MAFIA CANTIK

MAFIA CANTIK
NS2/Cp.10


__ADS_3

Sudah 4 hari Zevia tidak pulang ke mansion Albert bukan tanpa alasan ia tidak ingin sang ayah mengetahui semua masalah yang sedang terjadi dan mempengaruhi kesehatan kedua orang tuanya.


Malam semakin larut Zevia masih tak bisa memejamkan mata semua masalah membludak didalam kepalanya.


Zevia menatap nanar ponselnya yang tiba-tiba berdering panggilan dari nomor tak dikenal.


"Zevia Albert mafia psikopat yang menyamar menjadi dokter kau kah itu" Suara tersebut menggema dibalik ponsel


"Sepertinya kau mengenalku dengan baik" Ucap Zevia dengan santai


"Aku tidak mengenalmu tapi aku mengenal baik kelemahan ayahmu" Balas seseorang diakhiri tawa puasnya


"Bajingan brengsek kau" Maki Zevia penuh emosi


"Jurang maut.. aku akan menunggumu malam ini kita selesaikan sekarang aku bosan bermain-main dengan bocah sepertimu" Seseorang langsung mematikan telpon sepihak.


"Jurang maut" Zevia mulai mengingat tempat tersebut kini ia yakin bahwa dibalik semua ini adalah Sentoso hanya ia dan orang-orangnya lah yang tahu tempat tersebut.


"Baiklah kita selesaikan saja malam ini" Ucap Zevia beranjak dari duduknya meraih pistol, mengeratkan ikatan sepatunya, meraih jaket tanpa membawa senjata lain Zevia melaju menggunakan motornya.


1 jam waktu ditempuh Zevia berhasil sampai ditempat gelap dan sunyi tersebut seseorang sudah berdiri membelakanginya seperti memang menunggu kedatangannya.


"Apa maumu" Zevia tanpa gentar menghampiri orang tersebut sembari menodongkan senjatanya


"Loh" Zevia mengerutkan keningnya saat lelaki tersebut memutarkan tubuhnya menghadapnya


"Woh santai saja aku tidak bersenjata" Ucapnya dengan tawa remeh


"Kenapa kau terkejut" Ucapnya dengan santai


"Bukannya"


"Ohh Zevia you really stupid girl.. Kau pikir selama ini" Ucapnya menggantung.


"Siapa kau" Heran Zevia sebab ia tak pernah mengenali orang yang ada di hadapannya saat ini


"Hemmm kau kebingungan bukan.. Pertama kau menuduh bocah bodoh cinta pertama mu itu lalu kemudiaann kau bisa-bisanya mencurigai Markus kekasihmu yang juga tak kalah bodoh itu sangat mudah mengecohkan mu ternyata aku tak perlu bersusah payah" Ucapnya dengan senyum sumringah menatap Zevia.


"Ow benarkah jadi ini permainmu" Balas Zevia dengan seringai serigalanya


"Tentu saja aku siapa lagi yang kau mau.." Ucapnya merasa kali ini berhasil menjebak Zevia


"Ku kira permainan mu akan sangat seru ahh aku sudah hampir turun tangan menyelesaikan ini tapi ternyata hahahahaha kau muncul sendiri" Zevia tertawa renyah sembari menatap remeh lelaki tersebut


"Apa maksudmu" Balasnya membentak marah


"Owww hentikan bentakan kecilmu itu terdengar mengerikan" Remeh Zevia


"Brengsek mulutmu sama kotornya dengan ayahmu" Ucapnya membalas Zevia


"Ck kekanakan sekali baiklah apa maumu" Kini Zevia mulai serius menatapnya melempar jauh pistol yang ada ditangannya

__ADS_1


"Tidak ada yang ku inginkan aku ingin kau, ayah, ibu, adik dan seluruh keluargamu musnah dari muka bumi ini"


"Baiklah kalau begitu aku akan musnah" Balas Zevia santai


"Aku tidak bercanda brengsek.." Bentaknya penuh amarah


"Santai saja tidak perlu emosi" Zevia menatapnya tajam


"Baik kita santai saja kalau begitu" Balasnya diikuti dengan datangnya puluhan orang-orang mengepung tempat tersebut dan mengepung Zevia dengan tenang ia mencoba menguatkan kuda-kudanya mengeratkan tinjunya.


"Pengecut" Cibir Zevia


"Aku ingin melihat bagaimana kemampuan mu" Ucapnya dengan memberikan senyuman jahat dan orang-orang tersebut mulai menyerang Zevia awalnya ia dengan mudah menghadapi semuanya dengan santai namun semakin lama personilnya semakin banyak entah datang dari mana Zevia mulai kewalahan menghadapi semuanya sendiri.


"Lihat begitu saja kah kemampuanmu" Ucap lelaki tersebut dengan santai menyesap rokok sembari menyaksikan Zevia bertarung


"Aku akan menyaksikan mu mati perlahan" Teriaknya


Zevia mulai kelelahan beberapa kali ia terkena pukulan keringat sudah membasahi wajahnya pertahannya mulai melemah.


"ZEVIA AWAS" Teriakan seseorang berhasil membuat Zevia terhindar dari sebuah pukulan tongkat baseball.


"Apa yang kau lakukan disini" Kini keduanya mulai mengatur posisi lagi saling membelakangi bersiap untuk memulai pertarungan kembali


"Aku disini tenang saja" Balasnya


"Ck kondisimu belum stabil" Balas Zevia


"Kau gila Tanu aku tidak ingin mati sia-sia ditangan para bajingan ini"Teriak Zevia


"Serang mereka" Teriak lelaki tersebut dan benar saja pertarungan kembali terjadi namun kini tenaga Zevia mulai kembali membara dibantu Tanu keduanya dengan mudah mengalahkannya tapi lagi-lagi mereka semakin banyak.


"Zevia biarkan aku disini kau pergilah cari cara lain untuk menghentikan ini" Saran Tanu


"Gila kau tidak aku tidak akan pergi.." Zevia mengatur nafasnya yang mulai tidak teratur


"Zevia dengarkan aku.. Ini taktik Quen ia akan membuat kita kelelahan dan kalah percayalah padaku" Ucap Tanu


"Quen siapa dia.. " Zevia tak mengerti maksud dari lelaki yang kini sedang membantunya


"Jika kita berhasil aku akan menjelaskan kepadamu dia siapa, tapi jika kita tak berhasil aku ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu" Tanu menatap Zevia tak berkedip


"Pergi Zevia.." Tanu mendorong Zevia menjauh dari kerumunan tersebut.


"Tamat riwayatmu Zevia" Teriak lelaki tersebut ia dengan puasnya tertawa menyaksikan pertarungan sengit tersebut.


"Kau sama bajingannya dengan Albert Zevia" Teriaknya penuh semangat sembari terus menyesap minuman ditangannya.


"Ya aku persis ayahku Quen" Ucap Zevia dengan cepat menjerat leher lelaki tersebut membuatnya tak sempat memberikan perlawanan.


"Kaget kenapa aku ada disini sudah ku katakan Aku memang seperti Ayah licik dan gesit" Ucap Zevia terus menguatkan cekikan lehernya membuat lelaki bernama Quen tersebut lemas dan tersungkur di tanah.

__ADS_1


"Bajingan kau" Ucapnya dengan terbata-bata


"Memang bajingan inilah aku ingat wajah ini, Ingat wajah ini sampai kau mati kau akan mengingat wajah ini.. Kau takan pernah bisa menyentuh keluarga ku jika kau lakukan itu aku akan membuatmu menderita lebih dari kau hidup di neraka.. Kau pikir kau dapat menghancurkan keluarga ku tak semudah itu Zevia Albert takan membiarkan hal itu terjadi"


Zevia berhasil melumpuhkan Quen lelaki tersebut tersungkur di tanah tak berdaya.


"Kau sama bodohnya seperti sentoso" Bentak Zevia.


"Bos" Bowo akhirnya tiba ditempat tersebut dengan nafas tersengal-sengal


"Maafkan saya lalai bos maafkan saya" Bowo sangat menyesal saat melihat kondisi Zevia yang berantakan wajahnya penuh memar dan berdarah.


"Amankan dia" Zevia menyerahkan Quen kepada Bowo.


Ternyata pertarungan sudah berakhir pasukan Yang dibawa Bowo berhasil mengalahkan Pasukan Quen.


"Dimana dia" Ucap Zevia saat menyadari Tanu tidak terlihat.


"Cari.. cepat cari Tanu" Teriak Zevia panik.


"Aku disini" Balas Tanu menghampiri Zevia dengan tertatih


"Brengsek kau" Zevia menghampiri Tanu dan memeluknya erat sembari terisak.


"Bagaimana jika kita tidak berhasil kau benar-benar gila" Ucap Zevia penuh dengan kekesalan.


"Jika aku mati pun aku akan mati dengan tenang karena aku sudah menyatakan isi hatiku kepadamu" Balas Tanu membuat Zevia langsung terdiam.


"Zevia.. Dimana Zevia" Suara Markus berhasil membuat Zevia melepaskan pelukannya kepada Tanu.


"Zevia kamu baik-baik saja" Markus menghampirinya dan memeluk erat


"Aku baik-baik saja" Balas Zevia pelan


Tanu hanya bisa tersenyum menyaksikan perlakuan manis markus kepada orang yang ia cintai tak heran ia berhasil meluluhkan hati Zevia.


Markus datang dengan membawa anggotanya untuk mengamankan tempat tersebut dan membawa Quen untuk diamankan.


"Bos maafkan saya, saya sangat lengah saya siap menerima hukuman" Ucap Bowo bersalah diikuti anak-anak lainnya


"Sudah kita pulang saja kita selesaikan dimarkas" Ucap Zevia


"Mari aku antarkan kamu pulang" Ucap Markus menggandeng tangan Zevia saat melewati Tanu padangan Keduanya bertemu markus menghentikan langkahnya ia mendekati Tanu.


"Terima kasih sudah membantu Zevia" Ucapnya sembari memeluk Tanu kemudian ia membawa Zevia bersamanya.


Zevia kembali menoleh menatap Tanu yang masih berdiri tak jauh darinya.


"Pergilah" Ucap Tanu dengan senyum palsu menghiasi wajahnya, zevia mengangguk pelan ia pergi bersama Markus meninggalkan Tanu ditempat tersebut dengan perasaan yang tak kita ketahui juga.


"Bersambung"

__ADS_1


__ADS_2