MAFIA CANTIK

MAFIA CANTIK
NS.2/CP.4


__ADS_3

"Dokter Zevia ini laporan hasil pemeriksaan kemarin" Anita menyerahkan sebuah dokumen kepada Zevia.


"Hem terima kasih.. Oiya Anita hari ini apakah sudah dijadwalkan pemeriksaan pasien atas nama Ny.Sarah"


"Sudah dok"


"Baik nanti antarkan langsung ke ruangan saya" Pesan Zevia kepada Anita, setelah Anita keluar Zevia membuka berkas tersebut dan mulai membacanya secara spesifik.


"Wo, tolong periksa nomor kendaraan ini.. Dan tolong jangan katakan apapun kepada Markus" Zevia menghubungi orang kepercayaan untuk mencari lebih jelas siapa orang tersebut yang memata-matai kediaman mereka.


"tok..tok"


"Masuk"


Saat Zevia mendongak menatap siapa yang datang ternyata Anita membawa Ny.Sarah beserta Tanu.


"Silahkan duduk" Ucap Zevia dengan ramah sembari tersenyum menatap Ny.Sarah namun ia enggan untuk menatap Tanu.


"Halo Ny.Sarah selamat pagi" Sapa ramah Zevia.


"Pagi dokter cantik" Ny.Sarah menatap Zevia dengan wajah ceria senyum menghiasi bibirnya.


"Ny.Sarah masih ingat saya gak" Zevia mencoba mengetahui daya ingat pasiennya itu.


"Tentu saja ibu mengingat dokter cantik ini, dokter ini kan yang mau jadi menantu ibu" Ucap Ny.Sarah membuat Zevia reflek menatap Tanu dan pandangan keduanya terkunci beberapa detik sampai Zevia kembali memfokuskan diri kepada ny.Sarah.


"Maafkan ibu saya Dokter" Tanu dengan nada bicara yang sangat formal sangat berbeda dengan hari yang lalu mimik wajah Zevia berubah ia yang mengira Tanu akan bersikap seperti awal mereka bertemu namun kali ini sifat Tanu berbeda ia layaknya seperti tidak pernah mengenal Zevia.


"I-iya tidak apa-apa" Jawab Zevia pelan.


Setelah berbincang-bincang soal kesehatan Ny.Sarah akhirnya pemeriksaan selesai juga namun lagi-lagi Zevia dibuat kebingungan dengan sifat Tanu yang agak lain pertemuan kedua mereka ini Tanu lebih bersifat layaknya saat pertama mereka berjumpa dahulu membuat Zevia semakin merasa ada yang tidak beres.


"Permisi tunggu.." Zevia menghentikan langkah Tanu saat ingin keluar dari ruangannya.


"Ya ada apa?" Respon Tanu sangat biasa saja.

__ADS_1


"Saya ingin bicara dengan anda"


"Bukan,, bukan disini.." Tolak Zevia saat Tanu ingin kembali duduk menghadapnya.


"Jam makan siang temui saya di restoran depan rumah sakit ini ada hal penting yang ingin saya tanyakan" Jelas Zevia.


"Baiklah"


Kemudian Tanu pergi begitu saja meninggalkan Zevia sendiri dengan sejuta tanya dibenaknya.


"Gila yaa bertahun-tahun berlalu sifatnya tetap sama, selalu pergi tanpa basa basi.. the Fucking man" Monolog batin Zevia kesal saat menatap punggung Tanu pergi begitu saja.


Setelah jam makan siang tiba Zevia dengan tergesa-gesa mengganti pakaiannya dan keluar namun sebelum keluar Ia kembali berpapasan dengan Anita.


"Wihh kemana dok" Anita dengan full senyum menatap Zevia.


"Makan siang.. Tapi kali ini aku tidak akan mengajakmu" Balas Zevia dengan senyuman tipis.


"Iyaa deh.. Bucin" Anita menggoda Zevia.


"Kamu.. ya" Namun Zevia harus cepat pergi sebelum lelaki itu kembali menghilang.


"Kenapa Nih" Saat keluar dari rumah sakit tiba-tiba ia merasakan detak jantungnya semakin keras bahkan kentara ia dapat mendengar samar suara detak jantung miliknya.


"Hemm.. 6 tahun berlalu tapi detak jantung ini selalu sama setiap kali aku akan bertemu dengan mu" Bisik hatinya tidak bisa dipungkiri senyum mengembang diwajahnya.


Saat memasuki restoran pandangan nya langsung terfokuskan kepada seorang lelaki yang tengah duduk membelakanginya menatap jalanan yang berhadapan langsung dengan rumah sakit itu.


"Ehem" Zevia menghampiri Tanu yang sepertinya sudah lama menunggunya sebab dimeja tersebut sudah ada 1 gelas kosong dan 1 gelas masih berisi setengah minuman.


"Silahkan duduk" Tanu mendongak menatap Zevia dan tersenyum, sesaat Zevia membeku saat bertemu pandang dengan lelaki yang begitu ia rindukan.


"Zevia please sadar.." Bisik Batinnya.


"Oh ya apa yang ingin kamu tanyakan" Tanu langsung menanyakan maksud Zevia yang ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


"gila langsung nanya itu, bukannya nanya kabar atau kondisi.. "


"Baik.. Eh sorry maksud saya.. " zevia menutup mulutnya tak terfokus kan akan pertanyaan Tanu ia duduk dihadapan Tanu dengan perasaan tak menentu.


"Oke-oke santai aja, kita makan dulu.. Aku sudah pesankan makanan.." Tanu tersenyum kecil menatap Zevia yang sudah mati kutu tidak tahu harus berucap apa lagi selain mengangguk setuju.


"Oiya bagaimana kabar mu" Tanu mulai membuka suara.


Zevia langsung membalas tatapannya.


"Baik.. kami semua baik" Balas Zevia pelan.


"Aku bahagia.." Ucap Tanu yang langsung membuat Zevia terdiam mendengarkannya.


"Ohh sorry, maksud ku,, Aku bahagia karena kondisi ibuku sudah membaik terima kasih emmm".. Zevia.. Panggil aja Zevia.


"Iyaa Zevia terima kasih sudah mau memberikan perawatan terbaik untuk ibuku" Ucap Tanu.


"Eemm iya.. Iya kondisi ibu maksudku ny.Sarah sudah cukup stabil.. Tapi aku ingin menemuimu bukan untuk membahas tentang ibumu" Balas Zevia, ia mulai mengubah posisi duduknya menatap Tanu serius.


"Sebenarnya apa tujuanmu kembali ke Indonesia"


Mendengar pertanyaan Zevia, sesaat Tanu terdiam senyum diwajahnya memudar.


"Aku tahu alasan mu ke Indonesia bukan hanya untuk mengobati ibu mu.."


"Zevia maaf, jika kembalinya kami ke Indonesia membuatmu merasa terganggu.. Sumpah tidak ada tujuan lain untukku kembali ke Indonesia selain mengobati ibu dan..."


"Dan apa..?" Zevia menatap Tanu penuh tanya.


"Menemuimu" Zevia langsung terdiam begitu juga Tanu.


Zevia menarik nafasnya panjang dan kasar serta menatap kembali lelaki yang kini ada dihadapannya itu.


"Menemuiku, untuk apa ? Bukankah dahulu kamu dengan senang hati pergi meninggalkan semua setelah tujuan mu tercapai padahal kamu mungkin saja tahu bahwa aku masih membutuhkan mu" Tidak sadar akan apa yang baru saja ia katakan namun setelahnya Zevia langsung menyadari akan ucapannya.

__ADS_1


"Bukan begitu aku memiliki alasan untuk hal itu sebenarnya..."


"Cukup apapun alasannya aku tidak ingin mendengarkan nya.. Terima kasih untuk waktunya" Zevia pergi tanpa mendengarkan penjelasan dari Tanu sejujurnya ia ingin lebih lama duduk dan berbincang dengannya namun ada rasa yang tidak bisa ia tahan dan sembunyikan.


__ADS_2