
Farhan menghentikan laju motornya setelah dia sampai di depan rumahnya. Setelah memarkirkan motornya, Farhan membuka helemnya. Setelah itu dia turun dari motornya dan membawa helm itu masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Farhan.
Tidak ada sahutan dari dalam rumah Farhan. Sore ini rumah Farhan tampak sepi. Mungkin Galih sedang pergi, dan Bu Aminah mungkin lagi ada di belakang.
Sesampainya di ruang tengah, Farhan menghempaskan tubuhnya dan duduk di atas sofa. Farhan kemudian meletakkan helemnya di atas meja ruang tengah. Saat ini Farhan sangat lelah, dengan perjalanan panjangnya tadi pagi.
Di saat Farhan mau membuka sepatunya, Farhan terkejut saat melihat ada tetesan darah di pergelangan tangannya.
"Astaghfirullahaladzim, apa ini," ucap Farhan sembari mengusap setetes darah yang ada di pergelangan tangannya itu.
Farhan yang menyadari hidungnya berdarah, langsung mengambil tisu yang ada di atas meja. Setelah itu Farhan pun mengusap-usap darah yang ada di hidungnya itu dengan tisu.
"Duh, aku kenapa mimisan ya. Apa karena aku terlalu capek," ucap Farhan.
Beberapa saat kemudian, Bu Aminah menghampiri Farhan. Dia terkejut saat melihat hidung Farhan berdarah.
"Farhan, kamu kenapa?" tanya Bu Aminah sembari buru-buru mendekati anaknya.
Bu Aminah kemudian duduk di dekat Farhan.
"Farhan, hidung kamu berdarah, apa yang sebenarnya terjadi, apa kamu habis berantem?" Bu Aminah tampak khawatir dengan kondisi Farhan.
Farhan tersenyum.
"Aku nggak apa-apa kok Bu. Lagian, siapa juga yang berantem. Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa mimisan begini."
Bu Aminah yang merasa khawatir dengan Farhan meraih tangan Farhan. Tangan Farhan terasa sangat dingin. Wajah Farhan juga terlihat pucat.
"Farhan, wajah kamu pucat, tangan kamu juga dingin banget. Ibu buatin teh hangat ya untuk menghangatkan tubuh kamu"
Farhan tersenyum.
"Nggak usah Bu. Aku bisa buat sendiri kok. Ibu kan baru sembuh dari sakit, aku nggak mau ngerepotin ibu."
"Nggak apa-apa Farhan. Ibu nggak merasa direpotin kok. Kamu itu sepertinya lagi kurang sehat ya Nak," ucap Bu Aminah.
"Iya Bu. Mungkin aku kelelahan. Habis perjalanan jauh," ucap Farhan.
Bu Aminah terkejut saat tiba-tiba saja Farhan memegangi kepalanya.
"Aduh kepala aku," ucap Farhan.
"Farhan, kamu kenapa?" tanya Bu Aminah khawatir.
"Nggak tahu bu. Sakit banget kepala aku," ucap Farhan yang sejak tadi masih memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Farhan, dari kemarin-kemarin kamu sering sekali sakit kepala. Kenapa kamu tidak coba untuk ke rumah sakit. Untuk periksa ke dokter," ucap Bu Aminah mengusulkan.
"Nggak usah Bu. Nggak usah khawatirkan aku. Aku yakin, ini cuma sakit kepala biasa kok," ucap Farhan.
"Farhan, kalau kepala kamu sakit, jangan di biarkan saja. Kamu harus periksa ke dokter. Biar kamu tahu apa penyakitnya."
"Nggak usah khawatirkan aku bu. Aku udah biasa kok kayak gini. Nanti juga sembuh sendiri kok."
"Tapi Farhan, kondisi seperti ini, jangan dibiarkan terus menerus. Ibu takut dengan kondisi kamu Farhan."
"Bu, percayalah Farhan tidak apa-apa."
Farhan bangkit dari duduknya.
"Kamu mau ke mana Farhan?" tanya Bu Aminah.
"Aku mau ke kamar Bu. Aku capek pengin istirahat."
"Ya udahlah, sana kalau kamu mau istirahat."
Tanpa banyak bicara, Farhan pun kemudian berjalan untuk ke kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Farhan duduk di atas tempat tidurnya.
"Duh, kenapa dengan kepala aku. Akhir-akhir ini, aku sering banget sakit kepala," ucap Farhan.
Di ruang tengah, Bu Aminah masih bengong. Dia masih mengkhawatirkan Farhan. Tidak biasanya Farhan seperti itu. Dan yang Bu Aminah lihat, semenjak Farhan kehilangan anaknya, dan Zia gila, Farhan jadi semakin kurus saja. Mungkin itu semua karena Farhan banyak fikiran.
"Assalamualaikum," ucapan salam dari luar rumah mengejutkan Bu Aminah dari lamunannya.
Beberapa saat kemudian, Galih masuk ke dalam ruang tengah. Dia mendekat ke arah ibunya dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah.
"Bu, lagi ngapain Bu," tanya Galih. Dia kemudian mencium punggung tangan ibunya.
"Ibu nggak ngapa-ngapain kok."
"Kamu dari mana Nak?" tanya Bu Aminah.
"Aku nggak dari mana-mana kok. Tadi aku ke rumah Yudi sebentar "
"Oh..."
"Motor aku sudah ada di depan. Apa Farhan sudah pulang Bu?" tanya Galih.
"Iya. Barusan Farhan pulang."
Galih menatap ibunya lekat.
"Ibu kenapa? ada masalah?" tanya Galih yang melihat ibunya tampak berbeda.
__ADS_1
Bu Aminah menatap Galih lekat.
"Adik kamu, si Farhan," ucap Bu Aminah
"Kenapa dengan Farhan?"' tanya Galih.
"Tadi dia keluar darah dari hidungnya. Terus kepalanya juga kesakitan. Ibu nggak tega melihatnya," ucap Bu Aminah menuturkan.
Galih terkejut saat mendengar ucapan ibunya.
"Apa! hidung Farhan keluar darah? Yang benar Bu? Farhan sakit?"
"Ibu juga nggak tahu. Ibu takut terjadi apa-apa sama Farhan. Yang ibu lihat, semakin hari, badan Farhan semakin kurus."
Galih tampak berfikir.
"Kenapa ya dengan Farhan, nggak biasanya dia seperti itu."
"Ibu takut, Farhan lagi mengidap sesuatu penyakit yang serius."
Galih terkejut saat mendengar ucapan ibunya.
"Bu, jangan nakut-nakutin gitu Bu. Kita doain saja Mudah-mudahan Farhan baik-baik aja. Dan dia cuma sakit biasa aja."
"Iya. Makanya tadi ibu nyuruh Farhan periksa. Biar dia tahu penyakitnya. Tapi Farhannya nggak mau."
"Mungkin dia nggak punya duit Bu."
Bu Aminah menatap Galih lekat.
"Galih, kalau kamu punya uang, tolong nanti kamu antarkan Farhan periksa ke dokter. Ibu takut terjadi apa-apa sama Farhan Galih."
"Iya Bu. Insya Allah. Nanti aku akan pinjami Farhan uang untuk periksa. Aku nggak pernah perhitungan kok sama Farhan. Karena dia itu adik aku satu-satunya."
"Kalau mau hitung-hitungan, sebenarnya Farhan itu hutangnya udah banyak banget sama aku. Sejak dia dan istrinya tinggal di sini kan, entah berapa kali dia ngutang ke aku dan nggak mau bayar," lanjut Galih.
Bu Aminah memegang bahu Galih.
"Galih, Farhan itu saudara kamu satu-satunya. Kalau nggak ada Farhan, kamu nggak akan punya siapa-siapa Galih. Walau bagaimanapun juga, Farhan itu tetap adik kamu. Dan kamu harus tetap menyayanginya. Apalagi sekarang dia lagi terpuruk. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa menguatkannya."
"Iya Bu. Aku tahu itu. Sekarang mana Farhannya?" Galih menatap ke sekeliling.
"Tadi dia masuk ke kamar, kepalanya sakit katanya," jawab Bu Aminah.
"Ya udahlah, ibu juga kan baru sembuh. Ibu nggak usah terlalu banyak fikiran. Kita berdoa saja, mudah-mudahan keluarga kita akan selalu diberikan kesehatan dan keberkahan."
"Amin."
__ADS_1
Galih kemudian bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun berjalan untuk ke kamarnya.
****