MAFIA CANTIK

MAFIA CANTIK
CP.35


__ADS_3

"saya tidak dapat menunggu lagi"


"Anda tidak menepati kesepakatan kita"


"Tapi saya tidak dapat menunggu lagi, keselamatan Ibu dan Adik saya yang utama. apa anda akan bergerak jika ibu dan adik saya sudah tidak bernyawa jika bukan karena ibu dan adik saya, saya tidak akan ambil andil dalam masalah ini"


Tanu mengeraskan rahangnya rasanya sudah tidak mampu lagi ia menahan semua rasa sakit yang ia rasakan.


"Jika Tuan tidak melakukan penyerangan akhir-akhir ini saya akan melakukannya sendiri" Tanu mulai memberanikan diri untuk mengambil keputusan.


"Jangan bodoh Anda, kesalahan kecil saja yang anda lakukan bisa membuat semua rencana ini gagal" Paman Black menaikan oktaf suaranya.


"Lalu saya bagaimana, ibu dan adik saya memerlukan saya. Anda tidak tahu bagaimana kejamnya lelaki itu kepada Ibu. saya yang tahu" Ucap Tanu kesal.


"Lalu anda pikir Zevia juga tidak terluka hm"


"Tuan, asal anda tahu.. Nyonya Maya adalah seorang yang sangat berarti bagi lelaki itu jadi bagaimana mungkin ia akan melukai nya, tapi Ibu saya.. (Menghela Nafas kasar) Ibu saya adalah seorang yang sangat tidak diinginkan olehnya jadi bukan hanya melukainya menghabisi nyawanya saja ia tidak segan" Tanu membalikan tubuhnya membelakangi paman Black dan meninggalkan lelaki paruh baya itu sendiri.


Beberapa saat Zevia memasuki ruangan tersebut wajahnya nampak tidak seperti biasa, ada raut kesedihan yang mendalam diwajahnya terluka dan kecewa menjadi satu.


"Paman" Zevia menduduki kursi di hadapan paman Black yang sedang berpikir keras tentang ucapan Tanu tadi.


"Sebaiknya penyerangan kita lakukan secepatnya"


"Apa" Paman Black mengangkat wajahnya menatap Zevia.


"Apa maksud mu" Sekali lagi paman Black memastikan ucapan Zevia.


"Aku mengatakan bagaimana jika penyerangan dilakukan secepatnya" Zevia memasang wajah seriusnya.


"Tapi...?"


"Paman, aku sangat mengkhawatirkan kan Ibu dan aku mengharapkan bisa secepatnya membebaskan semua penderitaan yang mereka rasakan.


"Mereka" Paman Black menaikan sebelah alisnya menatap Zevia nanar.


"Yaa. Ibu dan adiknya Tahu.. Bagaimana pun semua ini terjadi karena keluarga ku, Ibu dan Adik Tanu tidak akan tertangkap jika bukan karena aku" Zevia merasa bersalah terlebih saat ia mendengar semua ucapan Tanu tadi.


"Kamu mendengarkan pembicaraan tadi" Selidik paman Black.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mendengarkan apapun namun aku merasa jika tidak secepatnya keberadaan kita akan diketahui dan keselamatan kakek George juga akan terancam."


Paman Black terdiam mendengar perkataan Zevia setelah dipikir-pikir ia merasakan bahwa apa yang disampaikan Zevia itu benar mereka tidak boleh menambah daftar korban karena ulah Sentoso.


"Baiklah, malam ini juga kita akan mengadakan rapat penting" Ucap Paman Black.


Zevia merasa lega karena paman Black mendengarkannya paling tidak ini yang ia lakukan untuk membalas semua kebaikan Ibu Tanu yang sudah pernah menolong nya.


Rapat penting pun dilangsungkan semua ikut mendengar semua rencana dan strategi apa yang harus mereka lakukan sampai larut malam pun mereka masih membahas semuanya.


Bagaimanapun semua ini sudah direncanakan bertahun-tahun lamanya jadi Zevia sangat memperhatikan semuanya tidak ingin melepaskan kesempatan membalaskan dendam kedua orang tuanya.


*


"Tuan, saya mendapatkan informasi terbaru.. Mereka akan menyerang dalam waktu dekat"


"Baiklah persiapkan semuanya jangan sampai kita lengah dan kecolongan pastikan semuanya sudah matang dan sempurna"


"Baik Tuan"


"Hem" Lelaki itu memberikan kode untuk pengawalnya pergi.


Kemudian ia menarik menggerakkan kursi rodanya memasuki ruangan private nya dan mulai melakukan sesuatu.


*


"Aku ragu kepada Tanu" Calta mengambil posisi duduk di kasur dan menatap Zevia serius.


"Apa maksudmu" Zevia membalas ucapan Calta sedikit ngegas.


"Begini kak, apa kakak ingat waktu Tanu mengatakan bahwa ia anak sentoso dan berniat membantu kakak.. Apa kakak tidak merasa curiga apa mungkin seorang anak tega membunuh ayahnya sendiri"


Zevia menarik nafasnya kasar mendengar ucapan sang Adik meskipun sebenarnya ia tidak bisa sepenuhnya percaya ucapan Tanu bukan berarti ia akan percaya ucapan Calta.


"Sebaiknya tidak perlu memikirkan hal yang diluar nalar, sekarang tidurlah Calta aku akan keluar sebentar" Ucap Zevia pelan.


"Mau kemana" Calta berniat menemani Zevia.


"Teras belakang, cari angin, kamu tidur saja" Zevia menolak niat Calta menemaninya.

__ADS_1


"Hm, baiklah... Selamat malam kak" Calta memeluk lembut Zevia.


"Malam" Zevia membalas pelukan Calta dan mencium lembut kening adiknya itu.


*


Semilir angin malam menusuk kulit lembut Zevia perkataan Calta tadi membuatnya menjadi kepikiran bagaimana jika yang dikatakan oleh adiknya itu benar dan semua rencananya berantakan.


"Kamu kepikiran ucapan Calta tadi"


Tiba-tiba Tanu sudah berdiri di belakang Zevia.


"Oh ****," Zevia menggeram kesal karena lelaki itu tiba-tiba muncul dan bersuara tanpa ia ketahui.


"Apa maksudmu" Zevia menggeser tubuh nya membiarkan Tanu duduk disampingnya.


"Aku mendengar apa yang dikatakan adikmu tadi" Tanu duduk dan mengedarkan pandangan pada halaman luas dihadapan mereka.


"Kamu menguping" Kesal Zevia.


"Tidak, aku lewat dan tidak sengaja mendengar ucapan Calta" Tanu menatap Zevia dan tersenyum.


Zevia terdiam bagaimana ia bisa lupa bahwa ini rumah kakek George yang terbuat dari kayu dan tidak memiliki peredam suara tentu saja semua ucapan mereka bisa terdengar dengan jelas.


"Emm, tidak aku tidak memikirkan itu dan ya wajar saja ia mengatakan hal itu karena kamu adalah orang yang sangat mencurigakan" Balas Zevia telak membuat tanu hanya bisa menelan bulat-bulat salivanya.


"Aku akan mengatakan kepadamu" Tanu kembali menatap Zevia.


"Mengatakan apa" Meskipun awalnya tidak tertarik dengan kehadiran Tanu di situ namun tidak ada salahnya mendengarkan lelaki itu berucap.


"Aku dan adikku bukan anak kandung Sentoso"


"Hah" Zevia membulatkan matanya menatap Tanu tidak percaya.


"Iya, ibuku seorang Single Parents saat itu aku dan adikku Coel sudah besar dan alm kakek menjodohkan ibu dengan lelaki itu.. Ntah apa yang dipikirkan ibu sehingga ia dengan ringan hati menerima perjodohan tersebut tanpa mencari tahu siapa lelaki itu, aku dan adikku tidak bisa menolak keputusan Kakek sebab ibu pribadi tidak menolak hal tersebut.. Tidak pernah memiliki ayah dan merasakan kasih sayang seorang ayah membuat aku dan adikku berekspektasi terlalu tinggi berharap lelaki itu bisa memberikan apa yang tidak pernah kami dapatkan"


"Sebulan pernikahan ibu, kakek tiba-tiba mengalami serangan jantung dan meninggal dunia.. Disitu lah masa-masa penderitaan yang sesungguhnya terjadi sifat lelaki itu berubah dratis, sewaktu kakek ada ia adalah seorang pria yang sangat baik dan penyayang namun semuanya berubah dalam sekejap mata.


"Hari-hari kami lalui dengan siksaan dan tangis, wajah cantik ibu yang selalu ku kagumi berubah menjadi mengerikan, wajahnya selalu lebam dan terluka.. Sampai-sampai saat itu aku nekat berniat menghabisinya dan membawa ibu serta adikku kabur.. Kami mengira ia akan melepaskan dan melupakan kami tetapi ternyata aku salah ia tetap seorang Sentoso yang kejam yang tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja"

__ADS_1


"Next Episode "


------------_______------------


__ADS_2