
Zevia melangkah menuju kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk bentrok dengan hatinya ucapan Calta terngiang ditelinganya ia menutup pintu kamarnya dan kemudian duduk disamping jendela yang mengarah langsung ke sebuah Taman terbengkalai yang masih begitu indah.
"Apa... Untuk apa melakukan itu jika benar..? Gerutu Zevia didalam hatinya.
"Aku harus mencari tahu sendiri, apa tujuanmu ??
Ia meraih jaket dan kunci mobil Zevia mengambil langkah cepat ia dengan cepat menuju gerasi mobil dan berangkat dengan cepat tanpa sepengatahuan siapapun.
Tangannya dengan kuat menggenggam setir mobil sehingga buku-buku kukunya memutih tatapan mata tajam dan wajah penuh kekesalan ia melaju menuju rumah Tanu, setibanya di rumah Tanu ia mendobrak pintu rumah itu dan mencari pemiliknya namun rumah itu terlihat kosong dan amburadul berantakan seperti telah terjadi sesuatu.
Zevia terdiam karena seingatnya ia pernah ketempat ini dan mendapati rumah itu rapi dan indah tertata rapi berbanding terbalik dengan penampakan saat ini, tak mau membuang waktu Zevia menggeledah seisi rumah tersebut namun tidak ada satupun orang yang ia temui namun saat hendak pergi Zevia melihat sebuah kertas terselip dibawah keset kaki.
"Temui aku di taman Orce (Taman terbengkalai di dekat masion Zevia) Tanu"
Zevia tersenyum sinis kemudian pergi menuju tempat tersebut dengan kembali mengemudi seorang diri ia melaju dengan kencang tanpa memikirkan apapun yang ia pikirkan hanya menemui Tanu dan menyelesaikan semua urusannya.
__ADS_1
"Cckkiitt" Decit ban mobil berhenti tepat di depan taman Orce, Zevia dengan langkah tegap memasuki Area Taman Orce yang kini telah di tutup dan terbengkalai membuat bulu kodok berdiri hebat namun tidak bagi Zevia.
Disana orang yang ia cari sedang berdiri dihadapannya Zevia melangkah maju kedepan menghampiri Tanu tanpa ada ucapan sedikitpun Zevia langsung menghujani wajah tampan Tanu dengan beberapa pukulan, Tanu hanya terdiam tidak membalas ataupun memberikan perlawanan.
"Kenapa kau lakukan itu" Zevia memberikan pukulan terakhir untuk Tanu yang sudah terkapar lesu dengan wajah babak belur
"Pukul aku terus, ini memang harus terjadi kepadaku aku berhak mendapatkan semua ini" Ucap Tanu dengan wajah sendu.
"Ya kau memang pantas mendapatkan nya karena terlalu ikut campur dalam masalah ini" Ucap Zevia lantang.
"Jelaskan...!!!" Zevia menarik kerah baju Tanu dan membawanya berdiri Zevia menatap mata lelaki itu hatinya terasa sakit saat menatap mata Tanu.
"SENTOSO"
Zevia menghentikan langkah kakinya dan memutar kembali tubuhnya.
__ADS_1
"Apa.. Ulangi lagi siapa..." Ucap zevia pelan dan menghampiri Tanu
"Kau pasti tau dan mengenali nama itu" Ucap Tanu lirih
"Bukkk" Zevia kembali memberikan pukulan keras ke wajah Tanu.
"Sudah ku duga kau pasti mengetahui nya, sejak awal aku sudah menaruh curiga kepada mu" Hardik Zevia dengan suara bergetar.
"Zevia, dengarkan aku dulu" Ucap tanu lirih
"Tidak perlu. seharusnya aku membunuh saja saat itu" Ucap zevia lirih
Zevia melanjutkan langkahnya meninggalkan Tanu namun belum jauh zevia pergi tanu mengucapkan kata yang membuat zevia terdiam mematung dan tak percaya.
"Aku adalah anak SENTOSO, lelaki biadab itu kini sedang menangkap ibu dan adikku, apa yang harus ku lakukan zevia nyawa ibu dan adikku sedang terancam lelaki biadab itu tidak habis2nya memberikan penderitaan kepada Ibuku setelah membuang dan mencampakan kami kini ia kembali memberikan penderitaan itu lagi.. tolong bantu aku zevia hanya kau yang bisa membantuku membunuhnya" Ucap Tanu lantang dan bergetar suaranya terdengar begitu rapuh ada rasa yang membuat hati Zevia ikut terasa sakit, hatinya terasa pedih saat tahu bahwa orang yang ia cintai adalah anak dari musuh terbesarnya.
__ADS_1
"Next.......#Lanjut
Ehh masih ada yang baca gak sih ? hampir setahun gak Up 😭 Gimana dong maafin yaaa moga masih ada yang nongkrong di Novel ini 🥲