
Dinegara A disana dimana Sentoso merasa menang karena telah merenggut kebahagiaan keluarga Tn.Albert dan ia berhasil membawa kembali Maya kedalam kehidupannya meskipun maya sudah tak berdaya lagi tubuhnya kurus ringkih, raut wajah yang begitu sayu, setelah ia tahu bahwa kayla juga dibunuh maya sangat prustasi dan stress dengan kenyataan hidupnya.
"Maya ayolah sayang jangan menyiksa diri seperti ini..."
Sentoso mendekati maya yang sedang termenung dihadapan nampan makanannya sudah beberapa tahun semenjak ia tahu bahwa Kayla putri satu-satunya meninggal maya seperti hidup tapi mati.
Sudah beberapa kali ia mencoba melakukan bunuh diri tapi Sentoso berhasil menggagalkan nya luka sayatan berkali-kali maya lakukan dinadi nya tapi nasib buntung atau berutnung belum mau berpihak kepadanya.
"Kenapa kau tidak bunuh aku sentoso bunuh saja aku.. aku sangat membencimu, sangatt.."
Maya menatap benci lelaki yang ada didepannya itu.
"Bagaimana mungkin sayang, aku menunggu bertahun-tahun untuk masa-masa bersama nu ini dan berharap kau bisa menerima ku"
Sentoso mendekati maya dan duduk disampingnya.
"Aku sudah mati bersama dengan jiwa anak dan suamiku yang kau renggut paksa"
Bentak Maya marah dan membanting nampan makanan yang ada didepannya sehingga membuat lantai berserakan.
"Owww kau semakin kasar sayang... ayolah Maya aku tidak ingin melihat mu begini ku mohon terima aku kali ini dulu kau sudah memberikan ku harapan lalu .. lalu kamu membunuhku secara perlahan aku janji akan memberikan mu semuanya"
Sentoso mencoba menyentuh lengan maya dan menenangkannya.
"Lepaskan...!!!! lepaskan aku... kembalikan anakku kayla kembalikan suamiku mas Albert .... aaahkkk Kayla anakku, dimana kamu nak.. Kaylaaa... Kaylaa mama disini nak kayla ... hikss hikss ka--yla hiks hiks hiks" Maya menangis histeris dan menarik-narik rambutnya sehingga membuat rambutnya banyak tercabut ditangannya ia terus melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya seolah ia ingin mengakhiri nyawanya sendiri dengan tangannya.
Sentoso terdiam melihat maya meraung menangis memanggil-manggil nama Kayla dan Albert sejujurnya isi hatinya Sentoso merasa iba dan kasihan dengan kondisi maya begini namun rasa egois dalam hatinya lebih besar sehingga membutakan mata hatinya.
"Urus dia"
Sentoso keluar dari kamar maya dan meminta pelayan memberikan maya suntik penenang karena hanya dengan begitu maya bisa tenang dan tidur.
Sentoso berjalan keluar ia bertemu dengan orang yang bertugas menyelidiki keberadaan Zoy karena Sentoso tahu saat itu Albert pergi bersama zoy orang kepercayaannya dan menurut penyelidikan orang kepercayaan sentoso jenazah zoy tidak ditemukan saat mereka mencarinya dijurang dan besar kemungkinan lelaki itu selamat.
__ADS_1
"Bagaimana?"
Sentoso mengambil cerutu nya dan mengisapnya dengan pelan dan duduk disofa mewahnya.
"Kami menemukan informasi terbaru Tuan.."
"Apa itu..?"
"Kami menemukan lokasi nya tuan tapi kami tidak tahu apakah pastinya itu ia atau bukan karena hanya ada beberapa data saja yang mirip"
"Hemmmm, selidiki cepat dan jangan menunda lagi jika benar itu dia maka habisi cepat dan bawa semua harta serta rebut semua daerah kekuasaan gengster/mafia miliknya"
Sentoso dengan senyum liciknya memerintah.
"Albert ternyata kau tidak sebodoh yang ku kira"
Ucap sentoso dengan tawa gelegarnya sampai-sampai membuat ia tersedak tembakau mahal miliknya itu.
**
Langkah kaki tegap dan tegas zevia mengiringi langkah kaki mereka semua berbeda dengan zevia adiknya calta justru terlihat begitu terluka langkah kaki pelan gontai namun pasti ia lakukan berpegangan dengan tangan kekar Black untuk menyeimbangkan langkah kakinya.
"Aahhk, hikss hikss ayah aku datang.."
Isak calta seolah ia begitu merindukan sosok ayahnya yang begitu baik, tegas dan penyayang.
Akhirnya mereka tiba disana dimana makam yang masih baru bahkan buket bunga mawar saja masih begitu segar harum semerbak menyeruak hidung calta duduk disamping makam zoy dan menyiramkan air mawar yang ia bawa khusus dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi mulusnya ia mengusap batu nisan yang bertuliskan Zoy Calvata.
"Ayah, kak zee sudah ketemu dan ia sudah bersama ku... Ayah tenang saja aku akan tenang bila kak zee bersama ku aku yakin ia akan menjaga ku sepenuh jiwanya ... hikss.. hikss seperti janjinya sama ayah waktu itu.."
Tak bisa dijelaskan bagaimana haru dan pedihnya suasana disitu air mata black ikut mengalir melihat pusara sahabat karibnya itu hanya nama yang tersisa kebaikan Zoy yang begitu besar kepadanya membuat black mengabdikan diri kepada keluarga itu.
Zevia berdiri tegak disamping calta dengan kacamata hitam bertengger dihidung mancungnya serta kepalan tangan yang begitu kuat Zevia tidak ingin menatap makam ayah angkatnya itu rasa sakit dihatinya membuat matanya terasa panas dan hatinya membara.
__ADS_1
"Kak.."
Calta bangun dari duduknya dan menyentuh tangan zevia.
"Ayo kita pulang"
Entah berapa lama zevia termenung sampai-sampai calta mengajaknya pulang, zevia menoleh menatap calta dan tangannya menghapus air mata adiknya yang masih tersisa di pelupuk matanya.
"Kalian duluan saja tunggu dimobil aku ingin disini sebentar.. Hanya sendiri"
Calta dan black mengangguk mengerti maksud zevia ia ingin waktu yang intim dengan ayah angkatnya itu hanya berdua.
Tanu berdiri mematung tepat di belakang zevia.
"Ayo.. biarkan dia sendiri"
Ajak Black namun tanu tidak ingin meninggalkan zevia sendirian disana.
"Tapi..."
"Ayo, biarkan dia sendiri"
Ajak black dan akhirnya tanu mengikuti langkah kaki calta dan black pelan meskipun ia berat hati meninggalkan zevia disana sendiri ia takut terjadi hal buruk dengan gadis es itu.
"Tenang saja nak, zevia anak yang kuat ia tidak seperti yang terlihat"
Black menyeletuk dari depan seolah ia tahu bahwa pemuda tampan itu sedang mengkhawatirkan zevia.
"Ehh, emmm iya tuan"
Jawab tanu gelagapan saat mendengar ucapan black.
"Next Episode"
__ADS_1
Heii hoo semua,,, Gimana ceritanya asik gakk... Ehh jan jangan membosankan yaa..
Hemmm kalau gitu jangan lupa buat saran nya yaa, biar kalau ada kesalahan author bisa mengerti dan belajar.. Like, love dan votenya yaa :) :)