
Ternyata kecurigaan paman benar, 7 bulan berlalu paman tidak berhenti mencari keberadaan Albert sampai suatu saat paman bertemu dengan seorang lelaki yang mengatakan bahwa ia mengetahui keberadaan Albert awalnya paman tidak mempercayai hal itu namun ia berkata saat ini nyawanya sedang dalam bahaya jika ia tidak segera memberitahu paman kemungkinan Albert akan meninggal juga akhirnya paman mengikutinya kesebuah gubuk tua benar saja disitu ada Albert yang kondisinya sangat parah lukanya infeksi tidak tahu harus bagaimana jika membawa albert keluar dari gubuk itu mungkin saja diluar sana masih ada suruhan Sentoso yang masih mencari kami.
Sampai lelaki itu mengatakan bahwa Kamu dan Kalya masih hidup bagaimana mungkin paman benar-benar merasa kacau saat itu.
"Paman apakah lelaki itu memiliki brewok tebal dan bertubuh bongsor" Ucap Calta menyela pembicaraan Ben.
"Bagaimana kamu bisa tahu," Ben menatap wajah Calta/Cleo dengan penasaran.
"Aku ingat saat itu" Calta mengingat dan menceritakan kepada Ben saat-saat nani Bela merelakan nyawanya untuk melindungi ia dan Zevia.
"Sungguh jika bertemu dengannya lagi aku akan berterima kasih kepadanya" Ucap Ben kagum mendengar cerita Calta.
"Paman" Akhirnya Zevia sadar juga Calta yang ada disitu dengan sigap membantu Zevia duduk dan menyenderkan punggungnya dibahu ranjang.
"Sayang... Ahhh sungguh kamu membuat paman khawatir" Ucap Ben menghampiri Zevia namun tatapan matanya masih kebingungan ia menatap sekelilingnya.
"paman aku bermimpi bertemu ayah" Ucap Zevia lirih menundukkan kepalanya.
"Kak" Calta mendekati zevia dan memeluknya.
"Semua sudah selesai kita berhasil kak" Ucap Calta dengan suara bergetar, Zevia membalas pelukan Calta dengan erat.
"Terima kasih Calta kamu masih setia bersama ku terima kasih sudah menjadi saudara yang sangat baik" Ucap Zevia penuh haru, Ben hanya bisa menghapus air matanya pelan menyaksikan kedua insan dihadapannya sedang berharu ria.
"Apakah paman tidak diajak pelukan" Suara Paman Black memecahkan suasana menggema diruangan itu.
"Paman " Ucap Zevia dan Calta bersamaan merentangkan kedua tangannya Paman Black menghampiri keduanya dan memeluknya.
"paman sangat bangga kepada kalian berdua" Ucap paman Black sembari mencium puncak kepala keduanya secara bergantian.
"Paman aku sangat menyayangimu" ucap Zevia hangat membuat paman black menatapnya tak percaya.
"Apa.. Katakan lagi " Paman Black menatap Zevia nanar.
"Aku menyayangimu paman Black yang selalu tegas dan disiplin " Ucap Zevia penuh emosional memeluk paman Black begitu paman Black ini pertama kalinya ia mendengar Zevia mengucapkan kata-kata itu dan ini pertama kalinya ia melihat senyum lebar gadis itu.
1 minggu setelah keberhasilan mereka membongkar dan menghancurkan bisnis haram Sentoso, kini lelaki itu mendekam di penjara dengan hukuman seumur hidup/hukuman mati untuk semua ganjaran perbuatannya yang selalu menyakiti siapapun.
Kini Zevia sudah kembali ke rumah Kakek George, namun perasaan Zevia kini tidak begitu tenang meskipun semua rencana mereka berhasil masih ada satu hal yang membuat hati terasa tak tenang.
"Kak kenapa" Calta menghampiri Zevia yang sedang duduk melamun diteras rumah ditemani gerimis kecil.
"Tidak apa-apa" Jawab Zevia singkat.
"Apa kamu memikirkan Tanu" Ucap Calta telak membuat Zevia langsung menatapnya melotot.
"Woy Kalem-kalem" Ucap Calta panik siapa tahu jiwa membunuh kakaknya tiba-tiba terbangun.
"Aku hanya penasaran ia kemana" Kini Zevia kembali memfokuskan pandangan menatap komplek jalanan yang sepi.
__ADS_1
"Siapa kak" Calta menatap Zevia dengan polos.
"Ohh Tanu maksudnya" Lagi dan lagi Calta membuat Zevia hanya bisa menahan nafas untuk meredakan emosinya.
"Tanu dan Ibunya serta adiknya sudah kembali ke Kanada"
"APA.." Teriakan Zevia menggema membuat Calta spontan mengeluarkan jurus andalannya.
"Ehh apa-apaan sih kak teriak-teriak" Kesal Calta menatap Zevia.
"Ehemm.. Ahh bu-bukan begitu ehemmm.." Zevia berkali-kali mendehem memperbaiki suasana hatinya yang tiba-tiba menjadi buruk.
"Ia Tanu sudah kembali ke Kanada kak ia kemarin pamit sama kakek George"
"Emmm ya" Kini suara Zevia terdengar mengecil Calta menatap wajah kakaknya itu.
"Kak kamu baik-baik saja" Calta menyadari perubahan sang kakak langsung berbeda.
"Kak kenapa kita tidak tinggal bersama paman Ben dan ...." Calta menggantung ucapannya sembari tetap menatap Zevia.
"Aku belum siap Calta, semua yang ku alami selama ini seperti sebuah mimpi dan bom nuklir semua berbeda dari ekspektasi ku.. Ku kira aku akan bahagia setelah mengetahui bahwa ayah dan ibu masih hidup namun ternyata aku tidak semudah itu melupakan 17 tahun yg sudah terjadi semua penderitaan ini membuatku hampir benar-benar gila" Zevia menatap Calta dengan wajah lesu.
"Kak maaf jika aku memberimu sebuah nasihat, namun menurutku kamu harus bertemu ayah Albert dan ibu Maya 17 tahun terpisah kita sendiripun merasakan rindu yang teramat,, terlebih ibu Maya semua penderita yang ia alami ia bertahan hanya demi Kita.. Ayolah kak jangan seperti ini " Ucap Calta memohon kepada Kakaknya.
"Jadi maksudmu kita harus tinggal disana" Tanya Zevia ketus.
"Kita sendiri disini Paman Black dan yang lain sudah kembali ke Kanada hanya kita berdua disini kita harus menjaga kakek George " Zevia menatap Calta dengan perasaan tak menentu
"Tenang saja, kalian tidak perlu memikirkan kakek.. Kakek sudah 30 tahun hidup menyendiri semenjak Nenek Sarah meninggal dunia.. Kakek akan tetap disini tinggal bersama semua kenangan bersama nenek Sarah.. Kalian pergi lah capai semua kebahagiaan kalian dan semua rencana kalian kedepannya" Ucap kakek George yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Zevia dan Calta dengan tatapan teduhnya.
"Jadi kakek mengusir kami" Calta menatap kakek George.
"Tentu tidak sayang, kakek hanya memberikan saran.. Sama seperti kamu yang memberikan saran kepada kakak mu" Kakek George mendekati Calta dan merangkul pundaknya lembut.
"Hemm, ya itu sudah ku katakan kepadanya kek" Calta menatap Zevia serius.
"Baiklah, aku akan mencoba.. Tapi..." Zevia menggantung kata-kata dan menatap kakek George dengan tatapan memohon.
"Kalian akan tetap menjadi cucu kesayangan kakek, kapan pun kalian mau kalian boleh datang dan tinggal disini kakek akan sangat senang menyambut kalian kembali.. Tapi tolong jangan meminta kepada Kakek untuk meninggalkan rumah ini karena hanya disini satu-satunya kenangan terindah kakek dengan nenek Sarah" Ucap Kakek George yang seperti mengerti akan kesedihan Zevia.
"Terima kasih kek" Zevia menghampiri kakek George dan memeluknya erat diikuti Calta juga suasana tiba-tiba menjadi melow dan hangat.
*
Hari yang ditunggu tiba Zevia dan Calta dijemput oleh paman Ben sebelum meninggalkan kakek George sendiri Zevia menitipkan Pesan untuk selalu menghubunginya jika kakek George merasa kesusahan.
Mereka pergi meninggalkan rumah kakek George namun tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang kakek tua itu ia adalah mantan Pimpinan Militer pada masanya jadi tentu saja ia bukan orang sembarangan.
5 jam waktu yang ditempuh Zevia agak kebingungan karena yang ia tahu jarak dari rumah kakek George ke rumah mereka yang dahulu hanya sekitar 1 jam saja namun kini perjalanan mereka berganti menuju kearah barat dan memasuki sebuah desa kecil yang sangat asri dan rindang suasananya sangat nyaman dan tenang.
__ADS_1
"Paman kita kemana,, " Resah Zevia meskipun Ben adalah pamannya namun Zevia tidak yakin mengenal lelaki itu dengan baik karena 17tahun terpisah dan semua kejadian membuatnya selalu merasa waspada kepada siapapun.
"PAMAN HENTIKAN MOBILNYA" Bentak Zevia karena sedari tadi Ben mengacuhkannya.
Ben yang mendengar Zevia membentaknya hanya bisa tersenyum lalu menepikan mobilnya dipinggir sawah, Zevia segera turun sembari menggandeng tangan Calta.
"Apa-apaan ini, katanya kita akan menemui ayah dan ibu 5 jam perjalanan seperti ini, jangan kira saya bodoh 17th tidak kesini tapi saya masih ingat betul alamat rumah ayah saya" Zevia menjauhkan diri dari mobil Ben diikuti Calta yang hanya bisa planga plongo sebab Zevia terlalu Over thingking menurutnya.
"Kak" Calta menyela perkataan Zevia.
"Kayla, kamu tidak percaya kepada Paman.. Aku paman kandungmu bagaimana mungkin aku menyakiti mu" Ben mencoba mendekati Zevia yang selalu menjaga jarak.
"Hemm, bagaimana bisa aku mempercayai orang yang tidak aku kenal baik, Aku tidak bisa mempercayai orang lain selain diriku sendiri" Sarkas Zevia membuat Ben menyadari bahwa betapa beratnya kehidupan yang dialami keponakannya itu selama ini.
"Baiklah kita akan sampai 5 menit lagi, jika paman membohongimu kamu boleh membunuh paman saat itu juga paman tidak akan membela diri.. " Paman Ben memberikan pistolnya untuk Zevia.
"Pelurunya terisi penuh, jika dalam 5 menit kita tidak sampai kamu boleh menyarangkan isi pistol dalam kepala paman " Ben dengan serius memberikan pistolnya untuk Zevia melihat hal itu Zevia akhirnya masuk kembali kedalam mobil namun satu hal yang membuat Ben benar-benar terkejut Zevia langsung menodongkan pistol tersebut di kepala Ben.
"Kak, apa yang kamu lakukan.. Kamu berlebihan" Calta merasa kasihan kepada Ben terlebih jika salah-salah senjata itu bisa merenggut nyawa pamannya itu.
"Calta diamlah, aku tidak ingin membuat kita terjebak lagi untuk kedua kalinya" Sarkas Zevia membuat Calta terdiam membisu.
4 menit 50 detik mereka tiba disebuah Villa Mewah yang halamannya sangat luas kiri kanannya terdapat sawah dan dibelakang Villa itu terdapat sebuah gunung membuat mata kagum menatapnya.
"Sudah sampai" Ben menghentikan mobil dan menyuruh Zevia serta Calta keluar.
"Kak berikan pistol itu kepada Paman Ben" Ucap Calta tak nyaman sebab Zevia masih menggenggam erat pistol tersebut.
Paman Ben mencegah langkah Calta dan memberikan isyarat untuk Calta tetap diam, sebab Ben tahu semua kewaspadaan Zevia itu disebabkan semua trauma masalalu nya yang sampai saat itu masih melekat dikepalanya.
Namun saat Ia melihat suster mendorong Ny.Maya tn.Albert dikursi roda Zevia menghentikan langkahnya pistol yang tadi dengan erat ia genggam kini luruh ke lantai semen.
"Mah" Satu kata keluar dari mulutnya saat melihat kondisi Ny.Maya yang benar-benar tidak baik tubuhnya begitu kurus tak terawat.
Zevia dengan cepat berlari menghampiri ny.Maya yang hanya bisa duduk dikursi Roda.
"Mah.. Mahh ini benar-benar mamah" Zevia berlutu dihadapan sang ibu dan hanya bisa terdiam menatapnya.
Zevia dengan cepat bersimpuh di kaki sang ibu dan mencium kaki itu pelan dengan penuh haru ia terus memeluk kaki ny.Maya.
"Ka-kay kay-kayla" Dengan terbata-bata ny.Maya menyebutkan nama anaknya, Zevia mendongak mendengar nama masa kecilnya terlepas dari bibir sang ibu.
"Mamah... Ini kayla" Ia mengangkat tubuhnya dan memeluk erat sang ibu yang seperti tak percaya bahwa yang tengah memeluknya adalah sang anak yang selama ini menjadi kekuatannya untuk bertahan.
"Maafkan Kayla sudah membiarkan mamah hidup seperti ini, Kayla memang anak yang durhaka" Dengan penuh haru ia tetap memeluk sang ibu yang selama ini ia rindukan.
Kerinduan 17th terpendam dan kini ia bisa melepaskan rasa rindu itu.
"Jagalah Ibu mu, ia adalah Malaikat yang nyata didunia ini.. Kehidupanmu takan pernah kekurangan hanya karena kamu membahagiakannya tetapi hidupmu akan selalu penuh berkat sebab kamu menghormati ayah dan ibumu serta memuliakan nama Tuhanmu"Kalya
__ADS_1