
Satu minggu kemudian, acara pernikahan Gus Farid dan Amira akhirnya akan di laksanakan. Gus Farid beserta keluarga besarnya saat ini sedang menunggu penghulu di mesjid.
Begitu juga dengan tamu undangan beserta keluarga besar Amira. Mereka pun sejak tadi masih menunggu di mesjid. Sementara Amira sang pengantin wanita, belum tampak ada di sana.
Galih, Farhan dan Bu Aminah juga sudah tampak hadir di acara pernikahan Amira, karena mereka juga di undang ke acara pernikahan itu.
Sementara Laila, tidak ada di tempat itu. Entah dia, akan menghadiri pernikahan itu atau tidak. Mungkin dia masih bersembunyi atau belum hadir di acara itu.
Galih dan Farhan sejak tadi masih berada di depan mesjid. Menunggu Gus Farid dan Amira mengesahkan pernikahan mereka.
Beberapa saat kemudian, calon mempelai wanita datang. Amira yang sudah tampak cantik dengan gaun pengantinnya, di gandeng Bu Rahayu untuk masuk ke dalam mesjid.
Galih dan Farhan hanya bisa menatap Amira dari kejauhan.
Farhan tersenyum saat melihat mantan istrinya itu tampak cantik. Dia jadi teringat kembali masa-masa indahnya saat-saat pengantin baru dulu. Saat ini, Farhan hanya bisa mengenang kenangan-kenangan indahnya bersama Amira.
Namun, tidak ada tampang sedih di wajah Farhan. Hanya ada senyum bahagia saat melihat mantan istrinya melintas dihadapannya.
Karena hati Farhan saat ini memang sedang bahagia. Dia bahagia, karena bisa hadir di acara pernikahan Amira dengan Gus Farid.
Farhan bahagia, karena Amira sudah mendapatkan seorang lelaki yang punya akhlak yang mulia seperti Gus Farid.
Sayang, kamu sangat cantik sekali. Aku bahagia sayang, karena aku sudah bisa melihat pernikahan kamu dengan lelaki pilihan kamu. Aku bahagia melihat kamu bahagia. Mungkin setelah ini, aku akan jauh lebih tenang untuk meninggalkan kamu. Kamu sudah berada di tangan orang yang tepat sayang. Semoga kamu dan Gus Farid bahagia dan rumah tangga kamu, akan langgeng sampai kakek nenek, batin Farhan.
Di sisi Farhan berdiri, Galih meneteskan air matanya. Namun dia buru-buru mengusapnya dengan kasar.
Walau Galih sudah tahu sejak dulu, kalau Amira mau menikah dengan Gus Farid, namun sampai detik ini, Galih belum bisa melupakan Amira.
Hatinya sebenarnya sangat hancur saat dia ikut hadir di acara pernikahan Amira. Namun dia paksakan untuk hadir di acara pernikahan itu. Karena dia tidak enak, dia sudah mendapatkan undangan dari orang tua Amira.
Berbeda dari Farhan, saat ini wajahnya tampak berseri-seri. Mungkin ini adalah terakhir kalinya dia akan melihat Amira.
Farhan sudah lama menyembunyikan penyakitnya dari orang lain termasuk menyembunyikan penyakitnya dari Bu Aminah, Laila, dan Amira. Saat ini, hanya Galih yang tahu penyakit Farhan.
Sejak Farhan divonis mengidap penyakit kanker otak stadium akhir, dia mencoba untuk berbuat baik pada orang lain. Seperti membahagiakan Laila dan Amira di sisa-sisa umurnya.
Setiap hari, dia datang menemui Laila dan Amira untuk memberikan mereka dukungan, memberikan mereka nasihat, memberikan apa yang Farhan punya untuk Amira dan Laila. Farhan ingin menebus semua kesalahannya pada Amira di sisa-sisa umurnya.
Setelah mengakui semua kesalahannya, Farhan bertaubat dengan taubatan nasuha. Berharap Allah akan memberikan dia ampunan. Dan Farhan yakin, kalau semua orang sudah memaafkannya termasuk Amira, Laila dan ke dua orang tua Amira.
Karena Farhan sudah mencoba berbuat baik pada mereka semua terutama pada Bu Rahayu orang yang sangat membencinya.
__ADS_1
Setelah semua orang berkumpul di dalam mesjid, penghulu pun kemudian menikahkan Amira dengan Gus Farid
"Saya nikahkan saudara Farid Abdurahman dengan Amira binti Muhammad Husen, dengan mas kawin satu gram cincin berlian dan seperangkat alat sholat di bayar tunai…"
Bruughgh…
Semua orang terkejut saat melihat Farhan terjatuh di lantai. Begitu juga dengan Galih dan Bu Aminah.
"Farhan…" seru Bu Aminah sembari menghampiri Farhan.
Ya Allah Farhan, kenapa dengan dia, batin Galih yang ikut mendekat ke arah Farhan.
Amira dan Gus Farid juga ikut mendekat ke arah di mana Farhan jatuh.
"Mas Farhan, kamu kenapa Mas?" tanya Amira tampak panik. Dia melihat wajah Farhan sangat pucat. Sepertinya kondisi Farhan saat ini sedang sangat lemah. Padahal tadi dia kelihatan sehat.
"Bawa dia ke rumah sakit," ucap Gus Farid.
Beberapa saat kemudian, Farhan mengerjapkan matanya. Dia meraih tangan Gus Farid dan menggenggam tangan Gus Farid dengan erat.
"Gus, sa-saya ti-tidak mau di… ba-wa ke ru-rumah sakit. Sa-ya bahagia Gus, melihat ka-kamu dan Amira menikah,"
"Sa-saya bi-sa me-ninggalkan A-mira dengan te-nang, ka-re-na sa-ya su-dah yakin, ka-mu lah o-rang yang pa-ling tepat untuk bersan-ding de-ngan Amira Gus. To-tolong ja-jaga Amira dan Laila dengan ba-ik Gus, sa-yangi me-reka, cintai me-mereka, ja-jangan pernah sa-kiti mereka. Ka-karena Amira dan Laila, a-dalah permata hatiku," ucap Farhan dengan terbata-bata.
Amira menangis di sisi mantan suaminya. Dia tidak tahu apa maksud Farhan berkata seperti itu .
"Mas, kamu tidak akan pernah meninggalkan kami Mas. Kamu jangan bicara macam-macam Mas," ucap Amira. Dia sejak tadi masih menangis. Merasa prihatin dengan kondisi mantan suaminya.
"Mmaass Ga-lih, ibu, ma-maafkan aku… ka-karena a-aku ti-tidak bisa ber-sama ka-kalian la-lagi. La-laiila…"
Farhan tiba-tiba saja mencari keberadaan Laila. Beberapa saat kemudian, Laila mendekat ke arah Farhan.
"Abi.. Abi kenapa? Abi kenapa bisa seperti ini. Ayo Abi, kita ke rumah sakit, Laila nggak mau terjadi apa-apa sama Abi," ucap Laila. Dia sudah menangis sesenggukan di depan Farhan.
Laila menatap orang-orang yang sejak tadi hanya bisa jadi penonton.
"Kenapa kalian diam saja! Ayo bantu angkat tubuh Abi. Ayo angkat Abi dan tolong bawa Abi aku ke rumah sakit. Kenapa kalian hanya menonton saja…!" seru Laila yang sudah meninggikan nada suaranya.
"La-ila, Abi sa-yang sa-ma Laila. Laila ja-jangan na-ngis ya," ucap Farhan.
Tangan Farhan mencoba meraih wajah Laila untuk menghapus air mata Laila. Namun tangannya sudah melemas dan tangan Farhan akhirnya ambruk di lantai di sertai nafas Farhan yang sudah mulai tidak beraturan.
__ADS_1
Farhan menggelengkan kepalanya tanda dia tidak mau di bawa ke rumah sakit, saat mendengar Laila yang sejak tadi meminta agar ada yang mau membawa Abinya ke rumah sakit.
Tadi Farhan masih lancar bicara. Namun setelah nafasnya sudah mulai tidak beraturan, Farhan diam. Hanya matanya saja yang sesekali membeliak dan menatap ke atas.
Farhan sudah tidak mengenali siapa pun lagi dan sudah tidak bisa bicara. Hanya suara desahan kecil dari mulutnya yang sejak tadi terdengar.
Galih menangis saat melihat adiknya. Galih memang sudah punya firasat dari kemarin kalau adiknya akan pergi untuk selamanya.
Galih sudah tahu sejak lama dengan penyakit yang di derita adiknya. Namun Galih merahasiakan semua itu dari orang-orang karena keinginan Farhan.
Farhan tidak mau membuat orang-orang khawatir termasuk orang-orang yang dicintainya seperti Laila, Bu Aminah, dan Amira.
Gus Farid dan Galih mencoba untuk membacakan kalimat syahadat di dekat telinga Farhan. Berharap Farhan mau mengikuti ucapan mereka.
"Laaillahaillallah," ucap Gus Farid dan Galih.
"La…illa…ha…illallah…"
Gus Farid dan Galih tersenyum kecil saat mendengar ucapan syahadat keluar dari mulut Farhan
Setelah membaca kalimat itu, Farhan pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan ucapan terakhir membaca kalimat syahadat.
Semua orang terkejut saat melihat Farhan. Sepertinya Farhan sudah meninggal. Semua orang, ikut meneteskan air matanya.
"Inalillahi wa innailaihi rojiun…"
Tubuh Laila tiba-tiba saja ambruk dan mengenai tubuh Gus Farid. Gus Farid dengan terpaksa menopang tubuh Laila dengan tangannya.
"Mas Galih, Laila pingsan. Tolong Mas, angkat dia dan bawa ke rumah belakang. Biar aku dan orang-orang yang akan mengurusi jenasah Mas Farhan."
Galih mengangguk. Dia kemudian mengangkat tubuh Laila dan membawanya ke rumah yang ada di belakang mesjid.
Amira menangis. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Abinya Laila. Amira kemudian mendekati Bu Aminah.
"Ibu, kenapa dengan Mas Farhan. Kenapa dia bisa meninggalkan kita secepat itu. Padahal yang aku lihat dari kemarin Mas Farhan itu baik-baik saja. Dia sehat kan Bu?"
"Ibu juga nggak tahu, cuma belakangan ini, Farhan jadi lebih dekat dengan Galih. Mungkin Galih tahu sesuatu. Atau Farhan selama ini memang menyembunyikan sesuatu dari kita semua."
Hiks…hiks…hiks.
Bu Aminah dan Amira menangis dan saling memeluk sembari sesekali mereka menatap tubuh Farhan yang sudah tidak bernyawa.
__ADS_1