
"Tanu, apa yang kamu lakukan" Teriak Calta saat ia tahu bahwa Tanu adalah orang berdiri diujung sana dengan tangan memegang sebuah pistol.
"Maaf, aku merusak rencana kalian tapi aku tidak bisa kehilangan orang yang kucintai" Ucap Tanu membuat Calta terdiam tak mengerti.
"Apa maksudmu" Ucap Calta tak mengerti.
"Sebenarnya"
Flashback On "
Tanu berjalan memasuki markas yang sudah berantakan kedatangannya agak terlambat namun ia akhirnya menemukan Sang ibu dan adiknya Coel.
Tanu dengan cepat melepaskan Sang ibu dan adiknya dan membawanya ketempat yang aman namun saat melewati sebuah ruangan Tanu mendengarkan sebuah percakapan yang membuat hatinya benar-benar marah.
"*Bawa Maya pergi bersama ku, hanya ia yang aku butuhkan"
"Bagaimana dengan Ny Zahra dan Coel "
"Aku tidak membutuhkan mereka jika perlu bunuh saja*"
Ny.Zahra yang mendengarkan itu juga hanya bisa terdiam air matanya mengalir di pipinya Tanu dengan cepat menghapus air mata sang Ibu.
"Jangan pernah keluarkan air matamu lagi untuk pria bajingan itu Ma" Kesal Tanu karena sang Ibu bersikap begitu lemah.
Setelah membawa sang Ibu dan adinya ketempat yang aman Tanu kembali lagi tempat markas Sentoso dan kebetulan saat itu Sentoso pergi melalui jalan rahasia Tanu mulai mengikuti langkah kaki Sentoso dengan pelan agar tidak tercurigai sebenarnya jika ingin saat itu ia bisa saja membunuh Sentoso namun kembali lagi Tanu teringat akan Zevia gadis yang ia cintai dalam diam itu sangat menantikan saat-saat ini 30 menit mengikuti Sentoso yang menggunakan mobil mustahil memang untuk Tanu yang hanya berjalan kaki di semak-semak namun karena kondisi jalanan yang sepi, sempit dan kecil mobil yang dikendarai Sentoso tidak bisa berjalan dengan cepat sehingga memudahkan langkah Tanu untuk mengikutinya.
Setibanya di Lembah Jurang Kematian Tanu hanya bisa bersembunyi dibalik semak-semak menyaksikan Zevia berduel dengan Sentoso, Tanu hanya bisa tersenyum kecil melihat kemampuan Zevia yang tidak dapat diremehkan seorang Sentoso yang bertubuh tinggi besar saja dapat ia lumpuhkan, namun saat Tanu sedang mengamati dari samping mobil milik Sentoso sudah berdiri seorang bodyguard nya memegang sebuah senjata berlaras mengarahkannya kepada Zevia dan bersiap untuk melepaskan tembakan.
Tanu yang menyaksikan itu dengan mata kepalanya sendiri membuatnya semakin membenci pria yang pernah menjadi ayahnya itu.
"Biadab, sudah ku duga pasti ada seseorang yang akan membantumu"
Tanu dengan keahliannya berjalan perlahan dan berhasil melumpuhkan Lelaki bertubuh tinggi kekar itu dengan mencekik lehernya menggunakan seutas tali.
Amarah yang membara membuat Tanu tanpa berpikir panjang ia menembak bagian vital Sentoso sehingga membuatnya terhuyung dan jatuh ditempat.
Ny.Maya yang menyaksikan hal tersebut dari dalam mobil hanya bisa terdiam namun dimatanya terlihat sebuah kesedihan entah apa yang ia pikirkan namun Ny.Maya sempat melirik kearah Tanu ia tersenyum kecil kepada lelaki muda tersebut Tanu tidak menyadari ada Ny.Maya di dalam Mobil.
"Flashback off"
"Jadi.." Zevia mendekat kearah Sentoso yang sudah sekarat.
"Anda ingin bermain curang,, sudah ku duga seorang Sentoso tidak bisa melakukan semuanya sendiri Anda lemah" Ucap Zevia kesal namun ia saat ini sudah enggan menyentuh Sentoso.
"Apa yang kau tunggu ayo bunuh aku seperti aku membunuh Ayahmu Albert" Sentoso tersenyum licik menatap wajah Zevia yang sangat dominan dengan sang Ibu ny.Maya.
Zevia terdiam saat mendengar ucapan Sentoso, "Jadi.." Batinnya
"Yaa, aku mengetahui kamu masih hidup Kalya, seharusnya saat itu aku benar-benar membunuhmu tapi aku tidak bisa,, aku benci kelemahan ku mencintai Maya, Wajahmu selalu membuatku mengingat Maya aku tidak mampu membunuh mu dan sekarang kamu lah yang akan membunuhku" Ucap Sentoso dengan lirih saat ini Zevia melihat guratan kesedihan yang mendalam di wajah Sentoso ada rasa sedih, marah, kecewa dan cinta semua menjadi satu.
"Kenapa kamu melakukan itu, apa salah ayahku kenapa kamu membunuhnya" Teriak Zevia lantan memecahkan hening malam di hutan itu.
"Aku harus membunuhnya sebab aku mencintai Maya, aku tidak ingin kekasihku Maya berbagi Cinta untuk orang lain" Kini Sentoso kembali tertawa lirih dengan sorot mata tajam menatap Zevia.
__ADS_1
"Bunuh aku anak manis, ingatlah bagaimana penderitaan hidupmu,, ayo bunuh aku sayang"
Zevia yang tersulut emosinya pun mengambil katana miliknya dan mulai mengayunkan pedangnya bersiap mengakhiri semua dendamnya.
"HENTIKAN KALYA"
Teriakan itu berhasil membuat Zevia menghentikan langkah nya namun dengan tangan yang mamegang Katana legendaris sang Ayah.
"Kalya jangan nak" Suara itu membuat tangan Zevia langsung bergetar kakinya menjadi lemah tak berdaya.
"A..ayah" Lirih batin Zevia namun apa mungkin itu suara sang ayah.
"Nak, lihat kemari" Zevia mengikuti arah suara tersebut, detak jantungnya serasa berhenti berdetak,, Zevia melepaskan katananya dan berjalan mendekati orang tersebut.
"Paman Ben" Zevia memperjelas pandangannya melihat orang yang berdiri di ujung sana adalah paman Ben (Saudara kandung ayahnya Albert yang dulu selalu bersama Ayahnya atau bisa disebut sebagai asistennya juga setelah Ayah Zoy.
"Paman Ben kau kah itu" Zevia mendekati lelaki tersebut.
"Paman" Zevia memeluk Ben setelah yakin bahwa lelaki itu adalah Pamannya.
"Paman, paman masih hidup" Kini tangis Zevia akhirnya Pecah juga di dalam pelukan Ben.
"Kenapa paman tidak pernah mencari ku " Lirih Zevia didalam pelukan Ben kini ia merasa bahagia orang yang paling dekat dengannya masih berdiri tegak dan sehat di hadapannya.
"Paman selalu mencari mu nak, paman selalu mengawasi mu, paman tahu keberadaan mu tapi paman tidak bisa menemui mu itu semua demi keamanan mu" Ucap Ben menjelaskan kepada Zevia.
"Kalya lihat siapa yang ada bersama paman ini" Ucap paman Ben menuntun Zevia untuk menghampiri lelaki yang sedang duduk dikursi roda itu tubuh Zevia langsung bergetar hebat pandangannya tertuju kepada wajah pria tersebut.
"Paman wajahnya" Ucap Zevia menggenggam erat tangan Ben.
"Paman.. Wajahnya,, kenapa wajahnya sangat mirip ayah.." Kini Zevia kembali memecahkan tangisnya ia berlutut dihadapan pria yang duduk dikursi roda itu.
"Paman... hiks..hikss kenapa wajahnya,, Ayah... hikss..hikss huaaaaa.." Kini sosok Zevia berganti menjadi Kalya sifatnya benar-benar berubah seorang Zevia tidak akan pernah menangis tersedu-sedu seperti itu.
"Nak.. dengarkan paman" Kini Ben membawa Zevia berdiri menghadap pria tersebut yang kini juga sedang menangis haru.
"Nak.. Lihat baik-baik wajahnya Dia ayahnya Mu" Ucap Ben meyakinkan Zevia.
Zevia menghapus air matanya dan mulai mendekati pria tersebut dan menyentuh wajahnya dengan lembut kemudian Zevia teringat 17 tahun lalu dimana saat-saat ia sedang berbahagia bersama keluarganya.
"A-ayah benarkan ini" Ucap Zevia lesu dan tubuh mungilnya langsung ambruk ditanah.
Semua orang yang ada disana berlari menghampiri Zevia, Tanu dengan Cepat membawa Zevia menuju mobil dan membawanya menuju rumah sakit.
Suasana benar-benar kacau Calta dari tadi hanya terdiam tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya syok mungkin itu yang ia alami, Tanu menghampiri Calta dan memberikannya sebotol air mineral.
"Terima kasih" Calta menerimanya dari Tanu.
"Kamu baik-baik saja" Tanu duduk di samping Calta.
"Tidak, aku tidak baik-baik saja.. Apa-apaan ini" Ucap Calta prustasi semua yang terjadi diluar nalarnya, yang ternyata Tuan Albert masih hidup, Sentoso mengetahui Ia dan Zevia masih hidup namun tidak juga membunuhnya dengan alasan tak bisa, Banyak hal yang tidak masuk akal pikir Calta.
"Aku.. aku benar-benar tidak mengerti" Kini Gadis itu juga mulai terisak dalam diam, Tanu memeluk punggung Calta dan mengusapnya pelan, Calta menyadarkan kepalanya di pundak Tanu dengan terus terisak.
__ADS_1
"Sabar lah, kita akan mengetahui jawabannya nanti setelah semua kondisi ini mulai tenang, jangan menangis lagi" Ucap Tanu lembut dengan terus mengusap punggung Calta.
"Saat ini kita harus tenang, agar kondisi Zevia baik-baik saja"
Calta terdiam mendengar Tanu menyebut nama Zevia ia mengangkat kepalanya dari bahu Tanu dan menjauh dari Lelaki itu.
Calta memijit keningnya pelan kepalanya terasa sakit berdenyut hebat pandangannya berkunang-kunang namun ia tetap memaksakan diri untuk kuat.
Dokter sedang memeriksa Zevia ditemani Ben yang menunggunya didalam IGD.
"Dok apa yang terjadi" Khawatir Ben
"Ny.Zevia 'Kalya" ucap Ben memperjelas.
"Aah ya Ny.Kalya baik -baik saja, hanya kondisinya saat ini benar-benar syok sebaiknya tidak perlu memaksakan kondisi pasien sampai ia benar-benar siap menerima apapun,, Saat ini pasien sudah baik -baik saja dan akan tersadar sekitar 30 menit lagi" Ucap dokter memberikan penjelasan kepada Ben.
"Terima kasih Dokter"
Setelah dokter pergi Ben menunggu Zevia tersadar dan Calta memasuki ruangan Zevia dan menghampiri Ben yang sedang terjaga.
"Maaf, emm " Mulut Calta terasa kaku saat melihat orang yang ada dihadapannya ini benar-benar paman Ben.
"Cleo" Ucap Ben saat melihat Calta berdiri mematung dihadapannya.
"Paman" Ucap Calta lirih menahan tangisnya, Ben yang merindukan kedua keponakannya itu langsung memeluk erat Calta, Gadis kecil yang dulu berbicara saja tak lancar kini sudah tumbuh besar dan sangat cantik.
"Maafkan paman" Ucap Ben lirih, Calta yang kini didalam pelukan Ben akhirnya memecahkan tangisnya juga semua beban dihatinya ia keluarkan melalui air matanya.
"Paman Ben" Lirih Calta dengan terisak.
"Nak maafkan paman tidak bisa menjaga kalian" Ben melepaskan pelukannya dan menatap wajah Calta yang kini sudah berurai air mata.
"Anda benar-benar paman Ben,, aku sangat merindukan mu paman" Ucap Calta tak percaya.
"Yaa ini paman Ben, kalian sudah begitu besar.. Dulu paman bisa memeluk kalian berdua secara bersamaan tapi kini sepertinya tidak bisa lagi, kalian berdua benar-benar sudah besar.. Paman tidak percaya ini adalah benar-benar kalian"
Ben mengusap lembut pipi tirus Calta.
"Paman kenapa semua ini terjadi,, Aku tidak mengerti kepalaku serasa hampir pecah bisakah paman jelaskan semua ini tentang ayah Albert" Calta memohon kepada Ben.
"Baiklah paman akan jelaskan" Ucap Ben membawa Calta untuk duduk di sofa dalam ruang rawat Zevia.
"17 tahun lalu, saat ayahmu dan Albert akan pergi ke Texas paman sudah pergi dahulu untuk menunggu mereka disana, namun peristiwa naas itu terjadi, paman ingin segera kembali namun tidak semudah itu mengurus untuk kepulangan, 1 bulan paman di Texas hidup dalam perasaan bersalah, namun setelah semua rampung paman segera pulang ke tanah air, kondisi benar-benar berantakan ternyata kehadiran paman kembali ketanah air sudah ditunggu oleh Sentoso beserta uncrit-uncritnya itu, mengetahui hal itu paman harus mengganti identitas dan merubah penampilan (Hemm pantas saja, dulu paman Ben yang ku kenal begitu Rapi tapi kini,, batin Calta sembari menatap penampilan pria yang berusia 40 tahun itu sangat berbeda).
Paman mencari tahu tentang Albert yang ternyata Jasad nya tidak ditemukan hal itu yang menyakinkan paman bahwa Albert masih hidup.
.
.
.
.
__ADS_1
NEXT EPISODE YAA ... kepanjangan ini heheh
pegel tangan author nya 🤣