak pada Pak Ridwan.


"Nggak usah Mbak Amira. Buat Mbak Amira aja. Saya ikhlas kok membantu kalian. Lagian sama tetangga, saya nggak mau perhitungan. Selama ini juga kalian kan nggak perhitungan sama saya."


Amira tersenyum.


"Ya udah kalau begitu ya Pak Ridwan. Makasih banget untuk kebaikannya," ucap Amira.


"Iya Mbak Amira. Kalau begitu saya permisi pulang dulu ya Pak Ustadz."


Pak Ridwan kemudian masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia melajukan mobilnya pergi


meninggalkan rumah Farhan.


Setelah Pak Ridwan pergi, Farhan kemudian mendorong kursi roda Amira.


Sebelum masuk rumah, Farhan menatap ada beberapa sepeda yang terparkir di depan rumahnya.


"Sepeda siapa itu Mas," ucap Amira.


"Itu seperti sepeda Laila. Apa jangan-jangan, Laila bawa teman-temannya ya ke rumah Mi."

__ADS_1


"Nggak tahu. Coba kita lihat ke dalam."


"Ayo."


Farhan kemudian mendorong kursi roda Amira sampai ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," ucap Laila dan Farhan bersamaan .


"Wa'alakiumsalam," ucap Laila dan ke lima sahabatnya.


Amira tersenyum saat melihat ke lima anak itu.


"Kalian temannya Laila?" tanya Amira.


"Iya Bu."


Farhan tersenyum.


"Abi tinggal masuk ke dalam dulu ya Mi. Umi di sini aja temani mereka."


"Iya Mas."


Farhan kemudian masuk ke dalam rumah. Sementara Amira di ruang tamu menemui teman-teman Laila.


Ke lima teman Laila bangkit dari duduknya. Setelah itu mereka satu persatu mencium tangan Amira.


"Umi nya Laila, bagaimana kondisinya?" tanya Riri salah satu teman Laila yang ikut main ke rumah Laila.


"Yah, seperti yang kalian lihat. Kondisi Umi seperti ini," ucap Amira.


"Uminya Laila nggak bisa jalan ya?" tanya teman Laila yang satu lagi yang bernama Dini.


"Iya."


"Sakit ya Umi?" tanya Evi teman yang satunya lagi sembari menatap kakinya Amira.


Amira melebarkan senyumnya. Amira bahagia, saat melihat teman-teman Laila begitu perhatian padanya.


"Sebenarnya kami ke sini pengin jengukin Uminya Laila. Tapi kami belum punya waktu. Karena tugas sekolah kami banyak," ucap Riri.


"Tugas apa aja?" tanya Amira menatap ke lima anak itu bergantian.


"Tugas banyak. Ada membuat kerajinan tangan berkelompok, matematika, dan masih banyak lagi," ucap Evi melanjutkan.


"Yah, namanya juga sekolah. Umi juga dulu pernah sekolah. Apalagi Umi kan SMP juga udah ada di pesantren. Malah lebih banyak tugasnya di pesantren dari pada di sekolah di kampung sendiri," ucap Amira menceritakan semua pengalamannya pada Zia.


"Yang benar Uminya Laila?" tanya Evi.


"Iya."


"Aku jadi takut masuk pesantren. Padahal ibu aku nyuruh aku masuk ke pesantren setelah lulus SMP nanti. Tapi katanya di pesantren itu banyak ya tugasnya," ucap Evi lagi.


"Iya. Apalagi hafalannya juga banyak. Tapi membuat kita tertantang lho," ucap Amira.


"Pas Umi ceritain pengalamannya di pesantren, aku juga takut mondok," ucap Laila.


"Tapi kata Umi aku, setelah lulus SMP, aku mau di masukin pesantren," lanjut Laila.

__ADS_1


"Ya bagus dong, biar bareng sama aku," ucap Evi.


"


__ADS_2