Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Tangis seorang ibu


__ADS_3

Amira terkejut saat mendengar ucapan Farhan. Amira kemudian mencekal ke dua tangan Farhan dan menyingkirkan ke dua tangan dari wajahnya.


"Maksud Abi apa?" tanya Amira menatap Farhan lekat.


"Maksud Abi, kalau Abi punya dua istri, jika salah satu istri Abi ada yang sakit seperti ini, istri yang satu kan bisa untuk merawat dan menemani kalau Abi lagi kerja. Kalau Umi seperti ini, nanti Abi bisa suruh Zia untuk merawat Umi," ucap Farhan menjelaskan.


"Apa! Zia?" Amira terkejut saat Farhan menyebut nama wanita itu.


"Iya. Abi akan ajak Zia untuk tinggal di rumah kita. Untuk menemani dan menjaga Umi di rumah selama Abi kerja.


Amira menghela nafas dalam. Bukannya senang Amira malah tambah kesal dengan suaminya. Farhan memang benar-benar suami menyebalkan dan tidak pernah peka terhadap perasaan istrinya.


"Kamu mau ngajak Zia ke rumah kita Mas? aku nggak setuju Mas," ucap Amira.


"Kenapa?" Farhan menatap Amira lekat.


Kenapa, dia bilang? kenapa sih, lelaki ini nggak pernah peka dengan perasaan aku. Wanita mana coba yang sanggup hidup seatap dengan madunya. Apa Mas Farhan sudah gila, mau mencampur aku dengan Zia dalam satu atap," batin Amira.


Farhan tersenyum.


"Ya udah, kalau Umi nggak setuju. Abi juga nggak akan maksa. Biarkan saja Zia tinggal di rumah kakeknya. Kalau nggak, ya nanti Zia aku ajak aja untuk tinggal di rumah ibuku."


"Terserah kamu lah Mas. Aku memang mengizinkan kamu menikah lagi, tapi aku tidak mengizinkan kamu membawa istri baru kamu tinggal denganku. Di rumah kita."


****


Siang ini, sebuah mobil sudah terparkir di depan rumah ustadz Farhan. Setelah dokter sudah membolehkan Amira pulang, akhirnya Amira pun pulang dengan mobil sewaan Farhan.


Farhan turun dari mobil itu. Dia kemudian berjalan membuka pintu mobil untuk istrinya.


Seorang lelaki juga ikut turun dari mobil. Sepertinya dia adalah orang yang punya mobil itu. Dia juga mendekat ke arah Farhan dan ikut membantu Farhan untuk menurunkan Amira dari mobil.


Lelaki itu menurunkan kursi roda Amira. Setelah itu Farhan membopong tubuh Amira dan mendudukkannya di atas kursi roda itu.


Sebelum masuk ke dalam rumah, Farhan menatap Pak Darto si pemilik mobil.


"Pak Darto, makasih banyak ya untuk mobilnya," ucap Farhan.


Pak Darto tersenyum.


"Iya Ustadz Farhan. Sama-sama."


Farhan mengambil dua lembar uang ratusan dan memberikannya ke Pak Darto.


"Terimalah Pak Darto uang ini. Saya cuma punya uang segini untuk sewa mobil."


Pak Darto tersenyum.


"Duh, banyak sekali ustadz. Nggak usah banyak-banyak. Lima puluh ribu aja udah cukup kok, untuk ganti bensin."


"Nggak apa-apa Pak Darto. Ambil aja."


"Jangan ustadz. Nggak usah. Saya ikhlas membantu ustadz kok."


"Duh, saya jadi nggak enak Pak Darto."


Farhan mengambil dompetnya. Dia kemudian mengambil uang lima puluh ribuan.


"Ini buat uang bensin. Ambil lah. Jangan di tolak. Nggak baik nolak rezeki."


Pak Darto tersenyum.


"Makasih banyak ya ustadz."

__ADS_1


"Iya. Sama-sama."


"Saya bawakan tasnya ya ustadz."


"Iya Pak Darto."


Farhan kemudian mendorong kursi roda Amira sampai masuk ke dalam rumah. Sementara Pak Darto, ikut membawakan tas Farhan sampai ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," ucap Farhan dan Amira bersamaan.


Laila dan Novi mendekat ke arah Amira. Mereka tampak bahagia menyambut kedatangan Amira.


Amira menatap ke sekeliling.


"Fauzan...! Fauzan..!" seru Amira.


"Di mana Fauzan. Kenapa rumah sepi banget begini," ucap Amira.


Farhan, Laila, dan Novi saling menatap. Mereka bingung untuk menjelaskan pada Amira kalau Fauzan sudah meninggal.


Amira menatap Laila dan tersenyum.


"Di mana Fauzan Laila?" tanya Amira.


Laila diam. Di bingung untuk menjawab. Laila mengalihkan pandangannya ke Pak Darto. Dia kemudian mendekati Pak Darto.


"Pak Darto, ini tas Umi ya?" tanya Laila.


"Iya."


"Sini mau Laila bawa ke kamar" Laila mengambil tas yang ada di tangan Pak Darto.


"Ya udah, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Di mana Fauzan Bi! apa dia lagi ada di rumah ibu? kenapa Uminya pulang, Fauzan tidak di ajak menyambut Uminya," ucap Amira.


Amira nampaknya sudah sangat merindukan Fauzan. Walaupun sekarang dia tahu kondisinya saat ini. Dia tidak mungkin bisa menggendong Fauzan untuk beberapa waktu yang lama.


"Amira, kita duduk dulu yuk di sana. Aku akan jelasin semuanya," bisik Farhan di dekat telinga Amira.


Amira hanya mengangguk


Farhan kemudian melanjutkan mendorong kursi roda Amira sampai masuk ke ruang tengah.


Setelah itu, Farhan pun menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Begitu juga dengan Novi dan Laila. Mereka juga ikut duduk berbaur bersama Farhan dan Amira.


"Amira, kamu harus kuat ya Amira, kamu harus sabar" ucap Farhan tiba-tiba.


Amira mengernyitkan alisnya. Dia tidak mengerti dengan ucapan suaminya.


"Amira, sebenarnya Fauzan itu sudah tidak ada bersama kita lagi."


"Maksudnya?" tanya Amira.


"Amira, Fauzan itu sudah meninggal," ucap Farhan menjelaskan. Dia tidak akan mungkin membohongi Amira terus menerus.


"Apa!" Air mata Amira luruh seketika itu juga saat mendengar ucapan Farhan.


"Nggak mungkin Mas. Ini semua nggak mungkin. Fauzan nggak mungkin meninggal. Kamu kan yang bilang kalau Fauzan di rumah baik-baik saja dan dia menyusu dengan susu formula."


"Tapi, Fauzan memang sudah meninggal. Dia meninggal setelah kecelakaan itu Mi." Farhan kembali menegaskan.

__ADS_1


Hiks...hiks..hiks...


"Jadi, selama ini kalian semua udah membohongiku. Kenapa kalian tega sama aku. Hiks...hiks..."


"Maafkan Abi ya Mi. Karena Abi sudah membohongi Umi,"ucap Farhan sembari menggenggam tangan Amira.


"Maafkan Novi juga ya Mbak. Novi juga udah ikut membohongi Mbak,"ucap Novi.


"Aku juga minta maaf ya Umi. Kami sebenarnya nggak bermaksud membohongi Umi. Tapi kami tidak mau Umi tambah sedih," ucap Laila.


Semua orang memang sudah kompak tidak akan memberi tahu Amira sampai kondisi Amira membaik.


"Tapi tidak seharusnya kalian membohongi aku seperti ini. Kalian jahat banget sih, udah bohong sama aku. hiks...hiks...hiks .."


Amira sudah tidak bisa membendung lagi tangisannya. Dia menangis sesenggukan di depan suami, adik dan anaknya.


Ring ring ring...


Beberapa saat kemudian, deringan ponsel Novi terdengar. Novi segera mengangkat panggilan dari ibunya


"Halo Bu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam. Nov, bagaimana Amira, sudah sampai belum ke rumah?"


"Udah Bu. Baru aja nyampe. ibu mau ke sini? sekarang Mbak sudah ada di rumahnya. Kami sekarang ada di ruang tengah."


"Baiklah. Ibu mau ke sana sekarang."


"Iya Bu. Kami tunggu ya Bu "


"Iya."


"Mau sama bapak juga Bu ke sininya?"


"Bapak kamu masih di sawah. Dia belum pulang."


"Oh, ya udah. Ke sini sendiri aja Bu."


"Amira nya lagi ngapain sekarang?"


"Lagi..."


"Lagi apa?"


"Duh, pokoknya ibu lihat sendiri aja deh"


"Ya udah, ini ibu mau jalan ke sana."


"Iya Bu. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam."


Novi kemudian memutuskan saluran teleponnya. Setelah itu dia menatap Farhan.


"Siapa Nov?" tanya Farhan.


"Dari ibu."


"Bilang apa dia?"


"Katanya dia mau ke sini."


"Oh..."

__ADS_1


__ADS_2