
*Kanada*
"Iya aku sudah sarapan" Calta terlihat sibuk menyiapkan diri untuk masuk kembali ke universitas setelah libur panjang namun libur kali ini tidak kembali ke Indonesia.
"Kamu siap memulai kehidupan perkuliahan lagi setelah libur panjang" Tanya Zevia dari seberang sana, 5 tahun sudah kepergian Calta untuk melanjutkan kehidupan sendiri di negara orang, tidak mudah memulai kehidupan sendiri Calta harus memulai membiasakan diri kembali sebab ia memilih tinggal sendiri dirumah baru mereka yang dibelikan tn.Albert.
"Tentu saja siap, lihat lah cantikkan" Calta berdiri di hadapan kamera ponselnya dan memamerkan style nya kepada sang kakak.
"Calta apa-apa kamu disana musim dingin kenapa memakai baju kaos saja, ayo ganti" Protes Zevia saat melihat sang adik memakai baju koas tipis sedangkan saat ini disana sedang musim dingin.
"Tenang saja kak, aku tidak merasa kedinginan" Jawab Calta ngeyel.
"Baiklah, kalau begitu bulan depan kami tidak akan ke sana mengunjungi mu,," Ancam Zevia.
"Hahh gak bisa gitu dong, iya deh nih aku ganti.. " Tak bisa menolak permintaan kakak kesayangannya akhirnya ia mengganti busananya memakai jaket tebal layaknya pakaian musim dingin.
"Begini" Ia kembali memperlihatkan pakaiannya kepada sang kakak.
"Begitu lebih baik" Puas Zevia sembari tersenyum lebar.
"Baiklah kak aku berangkat dulu ya" Pamit Calta kepadanya sembari melambaikan tangannya kepada Zevia yang memperhatikan dari dalam layar ponselnya.
"Hemm, God bless you sweetie" Balas Zevia, sungguh ia merindukan adiknya itu setahun berpisah tanpa pernah bertemu membuatnya harus menahan kerinduan yang dalam.
"Ayah.." Ucap Zevia saat tn.Albert menghampirinya dan duduk disampingnya, 3 tahun terakhir dan tahun ke 4 sang ayah sudah full menjalani pengobatan sehingga akhirnya tn.Albert dan ny.Maya berhasil melewati masa sulitnya meskipun tidak seperti dahulu namun kondisi tn.Albert dan sang istri saat ini cukup baik itu semua berkat ketelatenan Zevia merawat kedua orang tuanya sampai ia harus merelakan diri tidak melanjutkan kuliah karena harus menjaga kedua orang tuanya.
Sebenarnya ada suster khusus yang merawat orang tuanya namun Zevia tidak bisa mempercayai siapapun terlebih untuk menjaga kedua orang tuanya, tidak ingin terulang kehilangan orang yang ia sayangi meskipun sembuh tn.Albert harus berjalan dibantu tongkat untuk menyeimbangkan langkahnya.
"Kamu baik-baik saja sayang" Tn.Albert duduk disamping sang putri yang nampak sedikit murung.
"Tentu saja aku baik ada ayah dan ibu disampingku" Jawab Zevia sumringah ia langsung memeluk sang Ayah dan mencium pipinya.
"Kamu merindukan Adikmu ya" tn.Albert mengusap puncak kepala anak gadisnya itu.
"Tentu saja, aku sangat merindukannya ayah" Jawab Zevia dengan mata berkaca-kaca.
"Bulan depan kita bisa berangkat, apalagi kondisi ibumu sudah sangat membaik jadi kita bisa berkumpul lagi" ucap Tn.Albert dan disetujui oleh Zevia dengan antusias.
*
"Lama sekali.."
" kamu yang datangnya kepagian" Balas Calta kepada lelaki berkacamata itu.
"Hemm, yasudah silahkan tuan putri"
"Lebai ah, malu tau" Wajah Calta merona menatap lelaki tampan disampingnya kini sedang memasangkan safety belt untuknya.
"Kamu kenapa wangi sekali" Calta mengendus tubuh Coel yang wanginya menyengat.
"Ah tidak juga aku hanya menyemprotkan 15 kali saja parfum yang kamu berikan kemaren" Balas Coel sembari ikut mengendus bajunya yang memang wangi.
"What the uhh hampir saja berkata kasar maksudnya 15 kali semprot, Coel kamu pakai parfum atau mandi parfum" Ucap Calta tak percaya akan penuturan Coel.
"Aku wangi begini kan biar kamu senang" Ia memberikan pembelaan kepada dirinya sendiri, perjalanan mereka menuju kampus cukup jauh di dalam mobil keduanya bersenda gurau kadang menceritakan pengalaman masing-masing selama liburan sekolah.
"Oiya Coel, bagaimana kondisi abang mu dan Ibu" Calta penasaran bagaimana nasib lelaki yang pernah ia sukai dahulu sebelum ia tahu bahwa sang kakak juga menyukainya.
"Hemm, seperti biasa babe, ia selalu menyendiri ditemani sad vibesnya.. Aku merasa kasihan kepadanya kondisinya tidak bisa ku sebut baik, kondisi ibu tidak baik sayang kejadian beberapa tahun silam membuat kondisi ibu semakin memburuk" Jawab Coel namun tetap fokus mengemudi.
"Kenapa mereka harus sama-sama keras kepala yaa,, kalau saling mencinta harusnya katakan saja.. Bagaimana jika ibu keindonesiaan saja dirawat disana siapa tahu ia bisa merasa tenang" Calta mencoba memberi saran.
__ADS_1
"aku akan mencoba bicara dengan kak Tanu dan semoga saranmu bisa membantu kondisi keduanya membaik" anggukan Calta menandakan ia setuju akan perkataan lelaki yang dulu musuh bebuyutannya namun kini menjadi orang yang selalu menemaninya 1 tahun terakhir ini.
"Thanks babe" Balas Calta sembari membalas genggaman tangan Coel yang hangat, keduanya terlihat sangat bucin dan bahagia.
"Flashback"
Hari itu keberangkatan Calta dari Indonesia, dengan modal nekat ia berangkat sendiri meskipun terbiasa hidup di Kanada sedari kecil namun ini pertama kalinya ia pergi tanpa sang kakak Zevia bukan tanpa sebab Zevia harus tinggal untuk mengurus semua pengobatan kedua orang tuanya mengingat trauma besar masih membuat Ny.Maya kadang terkena Panik Attack dan itu membuat kondisinya sering kali menurun semenjak Zevia ada disisinya berangsur-angsur kondisi ny.Maya mulai membaik begitu juga sang Ayah tn. Albert ia menjalani beberapa kali operasi untuk membantunya bisa berjalan dan beberapa kali operasi itu semuanya berjalan dengan baik meskipun tidak seperti dahulu namun kondisi tn. Albert bisa dikatakan baik ia mampu berjalan sendiri tanpa kursi roda lagi meskipun harus dibantu tongkat mengingat jua usianya memang tak muda lagi.
Hari itu Zevia dengan berat melepaskan kepergian sang Adik, air mata yang sedari tadi ia tahan dirumah akhirnya runtuh juga saat ia melepaskan sang adik berangkat ke negara orang sendiri meskipun disana ada Paman Black namun ia tetap merasa khawatir.
"Kak tidak mau titip salam untuk kak Tanu" Bisik Calta ditelinga Zevia.
"Sudahlah jangan membahas hal itu, aku harus fokus mengurus ibu dan ayah.. Kamu sekolah yang baik ingat semua pesan ku" Balas Zevia dengan wajah tersenyum meskipun kita tahu hatinya sedang menangis.
Setelah kepergiaan Calta ia sering terpikirkan tentang kondisi Tanu, namun bila teringat lelaki itu pergi tanpa berpamitan dengannya membuat ia merasakan kesal dan amarah, bagaimana tidak setelah semua terjadi ia berhasil menyelamatkan ibu dan adiknya ia malah pergi meninggalkan Zevia tanpa berkata apapun.
"Maafkan aku, aku tidak bisa bersifat egois.. Ayah dan Ibu membutuhkan aku disini" Ucap Zevia dengan lirih.
Kepergian Calta membuat Hari Zevia terasa sunyi biasanya ia dan adiknya itu selalu dihiasi dengan perdebatan yang tidak penting namun ia harus tetap fokus dengan semua pengobatan kedua orang tuanya.
"Meskipun Zevia dibantu beberapa suster namun ia tetap memilih untuk melakukan semuanya sendiri terlebih untuk urusan kedua orang tuanya.
Meskipun Tn.Albert dan ny.Maya meminta Zevia untuk tetap kuliah namun Zevia tetap dengan pendiriannya sehingga mereka hanya bisa menuruti permintaan Zevia untuk private school saja setidaknya ia akan tetap mendapatkan semua ilmu.
namun tahun kedua setelah kondisi kedua orang tuanya membaik karena desakan dan keinginan kedua orang tuanya akhirnya Zevia bersedia untuk melanjutkan sekolahnya ia memilih untuk mengambil jurusan kedokteran meskipun berbeda dengan Calta yang memilih untuk mempelajari ilmu tentang dunia perbisnisan menurut Zevia ia akan lebih mudah untuk merawat kedua orang tuanya jika ia mengetahui semua tentang dunia kesehatan dan kedokteran dan dengan kepintarannya Zevia dapat lulus lebih cepat dari yang diperkirakan menyandang gelar seorang dokter Zevia diharuskan bersifat ramah dan baik kepada siapapun pasiennya meskipun awalnya kesusahan akhirnya Zevia mulai terbiasa untuk tersenyum kepada semua pasiennya. Flashback Off
"Morning sayang" Tn.Albert menghampiri Zevia yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit.
"Morning ayah.." Zevia memeluk dan mengecup pipi sang ayah, 5 tahun berlalu kini sifat hangat Zevia mulai tumbuh kembali.
"Ayah punya hadiah untukmu" Tn.Albert membawa Zevia berjalan menuju halaman depan rumah mereka.
"Oh my God, ayah..." Zevia terkagum melihat mobil yang sangat diimpikan terparkir dihalaman rumah mereka.
"Sebenarnya ini kejutan dari mommy mu dan ayah hanya membantu memilihnya saja" Ucap tn.Albert membawa ny.Maya menghampiri Zevia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sayang.. Terima kasih sudah merawat mommy dan ayahmu dengan baik, kamu benar-benar anak yang baik" Ucap ny.Maya dengan suara bergetar.
"Momm.." Zevia tidak kuasa menahan air matanya ia menghambur kedalam pelukan ny.Maya dan Tn.Albert dengan sesenggukan.
"Zevia hanya menjalankan Tugas sebagai seorang anak, 16 tahun terpisahkan dari kalian membuat separuh hidupku terasa mati tapi kini kebahagiaan Zevia sudah lengkap.
"Sayang apa boleh mommy bertanya" Ucap ny.Maya sembari menatap wajah etnik milik Zevia.
"Hemmm" Zevia mengangguk pelan.
"Kenapa kamu tidak menggunakan nama Kayla saja" Ucap ny.Maya heran sebab sang putri selalu memilih untuk menamai dirinya Zevia.
Lama terdiam Zevia akhirnya membuka suaranya.
"Mom.. Thanks udah ngasi nama Kayla, namun didalam Nama Kayla banyak sekali luka dan kenangan buruk.. Apa tidak boleh kita melupakan saja nama tersebut, aku tidak bisa tenang mendengar nama tersebut hati ku sakit, semua luka kembali menganga jika mengingat bagaimana tragisnya masa kecil Kayla" Ucap Zevia dengan mata berkaca-kaca tidak kuasa menahan rasa sesak di dadanya.
Tn.Albert dan ny.Maya terdiam mendengar penuturan Zevia tidak pernah terpikirkan begitu beratnya kehidupan sang putri dan begitu besar rasa traumatik nya sehingga sampai-sampai ia tidak ingin lagi menggunakan nama masa kecilnya itu.
"Sayang.. Maafkan mommy dan ayah kami tidak bermaksud membuatmu bersedih.. Kami berjanji akan menghilangkan nama tersebut" Ny.Maya mengusap lembut kepala anak sulungnya itu.
*
"Pagi Dokter" Sapa seorang lelaki yang berprofesi sebagai tenaga keamanan di Rumah Sakit TNI AD Cipta Kosumo tempat Zevia berkerja dan mengabdi 1 tahun terakhir ini.
"Pagi" Jawab Zevia ramah dengan senyum kecil membuat laki-laki bernama Ardi itu tersipu dan salah tingkah.
__ADS_1
Zevia segera bersiap-siap untuk menemui pasiennya untuk mengontrol bagaimana kesehatan dan kondisi mereka.
"Suster hari ini siapa-siapa saja yang sudah bisa pulang" Zevia bertanya kepada suster Anita yang merupakan asisten nya juga.
"Menurut hasil cek kesehatan yang tadi sudah saya pantau ada 3 orang dokter dan 1 orangnya baru masuk kemarin malam dan hari ini sepertinya kondisinya sudah stabil dan boleh dirawat jalan.
"Siapa yang baru masuk kok saya tidak tahu" Zevia berdiri menghampiri Suster Anita dan mengambil kertas yang dibawanya.
"Itu biodata nya dok, sewaktu dokter pulang kemarin ibu ini baru masuk dan saya tidak menghubungi dokter sebab jam kerja dokter sudah berakhir" Anita menunjukan nama seseorang.
"Anita meskipun jam kerja saya sudah nerakhir tetapi jika pasien yang masuk adalah pasien say tolong untuk tetap menghubungi saya..
Ny.Sarah, 59 Tahun" Ucap Zevia memberitahukan kepada Anita sembari terus membaca biodata pasien tersebut.
"Baik Dokter, maafkan saya" Sesal Anita.
Zevia agaknya familiar dengan nama itu seperti pernah mendengar nama ini namun terpikirkan lagi ia hari-hari mengurus hampir 100 pasien tiap harinya tentu saja ada nama yang sama.
" kita observasi sekarang saja" Ajak Zevia berjalan duluan diikuti suster Anita sepanjang berjalan di koridor beberapa pasien yang sudah hafal akan wajah cantik Zevia serta sifat ramahnya pasti selalu menyapa duluan.
"Tn. Alex.. Bagaimana kondisi anda" Sapa ramah Zevia kepada Pasien pertamanya yang hari ini akan pulang.. Berbicara dan mendengarkan keluhan dari pasiennya membuat Zevia mengerti dan berpikir bahwa pilihannya menjadi seorang dokter tidaklah salah.
"Baik.. Bapak hari ini boleh pulang tapi jangan lupa 2 hari lagi harus kembali kontrol yaa" Ucap Zevia lembut.
Kemudian tibalah di pasien terakhir.
"Selamat pagi ibu..." Zevia langsung terdiam saat melihat siapa pasiennya tersebut membuat hatinya terasa nyilu namun ia mencoba menahan diri untuk tidak bersifat tidak profesional dan mencoba tetap tersenyum namun anehnya wanita tersebut nampak seperti tidak pernah mengenali Zevia.
"Ibu ini sakit apa Sus" Ucap Zevia dengan suara bergetar bagaimana tidak melihat sendiri kondisi Ny. Sarah yang merupakan ibunya Tanu yang begitu memprihatinkan kan.
"Dok Ny.Sarah ini menderita Demensia Alzheimer karena kondisinya ini ny.Sarah sering menghilang tiba-tiba saja dan yang membuat kondisi nya semakin memburuk Ny.Sarah ini juga menderita Depresi berat yang mengharuskannya untuk mendapatkan penjagaan ketat" Jelas Anita kepada Zevia.
Mendengarkan penjelasan dari Anita membuat Zevia merasa Iba akan kondisi ibunya Tanu tersebut tubuhnya terlihat samat kurus dan tidak terawat.
"Dimana keluarganya sus" Zevia memperhatikan sekitar untuk mencari keluarga Ny.Sarah yang tentu saja sebenarnya orang yang tidak ingin ia temui.
"Saya kurang tahu dok" Jawab Anita.
Membuat Zevia bisa bernafas lega sebab tidak tahu bagaimana caranya untuk bersikap seperti apa jika bertemu dengan Tanu.
.
.
.
.
Akhirnyaaa Episode ini muncul juga..
Maaf ya lama soalnya harus memutar Otak untuk membuat Alur cerita baru namun tetap tidak menghilangkan alur cerita lama.
Terima Kasih sudah bersedia selalu mengingatkan author untuk upload.. Kalian luar biasa ๐ฅฐ๐
Selamat menikmati
.
.
. Jika ada alur cerita yang menurut kalian tidak nyambung tolong beritahu author yaa.. Biar kita sama-sama nyaman membacanya ๐๐๐ค
__ADS_1