
"Ih..." Zia tiba-tiba saja mendorong tubuh Novi yang membuat Novi terjatuh ke tanah.
Zia sepertinya tidak terima dengan ucapan Novi yang mengatainya pelakor.
Novi bangkit berdiri. Setelah itu dia mengusap-usap bajunya yang kotor.
"Berani sekali kamu dorong aku," ucap Novi geram. Novi tidak bisa terima dengan perlakuan Zia. Dia kemudian membalas Zia dengan menjambak kerudung Zia.
Amira membelalakkan matanya saat melihat pertengkaran Novi dan Zia.
"Ih, malu-maluin aja sih mereka. Kenapa mereka harus berantem di sini coba," ucap Amira sembari menatap ke sekeliling. Dia malu jika saja ada orang yang melihat Novi dan madunya berantem di depan rumahnya.
Laila juga terkejut saat melihat Novi dan Zia berantem. Sementara Farhan yang sejak tadi ada di atas pohon juga terkejut saat melihat ke bawah.
Di bawah, istrinya sudah jambak-jambakan dengan adik iparnya.
"Ya Allah Zia. Kenapa mereka malah berantem," ucap Farhan.
Farhan buru-buru menjatuhkan mangga yang di pegangnya. Setelah itu dia turun dari atas pohon untuk melerai pertikaian istri dan adik iparnya.
"Zia, Novi hentikan," ucap Farhan dengan nada tinggi.
Dengan sekejap, Farhan sudah berhasil melerai perkelahian di antara Zia dan Novi.
Zia dan Novi masih saling menatap dengan tatapan tajam. Mereka juga merapikan kerudungnya yang sudah acak-acakan tak beraturan.
Sementara Farhan sudah berada di tengah-tengah mereka berdua.
"Novi, Zia, apa-apaan sih kalian. Kenapa kalian malah berantem di sini. Malu-maluin aja," ucap Farhan sembari menatap Novi dan Zia bergantian.
"Dia duluan Mas, yang mulai. Masa dia ngata-ngatain aku pelakor. Aku nggak terima Mas, di kata-katain pelakor. Aku kan bukan pelakor," ucap Zia.
"Mas Farhan. Tapi dia duluan yang mulai dorong aku. Aku nggak akan nyerang dia, kalau dia nggak nyerang aku duluan. Kalau Mas nggak percaya, Mas bisa tanya langsung sama Mbak Amira dan Laila. Mereka berdua saksinya Mas," ucap Novi yang sama juga tidak mau disalahkan. Dia masih menunjuk Zia dengan jari telunjuknya.
"Jangan percaya sama Novi Mas. Dia duluan yang mulai."
"Nggak. Kamu duluan yang mulai."
Novi dan Zia kembali adu mulut. Farhan bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Mas Farhan, istri kamu gimana sih. Kenapa dia dorong Novi sampai Novi jatuh," ucap Amira sembari menatap Farhan dan Zia tajam.
"Aku dorong Novi karena aku punya alasan Mbak Amira. Dia sudah ngata-ngatain aku sembarangan," ucap Zia membela diri. Dia tidak mau di salahkan oleh siapapun, walau yang pertama kali mendorong Novi itu Zia.
__ADS_1
"Kalau kalian datang ke sini, hanya untuk cari ribut dan cari gara-gara, mendingan sekarang kalian berdua pergi dari rumah aku!" ucap Amira dengan nada tinggi.
Amira yang sudah merasa malu, mengusir Farhan dan Zia dari rumahnya.
Sebenarnya Amira juga kesal saat Farhan membawa Zia ke rumahnya. Karena pertengkaran Zia dan Novi, membuat Amira punya alasan untuk mengusir Farhan dan Zia dari rumahnya.
Farhan menatap Amira tajam.
Amira kenapa, dia kenapa jadi marah banget sama aku dan Zia. Apa gara-gara pertengkaran tadi Amira marah, batin Farhan.
Zia menatap Farhan lekat. Dia kemudian mendekat ke arah Farhan.
"Mas, baju kamu kotor Mas," ucap Zia sembari mengusap-usap baju Farhan yang kotor. Sepertinya Zia ingin memamerkan kemesraannya dengan Farhan pada Amira.
Farhan kemudian membersihkan tubuhnya yang kotor itu dengan tangannya.
Ih, menyebalkan sekali Mas Farhan dan Zia ini, geram Amira dalam hati.
Amira menatap Laila.
"La, antar Umi masuk ke dalam La. Umi pusing kalau pagi-pagi harus melihat keributan di depan rumah, ucap Amira.
Laila mengangguk. Dia kemudian mendorong kursi roda Amira sampai masuk ke dalam rumah.
"Nov, makasih ya Nov, untuk mangganya," ucap Farhan sebelum pergi.
"Mas Farhan, kenapa sih harus repot-repot banget panjat pohon. Beli mangga di toko buah juga kan banyak. Ngga modal banget sih, pengin mangga sampai panjat-panjat mangga orang."
"Iya Nov. Lain kali Mas mau beli mangga di toko buah."
Novi menatap tas baju yang ada di atas motor.
"Mau ke mana Mas, seperti mau pindahan," ucap Novi.
"Iya. Aku mau ngajak Zia untuk tinggal di rumah ibu aku. Karena aku nggak tega membiarkan Zia sendiri di rumah kakeknya dalam keadaan hamil."
"Oh..." ucap Novi yang hanya bisa ber'oh ria.
Setelah mendapatkan dua buah mangga, Farhan dan Zia kemudian naik kembali ke atas motor. Setelah itu merekapun meluncur pergi meninggalkan rumah Amira.
"Zi, kenapa sih. Kenapa kamu harus berantem sama Novi," ucap Farhan di sela-sela mengendarai motornya.
"Mas, tapi kan dia duluan yang mulai. Masa dia ngatain aku pelakor. Kan aku nggak terima Mas."
__ADS_1
"Tapi Zi, nggak gitu juga kan caranya. Malu-maluin Zi."
"Tapi mas, aku kan cuma mau bela diri. Apa aku salah. Aku nggak terima kalau Novi ngata-ngatain aku sembarangan."
"Ya kamu diam aja. Bisa kan. Biarin aja Novi mau bilang apa. Yang penting dia nggak nyakitin fisik kamu."
"Kamu nyuruh aku diam. Aku nggak bisa dong Mas, diam aja. Dia sudah merendahkan harga diri aku. Aku ini kan istri kamu Mas, seharusnya kamu belain aku tadi. Kenapa kamu diam aja sih."
"Aku malu Zi sama tetangga. Tadi ada kan tetangga yang lihatin. Kalau aku tahu kamu mau berantem sama Novi, aku nggak akan pernah bawa kamu ke rumah Amira Zi. Benar apa kata Novi, tadi mending aku beliin kamu mangga di toko buah dari pada aku harus susah payah panjat pohon. Mana pada gatel semua lagi."
"Gatel?"
"Iya. Tadi banyak semut Zi, di atas."
"Ya udah, nanti kamu mandi lagi aja kalau kita sudah sampai di rumah ibu."
Sembari mengendarai motornya, Farhan sesekali menatap ke arah jam tangannya.
"Udah jam setengah delapan. Udah telat aku Zi, masuk ke sekolah. Seharusnya jam tujuh aku sudah sampai ke sekolah."
"Ya siapa suruh ngajak aku ke rumah ibu pagi-pagi. Kan nanti sore bisa."
"Ya maksud aku kan sekalian aku berangkat ke sekolah. Jadi nggak bolak-balik. Kalau aku pulang ngajar kan, aku bisa langsung pulang ke rumah ibu. Kalau di sana udah ada kamu."
"Iya sih."
Beberapa saat kemudian, motor Farhan sudah sampai di depan rumah Bu Aminah.
Farhan dan Zia turun dari motornya.
Farhan mengambil tas bajunya dan membawa tas itu ke teras depan rumah ibunya. Sementara Zia masih menatap dan memperhatikan pohon mangga yang ada di depan rumah ibu mertuanya.
"Ini ada pohon mangga. Tapi mangganya masih kecil-kecil banget," ucap Zia.
Farhan menatap ke arah Zia dan melambaikan tangannya.
"Zi, sini. Kamu kenapa masih berdiri aja di situ."
Zia menatap ke arah suaminya. Setelah itu dia mendekat ke arah Farhan.
Setelah berada di depan rumah Bu Aminah, Farhan kemudian mengetuk pintu dan mengucap salam.
"Assalamualaikum."
__ADS_1